Ini merupakan sequel dari Pembalap Idola. Masih bercerita tentang Nicken yang harus LDRan Jakarta - Jogjakarta bersama Satria tapi tidak mengurangi rasa kepercayaan satu sama lain. Sampai pada akhirnya banyak pihak ketiga yang semakin menguji kekuatan cinta mereka berdua.
Munculnya Danise agak menggoyahkan hubungan Nicken dan Satria. Namun Danise melakukan itu karena diimingi impiannya menjadi fotografer terkenal oleh Deandra yang pada akhirnya diketahui motif Deandra ingin membalas dendam kepada Nicken dan semua kakaknya dan juga kepada.. Satria.
Bantuan dari Adam yang berpura-pura pacaran dengan Nicken membuat Nicken dan Satria berhasil membongkar rencana Deandra. Perlahan Adam dan Nicken pun ikut larut dalam perannya sebagai pacar gadungan. Akankah cinta Satria dan Nicken berakhir akibat Deandra dan Danise? Ataukah Nicken benar-benar terlibat cinta sesaat oleh Adam? Atau mungkin cinta Nicken dan Satria semakin mendalam dan mereka tidak terpisahkan?
Inget yaa.. Apabila ada kesamaan nama karakter atau tempat, itu hanya kebetulan. Karena semuanya fiktif belaka. Enjoy!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Caroline Gie White, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Usaha Keras Mengembalikan Ingatan yang Hilang
JOGJAKARTA.
Satria mengendarai mobil balap ungunya secara perlahan. Sebenarnya dia belum boleh jalan-jalan pakai mobil sendirian dulu sama Dude. Karena faktor kakinya yang masih sedikit pincang dan karena dia masih sering pusing. Dikhawatirkan dia hilang kesadaran kalau pusingnya lagi kambuh.
Tapi dia nekat dan Eyang pun tidak bisa berbuat apa-apa buat menghalangi dia. Tidak berapa lama sebuah mobil patroli mengikutinya di belakang. Satria tersenyum lalu melihat nama Dude di ponselnya.
“I’ll be fine, Kak.” (Gue bakal baik-baik saja, Kak.)
“Lo mau kemana? Kalau tadi enggak ada yang laporan mobil lo di jalan gue enggak akan tahu lo kabur pakai mobil dan gue yakin Axel pun enggak tahu.” Cerocos Dude tanpa tanda baca.
Dia emang sudah anggap Satria kaya adiknya, jadi kadang dia agak super protective sama pembalapnya itu.
“Gue enggak kemana-mana kok, cuma lagi mau jalan-jalan saja.” Satria melirik ke spion di samping kanannya dan melihat ada 1 lagi mobil patroli Firelli. “Dan lo enggak perlu lebay mengirim 2 patroli lo buat mengawasi gue.”
“Kalau perlu gue mengutus semua patroli gue buat memastikan lo enggak kenapa-napa.”
“Please, Kak, gue bakal baik-baik saja.”
“Tapi lo bilang ke gue, lo mau kemana?”
“Gue mau ke Blossom, cari angin, dan mungkin di sana gue bisa.. ingat Nicken. Jadi tolong suruh patroli lo balik. Biar gue sama kru gue sendiri.”
Satria mendengar Dude menghela nafas. “Tapi lo harus hati-hati. Jangan mengebut dulu atau lo enggak bakal gue ijinkan bawa mobil lagi sampai lo sembuh. Deal?”
“I’ll remember that, Kak. No need to worry. Bye.” Satria mematikan ponselnya lalu tersenyum menikmati hembusan angin yang menerpa wajahnya setelah melirik spionnya dan melihat 1 mobil patroli berputar arah dan 1 mobil lagi menduhuluinya setelah memberikan klakson ke Satria. Satria pun membalasnya dengan senyuman lalu kembali merenung.
Kalau emang kamu cewek yang berarti buat aku, aku bakal usaha lebih buat ingat lagi sama kamu, Cken.
JAKARTA.
“What do you mean by ‘Presdir’nya Keamanan?” (Apa maksud lo dengan Presdir Keamanan?) Adam penasaran banget sama makhluk cantik yang dia temui di Gudang tadi.
“Cken itu Ketua Keamanan di sini.”
“Bukannya Randy ya?”
Cowok yang duduk di depannya menggeleng. “Randy, Marvel, Lika dan Nila, mereka wakilnya Cken.”
Adam terdiam. Hebat banget kalau ternyata dia bisa mengatur sekolahan sebesar ini. “Cowoknya?”
