Novel ketiga🍂
Akhirnya Nayara siuman setelah ia mengalami koma pasca melahirkan. Sebagai suami, Deon tentu merasa sangat lega dan bahagia, istri tercintanya telah sadarkan diri dan bisa kembali bertemu dengannya dan juga putranya yang baru saja lahir.
Namun bagi Nayara terbangun dari koma, seperti kembali menghadapi mimpi buruk. Meskipun ia sangat bersyukur karena bisa bertemu dengan buah hatinya, tapi ia harus kembali menerima kenyataan bahwa ia terpaksa menerima kakak tirinya sendiri sebagai suaminya dan memutuskan hubungannya bersama Giandra, pria yang dicintainya sekaligus ayah kandung dari putra yang baru dilahirkannya.
Giandra dikenal sebagai satu-satunya atlet Basket yang dimiliki Indonesia yang berhasil tembus bermain di NBA dan dikontrak oleh klub ternama.
Siapakah Giandra di masa lalu? Akankah Giandra mengetahui tentang putranya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lalalati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Terpana
Kupandang rintik hujan yang turun di luar jendela dari tempatku duduk, di tengah perpustakaan. Sejak tadi siang hujan turun dengan konsistennya. Sebenarnya aku berharap hujan akan segera berhenti. Karena kalau tidak, itu artinya aku akan terjebak bersama Gian lebih lama.
Kemudian aku ingat, ada jas di dalam jok motorku.
Logikaku berkata, hujan bukan alasan kamu akan terjebak bersamanya, Nayara. Aku menghela nafasku panjang.
Sepanjang privat ini berjalan, semakin aku bertemu dengannya, aku merasa benteng pertahananku mulai goyah. Gian terus mencoba menghancurkannya. Sedikit demi sedikit benteng antara aku dan Gian semakin rapuh.
Ku alihkan pandanganku ke arah Gian yang duduk di sebelahku yang sedang asyik mencorat-coret kertas dengan angka-angka. Dia tampak serius. Kedua mata besar dan tajamnya fokus pada kertas itu.
Sepertinya ia tak terganggu dengan kehadiranku di sampingnya. Jika aku jadi dia, aku akan sulit berkonsentrasi.
Tanpa sadar aku menatapnya semakin dalam. Aku semakin terpana akan sosoknya.
Aku tidak mengerti kenapa ada murid sepertinya. Bagiku wajah tampannya hanyalah bonus, tapi yang membuatnya berbeda dan memesona adalah karena dia seorang atlet basket yang sudah diakui kemampuannya di seluruh Jawa Barat dan Jakarta, tapi di waktu yang bersamaan dia juga murid yang pintar dengan nilai yang selalu baik. Ditambah sikapnya yang selalu menghormati guru dan menyayangi kedua orang tuanya. Tak heran guru-guru menganggapnya sebagai siswa favorit dan teladan bagi teman-temannya.
Itu yang membuat Gian begitu spesial.
"Kenapa ngelihatin? Ganteng ya?" ucapnya pelan ditengah kesibukannya mengerjakan soal yang kuberikan, tanpa melihat ke arahku.
Sontak aku mendeham dan mengalihkan pandanganku. "Udah belum?"
"Bentar, Nay. Dikit lagi." Ia menatapku sekilas, "Di luar juga hujan. Kamu gak akan bisa pulang."
"Kenapa gak bisa? Tinggal pake jas hujan," ucapku.
"Gak boleh. Bahaya," ujarnya protektif. "Kalau kamu mau pulang, harus mau pake mobil aku."
"Maaf ya, kamu siapa ngatur-ngatur saya?"
Gian menatapku lagi. "Pacar kamu."
Aku menghela nafas, "Berhenti Gian. Saya bukan pacar kamu. Saya guru kamu." Ku peringatkan lagi ia untuk entah yang ke berapa kali.
"Seneng banget ya kamu bilang kalau kamu itu guru aku. Emang kenapa sih kalau guru pacaran sama murid?" Tampak Gian belum memahami betapa hubungan itu sangat tidak boleh terjalin.
"Bayangin aja kamu pacaran sama ibu kamu sendiri, gimana?" Kuberikan analogi yang akan cukup ekstrim.
Sontak ia menatapku lagi. "Ya beda dong, Nay." Ia letakkan pensil di tengah buku dan geserkan buku itu ke arahku. "Kamu gak bisa nyamain kayak gitu. Lagian kita ini pacaran sebelum kamu jadi guru. Terus aku juga tahu kamu kepaksa nerima tawaran ngajar di sini karena Bunda yang maksa. Dengan status kita sekarang, kita emang harus backstreet dari semua orang, aku ngerti itu. Tapi kita masih bisa biasa aja saat kita berdua aja kayak gini."
Aku menggelengkan kepalaku lelah. "Saya udah gak tahu lagi gimana caranya supaya kamu paham maksud saya."
Aku mulai memeriksa soal yang baru saja Gian kerjakan.
"Bagian mana yang aku gak paham? Cuma satu, yaitu aku gak paham kenapa kamu masih aja mengabaikan aku. Padahal kita bisa kayak orang normal lainnya kalau kita lagi berdua doang."
