NovelToon NovelToon
The Farmer'S Muse

The Farmer'S Muse

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir / Cintapertama
Popularitas:693
Nilai: 5
Nama Author: Lia Lby

【Tina gadis yang tangguh×Andry pengusaha kaya penyayang+Cinta Pandangan Pertama+Keluarga, Komedi Romantis】

Rumah yang seharusnya menjadi tempat bernaung justru menjadi sumber beban batin bagi Tina. Ia terjebak dalam dinamika keluarga yang timpang​Kehidupan Tina mulai terusik oleh kehadiran seorang pemuda kota kaya yang diam-diam kagum akan ketangguhan dan ketulusannya. Tanpa diduga, pemuda tersebut datang membawa rombongan besar untuk melamar Tina.​Bagi orang lain, pernikahan ini mungkin dianggap sebagai tiket emas untuk lolos dari penderitaan. Namun, sebagai wanita dewasa yang realistis, Tina tidak langsung mengiyakan. Ia tahu pernikahan bukanlah pelarian, melainkan babak baru yang penuh tanggung jawab. Di hadapan lamaran itu, Tina berdiri dengan sejuta tanya: apakah ini awal dari kebahagiaannya, atau justru awal dari badai yang baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lia Lby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 15

"Assalamu’alaikum..."

Tina mendorong pintu kayu rumahnya yang tidak terkunci. Langkah kakinya yang berat membawa tubuh lesunya masuk ke dalam ruang tengah.

Namun, pemandangan pertama yang menyambut kedatangannya seketika membuat dadanya kian bergemuruh. Ruangan itu tampak seperti kapal pecah. Mainan plastik milik Ali berserakan di dekat pintu, beberapa lembar baju kaos harian Fandi yang kotor tergeletak begitu saja di atas tikar pandan, dan bantal-bantal kursi berhamburan di lantai tanpa ada yang peduli untuk merapikannya kembali.

Tina yang sudah teramat lelah secara fisik dan mental hanya bisa menarik napas panjang, mencoba mengubur dalam-dalam rasa sesak yang kembali naik ke tenggorokan. Tanpa menyentuh satu pun barang yang berantakan itu, ia melangkah lurus masuk ke dalam kamarnya, merebahkan diri di atas kasur kapuk, dan memejamkan mata sejenak untuk mencari ketenangan yang fana.

"Tina, kamu sudah pulang?" sebuah suara dari balik tirai kamar sebelah memecah keheningan. Rika muncul dengan wajah yang masih tampak ditekuk sisa ketegangan kemarin.

"Iya, Kak, ada apa?

" Tolong masak nasi dong, Mama sama Abah lagi pergi ke kebun yang di gunung, jadi ngak ada yang masak untuk makan siang."

Tina membuka matanya perlahan, menatap langit-langit kamarnya. "Apa tidak ada nasi yang sisa tadi pagi, Kak?" tanyanya dengan suara serak.

"Sudah habis," jawab Rika pendek sebelum kembali masuk ke kamarnya.

Tina mengembuskan napas berat. Keinginan untuk meluapkan amarah sempat melintas, namun ia tidak ingin memperpanjang perdebatan di rumah yang sudah kehilangan kehangatan ini. Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, ia bangkit berdiri, bergegas menuju dapur, dan mulai mencuci beras di bawah kucuran air keran untuk segera memasak nasi dan lauk seadanya.

Tidak lama setelah uap penanak nasi mulai mengepul, derit pintu dapur yang berbatasan dengan halaman belakang terdengar. Lisa berjalan masuk dengan seragam sekolah yang sudah agak kusut dan tas ransel yang bertengger di bahunya.

"Assalamu’alaikum, Kak Tina..." sapa Lisa setengah berbisik, melangkah mendekati kakaknya yang sedang merapikan kayu bakar di dekat tungku.

"Wa’alaikumussalam. Ada apa, Lis?" tanya Tina tanpa menoleh.

"Kak, coba lihat ini," bisik Lisa lagi, suaranya sengaja ditekan seolah-olah sedang membawa sebuah rahasia besar.

Tina menghentikan aktivitasnya dan menoleh. "Apa itu, Lis?"

"Tadi pas aku pulang sekolah dan lewat di depan rumah Bu Yuna, beliau tiba-tiba berteriak dari atas terasnya. *'Lisa... Lisa, ayo sini naik sebentar!'* Begitu katanya. Aku langsung naik ke rumahnya, lalu dikasih ini, hehe," cerita Lisa riang, menyodorkan sebuah kantong kresek hitam yang cukup berat ke depan wajah Tina.

"Memangnya itu apa?" Tina mengernyitkan dahi.

"Kue dan buah-buahan segar, Kak. Kata Bu Yuna tadi, beliau lupa memberikannya kepadamu waktu Kak Tina mampir ke rumahnya siang tadi," jelas Lisa sembari meletakkan bungkusan itu di atas meja makan kayu.

Tina tertegun sejenak, teringat kembali pada katalog baju pengantin yang sempat dipamerkan wanita paruh baya itu. Sebuah senyum tipis terukir di sudut bibirnya atas kebaikan hati tetangganya tersebut. "Ya sudah, sana ganti bajumu dulu, baru kamu makan kuenya.

