NovelToon NovelToon
Istri Albino Sang CEO

Istri Albino Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:692
Nilai: 5
Nama Author: QueenMardhiah

Yasmin Nayara, seorang gadis dengan albinisme yang membuatnya selalu menjadi sorotan negatif—dari orang-orang yang takut dan menghindar, hingga keluarga pamannya yang memperlakukannya begitu buruk. Bahkan, Yaya dijadikan pelunas hutang untuk dinikahkan dengan seorang juragan kaya yang memiliki banyak istri.

----------

Tak mampu menanggungnya, Yaya kabur di hari pernikahannya dan merantau ke kota dengan bermodalkan nekat.
Namun takdir punya jalan lain. Di hari pertamanya di kota, Yaya hampir diperkosa oleh seorang pria dalam pengaruh obat, yang ternyata adalah Baskara Narendra yang sedang dijebak rekan bisnisnya.


Baskara yang kalap menarik Yaya ke dalam mobilnya untuk melakukan sesuatu yang tidak semestinya. Namun aksi Baskara itu dipergoki Warga dan dipaksa menikah secara mendadak.

----------

Apa yang akan terjadi pada hubungan tak terduga ini di tengah perbedaan latar belakang dan masa lalu yang menyakitkan? Apa lagi Baskara terkenal dingin dan pemarah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon QueenMardhiah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Diterima Sebagai Pembantu

Di kamar tamu, Yaya akhirnya beranjak dari meja rias dan mendekati ranjang yang besar dan lembut. Dia menutup tirai dengan hati-hati, kemudian masuk ke bawah selimut yang lembut dan harum untuk menghalau hawa dingin dari AC yang menyala. Namun meskipun tubuhnya merasa nyaman, hatinya tidak bisa tenang.

"Apakah Aku akan selalu merasa seperti orang asing di sini?" gumamnya sambil menutup mata. "Apakah Pak Baskara akan selalu melihatku sebagai orang kampungan yang tidak berharga?"

*****>>>{}<<<*****

Ketika sinar matahari mulai menerobos celah tirai pada pukul enam pagi, Yaya sudah terjaga lama, bahkan belum tidur sejak setelah melaksanakan sholat subuh. Bahkan Yaya terpaksa sholat menggunakan balutan selimut karena tidak ada mukenah dan takut memintanya pada Baskara. Dia duduk di tepi ranjang, mengamati bagaimana sinar matahari secara perlahan menerangi kamar tamu yang dulu hanya dia lihat dalam gambar di majalah bekas yang pernah dia temukan di sampah desa.

"Sinar matahari di kota terasa berbeda ya," ucapnya pelan sambil melihat ke luar jendela. "Di desa, sinarnya lebih hangat dan langsung menyentuh kulit... di sini rasanya seperti tersembunyi di balik gedung-gedung tinggi."

Yasmin merasakan lapar yang menyiksa, Ia tidak ingat kapan terakhir kali makan makanan yang cukup. Seingatnya hanyalah sebungkus roti yang di beli sebelum kejadian dengan Baskara di gang itu. Dengan hati yang penuh rasa takut, Yaya perlahan berdiri dan keluar dari kamar tamu, berjalan dengan hati-hati melalui lorong yang luas menuju arah ruang tamu, mengingat larangan Baskara untuk tidak membuat kekacauan.

Ketika tiba di ruang tamu, Yasmin melihat Baskara sudah duduk di meja makan yang besar, sedang membaca koran sambil menyantap secangkir kopi hitam.

"Sudah bangun?" tanya Baskara dengan nada yang tidak menunjukkan sedikit pun perhatian, tanpa mengangkat kepalanya dari koran.

"Iya Ya, Pak Baskara," jawab Yaya dengan suara lembut, menunduk pandangannya.

"Kamu mau duduk atau mau berdiri saja di sana?" ucap Baskara dengan nada kesal, akhirnya mengangkat kepalanya dan menatapnya. "Jangan berdiri seperti orang yang tidak punya tempat duduk."

