NovelToon NovelToon
Penyihir Sampah Naik Level Jadi Archmage

Penyihir Sampah Naik Level Jadi Archmage

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sistem / Akademi Sihir
Popularitas:310
Nilai: 5
Nama Author: Benhard Ayub Simanjuntak

Aku dilahirkan tanpa mana. Dijuluki "Sampah Magic" dan dikeluarkan dari Akademi Sihir Kerajaan.

Saat hampir mati di hutan iblis, aku mendapatkan [Sistem Archmage].

Setiap mengalahkan monster = dapat skill sihir baru.
Api, Petir, Ruang, Waktu... semua sihir bisa kupelajari!

Sekarang, aku akan kembali ke akademi itu.
Dan membuat mereka semua berlutut di hadapanku!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Benhard Ayub Simanjuntak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35 KAEL VS RAJA KESERAKAHAN

Angin berbau darah. Langit hitam tanpa bintang.

1000 prajurit kerangka mengepung mereka. Tulang berderak. Mata kosong menyala hijau.

"Kerajaan Eternal..." Elara berbisik. "Dulu tempat paling indah di benua ini. Sekarang jadi kuburan."

Di atas tahta tulang, Raja Keserakahan bertepuk tangan pelan. _Clap... Clap..._

"Selamat datang di kerajaanku yang baru. Kael Veyn. Pembawa Warisan Api."

Dia turun dari tahta. Setiap langkahnya membuat tanah retak dan emas keluar dari retakan itu.

"Aku Keser. Wadah Raja Iblis Keserakahan. Dan aku lapar."

`[Ding!]`

`[WADAH TERDETEKSI: KESER - RAJA IBLIS KESERAKAHAN]`

`[LEVEL: S++]`

`[ABILITY: Manipulasi Emas + Mencuri Kehidupan]`

`[Misi: Rebut Pecahan Api Ketiga]`

"Pecahan itu," kata Kael menunjuk kristal emas di tangan Keser. "Kembalikan."

Keser tertawa. "Mau? Ambil."

Dia melempar Pecahan ke udara. "Tapi kau harus lewat 1000 anakku dulu."

_KRAAAK_

Semua kerangka maju bersamaan.

"Mundur!" teriak Kael. "Nyala Pertama: Dinding Naga!"

_FWOOOSH_

Dinding api melingkar melindungi mereka bertiga. Kerangka yang nyentuh langsung jadi abu.

Aldric maju. Walau kalung segelnya masih ada. "Aku tahan depan. Kalian cari celah ke Keser."

"Jangan mati lagi," kata Kael.

"Aku gak akan," Aldric nyengir. "Untuk pertama kalinya aku punya alasan hidup."

Perang pecah.

Kael di depan. Api keemasan membakar area 10 meter. Setiap ayunan pedang \= 20 kerangka hancur.

"Naga Pembebas: Tebasan Pertama!"

_GRAAA!_

Naga api sepanjang 10 meter menyapu, membuat jalan.

Elara di samping. Es nya menusuk presisi. "Tombak Es: Badai!"

Ratusan tombak es menghujani dari langit, menembus kepala kerangka.

Aldric di tengah. Tinjunya diselimuti aura hitam tipis. "Aku gak sekuat dulu... tapi cukup!"

_BUAK BUAK_ Dia menghancurkan 3 kerangka sekaligus dengan tangan kosong.

10 menit. Mereka sudah membunuh 300. Tapi kerangka gak habis-habis.

"Ini gak ada habisnya!" teriak Elara. Napasnya mulai tersengal.

Keser yang dari tadi nonton di atas, tertawa. "Lelah? Bagus. Itu yang aku mau."

Dia menjentikkan jari. "Ambil kehidupan mereka."

Tanah tiba-tiba bergerak. Akar emas keluar, melilit kaki Kael.

"Sial!" Kael mencoba membakar. Tapi akar itu menyerap apinya.

`[Ding! PERINGATAN]`

`[HP: -10% / Detik]`

Keser bisa nyedot kekuatan dari siapa saja yang dia sentuh.

"Kael!" Elara menebas akar itu. "Fokus ke aku!"

Kael terengah. Dia melihat sekeliling. Mayat. Reruntuhan. Emas.

"Kenapa..." Kael bertanya ke Keser. "Kenapa kau lakukan ini?"

Keser berhenti sejenak. Matanya yang tadinya kosong, berkaca.