Tapi... kok kamu pulangnya cepat sekali hari ini?"

"Kan lagi pekan ujian, Kak, jadi semua murid dipulangkan lebih awal," jawab Lisa riang.

Lisa pun berbalik, berjalan melintasi dapur menuju kamarnya yang berada di dekat ruang tengah. Namun, begitu langkah kakinya sampai di ambang pintu ruangan utama, senyum di wajah remaja itu seketika luntur. Matanya menatap nanar pada mainan Ali, baju-baju Fandi, dan bantal yang masih berhamburan memenuhi lantai.

Lisa menarik napas panjang, pundaknya merosot turun. Rasa lelah yang teramat sangat menjalar di dalam dadanya; ia merasa muak melihat kondisi rumah yang setiap hari selalu berantakan tanpa ada yang mau berubah.

"Ahhh... kapan ya aku bisa hidup dengan tenang di rumah ini?" gumam Lisa lirih, nyaris tak terdengar, sebelum akhirnya menutup pintu kamar dengan rapat.

Sementara itu, jauh di atas lereng gunung, malam telah turun sepenuhnya menyelimuti perkebunan cokelat milik keluarga. Di dalam sebuah pondok kayu kecil yang sederhana, diterangi oleh pendar kuning dari lampu teplok minyak tanah, kedua orang tua Tina sedang menikmati makan malam berdua di atas lantai beralaskan tikar usang.

Suasana malam di gunung yang dingin digantikan oleh keheningan yang sarat akan beban pikiran di antara sepasang suami istri paruh baya tersebut. Bu Aminah meletakkan piring sengnya, menatap sang suami yang masih mengunyah nasi dengan perlahan.

"Pak..." panggil Bu Aminah dengan nada suara yang bergetar menahan tangis.

"Iya, Bu? Ada apa?" sahut Pak Rahman, menyeka sudut bibirnya.

"Kita harus apakan anak kita, si Fandi itu, Pak?" tanya Bu Aminah, air mata kini mulai menggenang di pelupuk matanya. "Mau diapakan lagi bu? Setiap hari kita sudah tidak bosan-bosan menasihatinya, memarahinya, tapi dia selalu saja melakukan kesalahan yang sama. Uang tabungan saudaranya sendiri pun tega dia curi."

Bu Aminah menyembunyikan wajahnya di balik kedua telapak tangan. "Ibu kasihan melihat Tina, Pak... Dia terlalu banyak menanggung beban di rumah. Dia harus mengajar, mengurus rumah, bahkan ikut ke sawah dan segala macam pekerjaan berat yang sebenarnya sudah di luar batas kemampuannya. Dia anak perempuan kita, Pak..."

Pak Rahman menghentikan makannya. Gurat-gurat keriput di wajah tuanya tampak semakin mendalam di bawah temaram cahaya lampu teplok. Ia mengembuskan napas yang sangat berat, seolah ada batu besar yang sedang mengimpit dadanya.

"Bapak juga merasa sangat bersalah pada Tina, Bu," tutur Pak Rahman dengan suara yang parau. "Bapak sudah berulang kali melarangnya untuk ikut bekerja terlalu keras. Tapi setiap kali dilarang, Tina malah mengeluarkan kata-kata motivasi dan meminta maaf kepada Bapak, padahal dia sama sekali tidak punya salah apa-apa. Anak itu... dia menanggung seluruh rasa bersalah atas kelakuan buruk adik dan kakaknya, seolah-olah semua kekacauan ini adalah tanggung jawabnya sendiri. Padahal dia tidak bersalah sedikit pun."

Sepasang orang tua itu akhirnya kembali terdiam, tenggelam dalam rasa bersalah dan ketidakberdayaan yang mendalam atas badai yang sedang menguji keutuhan keluarga mereka di bawah sana.

Kembali ke rumah, malam semakin larut. Di dalam kamar tidur yang sempit, Lisa berbaring miring di atas kasur, menatap punggung kakaknya yang sedang membaca buku di bawah temaram lampu kamar.

"Kak..." panggil Lisa memecah kesunyian malam.

"Hmm? Apa, Lis?" sahut Tina tanpa mengalihkan pandangannya dari lembaran kertas.

"Aku... kira-kira bisa kuliah tidak ya nanti

?" tanya Lisa dengan nada suara yang penuh keraguan dan kecemasan akan masa depannya sendiri.

Tina menutup bukunya perlahan, lalu membalikkan tubuh menghadap sang adik. Ia menatap mata polos Lisa dengan pandangan yang penuh kasih sayang. "InsyaAllah bisa, Lis," jawab Tina lembut, mencoba memberikan suntikan semangat yang paling tulus dari dalam dadanya. "Kan buktinya Kakak dan Kak Rika dulu juga bisa kuliah sampai selesai."

Lisa mengembuskan napas pendek, memalingkan wajahnya menatap dinding papan kamar mereka. "Tapi kan itu dulu, Kak... Itu kan waktu pohon-pohon cokelat milik Abah masih berbuah lebat dan harga jualnya tinggi. Waktu Abah juga masih sehat dan kuat bekerja.

