Saling mencintai, namun restu tak menyertai. Tetap memaksakan untuk menjalankan pernikahan tanpa restu. Namun ternyata restu masih di atas segalanya dalam sebuah pernikahan.
Entah apa yang akan terjadi lada pernikahan Axel dan Reni, ketika mereka harus menjalani pernikahan tanpa restu. Apa mungkin restu itu akan di dapatkan suatu saat nanti. Atau bahkan perpisahan yang akan terjadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak Pernah Dapat Restu
Seolah tidak ada lagi pilihan untuknya, Axel terpaksa kembali mengambil penerbangan malam ini untuk menemani Ibunya. Dia juga bukan seorang anak yang begitu kejam sampai akan membiarkan keadaan Ibunya yang memburuk dan dia tidak akan menemaninya. Akhirnya dia belum bisa menjelaskan semuanya pada Reni.
Selama berada di dalam pesawat, dia hanya terdiam dengan pikirannya yang kacau. Memikirkan tentang keberadaan istrinya saat ini dan juga tentang kesalahpahaman yang sekarang terjadi. Seolah semua masalah belum ingin berlalu, malah bertambah seiring berjalannya waktu.
Beberapa kali dia menghela nafas berat, masalah yang sedang dihadapinya ini memang terlalu berat baginya. "Tunggu aku, setelah semuanya selesai disini maka aku akan langsung menemuimu lagi"
Berucap pada layar ponselnya yang masih menampilkan foto istrinya sebagai wallpaper. Salahkan dirinya sendiri yang berucap seenaknya hanya karena tersulut emosi. Namun memang dia juga tidak menyangka jika istrinya akan banyak menyembunyikan kebohongan darinya. Dia sangat kecewa dengan kebohongan yang istrinya lakukan. Tapi dia juga tidak benar-benar ingin mengucapkan itu, semuanya hanya karena dia terbawa emosi.
"Maafkan aku Sayang"
Waktu yang berlalu beberapa jam sampai dia sudah tiba di rumah sakit pagi ini. Axel langsung menemui Ibunya, ketika dia sampai disana dia melihat Avinna yang sedang mengelap tubuh Ibunya dengan handuk kecil.
"Vin, bagaimana keadaan Mama?"
Avinna langsung menoleh, tidak menyangka jika Axel akan segera kembali lagi. "Aku kira kamu bakal lama pulangnya. Keadaan Tante sudah kembali stabil. Kemarin sore memang sempat drop lagi. Mungkin karena jantung baru masih belum beradaptasi dengan tubuhnya. Tapi pagi ini semuanya sudah lebih baik"
Axel mengangguk mengerti, dia berjalan ke arah ranjang pasien. Avinna langsung sedikit menyingkir, memberi ruang untuk Axel bisa lebih dekat dengan Ibunya. Axel duduk di pinggir ranjang. Menatap Ibunya yang masih terpejam.
"Ma, cepat pulih ya agar kita bisa segera kembali" ucap Axel.
Avinna menepuk bahu pria itu dengan lembut. "Semoga saja Tante segera pulih, dan kita bisa melakukan perawatan di tanah air saja"
Axel mengangguk, dia juga ingin segera menetap lagi di Negaranya agar dia bisa segera menyelesaikan masalahnya dengan sang istri.
"Kamu sudah sarapan, Xel? Kita pergi ke Kantin bagaimana?"
Axel menoleh sekilas pada Avinna, namun sepertinya dia tidak terlalu berselera makan sekarang. Bahkan sejak semalam dia tidak makan.
"Aku tidak lapar, kau pergi saja sendiri"
Avinna menghela nafas pelan, dia merangkul bahu Axel dan menyandarkan kepalanya dia atas kepala Axel saat ini. Sebenarnya ini adalah hal biasa saat dulu mereka selalu bersama. Karena mereka adalah sahabat sejak dulu. Sampai Avinna pergi ke Luar Negara untuk menyelesaikan kuliahnya. Tapi apa yang dia lakukan saat ini, tidak lagi biasa bagi Axel. Dia merasa tidak nyaman. Membuat dia langsung melepaskan rangkulan tangan Avinna di bahunya.
"Aku akan menyusul nanti, kau pergi saja duluan" ucap Axel.
Avinna mengangguk saja, meski dia sedikit tertegun dengan penolakan Axel yang jelas dia rasakan. Padahal dulu pria itu tidak pernah seperti ini.
