Disarannkan sebelum baca cerita ini baca dulu karya saya Gadis Miskin Kesayangan CEO ya, agar tidak gagal fokus, disana cerita Tania dan Dokter Anton bermula.....#
Anton adalah seorang Dokter Umum yang melanjutkan studinya untuk meraih gelar sebagai Dokter spesialis kejiwaan, dalam tugasnya Dokter Anton bertemu dengan seorang pasien yang bernama Dinda yang sedang mengalami depresi berat atas meninggalnya kekasih yang ia cintai dalam kecelakaan.
Lambat laut kedekatan mereka membuat Dinda menemukan kekasihnya dalam diri Dokter Anton. Tapi saat ini Anton belum bisa membuka hatinya untuk siapa pun, dihatinya masih ada Tania yang susah sekali ia lupakan.
Berjalannya Waktu Tania tiba-tiba datang setelah Anton sudah sedikit melupakannya dan ingin melanjutkan hidupnya siapakah nanti yang akan mengejar cinta Anton?? Apakah Tania atau Dinda??
Karya ini hanya sekedar hayalan Author ya 🤭 semoga kalian suka ceritanya...!!
Happy reading!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indaria_ria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15. Bertabrakan
Pagi-pagi sekali Anton sudah bersiap-siap untuk segera berangkat kerja, disana Ibu Mega sudah menunggunya dimeja makan tidak seperti biasanya di atas Meja sudah berjejer menu makanan yang di masak oleh Mamanya sendiri.
"Pagi Ma!"
"Pagi sayang, apa kamu sudah mau berangkat kerja? Kamu sarapan dulu ya, Mama sudah masak. Semua ini makanan kesukaanmu!"
"Wah ...Sering-sering begini Ma, jadi Anton bisa makan makanan Mama tiap hari!" Dengan tidak sabar Anton segera menarik kursi di depannya dia segera duduk disamping Mamanya.
"Kamu mau makan apa sayang?"
"Terserah apa saja Ma, asal Mama yang ngambilin." Ucap Anton dengan wajahnya yang begitu semangat.
"Mama kangen manjanya anak Mama, tapi apa kamu tidak ingin di manja calon istrimu sayang?" Disana Anton sedikit terkejut dengan pertanyaan Mamanya.
"Apa Mama sudah ingin punya menantu?"
"Tentu saja, Mama ingin melihat kamu bahagia dengan pilihan kamu."
Disana Anton masih terdiam, dia sampai tidak memikirkan tentang hatinya semenjak dia patah hati sampai sekarang dia belum pernah membuka hatinya untuk siapa pun.
"Ya sudah kamu makan ya, nanti kamu beri jawaban ke Mama kalau kamu sudah menemukan wanita pilihmu!"
"I-iya Ma, ya sudah Anton makan dulu ya, makasih ya Mama sudah masakin semua ini buat Anton.''
"Sama-sama sayang."
**
Sementara itu diruangan milik Dinda dia sedang berdiri di depan jendela, entah mengapa Dinda ingin sekali melihat kedatangan Dokter Anton, sejak semalam dia terbangun dari tidurnya dia tidak tahu kenapa setiap membuka matanya yang terbayang di matanyanya hanya Dokter tampan itu.
Disana tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka, seorang perawat datang dengan membawakan obat-obatan milik Dinda. Dinda masih nampak fokus didepan jendela ruangannya.
"Dinda apa kamu sudah sarapan?" Tanya perawat itu.
"Sudah!'' Jawab Dinda singkat.
"Kalau begitu sekarang kamu minum obatmu ya!" Ucap perawat itu lagi sambil meletakan beberapa obat-obatan di atas meja.
"Letakan disitu saja, nanti aku akan meminumnya!" Ucap Dinda yang masih belum begerak dari tempatnya berdiri.
Perawat itu pun sedikit curiga, mengapa sejak tadi Dinda tidak memindahkan pandangannya dari kaca jendela disana. Perawat itu mulai berjalan mendekati Dinda dia juga ikut penasaran apa yang sebenarnya di lakukan oleh Dinda.
"Din, apa kamu sedang menunggu seseorang?'' Tanya perawat itu yang kini sudah ikut berdiri bersebelahan dengan Dinda.
"Aku menunggu kekasihku datang!" Ucap Dinda cetus.
"Apakah itu Andreasmu?" Entah mengapa setelah mendengar nama Andreas Dinda langsung menoleh ke arah perawat di sebelahnya. Dia baru sadar kekasihnya adalah Andres seharusnya dia tidak berdiri disana, untuk apa dia menunggu Dokter Anton datang.
"Benar Andresku, dia akan datang untuk menjemputku! Ya dia akan datang, jadi aku akan bersiap-siap kalau begitu!" Ucap Dinda yang langsung bergegas mengambil alat make up nya yang ia simpan didalam lemari miliknya.