Sekarang? Kakak lihat sendiri, kan? Pohon cokelat kita sudah mulai banyak yang mati terserang penyakit, Abah sudah tidak kuat lagi bekerja berat di ladang, dan hasil panen padi kita selalu kurang untuk menutupi kebutuhan sehari-hari."

Suara Lisa mulai bergetar menahan haru. "Mana bisa aku kuliah, Kak? Kebutuhan dapur rumah kita saja setiap hari harganya sudah semakin mahal dan mencekik. Aku takut..."

Tina menggeser tubuhnya mendekati Lisa, lalu mengusap rambut adiknya dengan lembut. "InsyaAllah, Lis... pasti selalu ada jalan kalau kita mau berusaha. Kakak saja bisa kuliah dan baru lulus satu tahun yang lalu, kan?"

"Tapi kan Kakak waktu itu dapat beasiswa," sanggah Lisa cepat.

"Nah, itu kamu tahu," tutur Tina dengan senyum hangat yang menenangkan. "Kamu juga harus belajar yang rajin mulai sekarang, biar nanti bisa dapat beasiswa seperti Kakak dulu. Jadi, biaya kuliahmu tidak perlu ditanggung semuanya oleh Abah yang sudah sepuh."

Lisa menggigit bibir bawahnya, menatap kakaknya dengan tatapan minder. "Tapi kan... Lisa tidak sepintar Kak Tina. Nilai-nilaiku di sekolah biasa-biasa saja."

Tina menggenggam jemari adiknya yang terasa agak dingin, memberikan kehangatan seorang kakak yang tidak akan pernah membiarkan adiknya menyerah pada keadaan. "Pintar itu bisa diusahakan dengan belajar, Lis. Tidak ada yang tidak mungkin kalau kamu punya niat yang lurus. InsyaAllah, kamu pasti bisa. Kakak akan selalu mendukungmu."

Sementara itu, di tempat yang sangat jauh dari kesederhanaan Desa Sukamaju, kemewahan sebuah griya tawang di pusat kota tidak mampu memberikan ketenangan bagi sang pemilik. Di dalam kamarnya yang luas, Andry berdiri termenung di depan jendela kaca besar yang bening, menatap hamparan kerlap-kerlip lampu kota di bawah langit malam yang pekat.

Pikirannya sedang dilanda kegalauan yang teramat sangat. Di dalam benaknya, bayangan wajah tegar dan mata jernih Tina terus berputar tanpa bisa diusir pergi. Gadis desa yang tampak begitu rapuh namun memiliki prinsip yang sekokoh karang itu terasa sangat sulit untuk digapainya, bahkan dengan seluruh kekayaan dan kekuasaan yang ia miliki saat ini.

Andry menyentuh permukaan kaca jendela yang dingin dengan ujung jarinya, mengembuskan napas pendek yang mengaburkan pandangannya sejenak. Keanggunan Tina di tengah segala keterbatasan desanya telah benar-benar mengunci hatinya, membuat pria kota yang angkuh itu sadar, bahwa ada beberapa hal di dunia ini yang tidak akan pernah bisa dibeli dengan selembar cek kertas atau status sosial yang tinggi. Perjalanan untuk meruntuhkan tembok pembatas di antara mereka barulah dimulai.

Apakah Andry bisa segera mendapatkan Tina dan apa rencana Andry selanjutnya?

1
Mamah Dini11
ya mendingan di ambil tin kan gajinya gede ,jdi bisa bantu ortumu. kalau masalah paud carikan dulu penggantimu, ya setidaknya kalau gajinya gede kan bisa mengurangi bebanmu
Mamah Dini11
kenapa gk ngontrak aja tin atau ngekos gitu biarkan kakamu yg malas dan benalu itu yg ngerjain di rumah itu , permisi thor mampir ni...moga ceritanya menarik 🙏
Imi Omi
yah ngayal 🤣
Imi Omi
aku suka ceritanya, lanjut terus Thor 👍
Imi Omi
😤
Imi Omi
katanya nunggu tapi kalau ngak di terima kayaknya dia bakalan buat rencana gila lagi🤣
Imi Omi
jadi bahan gosip sekampung🫠
Imi Omi
mungkin yang di maksud Lisa tu, aku atau kak Tina 🤣🤣🤣
Imi Omi
🤣
Imi Omi
waduh di lamar dong 🤭
Imi Omi
😭😭
Imi Omi
Akhirnya dia sadar juga😭
Imi Omi
baru juga dinasehati udah nasehatin orang 🤣
Imi Omi
Dimarahin Bu Yuna gak tuh🤣
Imi Omi
uwah ketahuan
Imi Omi
ngak tahu diri banget si jadi anak laki-laki 😤
falea sezi
buruk bgt cerita muter doank g jelas. MC. nya bodoh mood baca jd anjlok
falea sezi
MC oon semua😒
falea sezi
🤣🤣 tina goblok novel apaaan ini muter doank😒 MC nya bloon kok lulusan sarjana lulusan SD. kali. makanya oon ma adek g bs tegas. ma. ortu jg gt
Imi Omi
🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!