Karya ini menceritakan tentang kehidupan seorang manusia yang sulit bahkan hampir tidak mau berbaur dengan sesama. Bahkan selama hidupnya, hanya ia habiskan untuk keluarganya saja. Kehidupan dengan tetangga dan sekitar tak ia pedulikan. Bahkan untuk menyapa pun sangat enggan dilakukan. Hingga akhirnya ia di temukan telah mati membusuk dirumahnya. Tak ada seorang pun yang mengetahui akhir hayatnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Endah puji astuti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 Gangguan Bu Nuri
Ternyata keluarga Bu Nuri masih berada di rumah. Kondisi anaknya yang menurutku tak wajar itu, membuat mereka urung menginap di hotel.
Kyai Soleh dan beberapa santrinya membantu mendoakan untuk kesembuhan Citra. Lantunan ayat suci Al Qu'ran terdengar mengalun merdu memenuhi seluruh ruang kamar.
Citra menangis histeris, setiap lantunan doa di ucapkan agak keras, maka Citra akan menjerit seakan sedang ketakutan. Entah apa yang ia takutkan, yang pasti Citra tak bisa di ajak komunikasi saat ini. Bu Hani, menangisi kondisi putrinya. Sedangkan Pak Toni, terlihat terpuruk dengan kondisi putrinya.
Saat semua terllihat panik, tiba-tiba Pakdhe Yoso datang dengan berlari tergopoh-gopoh memanggil Bapak. Kami yang juga mendengar kepanikan Pakdhe Yoso, langsung berlari keluar menghampiri laki-laki yang lebih tua dari Bapak tersebut.
"Ada apa, Kang?" Bapak menghampiri Pakdhe Yoso yang terlihat panik dan frustasi. Kami semua bingung di buatnya karena Pakdhe Yoso berbicara sambil sesenggukan.
"Kenapa Mbak Sumi, Kang?" Ibu berbicara setengah berteriak karena gemas mendengar ucapan Pakdhe Yoso yang memang kurang jelas.
"Tolong aku, Sumi... Sumi..." Pakdhe Yoso tampak begitu panik, membuat kami semua ikut panik juga. Keluarga Bu Nuri Bapak titipkan pada santri Kyai Soleh. Aku, Bapak, Mira, Ibu dan Kyai Soleh bergegas menuju rumah Pakdhe Yoso. Di sana, tampak Budhe Sumi dengan tatapan kosongnya mengamuk. Mengucapkan sumpah serapah untuk tetangganya itu. Yang membuat Pakdhe Yoso panik, Budhe Sumi tak merespon lagi ucapan suaminya. Bahkan beliau seperti tak menyadari keberadaan suaminya.
"Sum... Sum... Sadar, istighfar. Jangan seperti itu." Pakdhe Sumi berusaha menenangkan istrinya dengan memeluknya, namun tampaknya Budhe Sumi tak menghiraukannya
Memang sangat memprihatinkan. Budhe Sumi sudah tak terlihat seperti dirinya. Kyai Soleh berusaha membimbing doa untuk Budhe Sumi. Namun Budhe Sumi malah kembali menangis dan meraung-raung karena ketakutan.
"Berikan ini, Pak." Entah air apa yang di berikan oleh Kyai Soleh. Yang pasti, Budhe Sumi seketika tenang dan kembali diam setelah di minumkan air putih dalam gelas oleh Kyai Soleh.
Aku dan Ibu memilih menunggui Budhe Sumi di rumahnya, menemani Pakdhe Yoso yang tampak sangat khawatir dengan kondisi istrinya. Sedangkan Bapak dan Kyai Soleh, memilih untuk kembali ke rumah karena masih ada Citra yang belum juga bisa di sadarkan.
"Sebenarnya apa yang semalam terjadi, Pak kalau saya boleh tahu?" Kyai Soleh bertanya pada Pak Toni yang tampak murung.
Semalam semua masih baik-baik saja. Hanya saja, entah mengapa tiba-tiba anak saya mengenakan salah satu barang milik adik saya. Disitu tiba-tiba dia histeris, saat kami datangi, dia sudah duduk di sudut kamar sambil menutup wajahnya." cerita Pak Toni, ayah dari Citra.
"Lalu apa sebelumnya dia bercerita tentang apa yang dia lihat?" Pak Toni menggeleng. Mungkin karena masih anak-anak yang belum mengerti tentang hal seperti ini, anak Pak Toni memang termasuk lancang. Memakai barang-barang Bu Nuri tanpa se ijin yang punya. Meskipun Bu Nuri sudah tiada, setidaknya Citra tidak sembrono dengan asal memakai barang milik orang lain, meskipun itu milik tantenya sendiri.
Harta benda Bu Nuri memang tak boleh di sentuh oleh siapapun. Bahkan pada keponakannya sendiri pun, Bu Nuri tak rela.
