NovelToon NovelToon
Pembalasan Dendam Mantan Istri Ceo

Pembalasan Dendam Mantan Istri Ceo

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Finus Ina

Lima tahun lalu, Adeline Wijaya dijebak oleh adik tirinya sendiri hingga keguguran dan diusir oleh suaminya, Bramantara, dalam kondisi sekarat. Semua orang mengira Adeline telah tewas di dasar jurang.Lima tahun kemudian, ia kembali ke Kota Jakarta dengan identitas baru sebagai Elena Vance, seorang desainer perhiasan kelas dunia yang genius dan kejam. Tujuannya hanya satu: menghancurkan mereka yang telah merebut kebahagiaannya.Demi melancarkan aksinya, Elena mendekati Nicholas Syailendra, CEO tertinggi di balik konglomerat nomor satu sekaligus musuh bebuyutan mantan suaminya.

Nicholas menawarkan kesepakatan: "Jadilah istriku, dan aku akan memberikan dunia untukmu membalas dendam." Namun, Elena tidak tahu bahwa di balik pernikahan kontrak itu, ada rahasia masa lalu yang jauh lebih besar yang siap menguji hatinya sekali lagi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Finus Ina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 18

happy reading guys

------------------------------

## BAB 18: Bram yang Keluar dengan Jaminan

Langkah kaki seorang pria dengan pakaian kuyu bergaung pelan saat ia berjalan keluar dari pintu samping gedung markas besar kepolisian Jakarta. Pria itu adalah Bramantara. Berkat jaringan pengacara licik yang disewa oleh sisa-sisa aset keluarga Wijaya, ia akhirnya berhasil keluar dari ruang tahanan sementara dengan status penangguhan penahanan lewat jaminan uang yang sangat besar.

Namun, pria yang melangkah di bawah terik matahari siang itu bukan lagi Bramantara sang CEO angkuh yang dulu dihormati. Wajahnya dipenuhi jenggot tipis yang tidak terawat, tatapan matanya kosong, dan rahangnya mengeras menahan gelojak kegilaan yang mulai merusak isi otaknya.

Brak!

Bram membanting pintu taksi tua yang ditumpapinya, lalu mencengkeram sebuah map koran pagi yang memuat foto Nicholas Syailendra sedang mengecup bibir Elena Vance secara posesif di pesta malam bisnis dua hari lalu.

"Adeline... kamu nggak boleh sama dia. Kamu itu istriku... kamu cuma pura-pura kan di depan kamera?" bisik Bram dengan suara serak yang bergetar hebat.

Jarinya meremas kertas koran itu hingga robek tepat di bagian wajah Nicholas. Rasa cemburu, obsesi, dan rasa bersalah yang teramat sangat atas kematian anak mereka satu bulan lalu kini telah bermutasi menjadi sebuah gangguan psikologis yang mengerikan. Di dalam otak Bram yang mulai buntu, satu-satunya cara agar hidupnya bisa kembali normal adalah dengan merebut "Adeline" kembali dari pelukan sang penguasa kota.

------------------------------

Sementara itu, di dalam ruangan laboratorium desain eksklusif Syailendra Jewelry, Elena Vance sedang sibuk memotong sketsa pola untuk proyek akbar 'Black Diamond Dynasty'. Suasana ruangan yang tenang tiba-tiba terusik ketika Nicholas Syailendra melangkah masuk tanpa suara, lalu langsung berdiri tepat di belakang tubuh Elena.

Nicholas mengulurkan kedua tangan kekarnya, melingkarinya dengan begitu posesif di sekeliling pinggang ramping Elena, menyandarkan dagu kokohnya di atas pundak wanita itu.

"Nicholas, lepaskan. Aku sedang memegang pisau pemotong berlian," ucap Elena, meskipun ia tidak bisa menyembunyikan debaran jantungnya yang mendadak berdegup kencang secara tidak teratur setiap kali merasakan kehangatan dada bidang Nicholas yang menempel di punggungnya.

"Biarkan seperti ini sebentar, Elena," bisik Nicholas rendah, suaranya terdengar berat dan dalam laksana melodi yang magis. Ia menghirup dalam-dalam aroma harum bunga mawar yang menguar dari helai rambut panjang Elena. "Yan baru saja melaporkan bahwa Bramantara berhasil keluar dengan jaminan pagi ini."

Elena menghentikan gerakan tangannya. Sepasang mata indahnya mendadak memicing dingin. "Pria bodoh itu ternyata masih punya sisa uang untuk membayar pengacara."

Nicholas mempererat dekapannya di pinggang Elena, seolah ingin menegaskan perlindungan mutlaknya. "Dia sudah kehilangan Bram Corp, rumah mewahnya disita bank, dan Siska akan segera dipindahkan ke lembaga pemasyarakatan minggu depan. Pria itu sekarang tidak lebih dari seekor anjing liar yang kelaparan. Aku sudah menyuruh empat pengawal tambahan untuk mengawasimu secara rahasia dari kejauhan."

