NovelToon NovelToon
Teman Tapi Menikah

Teman Tapi Menikah

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:72.4k
Nilai: 5
Nama Author: elaretaa

Setelah tiga tahun lulus kuliah, Aira merasa hidupnya hanya sebagai beban. Di saat teman-temannya sukses dengan pekerjaannya, Aira harus menerima kenyataan jika hidupnya sangat menyedihkan.

​Di tengah frustrasinya, teman kuliahnya yang paling cuek, tiba-tiba menelepon Aira. Berawal dari obrolan malam dan lamaran yang dikira candaan, teman prianya mendadak muncul di depan rumah Aira bersama keluarga besarnya untuk melamar Aira.

Bagaimana cerita selanjutnya? Apa Aira akan menerima lamaran tersebut? Mengapa pria itu tiba-tiba melamar Aira?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jangan Panggil Polisi!

Bu Sumi menelan ludah sejenak sebelum menyampaikan maksudnya, "Begini, Bu... petugas keamanan baru saja mengabarkan kalau di depan gerbang ada orang yang bersikeras ingin masuk untuk bertemu dengan Ibu. Orang itu bilang... dia sudah memiliki janji penting dengan Bu Aira," ucap Bu Sumi.

​Tentu saja Aira terkejut mendengar ucapan Bu Sumi karena seingatnya ia tidak pernah membuat janji dengan siapa pun sejak menginjakkan kaki di kota ini.

​"Janji? Siapa orangnya, Bu? Apa dia menyebutkan nama?" tanya Aira, berusaha menjaga suaranya agar tidak bergetar di hadapan Bu Sumi.

​Bu Sumi menggelengkan kepala dengan raut wajah yang semakin serba salah, "Dia tidak mau menyebutkan namanya dengan jelas kepada petugas, Bu. Dia cuma marah-marah dan terus membentak petugas, mengaku kalau dia adalah kerabat dekat Ibu. Karena penampilannya sedikit mencurigakan dan bicaranya sangat kasar, petugas tidak berani membiarkannya masuk begitu saja," ucap Bu Sumi.

​Bu Sumi menjeda kalimatnya sejenak, melirik ke arah jalan gerbang depan rumah sebelum melanjutkan, "Saat ini petugas sedang menahan pria itu di luar. Petugas bilang, mereka tidak akan membiarkannya masuk sebelum konfirmasi langsung dari Bu Aira. Jadi, petugas menunggu keputusan dari Ibu sekarang... apakah orang tersebut diperbolehkan masuk atau harus diusir paksa oleh tim keamanan?" lanjutnya.

Aira mengerutkan keningnya, mencoba menerka-nerka siapa yang datang ingin menemuinya. Pikirannya sempat melayang pada tetangga desanya atau mungkin saudara jauh dari pihak ibunya, namun tak ada satu pun nama yang terasa masuk akal. Tanpa ada rasa curiga, Aira mengangguk pelan pada Bu Sumi.

​"Ya sudah, Bu Sumi. Biar saya temui sendiri saja ke depan gerbang," ucap Aira, mencoba bersuara seringan mungkin untuk menenangkan Bu Sumi yang tampak tegang.

​"Baik, Bu," ucap Bu Sumi.

​Aira melangkah menyusuri jalan setapak berbatu di halaman samping, melewati rimbunnya pohon palem hias yang membatasi area taman dengan pelataran depan. Semakin dekat ia melangkah ke arah gerbang hitam menjulang tinggi itu, samar-samar terdengar suara bentakan kasar dengan logat yang sangat ia kenal, suara yang seketika membuat seluruh bulu kuduknya meremang dan langkah kakinya mendadak terpaku di atas aspal.

​"Kamu jangan macam-macam ya! Saya ini bapak kandungnya nyonya rumah ini! Kurang ajar sekali kalian menahan saya di luar pagar seperti pengemis!"

​Darah Aira mendadak berhenti mengalir. Wajahnya seketika pucat pasi, laksana seluruh pasokan oksigen di sekitarnya tersedot habis. Di balik celah besi gerbang, berdiri sesosok pria paruh baya mengenakan kemeja yang sedikit lusuh dengan tas ransel tua yang melampir di salah satu pundaknya, itu Bapak Hilman.