Yaya segera duduk di kursi yang paling jauh dari Baskara, tangan-tangannya terlipat rapi di pangkuannya. Baskara melihatnya dengan tatapan yang penuh dengan kekhawatiran dan kesal yang bercampur.

"Kamu tidak makan apa-apa kan?" tanya Baskara dengan nada yang sedikit lebih lembut.

Yaya mengangguk perlahan. "Saya tidak ingin mengambil makanan tanpa izin bapak."

Baskara menghela napas dalam-dalam. "Ada dapur di belakang sana. Kamu bisa memasak apa saja yang ada di dalam kulkas jika kamu tahu cara memasak. Atau kalau tidak bisa, kamu bisa memanggil makanan melalui telepon meskipun saya rasa kamu tidak tahu cara menggunakannya juga."

"Tenang saja Pak." ucap Yaya dengan suara yang sedikit lebih keras, membuat Baskara sedikit terkejut. "Saya bisa memasak. Di desa, saya yang selalu memasak untuk seluruh keluarga paman. Memasak nasi, membuat lauk dari ikan atau sayuran yang saya dapatkan dari kebun sendiri."

Baskara mengangguk sebentar, merasa sedikit terkejut dengan keberanian Yaya untuk membantahnya. "Baiklah, silakan pergi ke dapur jika kamu mau memasak. Jangan membuat kekacauan." Tegasnya memberi peringatan.

Yaya segera berdiri dan berjalan menuju arah dapur yang disebutkan Baskara. Ketika dia membuka pintu dapur, dia langsung terpana dengan apa yang dilihatnya.

"Alat-alat memasaknya begitu banyak..." gumamnya sambil melihat kompor dengan empat tungku, oven yang besar, dan berbagai jenis panci serta wajan yang dia tidak pernah lihat sebelumnya. "Di desa, kami hanya punya satu kompor tanah dan satu wajan saja."

Dia membuka pintu kulkas dengan hati-hati, dan wajahnya langsung bersinar dengan kagum. "Ada begitu banyak makanan... buah-buahan yang masih segar, daging yang tidak perlu kita cari ke pasar jauh..."

Yaya memilih beberapa telur dan sebungkus roti tawar, makanan yang paling dia kenal dan bisa dia siapkan dengan mudah. Saat dia memasak telur orak-arik dengan hati-hati, Baskara masuk ke dapur dan berdiri di pintu, mengamatinya dengan diam-diam.

"Kamu memasaknya dengan baik," ucap Baskara tiba-tiba, membuat Yaya sedikit terkejut.

"Terima kasih, Pak," jawab Yaya dengan senyum kecil. "Ibu Manda yang mengajari saya memasak."

Ketika Yaya menyajikan telur orak-arik dan roti tawar di meja makan, Baskara menutup korannya dengan nada yang serius.

"Kita perlu berbicara dengan jelas, Yasmin," ucapnya sambil menatapnya langsung, tatapannya dingin dan tanpa emosi.

Yaya menurunkan pandangannya, tangan-tangannya mulai bergerak dengan cemas. "Ya, Pak Baskara."

"Pertama dan yang paling penting, kamu tidak boleh mengatakan apapun tentang apa yang terjadi antara kita pada siapapun. Tidak ada seorang pun yang boleh tahu, bahkan tidak sedikit pun petunjuknya," tegas Baskara dengan nada yang menekankan setiap kata. "Selain itu, kamu tidak boleh keluar dari apartemen ini sama sekali tanpa izin saya yang jelas. Paham?"

Yaya mengangguk perlahan, wajahnya menunjukkan rasa kebingungan dan sedikit ketakutan.

"Saya sendiri bahkan bingung akan membawa pernikahan ini ke arah mana," lanjut Baskara sambil menghela napas dalam-dalam, seolah mengeluarkan beban berat dari dadanya. "Sejak dulu saya sudah malas berurusan dengan perempuan. Menurut saya, mereka hanya membuat hidup saya jadi susah dan berantakan. Apa lagi setiap perempuan yang pernah saya temui hanya melihat harta dan kedudukan saya, bukan diri saya sendiri."

