NovelToon NovelToon
Kebangkitan Istri

Kebangkitan Istri

Status: tamat
Genre:Cerai / Kebangkitan pecundang / Ibu Mertua Kejam / Tamat
Popularitas:535.6k
Nilai: 4.8
Nama Author: santi damayanti

“Kak Miranda dipanggil Bapak.”
“Aku sedang mencuci piring,” jawab Miranda pelan.
“Kata Bapak nanti saja cuci piringnya,” ucap Lusi lagi.
Miranda menghentikan mencuci piring, mencuci tangan lalu melangkah ke ruang tengah.
Tampak di ruang tengah Raka duduk berdampingan dengan seorang perempuan itu.
“Duduklah, Miranda,” ucap Pak Budi dengan wajah serius.
Miranda duduk dengan patuh di kursi paling ujung.
Pak Budi tampak menghela napas panjang lalu berkata perlahan,
“Miranda, ini adalah Lina, dia calon istri Raka.”
Deg, jantung Miranda terasa tertusuk. Semua tenaganya seperti runtuh seketika.
Bangun dari jam tiga malam, bekerja tanpa istirahat, menyiapkan banyak makanan.
Semua itu hanya untuk menyambut calon istri dari suaminya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KI 27

Miranda tertegun. Mengapa Cak Roni dan istrinya berubah masam hanya karena ia ingin menumpang shalat?

Wanita itu mematikan kompor gas, menutup penggorengan, lalu keluar dari warungnya. Ia melangkah menghampiri Miranda dengan tatapan tajam.

“Astaghfirullah, cari uang segitunya sampai lupa shalat,” tegur istri Cak Roni.

Ia menggenggam tangan Miranda dan sedikit menariknya karena Miranda hanya bengong.

Miranda menurut saja hingga mereka sampai di sebuah kamar mandi.

“Kamu mandi dulu sana. Aku siapkan baju dan mukena. Baju kamu ini basah. Masa mau menghadap Allah dalam keadaan kotor begini,” omel istri Cak Roni.

Walau nadanya agak tegas, entah mengapa Miranda merasa kehangatan di dadanya.

Miranda masuk ke kamar mandi. Hatinya terasa hangat. Ternyata Cak Roni berubah masam karena ia terlambat melaksanakan shalat asar.

“Ini handuknya. Mandi yang bersih, ya,” ujar istri Cak Roni.

“Iya, Mbak,” jawab Miranda sambil tersenyum. Ia teringat dulu, selama sepuluh tahun, ia selalu mempersiapkan keperluan mandi Raka, mantan suaminya.

Miranda selesai mandi lalu mengambil handuk.

“Ini bajunya, pakai di dalam,” kata istri Cak Roni.

Miranda melihat ke atas pintu. Benar saja, sudah ada baju ganti tergantung di sana.

Ia ingin menolak, tetapi suara istri Cak Roni memotong, “Cepatlah, nanti waktu asar keburu habis.”

Miranda mengambil pakaian itu dan memakainya di dalam kamar mandi. Setelah itu, ia keluar. Rupanya istri Cak Roni masih menunggu.

“Di sana tempat shalatnya. Ayo cepat. Mukena sudah ada di sana,” perintahnya.

Miranda benar-benar tak bisa berkata-kata. Ia pergi ke sebuah tempat kecil yang bersih dan rapi.

Dengan khusyuk ia melaksanakan shalat asar seraya memanjatkan syukur. Ternyata diceraikan Raka bukanlah hal buruk baginya.

Setelah shalat, ia merapikan tempat shalat lalu keluar.

“Hei, sini dulu kamu,” panggil istri Cak Roni yang sudah duduk di teras. Di depannya ada kopi dan goreng pisang.

Miranda melangkah menghampiri. “Mbak, saya belum sempat mencuci baju, jadi bajunya saya pakai dulu.”

“Astaghfirullah,” ucap istri Cak Roni, membuat Miranda kaget.

“Itu baju untuk kamu. Kenapa? Apa kamu tidak suka? Kalau tidak suka, bakar saja.”

Miranda terkejut. Ucapannya ternyata menyinggung perasaan istri Cak Roni.

“Bajunya bagus, Mbak.”

“Panggil aku Kak Ros. Namaku Rosidah,” katanya memotong ucapan Miranda.

“Iya, Kak Ros. Terima kasih, Kak Ros. Bajunya bagus sekali dan saya akan merawatnya,” ujar Miranda.