​Dua orang petugas keamanan bertubuh tegap tampak berdiri kokoh menghalangi jalurnya, wajah mereka datar namun waspada, sama sekali tidak terpengaruh oleh makian pria di hadapan mereka.

​Melihat sosok Aira yang muncul dari balik pohon peneduh, mata Bapak Hilman seketika berbinar penuh amarah dan kelicikan. Ia menunjuk-nunjuk ke arah Aira dengan jarinya yang gemetar.

​"Nah, itu dia! Aira! Sini kamu! Buka gerbangnya! Bilang sama satpam-satpam sombong ini kalau saya ini Bapakmu!" teriak Bapak Hilman tanpa urat malu dan membuat beberapa pengendara motor yang lewat di depan kompleks perumahan elite itu sempat menoleh penasaran.

​Aira mencengkeram ujung kaus yang dikenakannya dengan sangat erat hingga jemarinya memutih, rasa syok yang luar biasa perlahan berganti menjadi gelombang ketakutan yang menghimpit dadanya.

'Bagaimana bisa? Bagaimana mungkin Bapak tahu alamat rumah ini?' batin Aira.

Pertanyaan itu berputar hebat di kepalanya, memicu rasa pusing yang mendadak menyerang ubun-ubun.

​Dengan langkah yang terasa seberat timah, Aira memaksa kakinya mendekat, salah satu petugas keamanan menoleh dan membungkuk hormat pada Aira.

"Selamat sore, Bu Aira. Apa Bu Aira mengenal pria ini?" tanya petugas itu dengan suara tegas namun sopan.

​Belum sempat Aira menjawab, Bapak Hilman sudah menyela dengan tawa sinisnya, "Saya ini Bapak kandungnya! Anak durhaka ini sengaja kabur bersama ibunya yang penyakitan itu ke Jakarta demi menikmati kekayaan suaminya sendirian!" bentaknya.

"Pak, sudah. Bapak nggak malu ya teriak-teriak kayak gini," ucap Aira, masih sopan.

"Makanya buka gerbangnya dan biarkan Bapak masuk," balas Bapak Hilman ketus.

"Nggak bisa, ini rumahnya Mas Arsen dan Aira harus izin dulu ke Mas Arsen. Di dekat sini ada taman, kita bicara disana saja," ucap Aira.

Bapak Hilman mendengus kasar, wajahnya yang kuyu akibat perjalanan jauh seketika mengeras penuh penolakan. Ia mencengkeram besi gerbang dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya menunjuk lurus ke wajah Aira.

​"Bicara di taman kamu bilang? Kamu pikir Bapak ini gelandangan yang bisa kamu ajak bicara di pinggir jalan!" bentak Bapak Hilman, suaranya sedikit meninggi hingga membuat dua petugas keamanan di depan Aira otomatis mengambil posisi lebih maju, siap melindungi sang nyonya rumah.

​"Bapak sudah jauh-jauh datang dari Lumajang, naik bus ekonomi, kepanasan, kelaparan! Dan sekarang setelah sampai di rumah menantu Bapak yang seperti istana ini, kamu malah mau mengusir Bapak ke taman? Anak kurang ajar!"

​Aira memejamkan matanya rapat-rapat, menahan gemuruh di dadanya. Rasa malu yang teramat sangat menjalar hingga ke ujung jari-jarinya, beberapa asisten rumah tangga yang mendengar keributan itu mulai mengintip dari balik tirai jendela lantai satu.

​"Aira nggak bermaksud mengusir Bapak, tapi Mas Arsen sedang tidak ada di rumah. Ibu juga sedang istirahat, kondisi fisik Ibu belum stabil. Aira mohon, Pak... jangan bikin keributan di sini," bisik Aira, suaranya bergetar menahan tangis.

​"Kalau suamimu tidak ada, ya panggil ibumu! Suruh dia keluar! Enak saja dia hidup mewah di Jakarta sementara Bapak kelabakan ditagih utang di kampung!" Bapak Hilman terus berteriak tanpa memedulikan tatapan tajam dari para petugas keamanan.

