NovelToon NovelToon
GERILYAWAN TERAKHIR

GERILYAWAN TERAKHIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Perperangan
Popularitas:149
Nilai: 5
Nama Author: Galuh pravitasari

Sìang itu pesawat Bomber Martin B-10 Belanda terbang rendah di langit RANCAGAOK

BOOOOM!!!

Cahaya putih menyilaukan membelah malam. Tanah terlempar ke udara. Atap rumah Pak Lurah terangkat lalu hancur berkeping-keping.

"Turun!" teriak Bayu.

Semua menjatuhkan diri ke tanah. Debu dan pecahan bambu menghujani punggung mereka. Bau mesiu dan kayu terbakar memenuhi udara.

*TAT... TAT... TAT...*

Suara tembakan dari udara menyisir tanah. Peluru menancap ke batang pisang dan pematang sawah. Bayu menarik Astri ke bawah parit.


Bayu, Karta, Ningsih, Astri bertekad untuk merebut kampung halaman mereka dari tangan belanda hanya bermodal tekad berjuang dan senjata seadanya.

Kisah perjuangan anak muda melawan penjajah, semoga jadi pengibar semangat anak muda Indonesia" MERDEKA"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galuh pravitasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31 : KARTA DAN LAPAR

Matahari sudah condong ke barat, menyisakan cahaya kemerahan yang menembus celah dedaunan. Bayu berjongkok diam di balik semak tebal tepi jalan, matanya menatap lurus ke arah tikungan jalan yang samar terlihat di bawah sana. Di sebelahnya, Karta duduk bersandar pada batang pohon besar, perutnya berbunyi nyaring berkali-kali. Wajahnya tak tenang, matanya sesekali melirik ke arah tas bekal yang terselip di ikat pinggang Bayu.

"Tahan dulu," bisik Bayu tanpa menoleh, seakan tahu apa yang ada di pikiran sahabatnya.

"Belum saatnya makan. Patroli mereka sebentar lagi lewat."

Karta menghela napas panjang, lalu mengusap perutnya yang terasa menempel di tulang.

"Tahan terus... perutku sudah berteriak minta makan sejak tadi pagi. Roti milik prajurit itu masih utuh di dalam tas, kan? Sedikit saja tak apa, Bayu. Sedikit untuk mengganjal perut."

Bayu berbalik menatapnya tajam namun lembut.

"Kalau kau makan sekarang, kau akan mengantuk. Kau lambat bergerak. Dan kalau mereka lewat tiba-tiba... kau tak akan siap."

Karta mendengus kesal, namun akhirnya mengangguk pelan. Ia kembali menatap jalan di bawah sana dengan mata yang tak lepas dari bayangan roti yang masih tersimpan di tas itu.

Tak lama, terdengar suara langkah kaki berbaris. Lebih berat dari biasanya. Lebih banyak jumlahnya.

Bayu memberi isyarat tangan. Diam. Rendahkan tubuh.

Dari balik tikungan muncul enam prajurit Belanda berjalan beriringan. Senapan tergenggam erat, mata menyapu sekeliling dengan wajah tegang dan takut. Di antara mereka, ada satu prajurit yang membawa tas besar bergambar lambang militer. Langkahnya berat, napasnya memburu. Tas itu penuh dengan bekal makanan.

Karta melirik tas itu. Matanya membelalak. Air liur menelan susah payah.

"Lihat tas itu..." bisik Karta nyaris tak bersuara, siku menyenggol lengan Bayu.

"Penuh sekali... roti, daging asap, mungkin juga gula..."

Bayu melirik sekilas, lalu kembali menatap jalan.

"Jangan pikirkan itu. Kita hanya mengawasi hari ini. Tidak menyerang."

"Tapi kalau tas itu terjatuh..." Karta berbisik lagi, matanya tak berkedip menatap tas besar itu.

"Kalau tali talinya putus..."

"Karta!" tegur Bayu berbisik tegas.

"Diam!"

Prajurit-prajurit itu berjalan semakin dekat. Suara percakapan mereka terdengar jelas di telinga Bayu dan Karta. Wajah mereka masih tampak ketakutan sejak kejadian di jembatan kemarin.

"Ze zijn hier overal... overal ogen..." (Mereka ada di mana-mana... di mana-mana ada mata...) gumam prajurit yang membawa tas besar itu dengan napas memburu.

"Praat niet zo dom! Wij zijn zes! Zij zijn niets!" (Jangan bicara bodoh begitu! Kita berenam! Mereka bukan siapa-siapa!) bentak prajurit di depan, meski suaranya pun tak seyakin dulu.

"Maar de brug... en de stemmen... en de stenen die uit de lucht vallen..." (Tapi jembatan itu... dan suara-suara itu... dan batu yang jatuh dari langit...) prajurit pembawa tas itu terus bergumam tak tenang.