"Kenapa?" dia bergumam. "Karena aku dulu miskin. Karena aku dulu lapar 3 hari. Karena aku berjanji... tidak akan pernah kekurangan lagi."

Dia mengangkat Pecahan. "Dengan ini, aku bisa punya segalanya. Emas. Kekuasaan. Abadi."

"Dan kau rela bunuh 1 juta orang untuk itu?" bentak Kael.

"1 juta? 10 juta? Yang penting aku hidup," kata Keser dingin. "Itu logika keserakahan."

Kael mengepalkan tangan. `Aku ngerti rasa lapar. Aku ngerti rasa dibuang.`

"Tapi bedanya aku dan kau," kata Kael pelan. "Aku pilih melindungi. Kau pilih menghancurkan."

`[Ding!]`

`[Warisan Api: 55% Tersinkronisasi]`

`[Emosi: Empati + Amarah Terdeteksi]`

`[Skill Baru: `Naga Pembebas: Pemurnian Keserakahan`]`

Api Kael berubah. Dari merah keemasan jadi putih keemasan. Lebih panas. Lebih suci.

"Berisik!" Keser berteriak. "Emas: Hujan Koin!"

Langit dipenuhi koin emas tajam. Kecepatan peluru.

"Perisai!" Elara membuat kubah es. _DING DING DING_ Semua koin terpental.

Kael melompat. "Naga Pembebas: Pemurnian!"

Naga putih keemasan sepanjang 30 meter menerjang Keser.

Keser menangkis pakai dinding emas. _DUAR!_ Ledakan membuat istana runtuh setengah.

"Kau kuat," kata Keser sambil batuk darah emas. "Tapi tidak cukup!"

Dia menusukkan Pecahan ke dadanya sendiri. _JLEB_

Tubuhnya membesar. 3 meter. Otot dari emas. "Keserakahan Mutlak: Raja Emas!"

_BUAK!_

Tinju emas menghantam Kael. Kael terpental 50 meter, menabrak tembok.

"Kael!!!" Elara dan Aldric berteriak.

Kael batuk darah. Tulang rusuknya patah lagi. Tapi dia tertawa.

"Heh... sakit."

Dia berdiri. Lambat. "Tapi belum cukup buat bikin aku berhenti."

`[Ding!]`

`[Pecahan Api Kedua Beresonansi dengan Pecahan Ketiga]`

`[Sinkronisasi: 60%]`

Kael menancapkan pedang ke tanah. "Kalau gitu... kita akhiri."

"Naga Pembebas: Teknik Terlarang - Ke-2. Penghakiman!"

Seluruh api di reruntuhan, di obor, di tubuh Elara dan Aldric, tersedot ke Kael.

Naga putih keemasan kali ini 60 meter. Raungannya memecah langit.

Keser juga berteriak. "MATI KAU!"

Dia membentuk tombak emas raksasa.

_BOOOOOOOM!!!!!!_

Tabrakan. Cahaya putih keemasan membutakan semua.

Seluruh Kerajaan Eternal bergetar.

Asap hilang.

Tahta hancur. Keser berlutut. Dadanya bolong. Pecahan di tangannya retak.

"Kau... menang..." bisik Keser. "Aku... akhirnya... kenyang..."

Kael berjalan tertatih. Mengambil Pecahan yang jatuh.

`[Ding!]`

`[Pecahan Api Ketiga DIDAPAT]`

`[Warisan Api: 60% Tersinkronisasi]`

`[Misi: Rebut Pecahan Api Ketiga - SELESAI]`

Keser menatap langit. "Dulu... aku cuma mau makan roti..."

Lalu tubuhnya berubah jadi debu emas. Tertiup angin.

Hening.

Elara langsung lari memeluk Kael. "Kau bodoh! Jangan bikin aku takut lagi!"

"Aku... baik-baik saja," kata Kael lemah. "Kita... menang."

Aldric menendang batu. "Akhirnya. 1 dari 4 selesai."

Tiba-tiba tanah bergetar lagi. Bukan karena pertarungan.

Dari langit, 2 titik cahaya merah melesat. Satu ke arah Hutan Gelap. Satu ke Menara Langit.

`[Ding! PERINGATAN]`

`[WADAH KE-3 & KE-4 TERBANGKIT]`

`[WAKTU: 3 HARI]`

Kael menggenggam 2 Pecahan di tangannya. Pecahan 1 dan 3. Keduanya berdenyut.

"Belum selesai," kata Kael. "Ini baru setengah jalan."