"Cepat buka gerbangnya, Aira! Atau Bapak akan terus teriak di sini sampai semua tetangga kanan-kirimu keluar dan tahu kelakuan aslimu yang telantar kek sariawan sama bapak kandung sendiri!" lanjutnya.

​Mendengar ancaman itu, pertahanan Aira runtuh. Air mata yang sejak tadi ia bendung akhirnya luruh membasahi pipinya, ia merasa sangat terdesak dan tak berdaya. Di satu sisi, ia sama sekali tidak ingin pria serakah ini menginjakkan kaki dan merusak ketenangan rumah tangga yang baru saja ia bina bersama Arsen. Namun di sisi lain, ia juga takut keributan ini akan berimbas pada kesehatan ibunya yang sedang tertidur di dalam.

​"Tolong, Pak... jangan bawa-bawa Ibu...," ratap Aira parau.

​"Bu Aira, jika pria ini membuat Ibu tidak nyaman dan mengganggu ketertiban, kami bisa segera menghubungi pihak berwajib atau membawanya pergi secara paksa dari sini," salah satu petugas keamanan berbisik tegas, pandangannya tetap lurus mengawasi Bapak Hilman.

​"Jangan! Jangan panggil polisi!" potong Bapak Hilman cepat.

"Kalau begitu kita bicara ditaman, Pak," ajak Aira.

.

.

.

Bersambung.....

1
Aidil Kenzie Zie
yang nangani Dokter Kandungan malah disuruh periksa lagi di Dokter Kandungan 🤔🤔🤔 mungkin suruh USG kali y🤔🤔🤔
elaretaa: Maaf, salah Kak. Seharusnya dokter umum itu, terus nanti dibawa ke dokter kandungan🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Felycia Fernandez
bukannya tadi di part atas di jelaskan kalau dokter yang keluar dokter wanita spesialis kandungan..
kenapa bisa ada dokter kandungan lagi di dalam..
Felycia Fernandez: semangat revisi kk Thor
total 2 replies
Allfa Rizky
sayang ya Zakia sifatnya plek ketiplek bapaknya
erviana erastus
didunia nyata apa ada suami spti ini? 🤭
erviana erastus
syukurlah semua baik-baik aza
Felycia Fernandez
naaaah bener tebakan ku kemaren, Aira mengalami eklamsia...
Bunga Andthea
sempet deg deg an bacanya
falea sezi
preeklamsia ya 😓
Felycia Fernandez
lho kenapa?? demam kah??
erviana erastus
apa efek anestesi nya sdh hilang dan aira nggak bisa menahan rasa sakit? 🤔
erviana erastus: ho oh
total 2 replies
Felycia Fernandez
jadi ingat waktu kontraksi, sudah sehari 2 malam ngalami kontraksi,tapi mentok di pembukaan 3 terus . akhirnya SC pun dilakukan
Aidil Kenzie Zie
tu si Ibu Ami masih waras nggak mau ganggu Aira 👍🏻
Felycia Fernandez
kesabaran Aira yang punya bapak lucknut dulunya
Felycia Fernandez
lucu 🤣🤣🤣🤣
cari juga la suami kaya...
kalau perlu jadi jalang sekalian
Syifa Fauziah
ulalaaaaaa,,, pagi2 udh gemess liat arsen dan airaa😍🤭.
erviana erastus
omg ternyata adik kandung toh ckckck gila bener .... mau numpang hidup enak sama aira 🤣 nggak waras kek pantes nyusul bpk sama pmnx dipenjara biar rasa
Felycia Fernandez
ternyata darah pak Hilma mengalir deras di tubuh Zakia...
🤣🤣🤣🤣🤣
Felycia Fernandez
Bu Ami beneran sayang Ama Zakia
erviana erastus
licik kek bapakx ckckck 🤬🤬🤬
Felycia Fernandez
ini lagi duo lambe...
mau ikutan juga Bu...
ayo bergosip lagi...
makin sip di tiap warung ...😆
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!