NovelToon NovelToon
MATA TAKDIR

MATA TAKDIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Kultivasi Modern / Komedi
Popularitas:671
Nilai: 5
Nama Author: samsu234

Gagal naik ke Alam Dewa karena masih terikat karma fana, jiwa sang Kultivator Tertinggi terpaksa kembali ke tubuh aslinya di dunia modern sebagai Dika.

Berbekal Mata Takdir untuk membereskan hutang budi dan dendam masa lalu, Dika berniat menyelesaikan misinya dengan cepat dan diam-diam.

Namun, sebuah kesalahan takdir membuat isi hati dan keluh kesah batinnya bisa didengar jelas oleh wanita-wanita di sekitarnya!

Sanggupkah Dika menjaga wibawanya sebagai calon dewa, saat semua strategi dan gengsinya bocor lewat suara hati sendiri?

#UrbanFantasy #RomanceKomedi #KultivasiModern

#IsiHatiTerdengar #PuraPuraLemah #MantanDewa

#ZeroToHero #BenciJadiCinta

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samsu234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Benang Kusut di Ruang Sempit

Lampu neon panjang di langit-langit kamar penginapan kelas melati itu berkedip-kedip ritmis, mengeluarkan suara berdengung rendah yang monoton laksana nyanyian jangkrik di tepi sawah. Udara di dalam ruangan berukuran tiga kali tiga meter itu terasa pengap, sarat akan aroma kayu lapis yang lapuk dan sisa karbol murahan. Sebuah kipas angin dinding tua berputar dengan gelengan lambat, mencoba menghalau hawa gerah Jakarta yang merayap masuk melalui celah ventilasi berdebu, namun hanya berhasil memutar kembali udara panas yang sama.

Dika berbaring telungkup di atas kasur busa tipis yang seprainya bermotif bunga pudar. Mantel wol hitam mahalnya kini tergeletak tak berdaya di atas kursi plastik di sudut ruangan, menyisakan dirinya yang hanya mengenakan kaos biru pudar andalannya. Wajahnya yang tirus terbenam separuh di atas bantal yang agak keras, matanya terpejam rapat dengan kening yang berkerut dalam.

Pada permukaan kulit punggungnya yang pucat, lima lembar koyo cabai premium berjejer rapi, memancarkan aroma mentol yang menyengat dan rasa panas yang membakar pori-pori kulitnya.

“Oh... kehangatan cabai fana ini... ia bagaikan jilatan api penyucian di stana langit luar,” lenguh suara batin Dika, meliuk-liuk dalam sensasi rasa perih dan nyaman yang berbaur menjadi satu. “Pinggang gue... akhirnya menemukan kedamaian yang hakiki setelah seharian dipaksa menopang beban berat kemegahan kosmik. Biarlah Baskoro di luar sana menggerakkan seluruh faksi bisnis triliunannya, untuk dua jam ke depan, penguasa anyaman benang jagat ini hanya ingin menjadi seonggok daging yang menempel pasrah di atas kasur kapuk.”

Lina duduk bersila di lantai semen yang dilapisi karpet plastik bermotif catur, tepat di samping tempat tidur. Di hadapannya, sebuah laptop pinjaman yang layarnya sudah sedikit bergaris menyala terang, menampilkan bagan struktur organisasi PT Megah Prakarsa pusat serta beberapa artikel berita ekonomi lama tentang gurita bisnis di ibu kota. Jemarinya yang ramping bergerak lincah di atas papan ketik, menciptakan suara ketukan konstan—trak, trak, trak—yang membelah keheningan kamar sepi itu.

Sisa kebocoran takdir di dalam kepala Lina membuat gadis itu mendengus geli mendengar ratapan kepuasan Dika atas koyo cabai tersebut. Ia menghentikan ketukannya sejenak, lalu menepuk tepian kasur dengan pulpen di tangannya.

"Heh, Yang Mulia Kaisar Koyo," sindir Lina, suaranya rendah namun tajam, memotong keheningan malam yang sunyi. "Gue baru aja selesai memetakan jaringan pak tua Baskoro di Jakarta. Ternyata, aliran dana korupsi yang kemarin lo bongkar di kota tua itu cuma remah-remah biskuit yang jatuh dari meja makan. Masalah kita jauh lebih besar dari sekadar manajer yang pengen beli mobil mewah."

Dika membalikkan tubuhnya dengan sangat lambat dan hati-hati, menahan erangan linu yang hampir lolos dari tenggorokannya saat otot lumbarnya kembali menegang. Ia duduk bersandar pada dinding kamar yang catnya mulai mengelupas, melipat tangan di depan dada sembari menatap Lina dengan sepasang mata yang menyisakan sisa pendar emas purba yang dingin dan acuh tak acuh.

"Keserakahan manusia fana selalu bermuara pada lubang hitam yang sama, Lina," ucap Dika, suaranya mendadak berubah berat dan berwibawa, menggema di dalam ruangan sempit itu dengan getaran purba yang tenang. "Mereka mengira sedang mengumpulkan kejayaan di atas menara beton, tanpa sadar bahwa setiap keping perak yang mereka curi dari hak sesamanya adalah seutas benang hitam yang akan melilit leher mereka sendiri di hari pembalasan langit."

