NovelToon NovelToon
Istri Gemuk Yang Selalu Di Remehkan

Istri Gemuk Yang Selalu Di Remehkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: yani 11

Sejak tubuhnya menggemuk, Laila tak pernah lagi dihargai oleh suaminya. Ia terus dihina karena penampilannya, padahal sang suami sendiri hanya mampu memberi nafkah seadanya. Demi membeli satu botol skincare impiannya, Laila diam-diam menyisihkan sisa uang belanja setiap hari. Namun, ketika sebuah kesempatan mengubah hidupnya, pria yang dulu merendahkannya justru mulai menyesal. Akankah Laila memaafkan, atau memilih meninggalkan semua luka yang pernah ia terima?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yani 11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6_Diceraikan di malam kelam

"Ayo pulang!" bentak Arga. Wajahnya memerah karena menahan malu, sementara rahangnya mengeras dan sorot matanya dipenuhi amarah yang nyaris tak terkendali.

"Aduh... lepaskan aku!" seru Rani kesakitan. Wajahnya meringis, sementara tubuhnya berusaha melepaskan diri dari cengkeraman Arga yang semakin kuat.

Arga tidak menggubris.

"Diam!" bentaknya lagi. Napasnya memburu, sementara tangannya semakin kasar menyeret Rani keluar dari toko.

"Pak! Jangan kasar begitu!" teriak seorang ibu dari kerumunan. Wajahnya dipenuhi kemarahan, sementara tangannya menunjuk ke arah Arga.

"Iya! Lepaskan istrimu!" sahut pengunjung lain. Keningnya berkerut, sementara sorot matanya penuh kecaman.

Dua petugas keamanan segera melangkah mendekat.

"Pak, tolong tenang!" ucap salah satu petugas dengan tegas. Wajahnya tetap tenang, tetapi tubuhnya bersiap jika Arga bertindak lebih jauh.

Arga menoleh tajam.

"Ini urusan keluarga saya!" bentaknya keras. Urat di lehernya semakin menonjol, sementara napasnya terdengar berat.

"Meski begitu, Bapak tidak boleh melakukan kekerasan." jawab petugas itu tegas. Tatapannya lurus ke arah Arga tanpa sedikit pun gentar.

Rani memanfaatkan kesempatan itu.

"Tolong..." ucapnya lirih. Air matanya kembali mengalir, sementara pergelangan tangannya mulai memerah akibat dicengkeram terlalu kuat.

Namun Arga kembali menarik tubuh Rani.

"Cukup!" bentaknya. Wajahnya dipenuhi rasa malu karena menjadi tontonan banyak orang.

Petugas keamanan saling berpandangan.

"Pak, silakan pulang baik-baik. Jangan membuat keributan lagi." ucap petugas lainnya dengan nada memperingatkan.

Arga mendecakkan lidah.

"Iya!" jawabnya ketus. Tatapannya tajam penuh kekesalan.

Tanpa mengatakan apa pun lagi, Arga menyeret Rani menuju area parkir motor. Beberapa saat kemudian. Arga menyalakan motor tuanya dengan kasar.

"Bunyi motornya" meraung memecah suasana parkiran.

"Naik!" perintah Arga dingin. Wajahnya mengeras, sementara kedua matanya dipenuhi kemarahan.

Rani terdiam beberapa detik. Dengan tubuh gemetar, ia perlahan naik ke jok belakang.

Sepanjang perjalanan tidak ada satu kata pun keluar dari mulut mereka. Suasana terasa begitu mencekam.

Arga memacu motornya dengan kecepatan tinggi. Angin malam menerpa wajah Rani hingga rambutnya berantakan. Sesekali motor berguncang saat melewati jalan berlubang.

Rani refleks memegang besi pegangan di belakang jok, enggan menyentuh tubuh suaminya.

"Mas... pelan sedikit." ucapnya pelan. Wajahnya tampak pucat, sementara kedua tangannya menggenggam erat pegangan motor.

"Diam!" bentak Arga tanpa menoleh. Rahangnya mengeras, sementara tangannya justru semakin menarik gas.

Motor melaju semakin cepat.

Tiiin!

Sebuah truk membunyikan klakson panjang ketika Arga nyaris mengambil jalur kendaraan lain.

Rani memejamkan mata.

"Ya Allah..." bisiknya lirih. Tubuhnya gemetar hebat.

Untungnya Arga masih sempat membanting setang. Motor kembali ke jalurnya. Namun kemarahannya belum juga mereda.

Tak lama kemudian...

Motor berhenti di depan sebuah kontrakan sederhana yang telah mereka tempati selama bertahun-tahun.

