NovelToon NovelToon
Mantan Suamiku Tak Tahu Aku CEO

Mantan Suamiku Tak Tahu Aku CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: ayu gerimis

Dua tahun lalu, Rian dengan dingin meletakkan surat perceraian di hadapan Nadia. Saat itu, Nadia rela melepaskan segalanya demi mendukung impian suaminya. Namun Rian memandangnya rendah, menganggapnya tak berguna, dan memilih meninggalkannya demi wanita yang ia harap bisa mempercepat kesuksesannya.

Rian tak pernah tahu, wanita yang ia usir itu adalah pewaris tunggal Grup Arka—perusahaan raksasa yang namanya disegani. Nadia sengaja menyembunyikan identitasnya saat menikah, ingin dicintai apa adanya, namun justru diperlakukan semena-mena.

Setelah berpisah, Nadia bangkit kembali. Ia memimpin Grup Arka dengan tegas dan cerdas, menjadi CEO misterius yang dikagumi banyak orang. Sementara itu, Rian berjuang mengembangkan usahanya sendiri, tak sadar bahwa semua peluang besar yang ia cari kini berada di tangan mantan istrinya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6: DIA TIDAK MENGENALIKU

Sepanjang acara makan malam berlangsung, pandangan Rian tak pernah lepas dari sosok Nadia. Ia duduk di meja paling depan, dikelilingi orang-orang paling berpengaruh di kota itu, berbicara dengan cerdas, tertawa tipis namun penuh wibawa, seolah ia memang lahir untuk berada di sana. Setiap gerak-geriknya mengingatkan pada sesuatu yang lama ia lupakan, namun ia terus memaksakan diri untuk menepisnya.

"Kau terus menatapnya," bisik Diana tajam, menyenggol lengannya. "Ingat posisi kita, Rian. Jangan sampai kau terlihat tidak sopan. Fokus pada tujuan kita."

Rian mengangguk pelan, namun matanya tetap tak bisa beralih. Ketika giliran sambutan dari tuan rumah selesai, Nadia diminta naik ke panggung untuk menyampaikan sepatah dua patah kata mewakili Grup Arka.

Saat ia berdiri dan berjalan menuju panggung, seluruh ruangan hening. Suara langkah kakinya yang halus namun mantap terdengar jelas di telinga Rian. Dan saat ia mulai berbicara, suara itu... persis sama. Nada bicaranya, cara ia menekankan kata-kata, bahkan jeda saat ia berhenti sejenak—semuanya mengingatkannya pada wanita yang dulu sering menunggunya pulang dengan senyum hangat.

"Malam ini saya berdiri di sini bukan sebagai pemilik Grup Arka semata," ucap Nadia tenang, suaranya bergema jernih di seluruh ruangan. "Melainkan sebagai seseorang yang percaya bahwa kesuksesan sejati bukanlah tentang seberapa tinggi kita bisa mendaki sendirian, melainkan seberapa jujur kita menghargai orang yang pernah berjalan bersama kita, bahkan saat kita belum memiliki apa-apa."

Kalimat itu seolah menghantam dada Rian. Ia menelan ludah dengan susah payah. Kata-kata itu terasa seperti pesan tersirat, seolah ditujukan langsung kepadanya. Namun ia menepisnya lagi. Mungkin hanya kebetulan. Mungkin saja dia memang Nadia lain yang kebetulan memiliki suara dan nama yang sama.

Setelah sambutan selesai, banyak orang berbondong-bondong menghampiri Nadia untuk memberi selamat. Rian mencoba mendekat sekali lagi, berharap bisa mengajaknya berbicara lebih lama, namun selalu ada saja orang yang mendahuluinya. Hingga akhirnya saat ia mendapatkan celah, ia melihat Nadia sedang berbicara dengan seorang teman lama ayahnya.

"Saya dengar Anda baru saja kembali setelah menghilang cukup lama," tanya pria itu ramah.

"Saya hanya ingin belajar berdiri dengan kaki sendiri, Pak," jawab Nadia sambil tersenyum tipis. "Ternyata dunia tidak selalu melihat apa yang ada di dalam hati. Kadang mereka hanya melihat apa yang tampak di luar. Dan saya pun akhirnya sadar, untuk dihargai, kadang kita harus menunjukkan siapa diri kita yang sebenarnya."

Saat Nadia menoleh dan kembali berpapasan mata dengan Rian, senyum itu hilang seketika. Kembali menjadi tatapan sopan namun dingin, seolah mereka baru pertama kali bertemu malam itu.

"Tuan Rian," sapa Nadia singkat. "Ada yang bisa saya bantu?"

Rian merasakan getaran aneh di dadanya. "Saya... saya hanya ingin mengatakan, pidato Anda tadi sangat mengesankan. Anda benar-benar wanita yang luar biasa."

Nadia mengangguk pelan. "Terima kasih. Semua orang bisa menjadi luar biasa, Tuan Rian. Asalkan mereka tidak membuang hal berharga yang sudah ada di genggaman mereka, hanya karena mengira ada yang lebih berkilau di luar sana."

Rian terdiam. Kalimat itu terasa begitu menusuk, namun ia tak mampu menyangkalnya. "Anda... apakah kita pernah bertemu sebelumnya? Entah mengapa saya merasa sangat akrab dengan Anda."

Nadia menatapnya lekat beberapa saat, lalu menggeleng pelan. "Sepertinya tidak. Banyak orang yang terlihat serupa, Tuan Rian. Namun jalan hidup kita tentu berbeda. Saya harap Anda tidak salah orang."

Dengan itu, ia memberi isyarat perpisahan sopan dan berjalan pergi meninggalkannya, bergabung dengan tamu lain. Rian terpaku di tempat, merasakan ada sesuatu yang hilang dan hancur di dalam dirinya, namun ia tak tahu persis apa itu. Diana datang menarik lengannya, namun matanya Rian masih terpaku pada sosok yang menjauh itu.

Dia tidak mengenaliku. Atau mungkin... dia mengenalku, namun memilih untuk berpura-pura tak tahu, karena aku yang dulunya membuangnya?

Pikiran itu muncul tiba-tiba, membuatnya merinding seketika. Namun lagi-lagi ia menepisnya. Tidak mungkin. Nadia yang dulu lemah, pasrah, dan tak pernah berani bersuara—tidak mungkin berubah menjadi wanita yang begitu kuat, berwibawa, dan tak tersentuh seperti itu.

Namun malam itu, saat ia pulang ke apartemennya, bayangan wajah Nadia tak pernah lepas dari pikirannya. Dan untuk pertama kalinya sejak ia meminta cerai, ia merasakan rasa sesak yang tak bisa ia jelaskan—seolah ia baru saja melewati sesuatu yang sangat berharga, namun ia membiarkannya berlalu begitu saja.

 

(Lanjut ke Bab 7?)

1
Reni Anjarwani
lanjut thor
Ayu Gerimis: Siap, akan dilanjutkan segera ya 😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!