“Bagus. Sekarang minum kopi dan makan goreng pisang ini. Habiskan. Kalau tidak habis, kamu tidak boleh pergi,” kata Rosidah tegas.

Miranda menelan ludah. Baru kali ini ada orang menawarinya makan dengan nada galak seperti itu. Ia lupa makan siang karena terlalu semangat mencari rongsokan. Dengan lahap ia memakan goreng pisang dan meminum kopi.

“Bagus. Aku suka kalau kamu suka goreng pisangku,” kata Rosidah.

“Terima kasih, Kak Ros,” balas Miranda.

“Mir, kamu boleh cari uang dengan rajin, tapi jangan lupakan shalat, ya,” nasihat Rosidah.

Miranda hampir menangis mendengar kalimat sederhana itu. Selama ini hampir tidak ada orang yang bertanya kepadanya.

Mir, kamu sudah shalat belum?

Mir, kamu sudah makan belum?

Mir, bagaimana perasaan kamu?

Mir, apakah kamu baik-baik saja?

Dengan menyeka setetes air mata, Miranda berkata, “Terima kasih, Kak Ros.”

“Kenapa kamu menangis?” tanya Rosidah.

“Tidak, saya kelilipan, Kak,” jawab Miranda.

“Oh, ya sudah. Kukira kamu marah karena aku menegurmu telat shalat asar.”

Miranda buru-buru menggeleng.

“Aku terharu, Kak. Baru kali ini ada yang memarahiku karena telat shalat. Aku merasa diperhatikan,” ucap Miranda.

“Oh begitu. Maaf, aku salah sangka,” kata Rosidah. “Sekarang kamu cuci bajumu dan jemur di belakang. Besok kamu ambil ke sini.”

Sebenarnya itulah yang Miranda butuhkan.

“Baik, Kak.”

Miranda mencuci bajunya yang hanya ada tiga potong, lalu menjemurnya.

Ia menumpang shalat magrib dan isya, kemudian berpamitan kepada Cak Roni dan Kak Rosidah.

Miranda merasa mendapatkan banyak hal setelah bercerai. Ia bisa menghasilkan uang, memiliki pekerjaan, dan bertemu orang-orang yang baik kepadanya.

miranda menarik gerobaknya memunguti sampah, dan sambil mencar keberadaan nunik dan anaknya

Pukul delapan malam, Miranda sampai di tenda biru pecel lele milik Apip. Tampak pengunjung ramai. Ia tersenyum lalu mendekat.

“Mir, tolong bantuin saya!” teriak Apip yang memang sudah akrab sejak pertemuan pertama.

Miranda menepikan gerobaknya lalu pergi ke tempat cuci piring yang sudah menumpuk. Untung saja ia sudah makan goreng pisang tadi sore, jadi masih punya tenaga.

Selain mencuci piring, Miranda juga merapikan meja bekas makan tanpa disuruh. Anak buah Apip belum bisa masuk karena sakit, jadi Apip kerepotan sendirian.

Tepat pukul sebelas malam, semua dagangan sudah habis dan pengunjung mulai sepi.

“Huh, untung saja ada kamu, Mir,” kata Apip sambil menyeka keringat di dahinya dan membereskan barang dagangannya.

“Banyak juga ya pelanggannya,” ujar Miranda sambil menyantap pecel lele jatah kerjanya.

Ia makan dengan cepat, lalu ikut membersihkan lapak Apip. Sementara itu, Apip merapikan tendanya.

“Ini bayaran kamu malam ini,” kata Apip sambil memberikan uang lima puluh ribu rupiah.

Miranda tertegun. “Bukankah bayaran saya makan gratis?”

“Mana ada bayaran seperti itu. Kalau makan sudah jadi kewajiban saya memberi. Untuk upah, saya bayar harian. Karena sekarang ramai, saya bayar lima puluh ribu dan kamu tidak bisa menolaknya,” ujar Apip setengah memaksa.

“Kalau begitu, saya terima uangnya,” jawab Miranda dengan mata berbinar.

Mereka pun berpisah. Seperti biasa, Miranda kembali mencari tempat untuk tidur. Sebelum berpisah, Apip memberinya beberapa bungkus nasi.

Cita-cita Miranda adalah membangun masjid yang memberi makan orang-orang yang membutuhkan. Ia memulainya dengan langkah kecil, membagikan makanan gratis dari apa yang ia miliki.

Sampai di depan ruko kosong, Miranda menggelar kardus lalu mengikat kakinya dengan tali gerobak. Ia melirik jam di papan reklame yang menunjukkan pukul 01.30.

