Kecelakaan membuat nyawanya masuk dalam tubuh seorang anak SMA yang menjadi korban saat menolong seorang gadis saat terjebak tawuran siswa.
Mengetahui dirinya telah meninggal, Dom tidak bisa menerima hal itu. Terutama saat dia mulai sering bermimpi buruk yang membuatnya tidak nyaman.
Dom yang seorang dokter bedah ternama, sekaligus dokter peneliti obat obatan, yang memiliki laboratorium, serta pewaris tunggal dinasti dari keluarga yang bergerak di bidang farmasi, harus bisa menerima kenyataan bahwa raganya telah tiada.
Dom menjalani kehidupan sebagai anak SMA, sambil menyelidiki kematiannya sendiri.
Dalam perjalanannya menyelidiki, banyak hal yang tak terduga dialaminya.
Penghianatan, rahasia keluarga, dan teman membuat hidup Dom yang sebagai Arthur semakin berwarna.
Ikuti terus kisahnya hanya di sini.
Jangan lupa like dan komentarnya, baca secara urut juga ya.
Terima kasih 😘💕
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dee Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penasaran
Dom kembali terbangun sambil terengah engah. Napasnya memburu. Dom mengusap wajahnya dengan gusar.
"Astaga, mimpi itu lagi!"
Dom beranjak dari tempat tidurnya yang sempit, keluar dari kamar, menuju ke dapur.
Dom menuang air ke dalam gelas dan meneguk hingga habis. Lalu, menghela napas sejenak sebelum kembali ke kamarnya.
"Aku tidak ingin meneruskan pengobatanku lagi. Biarkan aku menikmati sisa hidupku bersama keluargaku yang selama ini banyak terlewat olehku."
Sayup-sayup, Dom mendengar Lea, ibu Arthur berbicara dengan seseorang.
Dom menggendap, ke arah kamar Lea, dan mengintip dari sela pintu yang tak tertutup rapat.
Dom melihat Lea sedang berbicara dengan seseorang melalui ponselnya.
"Iya, aku tahu. Tapi, belum pasti tingkat keberhasilnya. Aku hanya ingin satu kesempatan lagi, untuk bisa lebih banyak menghabiskan waktu bersama Arthur. Kamu, tahu, betapa hancur dan sedihnya perasaanku, saat mengetahui Arthur menjadi korban saat kejadian tawuran pelajar, dan sempat koma dua hari. Beruntung dia selamat. Jika, terjadi sesuatu padanya, aku tak bisa memaafkan diriku lagi."
Dom tercenung mendengar ucapan Lea.
"Aku telah pasrah dan ikhlas, biarkan aku menikmati sisa usiaku ini dengan Arthur. Ya, aku tahu, dia memenangkan lomba itu. Dia telah bercerita padaku. Kamu tahu, dia memasukkan uang hadiah dalam rekeningku. Ya, dia memang berbakat, dia memang putramu."
Dom mengerutkan keningnya, saat mendengar percakapan itu.
"Dia memang putramu."
Ucapan itu terngiang jelas di telinga Dom, membuat dia penasaran, siapa ayah kandung Arthur, yang tak pernah ada jejaknya di rumah. Bahkan foto pun, tak ada.
Bibi Rea juga mengatakan tidak tahu, dan Dom, merasa bibi Rea berkata jujur.
"Dia sekarang ikut tim basket sekolah. Sabtu besok dia ada pertandingan. Jadi, aku memutuskan untuk tidak pergi terapi pekan ini dan seterusnya. Maaf, aku hanya ingin menghabiskan sisa hidupku ini bersama keluargaku. Terima kasih untuk semuanya."
Dom berjalan mengendap, kembali ke kamar. Lalu duduk di kursi, sambil menatap ke arah luar melalui jendela.
"Mengapa Lea menutupi ayah Arthur? Siapa sebenarnya Arthur ini?"
Rasa penasaran dan ucapan Lea akan menghabiskan sisa hidup bersama keluarga membuat Dom semakin rindu pada mamanya.
"Miris, aku dekat dengan mama, tapi saat terakhir hidupku, kami malah jarang bersama. Mama sibuk dengan urusan di rumah sakit, sedang aku sibuk dengan penelitian di lab. Seandainya malam itu, aku tidak terlalu lama di lab...."
Dom menghela napas panjang dan menutup wajah dengan tangannya.
Mencoba memutar ulang kejadian di hari itu. Mamanya menghubunginya dan mengingatkan kembali untuk datang tepat waktu di acara ulang tahun papanya. Seandainya, senadainya, dan andai andai yang lain pada hari itu, membuat dia menyesal. Menyesal mengapa tak bisa menghabiskan waktu bersama papa dan mamanya. Hanya memikirkan ambisi dan egonya sendiri.
"Benarkah kematianku karena dibunuh? Bukan kecelakaan seperti ingatanku? Mengapa mimpi burukku selalu sama?"