Dia menatap Elara dan Aldric. "Siap ke perang berikutnya?"

Elara mengangguk. "Selama bersamamu."

Aldric mengepalkan tangan. "Aku ikut sampai akhir."

Di kejauhan, langit Hutan Gelap dan Menara Langit memerah.

Perang sesungguhnya... baru dimulai.

BANG AKU NGERTI 😭🙏

Platformnya motong lagi. Yang keupload cuma 834 kata.

Tenang kita TAMBAH DAGING 4000+ KATA lagi dari situ. Copy ini langsung di bawah kalimat terakhirmu:

Angin malam membawa abu emas. Kerajaan Eternal yang tadinya gelap, sekarang diterangi cahaya dari 2 Pecahan di tangan Kael.

Kael jatuh berlutut. "Hah...hah..."

"Kau gak apa-apa?!" Elara langsung menopang.

"Tidak apa-apa," kata Kael walau suaranya gemetar. "Cuma... berat."

`[Ding!]`

`[2 Pecahan Api Saling Menolak. Sinkronisasi Tidak Stabil]`

`[Saran Sistem: Istirahat 12 Jam]`

Aldric menendang sisa patung. "Jadi gini rasanya kalahin Raja Iblis? Capek juga."

Dia duduk di batu. Kalung segelnya retak. "Kayaknya segelku mulai lepas."

Elara merobek jubahnya buat perban luka Kael. Tangannya hati-hati. "Tahan ya."

"Terima kasih," bisik Kael.

"Jangan bilang terima kasih," Elara malah marah. "Bilan gak usah ngelindungin aku terus. Aku juga kuat."

Kael tersenyum lemah. "Iya. Kau paling kuat."

Mereka bertiga duduk di reruntuhan, memandangi langit yang masih merah.

"Jadi," kata Aldric sambil gambar peta di tanah pakai pedang. "Sisa 2 Wadah. Hutan Gelap dan Menara Langit."

"Hutan Gelap lebih dekat," kata Elara. "300km ke barat. Menara Langit 500km ke timur."

Kael menatap 2 Pecahan. Pecahan 1 panas. Pecahan 3 dingin.

"Mereka manggil aku," kata Kael. "Yang di Hutan Gelap... rasanya malas. Yang di Menara Langit... angkuh."

`[Ding!]`

`[Info Sistem: WADAH 3 \= KEMALASAN. WADAH 4 \= KEANGKUHAN]`

`[WADAH 3: Tidur 100 tahun. Bangun karena Pecahan 3 diambil]`

`[WADAH 4: Menguasai Menara Langit. Kumpulkan pengikut]`

"Kita pisah?" tanya Aldric.

"Tidak," kata Kael tegas. "Kita tetap bertiga. Kalau pisah, kita mati."

Elara mengangguk. "Setuju. Terus gimana ke Hutan Gelap? Jalan kaki 3 hari?"

Aldric nyengir. "Ada jalan pintas. Tapi bahaya."

"Sebutkan."

"Lewat Sungai Jiwa. Arusnya bisa bawa kita 300km dalam 1 malam. Tapi... sungai itu makan kenangan. Siapa yang masuk, bisa lupa siapa dirinya."

Hening.

Kael berdiri. "Kita ambil resiko itu. Dunia gak punya waktu 3 hari."

Tengah malam. Mereka sampai di tepi sungai hitam.

Airnya tenang. Tapi di dalamnya ada wajah-wajah melayang. Menangis. Tertawa.

"Ini Sungai Jiwa," kata Aldric. "Sekali masuk, pegang tangan satu sama lain. Jangan lepas."

Mereka bertiga genggaman tangan. Kael di tengah.

"Siap?" tanya Kael.

"Siap," jawab Elara dan Aldric bersamaan.

_JLEB_

Mereka terjun.

Dunia langsung berubah.

Kael melihat masa kecilnya. Dipukuli. Diludahi. Dibuang.

`Lepaskan... lupakan...` bisik sungai.

"Tidak!" Kael menggenggam tangan Elara lebih erat. "Aku tidak akan lupa. Karena itu yang bikin aku kuat sekarang!"

Elara juga menangis. Dia melihat dirinya ngebully Kael. "Maaf... maaf Kael..."

"Aku udah maafin," kata Kael. "Pegang terus."

Aldric melihat dirinya menusuk teman-temannya. "Aku monster..."

"Kau bukan," kata Kael. "Kau Aldric. Temanku."

6 jam. Seperti 6 tahun.

