NovelToon NovelToon
Akhir Cinta Dari Formosa

Akhir Cinta Dari Formosa

Status: tamat
Genre:Pembantu / Single Mom / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:16.7k
Nilai: 5
Nama Author: Anna

“Hidup memang harus berani, berani pergi dari sesuatu yang tak pantas untuk di tinggali”

Ana wanita paruh baya yang terpaksa menjadi tenaga kerja wanita(TKW) demi masa depan Anak-anaknya dan juga perjuangannya terlepas dari suami patriarki.
Ana yang selalu gagal dalam rumah tangga merasa dirinya tak layak dicintai sampai dia bertemu dengan laki-laki bernama Huang Lhi—majikan tempatnya bekerja.

Namun, kisah cinta Ana dan Huang Lhi tak semulus drama perbedaan kasta menjadi penghalang utama. Bisakah Ana mendapatkan cinta sejati? Kemana Akhir akan membawa kisah mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Roy Si Playing Victim

Aroma antiseptik menyeruak tajam, suara pulse oximeter memekik lirih, lampu merah berkedip lembut—di layar monitor angka-angka berganti perlahan menunjukkan detak jantung serta kadar oksigen dalam darah nenek.

Sudah satu minggu ini kondisi wanita sepuh itu memburuk, tekanan darahnya naik turun, pangkal kakinya tak juga menunjukkan perubahan, membuat Ana harus selalu waspada di sampingnya.

Ana baru saja ingin meletakkan kepalanya saat ponselnya berdering tanpa henti, nama Roy muncul di layar depan. Sejak malam Julia mengirim pesan, Ana memutuskan komunikasinya dengan Roy, sengaja mengabaikan pesan dan panggilan laki-laki itu hingga seminggu lebih lamanya.

Malam itu udara sedikit lebih panas, rumah sakit yang biasa riuh dengan teriakan nenek mendadak hening, seolah memberi kesempatan Ana untuk berpikir jernih dan mengambil keputusan penting untuk hidupnya. Meski sedikit ragu, Ana akhirnya menggeser tombol hijau yang terus berkedut-kedut di layar ponselnya.

“Kamu kemana saja, An? Lupa kamu kalo punya suami?” sambut Roy begitu panggilan tersambung.

“Sibuk,” sahut Ana singkat.

Roy mendengus kesal, ada tawa sumbang di ujung nada bicaranya. “Sombong banget kamu, An.”

Ana tersenyum miring, tentu saja Roy tidak tau karena mereka hanya melakukan panggilan biasa bukan video call.

“Memang aku sibuk mau gimana lagi. Sampean juga sibuk ‘kan, sibuk sama perempuan-perempuan seksi,” sindir Ana.

Roy nampak terkejut di seberang panggilan, terdengar dari suara napasnya yang memburu. “Maksud kamu apa, sih An. Kamu nuduh aku selingkuh?”

Ana malas berdebat terlalu lama, ia lalu mengirimkan video yang dikirimkan Julia kepadanya.

“Kamu dapet ini dari mana? Dari Mbakmu yang sok kaya itu? Jadi, kamu suruh mereka mengawasi gerak-gerikku di sini?” cerocos Roy, ada sedikit getaran di suaranya yang tertahan.

“Cih, ngapain Mbak Asih buang-buang waktu buat kaya gini,” decih Ana.

“Terus kamu dapet ini dari mana?!” bentak Roy.

“Salah satu cewek yang kamu sewa itu teman sekolah aku, dia yang kirim video itu. Enak bener, ya kamu Mas, seneng-seneng sama cewek, sedang aku di sini bergelut ama kotoran, kurang istirahat, kurang makan, kadang masih kamu tuduh yang nggak-nggak. Sedangkan kamu, taunya minta uang alasan buat cari kerja ternyata buat nyewa cewek karaoke,” oceh Ana.

Roy mendengus kasar, ada getar ragu di nada bicaranya. “Terus kalau aku emang nyewa cewek kamu mau apa? Aku kesepian dan butuh hiburan di sini. Lagian itu bukan duit dari kamu ‘kok, aku di bayarin sama Om Hanggoro, dan kita juga nggak ngamar, cuma nyanyi apa salahnya?”

