NovelToon NovelToon
ISTRI GENDUT MILIK DUKE

ISTRI GENDUT MILIK DUKE

Status: tamat
Genre:Fantasi Wanita / Balas Dendam / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:1.4M
Nilai: 5
Nama Author: Archiemorarty

Semua orang tahu Lady Liora Montclair adalah aib bangsawan.

Tubuhnya gendut, reputasinya buruk, dan ia dipaksa menikahi Duke Alaric Ravens, jenderal perang paling dingin di kekaisaran, setelah adiknya menolak perjodohan itu.

Di hari pernikahan, sang Duke pergi meninggalkan resepsi. Malam pertama tak pernah terjadi.

Sejak saat itu, istana penuh bisik-bisik.

"Duke itu jijik pada istrinya karena dia gendut dan jahat."

Namun tak seorang pun tahu, wanita gendut yang mereka hina menyimpan luka, rahasia, dan martabat yang perlahan akan membuat dunia menyesal telah meremehkannya.

Dan ketika Duke Alaric akhirnya tahu kebenarannya, mereka yang dulu tertawa, hanya bisa berlutut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13. INTEROGASI DAN KESETIAAN

Udara di ruang tamu utama kediaman Ravens menegang seketika.

Bukan karena ancaman senjata.

Bukan pula karena suara teriakan.

Melainkan karena satu pria, Duke Alaric Ravens yang berdiri tegak dengan bahu kaku, mata setajam bilah pedang, dan aura dingin yang menekan seluruh ruangan.

Cassian Verdan masih berdiri di tempatnya, satu tangan terangkat setengah seolah menyerah, senyum canggung tertahan di wajahnya. Ia terbiasa menghadapi raja bayangan, pemimpin guild, dan para pembunuh bayaran, namun menghadapi Duke Ravens dalam posisi seperti ini, jelas bukan sesuatu yang ia perkirakan.

Alaric melangkah maju.

"Siapa kau?" tanya Alaric dingin.

Cassian membuka mulut, namun belum sempat menjawab ...

"Ya, ciapa kau? Dali mana? Mau apa ke cini?" sela Rowan dari gendongan Alaric, menunjuk Cassian dengan jari kecilnya.

Alaric tidak menoleh. "Kenapa kau datang ke kediamanku?"

"Namanya ciapa? Datang cama ciapa?" Rowan mencondongkan tubuh ke depan.

Gideon yang berdiri tak jauh dari pintu refleks menepuk dahinya.

Astaga, satu Duke saja sudah cukup, kenapa sekarang ditambah bentuk kecil-nya lagi, batin Gideon melihat kelakuan paman dan keponakan itu.

Cassian terkekeh, berusaha tetap tenang. "Aku-"

"Apa hubunganmu dengan istriku?" potong Alaric tajam. "Dari wilayah mana? Siapa yang mengirimmu? Apa tujuanmu datang ke sini?"

"Dan Paman jahat apa tidak?" Rowan menambahkan cepat.

Cassian terdiam. Ia menatap Rowan, lalu Alaric, lalu kembali ke Rowan.

"Aku rasa ini interogasi paling intens yang pernah kualami," ucap Cassian.

Alaric tidak tersenyum.

"Jawab," perintah sang Duke tak sabar.

Rowan mengangguk setuju. "Jawab."

Gideon mendekat pelan ke sisi Liora, lalu berbisik dengan suara sangat rendah, "Nyonya, haruskah aku membawa Duke pergi sebentar agar Anda bisa mengobrol dengan tamu Anda?"

Liora melirik Alaric, lalu Rowan, kemudian Cassian yang kini tampak lebih terhibur dari pada terancam.

Liora menahan senyum, melihat Cassian yang gelagapan.

"Boleh. Aku memang ada perlu dengan tamu ini," jawab Liora lembut.

Gideon mengangguk. "Apa yang harus kukatakan pada Duke?"

"Bilang saja Cassian ini kenalan lamaku. Seorang pedagang lintas wilayah. Dia sering membawakan pesananku, obat-obatan dan kain," saran Liora.

Cassian menunduk sopan, seolah mendukung cerita itu sepenuhnya. Jelas ia dapat mendengar bisikan itu dengan baik, karena pendengaran pria itu cukup tajam.