Lina tidak membantah kalimat puitis itu. Ia justru memutar layar laptopnya ke arah Dika, menampilkan sebuah diagram rumit yang menghubungkan nama Pak Baskoro dengan sebuah nama entitas besar: Konsorsium Mahardika Jaya.

"Lihat ini," kata Lina, wajahnya berubah serius di bawah siraman cahaya monitor. "Dana korupsi proyek gudang regional kemarin dialihkan lewat perusahaan cangkang, dan ujung-ujungnya masuk ke rekening konsorsium ini. Dan tahu siapa pemilik saham terbesar di Konsorsium Mahardika? Keluarga Wijaya. Salah satu konglomerat paling berpengaruh di negara ini, yang juga punya pengaruh besar di faksi politik hitam Jakarta."

Dika menyipitkan matanya. Di balik selaput korneanya, Mata Takdir kembali berdenyut hangat secara otomatis. Dunia monokrom kembali terhampar luas dalam ruang kesadarannya. Saat matanya membaca nama 'Keluarga Wijaya' di layar komputer, seutas jalinan takdir berwarna ungu kelam yang sangat besar—jauh lebih tebal dan beracun daripada yang melilit leher Baskoro atau kutukan dukun di kereta—tampak membentang luas di atas langit-langit kamar mereka, bergerak lurus menuju kawasan elite di pusat kota Jakarta.

Aroma karma dari benang itu begitu busuk, membawa hawa dingin dari konspirasi, pengkhianatan berdarah, dan aroma kematian dari Dika yang asli yang jiwanya telah direnggut secara paksa beberapa waktu lalu.

“Jalinan ini... tak salah lagi,” bisik suara batin Dika, kali ini sepenuhnya sunyi, tajam, dan kehilangan seluruh unsur komedinya. Aura kemurkaan seorang mantan penguasa jagat bangkit dari dasar jiwanya. “Mereka yang berada di balik Keluarga Wijaya... dialah tangan hitam sesungguhnya yang merancang kehancuran Dika yang asli. Pemilik tubuh ini dulu dijebak, difitnah, dan dihancurkan hidupnya hingga mati merana di kamar kosan lama, semua hanya karena dia tidak sengaja memegang dokumen rahasia tentang konspirasi triliunan rupiah milik konsorsium mereka. Baskoro hanyalah anjing penjaga gerbang luarnya.”

Lina merasakan perubahan drastis pada atmosfer ruangan. Suhu di dalam kamar melati itu mendadak drop hingga beberapa derajat, membuat embun tipis tampak terbentuk di permukaan gelas air putih di atas meja kecil. Bulu kuduknya berdiri tegak saat melihat sepasang mata Dika yang kini memancarkan pendar emas purba yang begitu pekat dan tajam, seolah sanggup menembus dinding beton penginapan dan melihat langsung ke arah musuh-musuhnya di luar sana.

"Dika... lo nggak apa-apa?" tanya Lina, suaranya mengecil, terselip rasa cemas yang jujur melihat intensitas kemarahan yang terpancar dari tubuh pemuda di depannya.

Dika menurunkan pandangannya, pendar emas di matanya meredup perlahan, kembali ke dalam wujud mata pemuda manusia biasa yang kuyu. Ia menghela napas panjang, menatap telapak tangannya yang kurus.

"Aku baik-baik saja, Lina," jawab Dika tenang, suaranya melembut kembali, menyisakan ketegasan yang mutlak. "Johan sudah mendekam di balik jeruji besi kota tua. Besok, uang kompensasi lima puluh juta itu akan menjadi modal pertama kita untuk menyusup ke dalam lingkaran mereka. Permainan catur melawan Baskoro telah usai, namun perang yang sesungguhnya melawan gurita raksasa di Jakarta ini baru saja dimulai."

Dika kembali merebahkan tubuhnya di atas kasur dengan posisi telentang, menatap langit-langit kamar yang berkedip sepi.

“Haaah... selesai juga akhirnya urusan korupsi si Johan gemuk itu,” ratap batin Dika yang asli kembali meronta dengan gaya konyolnya, memecah ketegangan atmosfer yang sempat membeku. “Besok gue harus cari baju baru yang beneran normal di mall Jakarta, bosen banget gue pakai kaos biru bolong ini terus. Tapi yang paling penting... semoga besok pagi ini encok di pinggang gue udah sembuh total gara-gara asupan koyo cabai! Kalau nggak, gimana caranya gue bisa menyusup ke tempat konglomerat sambil jalan megangin bokong kayak gini?! Bisa-bisa gue dikira pengemis kompleks sebelum sempat ngeluarin mata dewa!”

Lina yang mendengar keluhan batin tersebut langsung meledak dalam tawa kecil yang renyah. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu menutup layar laptopnya dengan bunyi klik yang pelan. Di bawah temaram lampu neon kamar melati yang berkedip, tirai babak pertama perjalanan mereka di kota asal telah sepenuhnya ditutup, dan fajar esok hari akan membawa mereka masuk ke dalam belantara badai Jakarta yang sesungguhnya.

1
SANG
Semangat ya thor💪👍
SANG
Sembilan belas bunga untukmu thor/Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/
SANG
Mantap, mantap banget💪👍
SANG
Cerita baru semangat baru ya dek💪👍
SANG
Ceritanya seru banget💪👍
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Remontada
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!