"Yaudah kalau gitu aku pergi duluan ke Kantin. Beneran kamu nyusul ya"
Tidak ada jawaban dari Axel, dia hanya fokus menatap Mama yang masih berbaring dengan mata terpejam. Membuat Avinna hanya menghembuskan nafas kasar, lalu dia segera pergi.
"Kenapa dia benar-benar terasa berbeda padaku ya"
Bergumam pelan sambil terus berjalan menyusuri lorong rumah sakit untuk menuju Kantin.
*
Suara ketukan di pintu kamar bahkan tidak membuat gadis yang terduduk di atas tempat tidur itu bergeming. Pikirannya sedang menerawang beberapa kejadian dalam hidupnya. Sampai tidak sadar seseorang sudah masuk ke dalam kamarnya.
Nara duduk di pinggir tempat tidur, dia menepuk lutur Reni yang di tekuk dan dipeluknya itu. "Kamu diam saja disini. Apa tidak bekerja hari ini?"
Reni langsung mengerjap pelan, dia baru menyadari keberadaan Nara disana. Dia membenarkan posisi duduknya, menatap Nara dengan tersenyum.
"Aku ambil cuti sebentar Kak. Masih belum bisa untuk fokus bekerja"
Nara faham dengan perasaan Reni saat ini. Jika dia berada dalam posisi ini, pastinya akan sangat kacau. Tapi setidaknya Reni bisa lebih kuat, lihatlah dia yang sekarang bahkan masih bisa tersenyum, meski terlihat masam.
"Kalo gitu mau temani aku keluar hari ini? Aku mau bawa Zaina jalan-jalan" ucap Nara.
Zaina adalah anak pertamanya yang baru berusia tiga tahun sekarang. Reni sering sekali mengasuhnya sejak dia berada di rumah ini. Dan terlihatnya Zaina juga menyukainya.
"Mau pergi kemana Kak?"
"Em, ya jalan-jalan saja. Bosan saja terus berada di rumah. PUlangnya kita bisa mampir ke rumah adik aku" ucap Nara.
Reni mengangguk, mungkin dengan pergi keluar untuk mencari suasana nyaman bisa sedikit saja membuatnya tenang. Meski hanya sejenak saja.
"Yaudah, kalau gitu kamu siap-siap ya" ucap Nara sambil menepuk kaki Reni.
Akhirnya hari ini Reni hanya ikut pergi dengan Nara. Sebenarnya dia lebih menemani Nara untuk berbelanja, sementara dia mengasuh Zaina saja. Dia lebih senang bersama anak kecil itu, lebih menyenangkan di saat suasana hatinya sedang tidak baik-baik saja.
Reni mengawasi Zaina yang sedang menaiki beberapa permainan di play ground disana. Senyum dan tawa ceria anak itu membuat hati Reni begitu tersentuh.
"Apa mungkin suasana seperti ini yang diinginkan suamiku? Makanya dia sangat ingin segera mempunyai anak"
Reni jadi kepikiran tentang ucapan suaminya kemarin. Mungkin memang suaminya sudah lama ingin segera mempunyai anak. Bahkan sejak awal-awal mereka menikah saja, Axel sudah membahas tentang anak. Namun, Reni saja yang belum siap tentang itu. Semuanya karena keadaan pernikahan mereka yang seperti ini.
"Apa mungkin memang benar jika Dokter cantik itu yang lebih bisa memberikan apa yang suamiku inginkan. Karena pastinya mereka bersama atas restu. Tidak seperti aku yang tidak pernah mendapatkan restu selama ini"
Tes.. Air mata menetes tanpa diperintah di pipinya. Reni hanya tidak bisa menahan rasa sesak di dadanya saat ini ketika dia membayangkan tentang pernikahannya yang tak pernah mendapatkan restu.
"Tante nanis?"
Suara cadel dan lucu dari Zaina, membuat Reni mengerjap pelan. Dia langsung mengusap kasar air matanya, lalu dia tersenyum dengan mengelus pipi gembil anak itu.
"Tidak, Tante hanya kelilipan saja. Ayo sekarang kita cari Mama"
Reni menuntun tangan Zaina dan membawanya keluar dari playground disana. Menemui Nara yang sedang belanja beberapa kebutuhan.
Bersambung
Ngak ada extrapart gitu kak 😁😁😁
lanjut kak semangat 💪💪💪