Andai Hugo mencintainya, Ana akan memilih untuk tetap bertahan dan tinggal di rumah besar itu bersamanya. Tapi Hugo tak mencintainya, pria itu membencinya karena menganggap Ana telah menipunya hingga terpaksa harus menikahinya.
Ana memilih pergi setelah menandatangani surat gugatan cerai dari Hugo. Dengan sisa uang yang di milikinya, Ana memulai kehidupan barunya di kota lain seorang diri.
Tiga tahun berlalu, kabar mengejutkan datang dari salah satu kerabat Hugo yang tanpa sengaja bertemu dengannya. Ana dihadapkan pada satu pilihan sulit, hingga pada akhirnya Ana memutuskan datang menghadiri pemakaman mantan papa mertuanya.
Pertemuannya kembali dengan Hugo memberinya kesadaran baru, bahwa jarak dan waktu tak mampu mengikis rasa cintanya pada pria itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NonAden119, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15. Penolakan Ana
Menikah? Kata-kata itu bergema dalam benak Ana, membuat kepalanya seketika berdenyut nyeri. Ia harus menikah lagi dengan Hugo, sesuai dengan bunyi kalimat yang tertulis dalam surat wasiat papa Fitra. Mereka harus bersama selalu paling sedikit selama enam bulan ke depan untuk mendapatkan warisan.
Ana memijit tengkuknya yang mendadak tegang, menatap sekilas pada Hugo yang duduk diam di sampingnya dengan kedua kaki terbuka dan kedua tangan saling bertaut di depan dada. Ia masih terkejut dengan sikap Hugo barusan yang mendadak langsung merengkuh tubuhnya dan secara spontan mengajaknya menikah setelah syarat dari surat wasiat papa Fitra selesai dibacakan.
Apa mereka akan benar-benar melakukannya lagi, menikah untuk yang kedua kalinya? Bisakah Ana melewatinya kali ini, menikah yang kedua kali dengan pria yang sama tanpa didasari oleh kecurigaan hati? Sanggupkah Ana tinggal serumah dengan lelaki yang tidak mencintainya sama sekali? Begitu banyak pertanyaan melintas di kepalanya, dan Ana belum menemukan jawabannya.
“Ada banyak hal yang perlu kita bicarakan,” kata Hugo pada Ana, memecah kebisuan di antara mereka setelah semua orang pergi dari ruangan itu, memberikan kesempatan pada mereka berdua untuk saling bicara.
“Kita pernah menikah sebelumnya, dan kita berdua gagal menjalaninya.” Ana akhirnya bersuara, pandangannya lurus ke depan menatap tembok warna abu di depannya. “Tiga bulan pertama, Tuan bahkan selalu menghindar untuk bertemu denganku.Tiba-tiba saja Tuan datang malam itu dan marah-marah padaku. Lalu semua terjadi, dan setelahnya Tuan semakin membenciku. Hingga Aku tak sanggup bertahan lagi, Aku menyerah dan memilih pergi.”
Ana berhenti sejenak, sekedar untuk menarik napas karena dadanya mendadak sesak saat mengingat kejadian yang sudah lewat namun menimbulkan luka di hatinya yang bahkan hingga kini masih terasa perihnya.
Hugo menolehkan wajahnya perlahan, menatap Ana lama. Ia bisa melihat raut terluka di wajah wanita itu, timbul penyesalan di hatinya. Ia masih bisa mengingat dengan jelas kejadian malam itu, saat dirinya marah-marah dan tak terima melihat Ana pulang diantar seorang lelaki muda yang tak ia kenal yang kemudian diketahuinya sebagai guru Ana di tempat kursus memasak.
“Maaf.”
Satu kata itu terlontar keluar dari mulut Hugo. Ia menyesal dan sangat malu bila mengingat kejadian malam itu, tapi juga sekaligus marah karena mengetahui fakta yang ditutupi Ana setelah hari pernikahan mereka. Ia memaksa Ana untuk melayani has rat dirinya, mengatakan pada wanita itu kalau dia yang paling berhak atas diri Ana. Lalu saat semua usai, ia sadar kalau Ana masih suci dan ia merasa dibohongi.
“Bisa kita memulainya dari awal lagi?”
Ana tersenyum tipis, matanya mengerjap perlahan. Pandangannya masih lurus ke depan, hanya cuping telinganya saja yang bergerak-gerak pertanda kalau ia mendengar jelas ucapan Hugo barusan. Mendadak ia punya jawaban untuk semua pertanyaannya.
Ana mencintai Hugo sejak lama, bahkan saat usianya masih sangat remaja. Ia jatuh cinta pada pandangan pertama pada pria itu saat melihatnya untuk pertama kalinya, saat ia menginjakkan kakinya di rumah papa Fitra.
Ana menghabiskan masa sekolahnya tinggal di rumah itu, melihat bagaimana Hugo setiap hari tanpa berani menatapnya langsung. Lelaki itu tak suka ia dekati dan selalu menjaga jarak dengannya. Sikap dingin Hugo tak membuat Ana menjauh, semakin hari benih cinta di hatinya semakin bersemi.
“Tak perlu memaksakan diri untuk sesuatu hal yang tidak Tuan sukai, hasilnya akan sangat tidak mengenakkan. Kita sama-sama tahu bagaimana sikap Tuan selama ini padaku. Menikah dengan wanita yang tidak Tuan inginkan akan membuat Tuan merasa terjebak di dalamnya, jadi tolong urungkan saja niat Tuan untuk menikah lagi denganku. Aku cukup tahu diri dan tak akan memaksakan kehendak, Tuan bisa ambil semua karena Aku merasa tidak pantas untuk menerimanya. Sungguh perhatian dan kebaikan papa selama ini sudah lebih dari cukup untukku, Aku tidak akan serakah dengan mengambil rumah itu.” Ungkap Ana panjang lebar.