Perawat itu masih berdiri disana sambil melihat pergerakan dari Dinda "Kasihan sekali kamu Dinda, semoga kamu segera lepas dari halusinasimu" ucap perawat itu dalam hati.
Disana Dinda mulai mengambil sisir miliknya kini dia mulai merapikan rambutnya yang masih berantakan, kini dia pun segera memakaikan bedak di kulit wajah putihnya, tidak lupa dia juga memoles bibirnya dengan polesan lipstik yang sedikit tebal. Dia masih memperhatikan wajahnya di depan cermin di depannya.
"Kamu sangat cantik Dinda!'' Puji perawat disana.
"Benarkah? apakah Andreasku akan suka dengan dandananku?"
"Tentu saja Andreasmu pasti akan memuji kecantikan mu!" Disana Dinda nampak tersenyum bahagia dengan ucapan perawat itu.
"Oya, karena kamu sudah cantik dan ingin menemui Andreasmu bagaimana kalau kamu meminum obatmu dulu, biar kamu tidak sakit kepala lagi."
"Kamu benar!" Dinda pun segera berjalan mendekati meja yang dimana obat-obatannya ada di atas meja itu. Perawat itu dengan segera membantu Dinda meminum obatnya.
"Nah sekarang obatmu sudah diminum, bagaimana kalau kamu sekarang ikut berolah raga dulu biar badanmu vit nanti?"
"Olah raga? bukankah aku akan menemui Andreas?"
"Iya, tapi Andreas juga suka kalau kekasihnya juga sehat, bukan begitu?" Disana Dinda berfikir sejenak ucapan perawat itu benar juga kalau dia sehat dia aka cepat pulang dan bertemu dengan Andreas.
"Baiklah aku akan pergi kelapangan sekarang!" ucap Dinda sambil mengambil topinya yang berada di atas meja, disana dia mulai merapikan rambutnya dengan memakai topinya. Kini Dinda nampak lebih cantik dengan penampilannya kali ini.
Dinda pun segera bergegas menuju ke lapangan dengan aktivitas biasa yang ia lakukan bersama pasien lainnya, perawatnya pun segera meninggalkan Dinda setelah dia melihat Dinda baik-baik saja.
Nampak dari kejauhan Dokter Anton sudah datang dengan langkahnya yang sangat tergesa-gesa, hari ini dia nampak datang sedikit terlambat dari biasanya jalanan yang macet, di tambah dia tadi sedikit berbincang dengan Mamanya membuat waktunya sedikit berkurang dari biasanya.
Di persimpangan jalan nampak Dinda juga sedang berjalan menuju kesebuah lapangan yang berada disisi depan Rumah Sakit. Dia masih berjalan santai disana tanpa mereka berdua sadari dan tanpa mereka sengaja tiba-tiba?
Bruuuk....Auwh....suara Dinda yang kaget setelah dia ditabrak seseorang di depannya membuat dia hampir terjatuh, tapi dengan cepat Dokter Anton segera meraih tubuh kecil milik Dinda dan menaruhnya didalam dekapannya.
Wajah mereka berdua kini saling berhadapan, deru nafas mereka masih saling tak beraturan. Tanpa sengaja kedua netra mereka kini saling pandang, nampak disana mata indah milik Dinda begitu nampak indah, wajahnya yang begitu cantik terlihat nyata belum juga bibirnya yang sensual membuat darah Dokter Anton mulai memanas saat menatap bibir serta wajah cantik milik Dinda.
"Maaf, kamu tidak apa-apa?" Ucap Dokter Anton yang sedikit gugup.
"I-iiiya tapi maaf lepaskan tangan Dokter!" Ucap Dinda yang risih saat tau tangan Dokter Anton masih mendekapnya.
"Maaf!" Dokter Anton segera melepaskan tubuh kecil milik Dinda, dia baru sadar kalau tubuh Dinda masih berada dalam dekapannya dan dia benar-benar sangat malu.
Mereka masih sama-sama terdiam, hati mereka sama-sama masih menetralisir apa yang baru saja terjadi, Dokter Anton masih menatap ke arah wajah Dinda, sedang Dinda yang ditatap disana segera memalingkan wajahnya, dia benar-benar sangat malu. Padahal baru tadi dia sangat menunggu kedatangan Dokter Anton.
Kenapa sekarang setelah dia bertemu Dokter Anton malah salah tingkah sendiri, di tambah kejadian yang baru saja mereka alami. Ini baru pertama kalinya bagi Dinda menatap jelas wajah tampan milik Dokter Anton di depan matanya.
Bersambung ...
Bantu likenya ya readers terimakasih🙏