“Cowoknya Pembalap Jogja, namanya Satria, tapi sekarang cowoknya lagi amnesia gara-gara kecelakaan, jadi dia lupa sama semuanya termasuk sama Cken.”
Cowok itu menyeruput es jeruknya lalu melihat Nicken masuk ke kantin dengan seorang Punggawa ceweknya.
“Banyak banget cowok yang mengharapkan dia, tapi untuk ukuran cewek normal, dia termasuk cewek sempurna.”
Adam mengikuti pandangan cowok itu ke arah Nicken yang sempat beradu mata sebentar. Dia lalu kembali menatap cowok di depannya.
“Sesempurna apa dia ‘coz nobody’s perfect man.” (Enggak ada manusia sempurna.)
“Gue yakin banyak hal yang enggak lo tahu, Dam tentang Cken, karena lo baru disini.”
“The first thing I knew about her, she’s Presdir and what else?” (Hal pertama yang gue tahu tentang dia adalah, dia Presdirnya Keamanan, dan apa lagi?) Tanya dia kepo banget.
“Dia pembalap Nascar, sama kaya kakaknya.”
“Apa lo bilang?” Adam mengecilkan volume suaranya. “Dia.. dia pembalap? You’ve gotta be kidding me.” (Lo pasti bercanda.)
“No, I’m not kidding.” (Gue enggak bercanda.)
Adam lagi-lagi terdiam lalu kembali menoleh ke arah Nicken yang sekarang lagi mengobrol bersama Nila dan Aci.
I wanna know more ‘bout you, Cken.. (Gue mau tahu lebih tentang lo, Cken.)
Adam sedikit menjaga jarak mobilnya dengan mobil Nicken waktu pulang sekolah. Dia beneran penasaran sama apa yang dia dengar tentang Nicken.
Pembalap? Dia? Kayanya enggak mungkin banget ya? Tapi kenapa mobilnya mobil balap ya? Dan Nascar? Yang gue tahu itu sirkuit paling hebat di sini, it means, she is.. (itu artinya dia...)
JOGJAKARTA.
Satria terlihat mengetik di meja perpustakaan kampusnya. Mata kuliah terakhirnya sudah selesai beberapa menit yang lalu, dan dia lebih milih menyendiri di sini sambil menyelesaikan tugas yang mesti dia kumpulkan minggu depan. Axel masih ada kuliah jadi sekalian menunggu ‘supir’ setianya itu selesai kuliah. Lagi fokusnya mengerjakan tugas, ada seorang cewek yang duduk di bangku sampingnya.
“Hai, Sat, gimana kabar kamu?” Cewek itu sedikit berbisik karena emang tahu tidak boleh berisik di perpustakaan.
“Baik.” Jawab Satria singkat tanpa menoleh dan berhenti mengetik sedikitpun.
“Aku tahu kamu enggak ingat sama aku, tapi sebelum kamu amnesia, kita dekat banget, Sat.”
Satria berhenti mengetik lalu menoleh ke cewek di sampingnya. Gue ingat siapa lo. “Oh ya?”
“Iya. Dulu aku tuh selalu ada buat kamu, Sat.”
Satria tersenyum sinis lalu kembali mengetik. “Berarti lo baik banget ya?”
“Karena aku sayang sama kamu.”
“Kak?” Satria menoleh dan melihat Axel berjalan menghampirinya. “Lagi apa lo di sini?” Tanyanya sinis ke Danise. Cewek yang duduk di samping Satria.
Tanpa kasih jawaban, Danise beranjak dari duduknya lalu pergi. Axelpun duduk di tempatnya.
“Ngomong apa dia sama lo?”
Satria mendengus sinis. “Katanya dia dulu dekat banget sama gue. Dia enggak tahu kalau gue ingat siapa dia.”
“Terusin saja akting lo, Kak. Lo mau pulang sekarang atau gimana? Gue enggak mau lo kabur lagi kaya kemarin.”
Satria tersenyum sambil mematikan laptopnya. “Bisa tolong antar gue ke Jakarta?”
“Lo mau apa ke sana? Jangan becanda ah.” Axel terlihat sibuk dengan ponselnya.
“Gue mau lihat Nicken.”
Refleks Axel menoleh. “Maksud lo?”
“Gue belum ingat siapa dia, Kak. Gue cuma mau lihat dia saja dari jauh. Bisa enggak? Kalau enggak, gue bakal minta kru gue sapatroli kak Dude buat antar gue ke sana.”