“Aku memang tidak mau kehilangan milikku yang sudah kuperjuangkan sejak lama. Tapi Aku juga tidak mau menerima sesuatu yang sudah diwariskan papa untukmu. Mengapa Kau memilih mundur dan menyerah begitu saja, itu bukan dirimu Ana?”
“Aku tidak ingin menjalani pernikahan di atas kertas, hanya pura-pura demi untuk mendapatkan warisan dari papa.” Ana menggeleng kuat, ia tak ingin rumah tangganya nanti berakhir sama seperti sebelumnya. Menikah lalu berpisah.
Bukankah ia akan menikah dengan laki-laki yang sama yang tidak pernah mencintainya, bahkan selama tiga tahun perpisahan tak sekalipun Hugo bertanya tentang kabarnya meski Ana beberapa kali menghubungi bik Ani sekedar bertanya tentang kesehatan papa Fitra. Laki-laki itu tahu tapi tak pernah peduli dengannya. Cukup! Ia tak ingin mengulang kesalahan yang sama, meski harta warisan yang akan diterimanya bernilai fantastis.
Ana bukan perempuan materialistis yang mudah tergiur dengan iming-iming harta, ia terbiasa mandiri dan hidup susah sejak kecil. Tinggal di rumah itu juga Ana memosisikan dirinya sama seperti bik Ani karena tak ingin menerima kebaikan papa Fitra secara percuma. Sekarang ia punya penghasilan yang cukup dan tabungan yang bisa menopang hidupnya kelak. Ia punya kehidupan yang juga menyenangkan di tempat lain, sahabat yang sayang dan peduli padanya. Tiba-tiba saja Ana kangen pada sahabatnya Kila. Rumahnya bukan di sini, tegas Ana dalam hati.
“Masih ada waktu satu minggu untuk memutuskan semuanya, Aku harap Kau memikirkannya terlebih dahulu sebelum menyesal nanti. Pikirkan saja kalau ini semua keinginan papa, dan ia akan senang melihat Kau mau berjuang untuk mendapatkannya. Tolong, jangan kecewakan papa. Ini keinginan terakhir papa melihat kita menikah lagi.”
Ana mengernyitkan dahi, merasa aneh. Kenapa sekarang laki-laki itu yang getol ingin Ana menerimanya, bukankah selama ini Hugo yang berkeras terus menolaknya. Harusnya Hugo senang karena tak perlu repot berjuang, menjalani pernikahan semu hanya demi sebuah warisan? Ana benar-benar tak habis pikir, ia sudah mengalah untuk pria itu. Tapi Hugo malah terkesan memaksanya.
“Sebenarnya, apa mau Tuan? Aku memilih mundur dan memberikan semuanya pada Tuan tanpa harus bersusah payah menjalani persyaratan yang jelas-jelas sangat menyiksa perasaan Tuan. Aku sangat tahu Tuan tidak ingin menikah denganku, dan Aku sudah memuluskan jalan Tuan. Lalu kenapa Tuan malah memaksaku seolah Tuan menginginkan pernikahan di antara kita ini terjadi? Jangan buat Saya bingung dengan sikap Tuan yang plin-plan ini.”
“Stop! Aku tak ingin berdebat denganmu. Cukup Kau pikirkan saja ucapanku barusan, satu minggu waktu yang cukup untuk mengambil sebuah keputusan. Aku harap Kau bisa berpikir jernih dan tidak terburu-buru memutuskan hanya karena Kau punya masalah denganku di masa lalu.”
“Tuan ingin Aku menerima persyaratan itu, menikah dengan Tuan lalu setelah 6 bulan kemudian kita bercerai lagi? Apa itu yang Tuan inginkan?” riak bening mulai mewarnai mata Ana, suaranya pun terdengar bergetar. “Pernikahan bukan sebuah permainan, Tuan. Hanya untuk mendapatkan warisan, kita melakukannya. Tuan tahu, tak perlu menunggu lama, dalam sekejap dengan mudah semua yang kita dapatkan akan hilang dan musnah.”
“Aku tidak pernah menganggap pernikahan sebagai sebuah permainan. Itulah kenapa Aku ingin memulai semua dari awal lagi bersamamu. Apa Kau pernah berpikir berada di posisiku selama ini, Apa Kau tahu apa yang Aku rasakan setelah Kau pergi meninggalkan kami? Ana, Kau tidak benar-benar mengenalku.”
“Tuan yang menginginkan perpisahan itu terjadi, meski Aku terus berusaha bertahan. Apa Tuan lupa kalau Aku sudah menandatangani surat gugatan cerai dari Tuan tiga tahun lalu?”
“Aku melakukannya karena satu alasan yang tidak bisa Aku jelaskan saat ini padamu. Satu hal yang harus Kau tahu, Aku tidak benar-benar menceraikanmu saat itu,” ungkap Hugo dengan wajah gusar yang membuat Ana terperangah tak percaya mendengarnya.
“Jangan berdalih di hadapanku, Tuan. Aku tidak akan percaya,” sahut Ana.
“Sudahlah, kita pulang sekarang. Aku yang akan mengantarmu pulang,” ujar Hugo, sikapnya terlihat aneh. Hugo berdiri dari kursinya dan menatap Ana lekat. Lalu tangannya terulur berniat membantu wanita itu berdiri, sayang Ana menolaknya dan melangkah keluar lebih dulu. "Ana, Aku akan berjuang untuk mendapatkanmu lagi."
▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎
karya ini mengandung rasa cinta dan kasih 🌹