Bangunannya sempit. Cat dindingnya mulai mengelupas. Atap sengnya tampak kusam dimakan usia.

Brak!

Arga menendang pintu kontrakan hingga terbuka.

"Mas!" seru Rani terkejut. Tubuhnya kehilangan keseimbangan ketika Arga mendorongnya masuk.

Arga menutup pintu dengan keras hingga seluruh dinding kontrakan seolah bergetar.

"Kamu puas?" bentaknya lantang. Matanya melotot penuh amarah, sementara napasnya memburu.

"Puas mempermalukanku di depan banyak orang?" tanya Arga dengan wajah merah padam.

Rani mengangkat wajahnya perlahan.

"Aku hanya mengatakan yang sebenarnya." jawabnya tenang. Meski suaranya lirih, sorot matanya tetap tegas.

Plak!

Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Rani.

Tubuh wanita itu terhuyung hingga membentur meja makan kecil yang berada di sudut kontrakan.

Bruk!

Gelas dan piring di atas meja jatuh berserakan di lantai. Rani memegang pipinya yang memerah. Air matanya kembali mengalir.

Namun kali ini...

Ia tidak menangis karena takut. Ia menangis karena hatinya benar-benar hancur.

Arga terengah-engah.

"Kalau bukan karena mulutmu..." geramnya. Dadanya naik turun menahan emosi. "Aku tidak akan kehilangan dia!"

Rani tertawa lirih.

"Ternyata..." ucapnya pelan. Senyumnya terasa begitu pahit, sementara air matanya terus mengalir.

"Yang kamu sesali bukan karena menyakitiku..." ucapannya tertahan. "...tapi karena perempuan simpananmu pergi."

Kalimat itu membuat Arga semakin murka.

"Diam!" bentaknya sambil mengangkat tangan lagi. Wajahnya memerah padam, sementara tatapannya dipenuhi amarah.

Namun sebelum tangan itu kembali mendarat...

Tok!

Tok!

Tok!

Suara ketukan pintu kontrakan menggema keras, memecah ketegangan yang memenuhi ruangan.

Arga menoleh dengan wajah penuh kesal.

"Siapa lagi?!" bentaknya keras. Wajahnya memerah dipenuhi amarah, sementara kedua matanya melotot tajam ke arah pintu.

Ketukan itu kembali terdengar.

Tok! Tok! Tok!

Kali ini jauh lebih keras hingga membuat pintu sedikit bergetar.

Rani yang masih berdiri di sudut ruangan ikut menoleh. Napasnya memburu, sementara kedua tangannya masih gemetar menahan takut.

Arga menggeram pelan.

"Sial! Malam-malam begini siapa yang berani menggangguku?" gerutunya kesal. Rahangnya mengeras, sementara tangannya mengepal kuat.

Dengan langkah lebar, Arga menghampiri pintu.

"Ceklek!"

Pintu terbuka.

Di depan kontrakan telah berdiri dua orang polisi bersama seorang petugas keamanan pusat perbelanjaan.

"Selamat malam, Pak." sapa salah seorang polisi dengan tenang. Wajahnya serius, sementara sorot matanya mengamati keadaan di dalam rumah.

Arga berusaha tersenyum meski wajahnya tampak tegang.

"Malam, Pak... ada apa, ya?" tanyanya gugup. Senyumnya terlihat dipaksakan, sementara peluh dingin mulai membasahi pelipisnya.

Polisi itu mengangkat sebuah ponsel.

"Kami menerima laporan dari beberapa saksi mengenai keributan yang terjadi di pusat perbelanjaan tadi." ucapnya tenang. Tatapannya tetap tertuju pada Arga.

Petugas keamanan ikut mengangguk.

"Saya juga mengenali Bapak." ujarnya tegas. Wajahnya datar, sementara kedua tangannya terlipat di depan dada.

Arga mulai kehilangan ketenangan.

"Itu... cuma salah paham." katanya cepat. Tatapannya mulai gelisah, sementara jemarinya saling meremas.

Polisi kembali berbicara.

"Selain laporan itu..." ucapnya pelan. Pandangannya beralih kepada Rani yang masih berdiri dengan pipi memerah.

"...kami juga melihat ada dugaan kekerasan. Apakah Ibu baik-baik saja?" tanyanya lembut. Wajahnya menunjukkan perhatian, sementara suaranya terdengar tenang.

Rani terdiam. Air matanya perlahan jatuh.

Melihat Rani tidak langsung menjawab, Arga justru semakin panik.

"Tidak ada apa-apa, Pak!" potong Arga cepat. Wajahnya berubah tegang, sementara senyumnya menghilang.

