Annisa, seorang TKI dari Indonesia, merantau ke Tiongkok untuk mencari nafkah. Ia bekerja sebagai pembantu di kediaman Chensi—seorang pengusaha kaya raya, pemimpin perusahaan raksasa, dan dikenal sebagai sosok yang kejam, dingin, serta tak ada yang berani menentangnya. Hidup Annisa terasa penuh ketakutan hingga suatu malam, Chensi pulang dalam keadaan mabuk berat dan melakukan perbuatan keji yang merenggut kehormatannya. Kejadian itu membuat Annisa hamil, memaksanya menghadapi pilihan sulit: bertahan atau kembali pulang dengan membawa beban yang tak terbayangkan. Akankah sang tiran yang dingin itu akhirnya berubah, atau justru menambah penderitaan bagi Annisa dan janin di dalam kandungannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Risnawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedatangan keluarga Chensi
Pagi itu, suasana di ruang makan terasa lebih tenang dari biasanya. Salju masih turun perlahan di luar jendela, namun di dalam ruangan terasa hangat dan nyaman. Chensi sudah duduk menunggu, dan begitu melihat Annisa datang dengan langkah hati‑hati, ia segera berdiri dan menarikkan kursi untuknya.
“Silakan duduk, hati‑hati,” ucapnya lembut, lalu memastikan gadis itu sudah nyaman sebelum kembali duduk di seberangnya.
Di meja makan hanya tersaji hidangan yang sederhana namun terlihat lezat—bubur ayam, sayuran segar, dan buah‑buahan. Tidak ada lagi makanan yang tidak jelas asalnya, tidak ada juga minuman keras atau bumbu yang dicurigai.
Setelah mereka mulai makan, Chensi meletakkan sendoknya perlahan, lalu menatap Annisa dengan pandangan yang sungguh‑sungguh.
“Annisa, ada hal yang ingin aku sampaikan pagi ini.”
Annisa mengangkat wajahnya, menatap dengan rasa penasaran. “Apa itu, Tuan?”
“Mulai hari ini, di rumah ini tidak akan ada lagi makanan yang tidak halal menurut keyakinanmu. Aku sudah memeriksa semuanya, membuang semua persediaan yang tidak boleh kau konsumsi, dan mengganti seluruh peralatan masak, piring, serta peralatan makan dengan yang baru. Tidak ada lagi yang tercampur dengan barang‑barang lama.”
Mata Annisa terbelalak lebar, tangannya yang memegang sendok terhenti di udara. “Tuan… bagaimana Tuan tahu hal‑hal yang harus dihindari itu? Siapa yang memberitahu Tuan?”
Chensi tersenyum tipis, sedikit tersipu. “Aku meminta bantuan seorang penasihat yang memahami ajaranmu. Aku bertanya dengan rinci apa yang boleh dan tidak boleh, bagaimana cara mengolah makanan, dan apa saja yang harus dijaga. Aku tidak ingin lagi membuatmu merasa tertekan atau ragu saat makan atau beraktivitas di sini.”
Jantung Annisa terasa berdebar kencang. Ia tidak menyangka lelaki yang selama ini dikenal keras dan angkuh itu mau bersusah payah mempelajari hal‑hal asing hanya untuk membuatnya merasa tenang. Rasa kaget dan terharu perlahan menyelimuti hatinya, meski keraguan masih belum sepenuhnya hilang.
Setelah selesai sarapan, Chensi mengajak Annisa berdiri di ruang tengah. Ia kemudian memerintahkan Li Wei untuk memanggil seluruh pelayan, pengawal, dan staf yang bekerja di kediaman itu. Dalam waktu singkat, puluhan orang sudah berbaris rapi, menunduk hormat menunggu perintah majikan mereka.
Chensi berdiri tegak, suaranya tegas dan bergema di seluruh ruangan, membuat semua orang menegang perhatian.
“Dengarkan baik‑baik apa yang akan aku katakan ini, dan jangan ada yang salah mengartikannya.”
Ia melirik sekilas ke arah Annisa yang berdiri di sampingnya, lalu melanjutkan.
“Selama ini Annisa bekerja sebagai pelayan di rumah ini. Namun mulai hari ini, statusnya berubah. Dia bukan lagi pelayan, melainkan Nyonya di kediaman ini. Dia berhak memerintah, mengatur kebutuhan rumah tangga, dan meminta apa saja yang dia butuhkan.”
Suasana seketika hening. Beberapa orang saling melirik, terkejut mendengar pengumuman itu, namun tidak ada yang berani bersuara.