"Coba kembalikan apa yang anak Bapak pinjam dari Bu Nuri, Pak." nasehat Kyai Soleh.
Pak Toni memandangi istrinya. Terlihat Bu Hani memeluk erat tubuh putrinya. Di raihnya tubuh anaknya, kemudian di rabanya leher putrinya. Sebuah kalung bermata cantik tergantung di leher Citra. Bu Nuri melepaskan kalung itu dari leher anaknya. Menyerahkan kepada suaminya. Pak Anton menatap kedua adiknya. Wajahnya berubah, tampak memendam amarah. Nafasnya naik turun, tapi sepertinya adiknya tak menyadari itu.
"Maksudmu apa ini, Ton?" Pak Anton mencekal leher Pak Toni, adiknya. Pak Toni yang tak siap, merasa panik karena melihat Pak Anton tiba-tiba marah.
"A-apa maksudnya, Bang?" Pak Toni ketakutan.
"Jadi karena ini si Nuri jadi ganggu kita? Kamu tahu, ini lancang namanya." Pak Anton terlihat murka.
"Bang, ma-maafkan Bang Toni. Bukan dia yang salah." Bu Hani berusaha memisahkan keduanya. Namun Pak Anton sepertinya tak mau tahu. Perseteruan keluarga itu baru berakhir saat Pak RT datang.
Dengan persetujuan semua keluarga, akhirnya kalung Bu Nuri di kembalikan ke rumahnya. Namun keadaan Citra tak membaik juga. Dia masih tampak bengong dengan pandangan mata kosong.
Bu Hani tak henti-hentinya meratapi kondisi anaknya. Merasa bersalah, namun rasanya percuma. Kondisi anaknya tak membaik juga. Bahkan Citra tampak menangis saat di dekati oleh siapa pun. Kadang-kadang Citra berteriak seperti melihat sesuatu. Tentu saja itu sangat menggangguku dan Mira.
Malam hari, sejak matahari surup, Citra kembali menangis. Bahkan dia juga berteriak meminta tolong. Membuat Pakdhe Narto ikut keluar. Padahal, biasanya Pakdhe Narto tak pernah keluar rumah setelah sore hari.
"Itu bagaimana, Dik? Mau sampai kapan mereka disini?" tanya Pakdhe Narto pada Bapak.
"Ndak tahu aku, Mas. Mau bagaimana lagi, mau nyuruh mereka tinggal di rumah Bu Nuri juga ndak mungkin toh?"
Pakdhe Narto tampak menghela nafas panjang. Mungkin beliau merasa prihatin kepadaku dan Mira. Aku menjadi cukup terganggu karena suara tangisan dan teriakan Citra setiap waktu.
"Dik, malam ini biar anak-anak tidur di rumahku saja. Buat teman Narti." pinta Pakdhe Narto. Tentu saja aku langsung mau, mengingat di rumah aku pasti tak bisa tidur lagi seperti semalam.
Di rumah Budhe Narti, aku memilih tidur bersama-sama. Aku takut kalau nanti malam Bu Nuri akan sambang ke rumah ini.
"Budhe, apa biasanya Bu Nuri datang kesini kalau malam?"aku berbisik pada Budhe saat kami sudah berada di kamar.
"Mbak, jangan di sebut. Nanti yang punya nama datang." potong Mira. Budhe Narti hanya tersenyum.
"Budhe." panggilku lagi.
"Iya, Nduk. Budhe juga takut sebenarnya. Tapi mau bagaimana lagi. Mau lari juga percuma." jawab Budhe Narti. Aku langsung terdiam, sedangkan Mira malah tertawa kegirangan seperti melihat hal lucu.
"Sudah, kalian tidurlah." perintah Budhe Narti.
Sayangnya, tiba-tiba saja aku merasa sakit perut. Ingin ku tahan hingga esok pagi. Namun rasanya tak mungkin. Perutku rasanya melilit dan sangat sakit.
"Budhe, temani Ayu ke kamar mandi." pintaku. Budhe kembali membuka mata.
"Ayo, cepetan. Mumpung Pakdhe mu belum tidur." ajak Budhe. Bergegas aku bangun dan berlari ke kamar mandi.
Pintu kamar mandi tak ku tutup rapat. Niatnya biar aku bisa langsung lari jika ada Bu Nuri tiba-tiba muncul di dalam kamar mandi.
"Budhe. Jangan tinggalin Ayu." aku memanggil Budhe karena ku dengar pintu dapur di tutup dengan kencang.
by the way ,cerita ini tamat kah krn kampung nya sudh jadi kampung mati.Mira dan Ayu pun sudah dewasa dan berkeluarga...😗
maghrib maghrib udh keluyuran 👻👻👻