"Zwijg! Vooruit!" (Diam! Maju!)

Mereka berjalan tepat di bawah tempat persembunyian Bayu dan Karta. Tas besar itu tergantung di punggung prajurit yang berjalan tepat di bawah semak tempat Karta bersembunyi. Aroma roti segar dan daging asap terbawa angin ke atas.

Perut Karta berbunyi nyaring sekali lagi.

Prajurit itu berhenti seketika. Ia menengadah ke atas, matanya menyapu rimbunan semak di atasnya.

"Wat is dat? Hoorde jullie het?" (Apa itu? Apakah kalian mendengarnya?)

Bayu menegang. Tangan kanannya mencengkeram erat sebilah batu.

"Het is alleen je eigen maag! Loop door!" (Itu hanya perutmu sendiri! Terus jalan!) seru pemimpin regu itu sambil melangkah terus.

Prajurit pembawa tas itu tampak ragu sejenak, lalu ikut melangkah kembali. Namun tas besarnya tersangkut pada ranting kayu yang menjulur keluar dari semak. Ia menariknya pelan, lalu melepaskan sejenak untuk merapikan talinya.

Karta menahan napas. Matanya melirik ke arah tas yang tergantung di ranting itu, tepat di jangkauan tangannya. Prajurit itu sedang berbalik membelakangi semak untuk berbicara dengan kawannya di depan. Peluang itu terbuka sesaat saja.

Tanpa pikir panjang, tangan Karta bergerak cepat. Jari-jarinya menyambar sepotong roti besar yang terlihat jelas menonjol dari mulut tas yang sedikit terbuka. Sekali gerakan, roti itu berpindah ke tangannya.

Namun... ujung kain pembungkus roti tersangkut di tepi tas. Saat Karta menariknya pelan, tas itu ikut terguncang cukup keras.

Prajurit itu berbalik seketika. Matanya melotot menatap tas yang bergoyang-goyang sendiri.

"Wat is er met de tas?! Wie is daar?!" (Apa yang terjadi dengan tas ini?! Siapa di sana?!)

Bayu melotot ke arah Karta. Karta mematung. Roti masih tergenggam erat di tangan kanannya. Wajahnya pucat pasi.

Prajurit itu mendongak ke atas, matanya tepat menatap celah semak tempat mereka bersembunyi. Mulutnya terbuka lebar hendak berteriak memberi peringatan.

Karta sadar ia ketahuan. Daripada diam saja tertangkap basah... ia justru melakukan hal yang tak terpikirkan siapa pun.

Dari balik semak, Karta melontarkan teriakan sekuat tenaga sambil menghentakkan kaki ke tanah seolah puluhan orang sedang melompat turun.

"MAJU SEMUA! SERANG SEKARANG! JANGAN BIARKAN MEREKA LARI!"

Bayu terperangah sejenak, namun seketika itu juga ia paham. Ikut berteriak dengan suara berbeda, melemparkan batu-batu kecil ke arah dedaunan di sisi lain jalan agar terdengar seolah datang dari segala penjuru.

"DIKEPUNG! LEMPAR BATU BESAR!"

"HANCURKAN JALAN MEREKA!"

Batu-batu beterbangan dari balik semak ke segala arah. Suara teriakan datang dari atas, dari kiri, dari kanan. Dedaunan berisik seolah pasukan besar sedang meluncur turun mendatangi mereka.

Keenam prajurit itu tersentak kaget seketika. Yang tadi sudah ketakutan, kini kehilangan akal sehatnya sepenuhnya.

"Ze zijn hier! Overal! Wij zijn omsingeld!" (Mereka ada di sini! Di mana-mana! Kita dikepung!) teriak prajurit pembawa tas itu sambil melompat mundur hingga tas besarnya terlepas dari bahu dan jatuh tergeletak di tanah.

"Ren! Ren terug! Voordat ze ons bereiken!" (Lari! Lari kembali! Sebelum mereka menjangkau kita!) teriak yang lain sambil berbalik arah berlari sekuat tenaga.

Pemimpin regu itu berusaha menahan mereka.

"Blijf staan! Blijf schieten! Er is niemand!" (Tetap berdiri! Terus menembak! Tidak ada siapa-siapa!)

Namun tak ada yang mendengar. Ketakutan sudah meledak tak terkendali. Yang melihat kawannya berlari, ikut berlari pula. Yang menembak, menembak membabi-buta ke arah semak tanpa sasaran. Peluru melesat ke atas, menabrak dahan, memecah dedaunan. Tak ada yang berani tinggal satu detik pun lebih lama.

Dalam hitungan detik, keenam prajurit itu berlari tunggang-langgang meninggalkan jalan itu, meninggalkan tas bekal besarnya yang tergeletak di tanah, meninggalkan senapan yang sempat terjatuh saat mereka berbalik arah.