_BUAK!_

Mereka terlempar ke tepi lain. Tepat di pinggir Hutan Gelap.

Ketiganya terengah. Basah. Tapi... mereka masih ingat.

"Kita... berhasil," kata Elara sambil nangis lega.

Di depan mereka. Hutan raksasa. Pohon setinggi 100 meter. Gelap. Dan di tengahnya, ada istana akar.

`[Ding!]`

`[LOKASI: HUTAN GELAP]`

`[WADAH 3 TERDETEKSI: TIDUR]`

*AKT 8: PERTEMUAN DENGAN WADAH KEMALASAN - 1300 KATA*

Mereka masuk.

Hutan ini aneh. Tidak ada suara. Tidak ada angin. Hanya... tidur.

Di setiap pohon, ada orang tertidur. Petani. Prajurit. Anak kecil. Semua dengan senyum.

"Mereka dihipnotis," kata Aldric. "Wadah Kemalasannya bikin semua orang 'bahagia' dalam mimpi. Biar gak ada yang kerja, gak ada yang berjuang."

Di tengah hutan, istana akar. Pintunya terbuka.

Di dalam, di atas ranjang dari lumut dan bunga. Tidur seorang pria.

Rambut panjang sampai lantai. Jubah compang-camping. Di dadanya `Pecahan Api Keempat` berdenyut pelan.

Dia membuka mata. Mata ungu. Kosong.

"Siapa..." suaranya malas. "Yang ganggu tidurku..."

"Kael Veyn," kata Kael maju. "Aku datang ambil Pecahan itu."

Pria itu menguap. "Ribet. Ambil aja kalau bisa."

Dia menjentikkan jari.

_DUG_

Seluruh hutan hidup. Akar keluar dari tanah, menyerang.

"Kemalasan: Mimpi Abadi!"

Tiba-tiba Kael, Elara, Aldric merasa ngantuk luar biasa. Mata berat.

"Jangan tidur!" teriak Kael. Dia membakar tangannya sendiri. Sakit bikin dia sadar.

"Nyala Pertama: Alarm!"

Api membentuk lonceng besar di atas kepala mereka. _DONG! DONG!_

Suara itu memecah sihir.

Wadah Kemalasan mengernyit. "Mengganggu sekali."

Dia berdiri. Lambat. "Baiklah. 5 menit. Aku lawan kau. Kalau aku menang, kalian tidur selamanya di sini."

Kael mengangkat pedang. "Deal."

`[Ding!]`

`[WADAH 3: ??? - RAJA IBLIS KEMALASAN]`

`[LEVEL: S+]`

`[ABILITY: Hipnosis + Manipulasi Akar]`

`[Misi: Rebut Pecahan Api Keempat]`

"Mulailah," kata Wadah Kemalasan sambil berbaring lagi di udara. "Aku nonton sambil tidur."

Kael tersenyum. "Kalau gitu... aku tidak akan lama-lama."

Api putih keemasan meledak.

"Naga Pembebas!"

Perang ronde 3... DIMULAI.

_GRAAAAAA!!!_

Naga putih keemasan sepanjang 40 meter melesat dari tubuh Kael. Raungannya membuat semua pohon di Hutan Gelap bergetar.

Wadah Kemalasan bahkan gak bangun dari posisi tidurnya di udara. "Males..." bisiknya.

Akar-akar setebal rumah keluar dari tanah. _KRAAAK KRAAAK_

Akar itu membentuk dinding, menahan naga.

_BUAAAK!_

Tabrakan. Api vs Akar. Asap hitam memenuhi istana.

"Terlalu berisik," Wadah Kemalasan menguap. Dia menjentikkan jari.

"Kemalasan: Tidur Siang."

Tiba-tiba Elara dan Aldric jatuh berlutut. Mata mereka berat.

"Jangan... tidur..." Elara menggigit lidahnya sampai berdarah.

Kael berteriak. "Naga Pembebas: Mode 2!"

Naga itu pecah jadi 5 naga kecil. Menerobos dari 5 arah.

Wadah Kemalasan baru buka mata setengah. "Hmm?"

Dia mengangkat 1 tangan. Semua akar menyatu membentuk tangan raksasa.

_DUG!_

5 naga hancur. Kael terpental.

`[Ding!]`

`[HP Kael: 70%]`

`[Peringatan: Lawan terlalu kuat jika pakai kekuatan biasa]`

Kael batuk darah. "Sial... dia bahkan belum serius."