Elena berbalik di dalam pelukan Nicholas, mendongak menatap langsung ke dalam manik mata elang milik suaminya. Sebuah senyuman miring yang begitu cantik namun dingin terukir di bibirnya. "Aku tidak takut pada anjing liar, Nicholas. Jika dia berani menampakkan moncongnya di hadapanku lagi, aku sendiri yang akan memastikan taringnya patah tanpa sisa."

Nicholas tersenyum miring—sebuah senyuman kejam namun penuh pesona maskulin yang luar biasa memikat. Pria itu menundukkan kepalanya lebih dalam, mengecup bibir merah merona Elena dengan kecupan yang singkat namun sangat menuntut sebelum melepaskan ikatannya. "Itu baru singa betinaku. Aku menunggumu di mobil limosin satu jam lagi."

------------------------------

Satu jam kemudian, sore hari di area basemen parkir khusus VVIP gedung pusat Syailendra Group terasa begitu sunyi dan remang-remang. Elena melangkah anggun melintasi deretan mobil mewah, bermaksud menuju ke arah mobil limosin Nicholas yang sudah menunggu di ujung koridor parkir. Dua pengawal pribadi berjalan tegap beberapa meter di belakangnya.

Namun, tepat saat Elena hendak melewati sebuah pilar beton raksasa nomor B-4, sebuah bayangan pria mendadak melompat keluar dari kegelapan dan langsung menghadang jalur jalannya.

Sret!

"Adeline! Tolong dengerin aku dulu, Adeline!"

Elena menghentikan langkah kakinya secara paksa. Ia menatap tajam ke arah sosok pria yang berdiri di hadapannya dengan pakaian kasual yang kusut dan napas yang memburu tidak teratur. Itu adalah Bramantara. Pria itu berhasil menyelinap masuk ke dalam basemen VVIP dengan menyamar sebagai petugas kebersihan kebersihan gedung.

"Bramantara," desis Elena, suaranya sedingin es kutub utara, matanya berkilat memancarkan rasa muak yang luar biasa mendalam. "Berani sekali kamu menampakkan wajah menjijikkanmu di tempat ini."

"Adeline... aku mohon pulanglah sama aku!" Bram berteriak histeris, sepasang matanya memerah dan berkaca-kaca dipenuhi oleh kegilaan obsesi yang mengerikan. Pria itu menjatuhkan dirinya ke atas lantai basemen, mencoba merangkak maju untuk menggapai kaki Elena. "Aku tahu aku salah semalam! Aku tahu Siska yang jahat! Tapi kita bisa mulai semuanya dari awal lagi, Adeline! Aku akan bangun Bram Corp lagi untukmu! Tolong tinggalkan Nicholas Syailendra! Dia cuma memanfaatkanmu untuk bisnisnya!"

Dua pengawal pribadi Elena yang melihat ancaman itu langsung bergerak maju dengan cepat, hendak meringkus tubuh Bram. Namun, Elena mengangkat tangan kanannya ke udara, memberikan isyarat agar para pengawalnya menahan diri.

Elena melangkah satu tapak maju, berdiri tepat di hadapan mantan suaminya yang sedang bersujud di lantai basemen yang kotor. Sebuah tawa renyah yang terdengar sangat beracun dan dingin keluar dari bibir merah meronanya.

"Mulai dari awal, Bram?" Elena mencondongkan tubuhnya sedikit, menatap langsung ke manik mata Bram dengan pandangan yang merendahkan. "Apakah kamu bisa mengembalikan detak jantung janin berusia empat bulan yang sudah gugur karena tamparan dan tendangan pengawalmu di malam badai itu? Apakah kamu bisa mengembalikan air mata Adeline yang naif yang sudah mati membeku di atas aspal jalanan?"

Bram tersedak oleh tangisnya sendiri, tubuhnya gemetar hebat menahan rasa sesak yang luar biasa besar di dadanya. "Maaf... maafkan aku, Adeline... aku berdosa..."

"Nama saya adalah Elena Vance, Tuan Bramantara," bisik Elena kejam, lalu berbalik membelakangi pria itu untuk melangkah pergi. "Dan bagi saya, Anda tidak lebih dari sekadar sampah masa lalu yang harus segera dimusnahkan dari muka bumi."

"Nggak! Kamu nggak boleh pergi, Adeline! Kamu harus ikut aku!"

Melihat Elena berbalik pergi, kewarasan Bram pecah total tanpa sisa. Dengan gerakan yang sangat liar, ia melompat bangun dari lantai basemen, menerjang maju dari arah belakang hendak memeluk tubuh ramping Elena secara paksa untuk menyeretnya masuk ke dalam mobil tua yang sudah ia persiapkan di sudut kegelapan. Babak baru dari kepunahan total sisa-sisa harga diri sang mantan suami kini telah resmi mengobarkan ketegangan maut di bawah tanah Syailendra Group.

------------------------------

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!