Ana terbahak singkat, tapi bukan karena lucu melainkan menertawakan kebodohan. Entah untuknya atau Roy.

“Kamu ketawa, An, ngetawain apa kamu? Memang ada yang lucu?” lanjut Roy.

“Nggak, cuma ngerasa aneh aja. Aneh dan bingung, ini aku yang goblok apa memang kamu yang pinter berkelit. Udahlah Mas, aku capek hari ini, mau istirahat,” ucap Ana yang langsung di cegah oleh Roy.

“Maksud kamu apa! Aku berkelit apa? Aku udah jujur, memang aku nyewa cewek dan itu dibayarin. Apalagi yang salah?” bentak Roy.

Ana menghela napas dalam, matanya terpejam seolah mencari keyakinan untuk mengambil keputusan. Dengan suara datar, namun tegas Ana memantapkan keputusannya.

“Aku yang salah Mas. Aku yang salah karena selama ini sudah terlalu percaya dan ngalah sama kamu. Aku nyerah Mas, mulai malam ini kita nggak usah komunikasi. Aku butuh waktu untuk berpikir dan introspeksi diri,” tandas Ana.

Roy terperangah di seberang panggilan, rahangnya mengeras, suaranya memekik tanda tidak terima dengan yang disampaikan sang istri. “Maksud kamu apa, An? Kamu mau ngajak kita pisahan?!”

Ana menjawab dengan suara lebih santai. “Aku nggak bilang ngajak pisah, aku cuma bilang kita nggak usah komunikasi dulu, kita instrospeksi—”

“Ya itu awal dari niat pisah!” sergah Roy. “Kita komunikasi aja sering salah paham kaya gini apalagi kalau nggak?!”

“Salah paham? Kita nggak lagi salah paham, Mas. Ini murni kesalahan kamu!” balas Ana yang mulai terpancing oleh sifat playing victim sang suami.

“Kenapa kamu jadi nyalahin aku, kamu yang salah paham cuma karena aku nyanyi sama cewek kok, terus tiba-tiba minta pisah, aneh kamu itu, An,” Roy terus saja mencoba berkelit meski bukti sudah jelas mengarah padanya.

Ana tertawa sumbang, dadanya naik turun menahan amarah yang nyaris membuncah, Jika tidak sadar sedang di rumah sakit, mungkin dia sudah berteriak sejadi-jadinya.

“Udahlah, Mas. Aku benar-benar capek. Kepalaku pusing,” pungkas Ana lagi.

“Mau kamu apa sih, An?” sela Roy.

“Aku mau istirahat, capek,” jawab Ana seadanya.

“NGOMONG YANG JELAS MAU KAMU APA?!” bentak Roy.

“Aku mau pisah. Aku sudah nggak sanggup punya suami kaya kamu. Terserah kamu mau ngancam bawa Aidar pergi atau apalah, aku nggak peduli. Hari ini juga aku mau pisah sama kamu!” tegas Ana.

“Berani banget kamu ngomong kaya gitu, An? Dapet pengaruh dari mana kamu?” tanya Roy seolah tidak mendengar semua yang barusan ucapkan.

“Ini keputusan aku sendiri, Mas. Secepatnya aku akan cari pengacara untuk ngurus surat cerai kita,” tandas Ana.

“Kam—”

Ucapan Roy terputus bersamaan dengan diputusnya panggilan secara sepihak oleh Ana.

Ana menghirup napas dalam,lalu menghembuskan perlahan seolah beban di hatinya selama ini turut menguar. Ia menggenggam ponselnya erat-erat, membiarkan notifikasi pesan dari Roy yang bertubi-tubi menjadi angin lalu yang hanya lewat sebagai luka baru.

Angin musim dingin menyusup dari celah jendela yang setengah terbuka, tirai bercorak coklat tua bergoyang pelan memberi derik halus. Ana berdiri tenang di kaca jendela, menatap lurus lantai bawah rumah sakit yang dipenuhi orang-orang berlalu lalang.