“Lo yakin mau sekarang ke sananya?”
Satria mengangguk. Axelpun menghela nafas karena tahu tabiat keras kepala sepupunya itu.
“Ayolah.”
Satria tersenyum lalu merangkul Axel dan berjalan pergi dengan masih sedikit terpincang.
JAKARTA.
Reno tampak serius mengecek laporan semua anak buahnya. Pikirannya pun terbagi karena seminggu lagi ada kejuaraan dan Nicken belum kasih lihat perkembangan yang berarti. Bisa saja dia mengutus pembalapnya yang lain tapi dia mau Nicken bisa bertanggung jawab sama tugasnya.
Diapun menghela nafas sambil meletakkan pulpennya. Dia duduk bersandar lalu memutar bangkunya dan menatap sirkuitnya dari jendela besar di ruangannya. Tidak berapa lama ponsel berbunyi.
“Satria is on his way to you, with Axel.” (Satria lagi di jalan menuju sana sama Axel.)
“Lo ijinin dia jalan jauh?”
“Kalau enggak ada Axel, gue enggak bakal ijinin dia, Ren. Katanya dia mau lihat Cken, biarpun dari jauh. Rubicon hitam dan mereka tetap dikawal sama patrolinya Satria.”
Reno tersenyum. “I’ll take care of him.” (Gue bakal jaga dia.)
“Thanks.”
Reno tersenyum lalu menghubungi seseorang dari ponselnya. "Standby di jalan masuk Green Road, Rubicon hitam plat Jogja dan 1 patwal Firelli, tunggu dan ikut kawal Satria." Reno mematikan ponselnya lalu kembali tersenyum.
...***...
“Masih jelek banget, Xel. Dia belum bisa dibilang stabil. Omelan gue atau Petra pun kaya enggak ada artinya.”
Axel tersenyum melihat mobil Nicken melaju di sirkuit.
“Cuma Satria yang bisa mengembalikan dia, Kak.”
“Kenapa Satria enggak mau Cken tahu dia di sini?”
“Dia cuma mau lihat Cken dari jauh, dan enggak mau semakin membuat Cken sedih karena sampai sekarang dia belum ingat.”
“Kata dokter gimana?”
“Sebenarnya dia sudah stabil, cuma tinggal tergantung usaha dia buat pulih seutuhnya. Tapi selama ini yang gue lihat, dia usaha banget, Kak. Dia enggak peduli sama rasa sakitnya.”
Reno tersenyum. “Gue yakin dia enggak rela lo bakal ambil Cken, makanya dia usaha keras.”
Axel pun tertawa.
...***...
“Lo enggak bisa ajak dia sekalian, Xel?”
“Kak Dude belum ijinin dia kemana-mana dulu, Cken. Tapi gue yakin, dia pengen banget ke sini.”
Nicken tertunduk sambil menatap botol air mineral ditangannya.
“Gue kangen banget sama dia. Kadang gue pengen banget nelepon atau chat dia, cuma mau dengar suara atau tahu kabar dia, tapi gue takut dia enggak mau nerima dan itu bakal bikin gue tambah sedih.”
Axel lalu mengelus pundak Nicken. “Lo harus tetap kuat, demi Satria.”
Nicken pun menutup muka dengan kedua tangannya lalu terisak dan menangis tanpa tahu kalau Satria menatapnya dari ruangan Reno.
“Dia sayang banget sama lo, Sat.”
“Tapi gue sudah menyakiti dia, Kak. Dan kelihatannya Axel..”
“Axel enggak bisa menggantikan lo di hati Cken.”
Satria terdiam lalu menyeka darah yang keluar dari hidungnya. Reno pun menyodorkan tisu ke arahnya.
“Gimana caranya biar gue ingat sama dia, Kak? Semakin gue usaha, kenapa gue semakin enggak ingat siapa dia?”
“Temuin dia, Sat. Mungkin cuma dia yang bisa bantu lo.”
To be continued......
yuppy datang lagi bawa 8 like buat KK
terus semangat berkarya ya 💐
bdw mampir juga ya kak di novelku judulnya TERSISIH KARENA MENDUA
Ceritamu sangat sayang dilewatkan
Semoga kunjunganku tidak membuatmu bosan
Salam dari yuppy
"Diikuti makhluk ghaib"
dikaryamu yang hebat
Tetap semangat
salam dari yuppy
"Diikuti makhluk ghaib"
Maaf lama baru mampir
Ditunggu kelanjutannya
Salam dari yuppy
"Diikuti makhluk ghaib"