"Ini urusan rumah tangga kami." lanjutnya.

Polisi mengangguk pelan.

"Kami mengerti." jawabnya tenang. Tatapannya tetap tajam memperhatikan Arga. "Tetapi kami tetap perlu memastikan kondisi Ibu."

Ucapan itu membuat Arga kehilangan kesabaran.

"Cukup!" bentaknya keras. Wajahnya memerah dipenuhi emosi, sementara urat di lehernya tampak menegang.

Arga berbalik menatap Rani dengan penuh kemarahan.

"Semua ini gara-gara kamu!" teriaknya lantang. Matanya melotot penuh kebencian, sementara telunjuknya menunjuk tepat ke arah Rani.

Rani menatap suaminya tanpa berkata-kata.

"Sejak kamu bikin malu aku di mal, hidupku jadi berantakan!" bentak Arga lagi. Napasnya memburu, sementara dadanya naik turun menahan emosi.

Polisi segera menegur.

"Pak, tolong tenangkan diri." ucap polisi dengan tegas. Wajahnya tetap tenang, namun nada suaranya menunjukkan peringatan.

Namun Arga sudah dikuasai amarah.

"Tidak!" teriaknya kasar. Wajahnya dipenuhi emosi, sementara ia kembali menatap Rani.

"Dengar baik-baik!" bentaknya. Tatapannya dingin tanpa sedikit pun penyesalan. "Aku sudah muak sama kamu!"

Rani menelan ludah.

"Apa maksudmu...?" tanyanya lirih. Wajahnya pucat, sementara kedua matanya mulai berkaca-kaca.

"Aku ceraikan kamu!" bentak Arga tanpa ragu. Bibirnya menyunggingkan senyum sinis, sementara sorot matanya dipenuhi kebencian.

Ruangan mendadak sunyi.

Rani mematung.

Polisi dan petugas keamanan saling berpandangan.

Arga menunjuk pintu keluar.

"Keluar dari rumah ini sekarang juga!" hardiknya lantang. Tangannya menunjuk ke arah luar, sementara wajahnya tampak dingin.

"Mulai malam ini kamu bukan siapa-siapa lagi bagiku!" lanjutnya dengan wajah merah padam.

"Mas Arga..." ucap Rani lirih. Air matanya mengalir tanpa bisa dibendung, sementara tubuhnya sedikit bergetar.

"Jangan panggil namaku!" bentak Arga. Wajahnya semakin merah, sementara napasnya memburu. "Pergi! Bawa semua barangmu! Aku tidak mau melihat wajahmu lagi!"

Polisi segera mengangkat tangan memberi isyarat.

"Pak Arga, mohon jangan memperkeruh keadaan." ucapnya tegas. Tatapannya tidak lepas dari Arga.

"Perceraian memiliki proses hukum sesuai peraturan yang berlaku. Tolong tetap tenang." ucap Polisi berusaha mencegah Arga.

Namun Arga tetap menunjuk ke arah pintu.

"Pokoknya keluar!" bentaknya keras. Wajahnya dipenuhi amarah, sementara tubuhnya tampak gemetar karena emosi.

Rani mengusap air matanya perlahan. Ia memandang rumah kontrakan kecil yang selama ini dianggap sebagai tempat pulang.

Malam itu...

Tempat yang selama bertahun-tahun ia rawat dengan penuh pengorbanan terasa begitu asing.

Sementara dua orang polisi tetap berada di lokasi, berusaha menjaga situasi agar tidak semakin memanas dan memastikan keselamatan semua pihak yang berada di dalam kontrakan.

1
fanny tedjo pramono
semangat update ditunggu guys
sunaryati jarum
Rani.anak.orang kaya yang disingkirkan atau ada orang yang suka pada Adrian
sunaryati jarum
Kamu tidak tertarik wanita karena mengharapkan Rania,Nak Adrian
sunaryati jarum
Balas budi atau ada Rasa Nak Adrian
sunaryati jarum
Tekad yang bagus Rani
sunaryati jarum
Yang menolong ternyata teman.kecilmu
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu...
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu
Feni sang penulis novel
wow Saya suka dengan ceritanya Saya suka dengan alur bagian hemat harga tertawa sinis sudut bibirnya berangkat mengejek semangat terus ya kak bikin karyanya Saya suka banget dengan alur ceritanya semuanya Saya suka oh iya kak bolehkah saya mempromokan kenapa baru saya novel saya ada 3 sih tapi kalau kakak suka semuanya tolong berikan komentar dan bintang 5-nya ya kak semangat terus terima kasih
Fransiska aghata
oke kak, makasih udah mampir😁
Ayu Ara12
next dong kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!