Sudah satu minggu nenek di rawat di RS, namun kondisinya tak juga menunjukkan perubahan malah semakin parah. Mulut mungilnya tak lagi berteriak, berganti rintihan halus yang justru menambah ketakutan di hati Ana.

Sudah satu minggu pula, sejak ia memutuskan ingin berpisah dari suaminya. Ponselnya sudah tak lagi berisik dengan notifikasi pesan dari Roy, namun pesan singkat dari Mbak Asih malam itu membuat ketengan Ana terusik seketika.

“An, Aidar di bawa pergi sama Roy.”

Bersambung.

1
Muhammad Arifin
❤️❤️❤️❤️❤️
Muhammad Arifin
❤️❤️❤️❤️
Muhammad Arifin
ojok goblok Nompo Roy....
awas 👊🏻
Muhammad Arifin
saran ya .... jgn masukkan unsur agama jika jln ceritanya begini terkesan ana murahan.apalagi ana memakai jilbab, stigma orang berjilbab JD buruk.
Anna: Terima kasih sarannya, Kak.
Tapi mohon maaf, saya tidak setuju Anda mengatakan stigma orang berhijab jadi buruk hanya karena penggambaran tokoh Ana. Banyak kok penggambaran cerita wanita muslimah kelakuan bejat, bahkan di dunia nyata contohnya juga ada.
Tapi, apapun pendapat Anda, terima kasih sudah sudi mampir di karya sederhana saya, dan semoga Anda membaca hingga selesai, siapa tau pola pikir Anda tentang Ana sedikit berubah. 🙏
total 1 replies
Muhammad Arifin
semangat kak buat terus menulis 🔥🔥🔥
Anna: Terima kasih suport nya, Kak. 🫶
total 1 replies
tuti raniati
Terimakasih Thor ceritanya sangat bagus, perjuangan seorang ibu bagi anak-anaknya yang penuh pengorbanan menyentuh sekali membacanya, sukses selalu Thor teruslah berkarya
Nurgusnawati Nunung
ceritanya bagusss
Anna: 🫶🫶🫶🫶🫶
total 1 replies
Nurgusnawati Nunung
Alhamdulillah.. bagus ceritanya..
semangat thor untuk selalu berkarya. sehat selalu
Anna: Amin, mkasih banyak kak.
total 1 replies
Nurgusnawati Nunung
Bagus ya jalan ceritanya... Author the beast
Anna: 🫶🫶🫶🫶🫶
total 1 replies
Nurgusnawati Nunung
untung mertuanya baik..
Anna: lebih ke mengerti keadaan.
total 1 replies
Moch Sholeh
dahh,ngk tau lah Thor mau komen apa,, tapi yg pasti ini cerita* TOP MARKOTOP* semangat terus berkarya 👍
Anna: Makasih suport nya, Kak. 🫶
total 1 replies
Linceu thea
jeng jeng siapa kamu sampai ga setuju woy 🤣🤣🤣
Anna: Nyonya Huang. 🫢
total 1 replies
Yessi Kalila
siapa yang Ndak setujuuu.....
Anna: Yang pasti bukan Andi.🤭
total 1 replies
Linceu thea
😍😍 nah lho akhirnya
Anna: ketemu juga 🤭
total 1 replies
Mul Yanto
lanjut Kak Ana 💪 semangat
Anna: 🫶🫶🫶🫶🫶
total 1 replies
CallmeArin
habis kmana aja kak, lama banget ngilangnya. udah jamuran aku nunggu😭🤣
Anna: Amin, makasih kakak-kakak yang baik 🫶
total 4 replies
Kustri
oalaaah ternyata bp tiri... hla pantes sayang cm pura"
klu yg kecil pasti anak'a roy kan?
Mul Yanto
cerita nya bagus dan menarik
Siti Musyarofah
sampe lupa jln ceritanya Thor
Anna: Kakak, mohon maaf. karya ini memang saya revisi total dari bab 1, jadi ada sedikit perubahan. 🙏
total 1 replies
CallmeArin
akhirnya setelah sekian purnama
Anna: doa kan ya kak, semoga revisi yang satu nya bisa cepet beres, biar setiap up karya bisa crazy up. 🙏🙏🫶
total 5 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!