Gideon berbalik pada Alaric. "Yang Mulia, mungkin akan lebih baik bila Anda-"

"Aku tidak pergi," potong Alaric cepat.

"Lowan juga! Paman ini menculigakan!" Rowan memeluk leher Alaric lebih erat.

Alaric tersenyum, "Anak pintar."

Cassian mengangkat alis. "Aku tersinggung."

Liora akhirnya angkat bicara. "Alaric. Rowan. Boleh aku bicara dengan tamuku sebentar?"

Alaric menatap Liora lama.

Wajah Duke itu menunjukkan konflik jelas, antara kepercayaan dan naluri protektif yang sulit dikendalikan.

Rowan mendahului, "Lilola, paman itu menculigakan."

Liora benar-benar harus menahan diri untuk tidak tertawa. Terlebih ketika ia melihat ekspresi Cassian yang tampak bingung, jelas tidak pernah ada dalam rencana hidupnya dikatai 'mencurigakan' oleh bocah cadel.

Liora berdeham pelan. "Dia orang baik. Aku akan baik-baik saja. Terima kasih sudah khawatir."

Rowan menatap wajah Liora yang tersenyum. Lama. Seolah menilai kejujuran di sana.

Lalu bocah itu memutar tubuhnya sedikit ke arah Cassian dan menatap pria itu tajam.

"Paman, kalau nakal cama Lilola, aku culuh Gideon macukan Paman ke kandang kuda," kata Rowan serius.

Ruangan hening.

Cassian mengangkat kedua tangannya. "Baik. Baik. Aku janji tidak akan nakal."

"Bagus," ujar Rowan puas.

Alaric menghela napas, lalu kembali menatap Liora. "Kau yakin akan baik-baik saja?"

"Aku akan baik-baik saja. Dia kenalan baikku. Aku juga ingin bertanya soal racun itu," jawab Liora mantap.

Alaric mengernyit. "Racun?"

"Yang membuat tubuhku seperti ini," lanjut Liora tenang.

Tatapan Alaric mengeras seketika. Namun setelah beberapa detik, ia mengangguk.

"Panggil aku jika ada apa-apa," kata Alaric.

Liora mengangguk.

Alaric berbalik, membawa Rowan dalam gendongannya, diikuti Gideon dan Sasa yang menunggu di balik pintu.

Begitu pintu tertutup ... senyum Liora lenyap.

Gadis itu mengangkat sedikit ujung gaunnya, melangkah cepat, dan ....

BRAKK!

Tendangan Liora menghantam tulang kering Cassian tanpa ampun.

"Aduh! Ketua! Apa-apaan itu?!" Cassian meringis.

"Aku yang seharusnya bertanya kenapa kau datang ke sini tanpa mengabariku?" Liora melipat tangan di dada, wajahnya kesal

Cassian mengusap kakinya, lalu tersenyum lebar dan menjawab, "Aku hanya ingin memastikan keadaan Ketua. Kau selalu diperlakukan buruk di kediaman Count. Aku dan yang lain takut kau diperlakukan sama di sini."

"Aku baik-baik saja. Seperti yang kau lihat. Mereka semua baik padaku," kata Liora jujur.

Cassian mengangguk. "Aku bisa lihat itu. Aku justru tidak menyangka Duke yang dingin itu sangat protektif terhadapmu."

"Jujur saja aku juga terkejut. Mereka tidak melihatku buruk sama sekali di sini," ujar Liora.

"Sudah kukatakan, Count dan orang-orang di dalamnya yang memang bermasalah," Cassian mendengus kesal.

Liora menghela napas. "Jadi. Katakan padaku tujuanmu datang ke sini? Aku yakin kau tidak sebodoh itu mendatangi kediaman Ravens tanpa alasan."

Wajah Cassian berubah serius.

"Count Montclair melakukan transaksi dengan Kerajaan Varkhiel" kata Cassian.

Liora terkejut. "Kau yakin?"

"Aku sangat yakin. Informan terbaik kita melihat pergerakan mencurigakan dari Count. Dan saat diikuti ternyata Count bertemu seseorang di penginapan di pinggiran wilayahnya. Saat ditelusuri, orang itu tangan kanan Raja Varkhiel," jawab Cassian tanpa ragu sama sekali.