“Kalian semua harus menghormatinya, sama seperti kalian menghormatiku. Apa pun yang dia perintahkan, kalian harus patuhi. Jangan pernah ada satu pun di antara kalian yang berani menyinggung, merendahkan, atau menyakiti hatinya. Jika ada yang melanggar, hukumannya akan jauh lebih berat daripada yang pernah diterima siapa pun di sini.”
Chensi berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih lembut namun tetap tegas.
“Dan satu hal lagi yang harus kalian ketahui. Nyonya Annisa sedang mengandung anakku. Anak ini adalah pewaris dari segala harta dan kekuasaan yang aku miliki. Jadi, keselamatan, kenyamanan, dan kebahagiaan Nyonya Annisa serta janin di dalam kandungannya adalah prioritas utama di rumah ini.”
Setelah mendengar kalimat itu, seluruh staf langsung menunduk lebih dalam, menjawab serempak.
“Siap, Tuan! Kami mengerti dan akan menjaga Nyonya dengan sebaik‑baiknya!”
Annisa berdiri terpaku, matanya berkaca‑kaca. Ia tidak menyangka Chensi akan mengumumkan semuanya secara terbuka, mengangkat derajatnya di hadapan semua orang, dan menjamin keamanan dirinya serta anaknya. Namun di balik rasa terharu itu, satu pertanyaan besar masih terngiang di benaknya.“Apakah ini cukup untuk menjawab semua keraguan hatiku? Apakah status ini akan membuat anak kami tumbuh tanpa kebingungan nanti?”
Saat semua orang sudah dibubarkan, Chensi berbalik menghadap Annisa, lalu mengusap lembut lengan gadis itu.
“Aku tahu ini belum menyelesaikan semua masalah kita, tapi ini langkah awal. Aku ingin kau merasa aman, dihargai, dan tidak lagi merasa seperti orang asing di rumah ini. Berikan aku waktu, dan aku akan cari jalan terbaik untuk kita semua.”
Annisa menatap mata lelaki itu, perlahan mengangguk pelan. Untuk pertama kalinya sejak kejadian malam itu, ia mulai merasa ada secercah harapan di tengah situasi yang rumit ini.
Berita tentang perubahan status Annisa dan kehamilannya menyebar lebih cepat dari yang diperkirakan. Bahkan sampai ke telinga orang tua Chensi yang tinggal di kota lain, jauh dari pusat bisnis dan kediaman putra mereka. Bagi keluarga besar Chensi, kabar ini bagaikan guntur di siang bolong—sangat mengejutkan dan tidak dapat diterima begitu saja.
Hanya dalam waktu dua hari, sebuah mobil mewah besar tiba di halaman rumah. Turunlah Tuan Hong, ayah Chensi yang berwibawa dan tegas, serta Nyonya Lin, ibu tirinya yang terkenal angkuh dan suka mencampuri urusan pribadi keluarga. Begitu masuk ke dalam rumah, wajah mereka sudah terlihat muram dan penuh ketidaksetujuan.
Chensi segera menyambut mereka di ruang tamu, namun belum sempat ia mengucapkan salam, Nyonya Lin sudah melontarkan kata-kata tajam.
“Kau benar-benar sudah gila, Chensi! Apa yang kau lakukan ini? Mengangkat seorang pelayan asing menjadi Nyonya rumah, lalu mengumumkan dia mengandung anakmu? Apakah ini cara kau menjaga nama baik keluarga kita?” seru Nyonya Lin dengan nada tinggi.
Tuan Hong mengangguk setuju, wajahnya terlihat kecewa. “Benar kata ibumu. Kami sudah menyusun rencana agar kau menikah dengan Ailin—wanita yang setara dengan kita, memiliki latar belakang yang jelas, dan sudah lama dekat denganmu. Kenapa tiba-tiba hubungan kalian putus? Dan sekarang kau malah membawa wanita asing yang tidak jelas asal-usulnya ini masuk ke dalam kehidupan kita?”
Saat itu juga, Annisa yang mendengar keributan dari kamar datang mendekat. Ia berjalan dengan langkah hati-hati, tangan memegang perutnya yang mulai membesar sedikit. Begitu melihatnya, Nyonya Lin segera menatapnya dari atas hingga bawah dengan pandangan merendahkan.
“Jadi ini dia wanita yang berhasil memikat hatimu sampai melupakan semua rencana keluarga? Lihat saja penampilannya—tertutup rapat, berpakaian seperti orang desa. Apa dia bahkan bisa berbicara dengan baik dan mengerti adat kita?”