Bayu dan Karta tetap diam bersembunyi sampai suara langkah kaki mereka hilang sepenuhnya. Sampai tembakan terakhir pun berhenti bergema di lembah.

Hening kembali menyelimuti jalan setapak itu.

Baru setelah itu Bayu perlahan turun dari tempat persembunyiannya, diikuti Karta yang masih memegang roti besar itu erat-erat. Mereka berdiri menatap tas besar yang tergeletak di tanah, terbuka sedikit, memperlihatkan isinya yang melimpah.

Bayu menatap Karta lekat-lekat. Matanya tak marah, namun juga tak tersenyum.

"Roti itu..." ucap Bayu pelan.

"Sebab dari semua kekacauan tadi."

Karta menatap roti di tangannya, lalu menatap tas besar di tanah, lalu menatap Bayu. Wajahnya merah padam.

"Aku... hanya ingin mengambil sepotong roti saja..." gumam Karta pelan penuh penyesalan.

"Aku tak bermaksud ketahuan. Tapi talinya tersangkut... dan aku panik..."

Bayu menghela napas panjang, lalu perlahan tersenyum tipis.

"Kau panik, lalu kau berteriak seolah ada seribu orang di atas sana. Dan teriakan itu... justru yang membuat mereka lari ketakutan."

Karta melotot.

"Maksudmu...?"

"Mereka tak tahu hanya kita berdua," jawab Bayu sambil menunjuk tas besar itu.

"Mereka lari karena kau membuat mereka yakin bahwa pasukan besar sedang menurun menyerang. Satu teriakan panikmu... mengacaukan seluruh barisan mereka."

Karta menatap roti di tangannya, lalu tersenyum canggung.

"Jadi... roti ini membawa berkah?"

Bayu tertawa pelan.

"Bisa dibilang begitu. Tapi ingat, Karta. Lain kali... jangan mengambil roti sebelum memastikan tali tasnya tidak tersangkut."

Karta ikut tertawa lega, lalu segera berlutut membuka tas besar itu. Matanya berbinar gembira melihat isinya. Roti putih tebal, daging asap, gula batangan, garam, bahkan ada beberapa bungkus biskuit dan sebotol air bersih.

"Banyak sekali..." gumam Karta tak percaya.

"Cuma gara-gara sepotong roti... kita dapat tas penuh."

Bayu ikut berlutut membantunya mengikat tas itu dengan kuat.

"Lain kali kalau lapar, bilang dulu. Jangan bertindak sendiri. Tapi..." Bayu menatap Karta sambil tersenyum, "...terima kasih karena kau berteriak tadi. Kalau kau diam saja ketahuan... mungkin sekarang kita sudah dikejar peluru mereka sampai ke tepi sungai."

Karta menyelipkan roti itu ke mulutnya, menggigit besar dengan nikmat. Matanya terpejam sejenak menikmati rasa yang luar biasa enak itu.

"Enak sekali..." gumamnya sambil mengunyah.

"Lebih enak karena didapat dengan cara yang nyaris tertangkap."

Bayu menggeleng geleng sambil tersenyum. Ia mengambil sepotong roti juga, lalu berdiri menatap ke arah jalan yang masih sepi.

"Mereka pasti akan melaporkan ini. Lain kali mereka akan datang lebih banyak lagi. Dan mereka akan lebih waspada."

"Biarkan saja," jawab Karta sambil berdiri memikul tas besar itu di bahunya.

"Biarkan mereka datang. Kali ini kita punya bekal makanan cukup untuk berhari-hari. Dan kalau mereka lewat lagi... aku janji... aku tidak akan mengambil roti sebelum mereka berlari lebih dulu."

Bayu tertawa mendengar janji itu.

"Ayo pergi. Sebelum mereka sadar bahwa yang menyerang tadi hanya dua orang lapar yang berebut roti."

Mereka berdua melangkah menyusuri lereng curam, menghilang di balik rimbunan pepohonan. Di tangan mereka roti yang didapat dengan nyaris tertangkap. Di bahu mereka tas penuh bekal yang ditinggalkan musuh karena ketakutan sendiri.

Dan di kejauhan, terdengar suara teriakan dan tembakan yang saling bersahutan dari arah pos penjagaan Belanda. Sepertinya... prajurit pembawa tas itu bercerita kepada kawan-kawannya tentang pasukan besar yang mengintai di hutan. Cerita yang dibesar-besarkan karena ketakutan. Yang lama-kelamaan... akan menjadi legenda yang membuat mereka tak berani melangkah keluar lagi.

Karta tersenyum puas sambil mengunyah rotinya. Ternyata... lapar kadang bisa membawa keberuntungan yang tak disangka-sangka. Asal tahu kapan harus berteriak. Dan kapan harus diam.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!