Liora mengepalkan jarinya. "Ini gila, Tidak hanya menggelapkan pajak, dia juga berkomplot dengan negara musuh.”

"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Cassian.

"Aku harus memberitahu Kaisar," jawab Liora cepat. "Tapi sebelum itu, carikan bukti valid kerja sama Count dengan Varkhiel," sambungnya.

Cassian mengangguk. "Baik. Akan kulakukan. Tapi bukankah akan lebih baik jika kau memberitahu Duke juga? Jika perang tercetus, dia akan berada di garis depan."

Liora terdiam.

"Aku tidak yakin dia akan percaya. Jika aku memberitahu ... maka aku harus membuka siapa diriku. Dan kelompok kita," ujar Liora ragu akan saran Cassian.

Cassian mengangguk paham. "Itu keputusanmu. Tapi ingat, kesetiaan kami hanya untuk Aurelion, untukmu seorang. Apa pun yang kau putuskan kami akan selalu mengikutimu."

Liora menatapnya, lalu mengangguk. "Terima kasih.”

"Dan satu lagi. Tubuhku jadi seperti ini karena racun dari wilayah timur. Digunakan untuk menggemukkan ternak. Aku ingin kau cari tahu penawarnya, dan bagaimana Countess bisa mendapatkannya," beber Liora.

Cassian menunduk hormat. "Apa?! Racun?"

Liora mengangguk. "Aku juga terkejut soal ini. Aku mungkin terlalu meremehkan Countess."

"Akan aku cari tahu sesegera mungkin. Countess seperti memang mengincarmu dari awal," kata Cassian.

Liora menghela napas lega. "Benar. Dan Sampaikan pada yang lain aku baik-baik saja. Dan jangan datang seenaknya ke sini lagi."

Cassian tertawa kecil. "Baiklah. Tapi kau harus berkunjung ke markas. Kami ingin merayakan Duchess baru kami."

Liora tersenyum. "Jika ada waktu yang tepat."

Mereka berdua masih bercengkerama untuk banyak hal.

Namun mereka tidak tahu ....

Di balik pintu, Gideon berdiri diam.

Tatapannya tajam.

Dan pikirannya sudah bergerak lebih cepat dari siapa pun di ruangan itu.

1
Maya_she
👍😍
Ririn Nursisminingsih
thor kerenn kok a bayangin osman dan bala hatun waktu tanding pedang🤭🤭👍
Bude Ning
bagus .
sy paling suka cerita ttg kerajaan,
Ririn Nursisminingsih
knapa gak tidur satu kmar kan suami istr
Musa Johnathan
ceritanya bagus gaya penceritaan juga bagus
rose🦋
mampuss knnn, akhirnya Org yg slma ini klean perlakukan dngn tidak baik skrg mnjadi Dukes yg sangat cantik dan anggun dan pemberani 😍😍.
Mamah Enung
aganya dinkasihbobqt supaya gemuk sama orang jauat
Yunita Sophi
trio cadel bikin gemes klo bisa denger suara nya... suka banget klo anak kecil cadel 😂😂😂
Yunita Sophi
wah Alon calon jodoh nya Lala nih...🤭😂
Febrian Irna
mati saja kalian !
Yunita Sophi
paling juga menghilang lagi ngisengin para pengawal atau bikin iseng 😂😂😂
Yunita Sophi
si kembar lucu lagi bandel bandel nya, tp bikin repot dan ngegemesin..🤭😂😂😂😂
Musliha yunos
🥰
rose🦋
so sweet sekali uhhh😍😍
Hilmiya Kasinji
ijin baca kak
Archiemorarty: Happy reading kakak 🥰
total 1 replies
Black Moon
🤣🤣🤣🤣
Astaga, udah sibuk bikin banyak rencana. Udah coba realisasikan juga, masih Gatot 🤭
Yunita Sophi
wah udah yah besar yah... udah 3 thn
Yunita Sophi
Lala Epan dan Lowan nama yg kelen 👍
Yunita Sophi
ikutan nangis thor...
welcome to the word twins...
selamat untuk duke dan duches nya semoga semakin bahagia dan penuh cinta 😊 😍😍😍
Yunita Sophi
wanita itu luar biasa hebat... mereka tau melahirkan itu sakit... tp tetap mereka mau nambah satu,dua dan seterusnya entah sampai berapa...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!