Annisa menunduk dalam, mencoba tetap tenang meski hatinya terasa tersayat. “Saya Annisa, Tuan, Nyonya. Mohon maaf jika kehadiran saya membuat tidak nyaman.”
“Tidak nyaman? Lebih dari itu!” potong Nyonya Lin dengan sinis. “Kau datang dari negeri asing, bekerja sebagai pembantu, dan sekarang ingin mengambil tempat di posisi paling tinggi di rumah ini? Kau pasti menggunakan cara licik untuk memikat Chensi, bukan? Bahkan hubungan dia dengan Ailin yang sudah terjalin lama pun kau rusak!”
“Kami tidak percaya ini kebetulan,” tambah Tuan Hong dengan nada tegas. “Kau pasti sengaja mendekati putraku, membuat dia lupa diri, dan sekarang memanfaatkan kehamilan ini agar bisa hidup mewah. Katakan saja apa yang kau inginkan—uang? Kami berikan, tapi pergilah jauh dari hidup Chensi dan keluarganya!”
Mendengar tuduhan itu, Annisa mengangkat wajahnya, matanya berkaca namun tetap tegas. “Saya tidak meminta apa-apa secara paksa. Kehadiran saya di sini bukan karena keinginan saya sendiri, dan saya tidak pernah berniat merusak hubungan siapa pun. Jika saya bisa pergi, saya sudah pergi sejak lama. Tapi saya tidak diizinkan…”
Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, suara Chensi terdengar keras dan tegas, memotong percakapan itu.
“Cukup! Jangan bicara seperti itu pada dia!”
Semua orang menoleh ke arahnya. Chensi berdiri di samping Annisa, melindungi tubuh gadis itu di belakang punggungnya, tatapannya dingin dan penuh peringatan ke arah ayah dan ibu tirinya.
“Hubunganku dengan Ailin sudah berakhir karena kesalahan dia sendiri, bukan karena Annisa. Jangan menuduh orang yang tidak bersalah hanya karena kalian tidak tahu kebenarannya. Dan soal status Annisa—dia adalah ibu dari anakku. Itu sudah cukup membuatnya berhak dihormati dan tinggal di sini.”
“Tapi dia bukan orang kita! Keyakinan, adat, dan latar belakangnya semuanya berbeda!” bantah Nyonya Lin. “Bagaimana anaknya nanti? Bagaimana dia bisa menjadi bagian dari keluarga ini jika ibunya sendiri tidak mengikuti cara hidup kita?”
“Itu urusanku dan dia,” jawab Chensi tanpa ragu. “Aku sudah membuat keputusan. Mulai hari ini, Annisa adalah wanita yang akan aku lindungi dan hormati. Siapa pun yang berani menghina atau menyudutkannya, termasuk kalian sendiri, harus berurusan denganku.”
Kata-kata itu membuat suasana menjadi sangat tegang. Tuan Hong dan Nyonya Lin tertegun, tidak menyangka putra mereka akan bersikap sekeras ini demi seorang wanita asing. Mereka melihat tatapan Chensi yang tidak bisa digoyahkan, dan menyadari bahwa pertarungan ini tidak akan mudah dimenangkan.
Setelah terdiam sejenak, Tuan Hong menghela napas panjang, lalu berdiri dengan wajah kecewa.
“Baiklah… jika itu keputusanmu, kami tidak bisa memaksamu. Tapi ingat, Chensi—keluarga ini memiliki nama baik yang harus dijaga. Jika nanti keputusan ini membawa masalah, jangan datang mengeluh pada kami. Kami akan mengamati apa yang terjadi selanjutnya.”
Setelah mengucapkan itu, mereka berbalik pergi dengan langkah berat, meninggalkan suasana yang masih terasa dingin dan penuh ketegangan.
Begitu mereka pergi, Chensi segera berbalik menghadap Annisa, melihat wajah gadis itu yang pucat dan matanya basah karena menahan air mata.
“Maafkan mereka… mereka hanya tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi,” ucapnya lembut, lalu mengusap bahu Annisa dengan hati-hati. “Tapi ingat, selama aku ada di sini, tidak ada seorang pun—baik keluarga, teman, atau siapa pun—yang berani menyakitimu lagi.”
Annisa hanya mengangguk, namun di dalam hatinya, keraguan baru kembali muncul. Jika saja keluarga Chensi sendiri sudah menolaknya dengan begitu keras, bagaimana nasibnya dan anaknya nanti? Apakah kedamaian ini hanya sementara saja?