Dia menjentikkan jari pada meja, mata nya terpaku pada permukaan kayu yang mengkilap. "Saya tidak punya perasaan sama sekali terhadapmu, Yasmin. Tapi saya akan menampung mahluk seperti kamu dan menjamin hidupmu mulai dari makanan, tempat tinggal, dan pakaian yang cukup, asalkan kamu menjadi pembantu di apartemen ini. Dengan begitu saya tidak perlu lagi memanggil pelayan dari rumah utama, yang pastinya akan melaporkan setiap hal ke keluarga saya."

Baskara melihatnya dengan tatapan yang tidak ada rasa belas kasihan. "Sejujurnya, kamu lebih pantas menjadi pembantu daripada menyandang status sebagai istri saya. Kamu tidak tahu apa-apa tentang dunia saya, dan jika mamaku mengetahui pernikahan ini, dia pasti akan mengamuk dan bisa saja menghancurkan segalanya."

Yaya merasakan hatinya seperti tercabik-cabik, tapi dia mengangkat pandangan dan menatap Baskara dengan wajah yang penuh ketabahan. Tanpa sedikit keluhan, dia mengangguk. "Saya mengerti, Pak. Saya menerimanya dengan ikhlas. Saya tidak akan menyalahkan bapak atas apa pun."

Baskara mengangkat sudut bibirnya dengan senyum angkuh yang tidak menyentuh mata. "Baiklah, paling tidak kamu cukup patuh. Itu satu hal yang bisa saya nilai."

Dia menyeruput kopinya yang sudah mulai dingin, kemudian menatap Yaya dengan tatapan yang tajam kembali. "Tapi ingat baik-baik, Yasmin. Jangan sekali-kali membuat masalah apapun yang bisa membuat saya ikut terseret ke dalamnya. Jika ada satu pun kerusuhan yang muncul karena kamu, atau jika kabar tentang kita sedikit pun bocor, jangan harap saya akan tetap menampungmu di sini."

"Saya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan Bapak," jawab Yaya dengan suara yang tenang meskipun hatinya masih berdebar kencang. Dia menundukkan pandangan, menyembunyikan rasa sakit yang masih menyelimuti dirinya.

"Bahkan sekecil apa pun, mulai dari merusak barang-barang saya, membuat kebisingan yang mengganggu, sampai berusaha menghubungi orang luar tanpa izin, semua itu adalah masalah yang tidak saya inginkan," lanjut Baskara dengan nada yang semakin tegas. "Dunia saya sudah cukup penuh dengan masalah bisnis dan tekanan dari keluarga. Saya tidak butuh beban tambahan dari kamu."

Baskara berdiri dari kursinya, menyimpan koran dan kertas-kertas yang ada di mejanya. "Sekarang, bersihkan meja ini dan mulai kenali dapur serta seluruh apartemen. Saya baru akan masuk kerja besok pagi, dan saya mengharapkan segala sesuatu sudah teratur ketika saya pulang."

Sambil berjalan menuju ruang kerjanya, Baskara berbalik sebentar. "Dan jangan pernah berpikir untuk mencoba mengubah keputusan saya atau mengharapkan sesuatu yang lebih dari apa yang sudah saya janjikan. Ini adalah kesepakatan yang jelas, dan kamu harus menepatinya dengan baik."

Setelah pintu ruang kerja Baskara tertutup rapat, Yaya menghela napas perlahan. Yaya mulai membersihkan meja dengan hati-hati, sambil menatap sekeliling apartemen yang besar namun terasa sangat dingin baginya. Meski telah menerimanya dengan ikhlas, rasa kesepian dan beban yang harus dia pikul semakin terasa berat di pundaknya.

1
Santy 2a
semoga banyak yang baca semangat kak
QueenMardhiah: aamiin... terimakasih sudah mampir. jangan lupa follow juga ya 🙏🏻
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!