“Pilih melayaniku atau … kuberitahukan pada semua orang kalau kamu Open B.O?”
Sasha terjebak dengan tindakan yang ia ambil tanpa berfikir panjang.
Sasha. Gadis berusia 18 tahun tersebut menolak mentah-mentah bantuan dari Austin, Si Ketua Geng Motor yang merupakan penyebab ayahnya koma dan tak bisa bangun entah sampai kapan. Ia memutuskan untuk Open B.O dan menjual mahkotanya dengan imbalan uang demi membayar biaya rumah sakit Sang Ayah.
Sebelum mahkotanya direnggut, Sasha memutuskan untuk membatalkan transaksi gelap tersebut. Sayangnya, saat ia tahu bahwa Austin lah yang mem-bookingnya, bukan hanya tak bisa membatalkan transaksi tersebut … Austin juga memaksanya melakukan hal-hal yang bertolak belakang dengan kesehariannya.
Penasaran hal apa saja 'kah yang mereka lalui berdua?
Ikuti kisah Sasha dan Austin dengan meng-subscribe novel ini! 💜
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sheninna Shen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Tampan dan Kaya
..."Yah ... walaupun aku genit, setidaknya aku tampan dan kaya. Aku juga bertanggung jawab. Kamu nggak akan rugi kok." - Austin Xaquille Mendes...
...💨💨💨...
"Kak, masih lama?" tanya Sasha sambil merebahkan kepalanya ke atas sandaran sofa. Wajahnya mendongak ke langit-langit karena mulai bosan menunggu Austin yang sudah setengah jam sibuk mengetik di laptopnya.
Tak!
Austin menekan tombol 'enter' pada keyboard laptopnya sembari tersenyum 'smirk'. Pria tampan bermata hazel dengan hidung mancung yang tajam itu, ia sedikit membungkuk untuk meletakkan laptopnya ke atas meja kaca ruang tamu yang kini menjadi penengah antara ia dan Sasha.
"Baca," perintah Austin sambil bersandar ke sofa. Lalu, ia menyilangkan kami kanannya ke atas kaki kiri.
Sasha langsung duduk dengan tegap karena penasaran akan peraturan yang diberikan oleh tuan rumah.
"Hah?!" belum semenit Sasha membaca peraturan yang diketik oleh Austin, ia langsung membelalakkan matanya sembari telunjuk kanannya menunjuk ke layar laptop.
"Seriusan deh, selama setengah jam tadi, Kakak cuma ngetik ini?" tanya Sasha sambil memutar layar laptop menghadap Austin.
Austin menaikkan kedua alisnya sembari bibirnya melengkung ke bawah untuk mengiyakan pertanyaan Sasha. Ia menyilangkan kedua tangan ke dadanya yang saat ini sedang membusung.
"Hmm." Dehem Austin dingin dan singkat.
"Melakukan dan mengerjakan semua yang diperintahkan oleh pemilik apartemen?" ucap Sasha yang sudah hafal isi dari peraturan yang Austin ketik di Microsoft Word tadi.
"Kalau melanggar dan menolak peraturan tersebut, maka akan diberikan sanksi membayar sewa apartemen selama sebulan sebesar tujuh puluh juta?!" sambungnya sambil melotot.
Austin mengangguk pelan.
"This is crazy!" seru Sasha tanpa sengaja. Namun, ia cepat-cepat menutup mulutnya menggunakan kedua tangan.
"Kenapa? Nggak setuju?" tanya Austin dengan suara yang pelan. "Yah, kalo kamu bisa cari tempat tinggal yang layak selain di sini, silahkan."
"Aku bisa! Aku bisa kok cari-"
"Oh iya, aku lupa. Di sini, makanannya gratis," potong Austin.
"Kalo sekedar makan mah gampang. Tinggal beli-"
"Biaya rumah sakit Pak Robert juga aku yang bayarin," potong Austin lagi. Ia sengaja menyebutkan keuntungan-keuntungan yang akan gadis itu dapatkan jika ia tinggal di apartemen tersebut.
Sasha terdiam. Ia mendadak ragu dan gelisah. Pikirannya berkecamuk. Logika dan perasaannya sedang berlawanan untuk mencari keputusan yang terbaik yang harus ia ambil.
"Satu lagi," ucap Austin sambil menyeringai. "Yah ... walaupun aku genit, setidaknya aku tampan dan kaya. Aku juga bertanggung jawab. Kamu nggak akan rugi kok."
"Anggap saja jalan pintas yang harus kamu ambil adalah open B.O. Gimana kalo yang menikmati tubuhmu itu om-om jelek, gendut, terus menyeramkan? Memangnya, kamu rela disentuh sama orang yang seperti itu? Terus, tiba-tiba dia buang anunya ke rahim kamu, terus dia nggak bertanggung jawab," sambungnya sengaja membuat Sasha goyah dan lemah.
"Ish, Kak!" Sasha langsung bergidik ngeri sambil memeluk dengan erat bantal sofa yang sedari tadi ada di pelukannya.
"Yah ... itu 'kan gambaran yang aku berikan kalau kamu memilih untuk tak tinggal di sini," Austin mengambil ponselnya dan menatap layar ponsel tersebut.
Pria itu sengaja bersikap acuh tak acuh, seolah-oleh ia tak berharap jika gadis itu mendengarkan atau tidak perkataannya. Padahal, itu hanyalah sebuah umpan yang ia lemparkan untuk mendapatkan pancingan yang besar.
"Toh, kamu juga tau aku siapa," ujar Austin yang tak menyerah menggoyahkan keteguhan hati Sasha. "Kalau aku melakukan hal yang tak baik, kamu 'kan tau di mana orangtuaku berada."
Setelah melontarkan kalimat terakhir, Austin memilih diam menunggu dengan sabar umpannya di makan.
Beberapa menit berlalu. Ruangan tersebut mendadak hening karena tak ada perbincangan. Austin bersikap acuh tak acuh sambil memainkan ponselnya melihat-lihat sosial media. Sedangkan Sasha, gadis berfikir dengan keras mencari jalan keluar.
Sasha menatap Austin dengan tatapan menyelidiki. Ia merebahkan dagunya ke bantal yang ia peluk saat ini. Pikirannya menerawang jauh.
"Kak Austin ... bisa dipercaya nggak sih?"
"Kalau aku cari kontrakan di luar, mau bayar pake uang gaji dan pesangon Ayah? Terus, biaya rumah sakit gimana?"
"Aku 'kan belum dapat kerjaan? Terus, gaji yang aku peroleh dari bekerja, emangnya bisa nutupin semua kebutuhan?"
Sasha benar-benar buntu. Ia tetap tak menemukan jalan keluar yang lain selain menerima untuk tetap tinggal di tempat tersebut.
"Udah puas natapin wajah tampan aku?" tanya Austin tanpa melihat ke arah Sasha. Ia dapat merasakan sejak tadi tatapan gadis itu tertuju dan terkunci padanya.
"Yaudah, Kak. Aku ... tinggal ... di ... sini deh," ucap Sasha berat dan enggan. Kedua tangannya tak henti-henti memainkan ujung bantal sofa yang ada dipelukannya.
"Nice! Ikan besar memakan umpanku!" seru Austin dalam hati. Ia menggigit kedua bibirnya ke dalam menahan kegirangan di dalam hati yang tak tertahankan. Pasalnya, pancingannya benar-benar bekerja dengan baik!
...💨💨💨...
BERSAMBUNG...
...💨💨💨...
tp sejauh q membaca ceritamu semua bagus-bagus 👍😀
lanjutin dong novel2 nya,
semoga segera di lanjut, karena sudah mampir nech