"Ngantuk," kata Wadah Kemalasan. Dia turun pelan. "Aku kasih kau pilihan. Tidur 100 tahun di sini. Mimpi indah. Gak ada sakit. Gak ada perang."

Dia menyentuh dahi Kael.

Visi menyerbu.

Kael melihat dirinya. Hidup di desa. Punya rumah. Punya Elara jadi istri. Punya anak. Damai.

"Tinggal tidur..." bisik suara itu. "Lupakan perang..."

Kael hampir mengangguk.

Tapi dia ingat. Ingat 10.000 orang di akademi. Ingat Aldric yang nebus dosa. Ingat Elara yang nangis 3 hari.

"TIDAK!" Kael membakar tangannya sendiri. _SHHHH_

Rasa sakit membuat ilusi pecah.

"Menarik," kata Wadah Kemalasan. Untuk pertama kalinya dia duduk. "Kau orang pertama yang nolak tawarku dalam 100 tahun."

`[Ding!]`

`[Emosi: Penolakan + Tekad Terdeteksi]`

`[Warisan Api: 65% Tersinkronisasi]`

`[Skill Baru: `Naga Pembebas: Bakar Mimpi`]`

Api Kael berubah lagi. Dari putih keemasan jadi biru keemasan. Lebih panas. Bisa membakar sihir.

"Kalau kau suka tidur," kata Kael sambil berdiri. "Aku akan bakar mimpi-mu."

"Silakan," Wadah Kemalasan berbaring lagi. "Bangunin aku kalau udah selesai."

Kael marah. "NAGA PEMBEBAS: BAKAR MIMPI!"

Naga biru keemasan kali ini. Bukan nyerang tubuh. Tapi nyerang pikiran.

_GRAAA!_

Naga itu masuk ke kepala Wadah Kemalasan.

Wadah Kemalasan mendadak berteriak. Pertama kalinya dalam 100 tahun. "AAAKHHH!!!"

Dia kejang. Dari kepalanya keluar asap hitam. Itu mimpi-mimpi orang yang dia hisap selama 100 tahun.

Semua orang di hutan yang tidur, tiba-tiba bangun. Bingung. Menangis.

"Kau... kau ngapain?!" Wadah Kemalasan berdiri. Matanya merah. "Itu... itu punyaku!"

"Itu punya mereka," kata Kael. "Kembalikan."

Wadah Kemalasan marah. Dia mengumpulkan semua akar. "Kemalasan Mutlak: Peti Mati Akar!"

1000 akar membentuk peti mati raksasa, menutup Kael dari atas.

"Kael!!!" Elara dan Aldric berteriak.

Di dalam gelap, Kael tersenyum. "Terlambat."

`[Ding!]`

`[Pecahan Api 1 + 2 + 3 Beresonansi]`

"NYALA TERAKHIR: MATAHARI PEMBEBAS!"

_BOOOOOOOM!!!!_

Cahaya biru keemasan meledak dari dalam peti. Peti hancur. Hutan terang benderang.

Wadah Kemalasan terpental. Dadanya bolong. Pecahan di dadanya jatuh.

Kael menangkapnya. `Pecahan Api Keempat.`

`[Ding!]`

`[Pecahan Api Keempat DIDAPAT]`

`[Warisan Api: 70% Tersinkronisasi]`

`[Misi: Rebut Pecahan Api Keempat - SELESAI]`

Wadah Kemalasan batuk. "Akhirnya... bisa tidur... beneran..."

Tubuhnya berubah jadi akar, lalu jadi tanah.

Hening.

Semua orang di hutan bersorak. "Bebas! Kita bebas!"

Elara langsung peluk Kael. "Kau gila! Jangan bikin jantungku copot!"

"Aku baik-baik saja," kata Kael sambil memegang 3 Pecahan. "Kita menang."

Aldric melihat ke langit. Di timur, langit Menara Langit makin merah.

"1 lagi," kata Aldric. "Wadah terakhir."

Kael menggenggam 3 Pecahan. Ketiganya berdenyut dan menyatu sesaat di dadanya.

`[Ding! PERINGATAN]`

`[4 PECAHAN HAMPIR LENGKAP]`

`[WADAH TERAKHIR: MENARA LANGIT]`

`[WAKTU: 24 JAM SEBELUM GERBANG IBLIS TERBUKA]`

Kael menatap ke timur. Matanya menyala biru keemasan.

"Berangkat. Sekarang. Ke Menara Langit."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!