Tubuhnya lelah, tangannya kapalan, kulitnya menggelap karena matahari. Namun hatinya ceria.

“Sehari saja aku sudah bisa menghasilkan lebih dari seratus lima puluh ribu. Makan gratis, tempat tinggal gratis. Ah, enak sekali hidupku,” gumam Miranda sebelum akhirnya tertidur.

Menjelang subuh, Miranda sudah bangun. Ia mencari musala yang agak sepi lalu melaksanakan shalat. Setelah itu, ia pergi ke rumah Ibu Salamah. Tidak banyak drama seperti kemarin. Hari ini semua berjalan lancar.

Hanya saja pembayaran agak terlambat karena orang yang memegang uang sedang rapat sebentar.

Seorang pria berhelm merah keluar dari gerbang lalu menghampiri Miranda. Ia merasa waswas, takut kalau ada keluhan.

“Mbak, pekerja kami bertambah. Bisa tidak besok nasi uduknya jadi enam puluh bungkus?” tanya pria berhelm itu.

“Enam puluh bungkus?” gumam Miranda.

Ia berada dalam dilema. Yang memasak nasi uduk adalah Ibu Salamah. Jika ia menyanggupi, ia khawatir justru Ibu Salamah yang tidak sanggup.

1
Sandisalbiah
kudu kasih ucapan selamat ke bu Rina ini.. sukses banget dia mendorong anaknya jurang kehancuran... finalnya Raka di pecat dr pekerjaan dan membawa PR pinjaman bank senilai 1M dgn cicilan 70 jt per bulan.. hah.. bakal kejang² itu si ibu lucnut denger kabar Raka.. ujungnya bakal desak buat merongrong Miranda pasti nih..
Sandisalbiah
keluarga toxic.. bobrok semua dr prilaku, mentalnya... gak ada yg bisa di pilah... dan bodohnya Raka justru makin terperosok dlm jurang kehancuran deminkata bakti pd seorang ibu.. ibu yg harusnya jd pondasi kuat buat kemajuan, kemakmuran hidup anakny ini justru kebalikannya.. miris sih... mereka yg merasa pinter, berpendidikan tinggi tp otaknya zonk.. malah gak bisa di bandingkan dgn Miranda yg cuma lulusan SD.. beneran keluarga keblinger
Sandisalbiah
harusnya keluarga Raka ini di giring ke RSJ.. terutama bu Rina... otaknya rusak parah itu org..
Sandisalbiah
ini para betina di keluarga Raka pd sakit jiwa ya.. penyakit hati nya udah lepel mampus.. kalau sekedar bacaan ruqyah mah gak bakal mempan buat bersihin hati dan otak mereka yg busuk itu.. cocoknya kudu di lelepin di lahar panas baru bisah bersih jiwa mereka.. sifat iri dengkinya udah gak tertolong.. para setan aja pada hormat ke mereka.. dan sialnya Raka ama ayahnya diem aja gitu.. bener² laki² yg gagal jd pemimpin..
Sandisalbiah
strategi marketing si Miranda emang agak di luar nalar dan itu hanya cocok di suguhkan pd org² yg lebih ngutamain gengsi alias haus pujian dan validasi seperti Lina ini.. krn arogansinya dia jd the next korban marketing Miranda yg agak lain itu..
Rahmawati Amma
ceritanya menarik thor 👍
Lina Ina
tkasih thor salam dari malaysia 😍😍
Lina Ina
jangan tamat thor buat cerita mantan segala mantan gila talak 😂😂😂🤣🤣
Rahmawati Amma
🤣🤣🤣namanya.keren pekerjaannya 🤣🤣🤣
Rahmawati Amma
jangan2 saudaranya yg punya toko sebab dia bilang mirip ibunya🤔😅
Rahmawati Amma
semangat miranda😭😭😭
Rahmawati Amma
sial😭😭😭
Lina Ina
aduhhh apa lagi lah iri banget hati mereka sama mir
Lina Ina
jadi.lelaki bodoh amat
Han Han
hahaha 🤣🤣
Han Han
kesian Miranda tiada pendidikan, bodoh lagi
Han Han
kesiannya kalau oon,semua benda dia tidak faham aduh
Han Han
entah bodoh ke blo on ni org😂 kurang perasaan dipermalukan😂😂😂
Saidi Ritonga
keren Thor, sukses slalu
Maminya Thania
cerita apa sih ini,PU utama jadi pura² Gilak.. main ngga jelas haduhh 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!