"Dan ngebiarin kamu nyentuh saya lagi?" tatapku galak.
"Kamu ngeprivat aku udah hampir sebulan ini. Pernah gak aku nyentuh kamu? Padahal aku ada di dekat kamu terus selama ini. Sama kayak waktu kita di rumah waktu itu, tapi aku gak ngapa-ngapain 'kan? Karena aku tahu kapan, di mana, dan gimana aku harus bersikap. Aku udah janji sama kamu gak akan sentuh kamu sampai aku lulus. Inget?" protesnya.
Aku tak menggubrisnya. Lelah rasanya menimpalinya yang memiliki sudut pandang yang berbeda mengenai hubungan kami ini.
Akhirnya aku hanya kembali memeriksa soal-soal itu. Kemudian aku menemukan sesuatu yang janggal, yang selalu aku temukan saat memeriksa hasil jawabannya.
"Kamu sengaja ya?" Aku menggeserkan kertas itu padanya. "Kenapa kamu selalu baik di langkah-langkah pertama, terus ke bawahnya kamu kayak yang sengaja disalah-salahin. Padahal langkah kamu udah bener."
Gian tidak menjawab, ia malah menatapku lekat.
"Jawab, Gian," ucapku galak.
"Enggak. Itu aku udah ceroboh aja."
Aku tahu Gian berbohong. Sepertinya ia khawatir jika ia sudah semakin mahir dalam mengerjakan soal-soal sulit sekali pun, aku akan melaporkan pada Bu Kirana dan menghentikan privat ini.
"Kamu gak usah bohong, saya akan privat kamu sampai akhir semester ini. Sampai kamu ujian kelulusan. Saya udah janji sama Bunda kamu."
"Serius?"
"Iya. Jadi mulai sekarang kerjain dengan sungguh-sungguh dan jujur. Gak usah disalah-salahin." Aku menuliskan angka 76 di sudut kanan kertas itu.
Aku mulai membereskan tas dan peralatanku. "Privat hari ini cukup sampai di sini. Sampai ketemu Selasa depan."
"Aku anterin kamu pulang." Gian mengambil tasku dan berjalan lebih dulu.
"Gi..." Hampir saja aku berteriak jika tidak segera menyadari masih banyak siswa di sana. Untungnya mereka semua sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Perpustakaan memang masih cukup ramai, mungkin banyak siswa yang juga menunggu hujan reda.
Aku terus mengejar Gian ke ujung lorong yang akan membawa kami ke parkiran. "Kamu gak perlu anter saya pulang!"
"Hujan, Nay. Kamu tunggu di sini aku ambil payung di dalam mobil."
"Gian, Please." Segera aku menyambar tasku yang dipegangnya saat ia akan menerobos hujan untuk mengambil payung di dalam mobilnya.
"Nay, gak ada yang salah siswa anterin gurunya pulang. Kamu bisa anggap kamu gak sengaja nebeng sama aku." Gian masih menggenggam tali tasku dengan erat, tak membiarkanku mengambil alih tas itu.
"Saya juga bawa motor, Saya bawa jas hujan. Saya gak butuh tumpangan."
Gian menghela nafas. "Ya udah, aku ambilin jas di motor kamu sekarang. Mana kuncinya?"
Aku terdiam.
"Gak boleh kayak gini juga? Aku cuma khawatir sama kamu. Aku pengen nunjukin perhatian aku sama pacar aku. Gak boleh juga?" ujarnya kesal.
Aku tak ingin berdebat lagi. Akhirnya aku memberikan kunci motorku padanya. Ia segera menerobos hujan dan menuju motorku, mengambil jasku di dalam jok, dan kembali berlari padaku.
Seragam, rambut, dan wajahnya basah. Aku jadi merasa bersalah padanya. "Harusnya kamu gak usah kayak gitu. Lihat kamu jadi basah," ujarku sambil memakai jasku.
"Gak apa-apa. Yang penting kamu gak basah." Ia malah tersenyum senang.
Seketika jantungku berdebar tak karuan.
Iya. Semakin hari sejak aku memprivatnya lagi, dia semakin sering memberikanku perhatian-perhatian kecil yang justru membuatku semakin jatuh pada pesonanya.
Aku semakin melihat seperti apa perasaan Gian terhadapku. Aku tak lagi menganggapnya sebagai anak remaja yang tak bisa menahan darah mudanya yang berapi-api. Menciumku dengan sesuka hatinya, membuatku tidak berdaya dan merasa bersalah setelahnya.
Gian yang seperti itu, sudah tak pernah aku temui lagi. Yang kini aku lihat saat bertemu dengannya justru seorang laki-laki yang begitu mencintai kekasihnya.
Seiring dengan janji yang selalu ia buktikan, aku juga semakin tahu bahwa perasaannya memang tak main-main. Penolakan dan pengabaian yang selalu aku lakukan berbulan-bulan sepertinya tak pernah membuatnya berniat pergi menjauh dariku. Ia justru terus meyakinkanku bahwa aku memang spesial baginya.
Jujur aku merasa sangat dilema.
Hatiku mulai goyah. Logikaku mengatakan bahwa ini salah. Sama sekali salah. Tapi hatiku semakin ingin menyambutnya.
kasihan andranyaa