"Aku bukan pelakor, sekalipun yang aku lakukan adalah untuk merusak rumah tangganya!"
Hanin, terpaksa pulang kampung dan bekerja pada mantan kakak iparnya demi membalaskan dendam Naura. Menggoda laki-laki itu dan membuatnya berlutut lalu ditinggalkan adalah tujuan Hanin mendekati Firman. Akankah dendam itu tuntas sampai akhir? Atau malah justru Hanin sendiri yang malah terjebak pada lingkar kerumitan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mimah e Gibran, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab - 15
Ibu mendudukkan kami berdua, kali ini di dalam kamarku yang pengap. Matanya menelisik tajam ke arahku. Lagi dan lagi aku selalu salah di mata wanita yang telah melahirkanku itu. Bolehkah aku merasa ragu, kalau diri ini ternyata bukan darah dagingnya?
Ibu selalu membela Mbak Nau dan mengutamakan perasaannya.
"Aku capek, Bu!" Aku menunduk pasrah, bahu ini bahkan sudah merosot lebih dulu. Lelah pada drama yang tak ada habisnya ini.
"Ibu lebih capek menghadapi kalian, terutama kamu Hanin!" sorot mata kecewa itu menembus dada, rasa sakitku kian menjadi karena menjadi korban kerumitan kisah cinta Mbak Nau dan Mas Harsa.
"Harusnya dari awal, Mbak Nau menikah saja dengan Mas Harsa!"
"Naura gak salah, Nin. Harusnya! Harusnya! Harusnya kamu nggak usah kerja sama Firman."
Aku menghela napas, "jadi harus gimana, Bu?"
"Karena Nau mau menikah, jadi kamu balik ke kota sajalah. Disana gajimu besar, cukup untuk memenuhi kebutuhan kami disini kan?"
Aku tersenyum miris, "lebih dari cukup, Bu!"
"Maafin aku, Bu. Sebenarnya, Haikal itu..." Mbak Naura gugup, ia melirikku sekilas. Aku pun tak peduli, toh pada kenyataannya; ibu tak pernah berada di pihak yang adil.
Dan note, memenuhi kebutuhan kami? Apa maksudnya aku juga akan jadi ladang uang untuk Ibu, Mbak Nau dan keluarga kecilnya.
Cih!
"Aku akan balik ke kota, pantang bagiku menginjakkan kaki ke rumah ini sebelum aku dapat suami orang kaya!" aku berseru emosi.
"Yang penting bukan Firman!" Ibu bersedekap, "atau kamu jual diri saja ke pengusaha kaya di kota!"
Deg...
Mataku membulat, dibanding sakit hati, aku lebih terkejut mendengar penuturan Ibu baru saja.
Gila, ini lebih gila dari yang aku bayangkan.
"Jadi? Ibu lebih suka aku jual diri? Lebih suka aku menjadi pelac*r ketimbang menikah dengan Mas Firman."
Ibu mengedikkan bahunya lalu keluar kamar, "ayo, Nau. Nanti Haikal mencari!"
Ibu lebih dulu keluar, sementara Mbak Naura tersenyum sarkas padaku, "selamat bersenang-senang dengan orang kaya, Hanin."
Kebingunganku bertambah kala melihat sosok yang pernah jadi kekasihku itu berada di ruang tamu. Tak hanya sendiri, tapi bersama wanita yang pernah ku panggil Ibu karena kebaikan beliau.
"Bu!" lirih aku menyapanya. Wanita itu menatapku teduh lalu meraih uluran tanganku.
"Apa kabar, Hanin? Kamu sehat kan, Nak?"
Aku mengangguk, menampilkan senyum terbaik lalu memeluknya. Ibunya Mas Harsa, wanita lembut yang selalu membuat mata ini memanas ingin menangis. Aku tak kuasa menahan sedih, sampai-sampai air mataku dengan lancang membasahi bahunya.
"Maaf, Bu!" lirihku pelan.
"Kita gak bisa memaksakan jodoh bukan, Nin. Ibu tahu, kamu wanita yang sangat baik. Dan Ibu mendo'akan dirimu agar mendapat jodoh terbaik pula."
Mas Harsa masih bungkam, sampai pada akhirnya situasi rumit ini terputus oleh kehadiran Ibuku dan Mbak Nau.
"Jadi tanggal berapa Nau dan Harsa akan menikah, Jeng?"
"Saya terserah Harsa, lebih cepat lebih baik bukan?"
Aku memilih duduk, diam memperhatikan pembahasan rencana pernikahan itu.
Tekatku sudah bulat, aku akan ke kota dan memulai semuanya. Memulai hidupku sendiri!
***
Cahaya matahari belum nampak, akan tetapi suara Ibu di luar kamar sudah seperti bisingnya kendaraan Jakarta di siang hari.
Teriakan ke lima membuatku bergegas melompat turun dari ranjang, padahal masih jam empat pagi. Dan dengan terpaksa pula aku keluar dengan mata setengah menahan kantuk, "hari ini, Mbakmu akad. Kenapa masih tidur?"
Suara datar itu menyambut saat aku menuju dapur.
"Hari ini nikahnya, Bu?"
"Ya," jawab Ibu singkat.