Dom mengusap usap wajahnya sendiri dengan kesal, lalu pikirannya berkelana lagi.
Rasa penasaran Dom mulai menggodanya untuk menyelidiki latar belakang Lea.
Dom membuka laptopnya yang diambil dari apartemen. Lalu mencari daftar riwayat ibu Arthur ini.
Lea James, Dom mulai mencari semua data tentang wanita ini.
Tak butuh lama, Dom telah mendapatkan riwayatnya.
Kebanyakan data dari rumah sakit. Lea bekerja sebagai perawat di rumah sakit milik keluarga Luther, lalu pindah ke rumah sakit khusus anak milik Hana Luther. Lalu, terakhir dia kembali bekerja di rumah sakit besar.
Tapi, mengapa Arthur dilahirkan di klinik kecil pinggir kota?
Dom, mulai membaca berkas keterangan kelahiran Arthur.
Papa dan mamanya sangat baik pada semua karyawan rumah sakit, baik dokter, perawat, hingga pegawai lain. Fasilitas kesehatan diberikan gratis. Terlebih, bagi ibu hamil dan anak anak, mamanya memberi porsi kesehatan yang lebih.
Tapi, ini catatan pemeriksaan selama kehamilan, dilakukan di klinik lain, di luar kota. Sebenarnya siapa Lea? Dia belerja di rumah sakit keluarga Luther, tapi, tak pernah menggunakan fasilitasnya.
Perawatan dan terapi penyakitnya juga dilakukan di rumah sakit lain, dan penanggung jawab biaya adalah Henry Luther.
Dom terdiam saat membaca nama papanya sebagai penanggung biaya pengobatan Lea.
"Mengapa tidak diserahkan saja pada rumah sakit? Banyak dokter bagus, peralatan medis lebih canggih, dan obat kanker di fasilitas lab milik mama juga ada, mengapa papa membiayainya ke klinik yang jauh di bawah standar rumah sakit?"
Dom, tak habis pikir. Pantas saja, pengobatan Lea tak terlihat pekembangannya.
Tiba-tiba layar laptop berkedip, tanda ada yang ingin meretas akun Dom.
Dom membuka laman miliknya, dan terlihat notifikasi dari kediamannya.
Dom membuka kamera di apartemennya, terlihat Stella mengutak atik brankas miliknya.
Stella berkali kali memasukkan kata sandi yang salah. Stella terlihat sangat kesal, berkali kali memukul lemari besi dengan berang sambil mengumpat.
"Brengsek, kamu Dom! Laptop hilang, brankas tak bisa dibuka, kode keamanan akun terkunci. Arrrggghh..!!"
Stella kembali memukul lemari besi itu dengan kesal.
"Heh, kabar buruk, cara yang diberikan temanmu itu gagal! Sama sekali tak bekerja! Dom adalah pria cerdas, kode keamanan pasti berlapis lapis. Satu lagi, laptopnya tidak ada. Ya, hilang! Entah kemana. Terakhir aku sangat yakin, melihat laptop itu berada di meja kerja si brengsek itu! Sekarang tidak ada."
Dom, terkejut saat mendengar Stella menyebutnya dengan kata Si Brengsek.
Ingin rasanya Dom menghidupkan speaker, dan menyela wanita yang pernah mengisi hidupnya itu.
"Tidak, aku tidak akan melapor pada Dokter Henry atau pun Hana. Jika mereka tahu, aku yakin, aku lah orang pertama yang akan diselidiki. Aku kekasihnya, lalu aku tahu kode apartemen ini karena sering datang ke sini. Lalu laptop hilang, pasti aku yang dituduh, karena hanya aku yang terakhir datang ke rumah ini. Tolong jangan bodoh Erick!"
Mendengar nama Erick, Dom semakin melongo.
Stella menghubungi Erick.
"Ya sudahlah! Nanti kita bahas dan cari solusinya. Tuan Zed sudah menghubungiku. Dia ingin mempercepat waktu transaksi. Temui aku di rumah!"
Stella menutup panggilan ponselnya dengan kesal.
Apa sebenarnya yang terjadi selama ini?
Stella bermain main dengan Erick di belakangku?
Bukannya Erick telah memiliki istri dan anak?
Atau ada hubungan yang lain?
Apa Lucy mengetahui hal ini? Jika Erick dan Stella memiliki hubungan kerabat, Lucy pasti tahu. Tapi, Lucy tak pernah terlihat menganggap Stella seperti kerabatnya.
Dom terus menatap dan memperhatikan Stella yang masih gusar di rumahnya melalui kamera pengawas.
Setelah bebera saat, Stella akhirnya bergegas keluar dari apartemen itu dengan raut wajah marahnya.
Dom menutup laptopnya dan kembali memandangi arah luar melalui jendela. Lama kelamaan, matanya menjadi mengantuk, dan pikirannya berkelana ke alam mimpi.