Keira Hartono tidak pernah menyangka bahwa malam sebelum pernikahannya, dia akan memergoki tunangannya sendiri — Brandon Liem, pewaris Liem Group — sedang tidur dengan adik tirinya, Celine.
Tapi Keira bukan wanita yang bisa diinjak dua kali.
Alih-alih menangis dan memohon, dia mengambil ponselnya, merekam segalanya, dan memberikan ultimatum pada kedua keluarga:
*"Ganti pengantin prianya, atau ganti pengantin wanitanya."*
Pilihan jatuh pada Reynard Liem — kakak Brandon yang dikenal seluruh Jakarta sebagai pewaris yang "sudah gila" setelah kecelakaan mobil yang menewaskan kakeknya. Dia duduk di kursi roda, tidak bisa berbicara dengan benar, dan menghabiskan hari-harinya bermain Rubik sendirian di pavilion belakang rumah.
Semua orang menertawakan Keira. *"Menikahi orang gila demi balas dendam? Kasihan sekali."*
Tapi Keira tahu sesuatu yang tidak diketahui siapa pun.
Dia tahu bahwa tiga tahun dari sekarang, Reynard Liem akan bangkit kembali — lebih kuat, lebih kejam, dan lebih berkuasa dari sebelumnya. Yang perlu dia lakukan hanyalah menjaganya sampai saat itu tiba. Setelah itu, cerai, dan mereka berdua bebas.
Rencananya sempurna.
Sampai dia mulai jatuh cinta pada suaminya.
Sampai dia menyadari bahwa di balik tatapan polos dan kata-kata cadel itu, ada sepasang mata gelap yang mengawasinya — dengan obsesi yang tidak pernah dia sangka.
*"Kei mau pergi dariku? Tidak boleh."*
*"Selain di sisiku, kamu tidak boleh ke mana pun."*
Ternyata, Reynard Liem tidak pernah gila.
Dan dia tidak pernah berencana untuk melepaskannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lumisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29
Bab 29: Hari-Hari Manis
Setelah kembali dari Villa Taman Surga, hari-hari Keira bergerak lebih cepat.
Pavilion, kantor, lokasi syuting, lalu kembali lagi ke Pavilion. Jadwalnya padat, tetapi anehnya hidupnya tidak terasa kosong. Di setiap tempat, selalu ada Reynard yang duduk dengan kursi roda, Rubik di tangan, dan ekspresi seolah ia tidak mengganggu siapa pun.
Padahal ia mengganggu dengan cara yang sangat tenang.
Di Pavilion, ia mulai punya kebiasaan baru.
"Peluk."
Keira yang sedang membaca naskah menoleh. "Baru sepuluh menit lalu."
"Sudah lama."
"Sepuluh menit bukan lama."
"Bagi Rey lama."
Awalnya Keira menolak. Lalu ia belajar bahwa menolak membuat Reynard duduk diam dengan wajah seperti hujan turun di dalam rumah. Akhirnya ia memberi batas.
"Satu pelukan. Lima detik."
Reynard menghitung lima detik dengan sangat lambat.
Di kantor, kebiasaan itu menjadi bahan tontonan.
Naomi pernah masuk ruang kerja dan menemukan Keira berdiri di samping meja sambil membaca kontrak, sementara Reynard memeluk pinggangnya dengan wajah puas.
"Aku keluar dulu?" tanya Naomi, matanya berbinar.
"Masuk," kata Keira tegas.
"Tapi suasananya..."
"Nao."
Reynard tidak melepas.
Naomi menutup mulut, hampir tertawa. Dalam satu jam, seluruh lantai dua tahu bahwa Koh Rey minta peluk saat Keira membaca kontrak. Dalam dua hari, kru Hanya Kamu juga tahu.
Di lokasi syuting, Keira melarang Reynard meminta pelukan di tengah set.
Reynard mematuhi.
Secara teknis.
Ia tidak meminta di tengah set. Ia meminta di belakang monitor, di ruang reading, di lorong kosong, dan sekali di dekat mobil produksi saat semua orang pura-pura tidak melihat.
"Kalian terlalu memanjakannya," kata Rio suatu hari.
Keira menatapnya lelah. "Aku?"
"Semua orang."
Evan yang kebetulan lewat membawa minuman tertawa. "Sejak punya istri, Bro Rey bahkan tidak mau bicara denganku kalau tidak perlu. Dulu setidaknya dia masih memarahiku dengan hangat."
Reynard menatapnya.
Evan langsung memperbaiki, "Maksudku, dengan penuh wibawa."
Hari-hari itu juga memperlihatkan pola baru. Reynard selalu memakai warna gelap. Keira sering memakai putih, krem, atau biru muda. Naomi menyebut mereka pasangan hitam-putih. Keira bilang itu kebetulan. Tidak ada yang percaya.
Hanya Kamu terus berjalan.
Ada adegan yang harus diulang sampai malam. Ada talent yang sakit. Ada properti yang hilang. Ada sponsor kecil yang tiba-tiba meminta penempatan produk terlalu mencolok. Keira menghadapi semuanya satu per satu. Rio memastikan talent tidak kelelahan. Naomi mengunci diri untuk menyelesaikan revisi. Evan mengeluh setiap hari tetapi tetap menyelesaikan hal yang diminta.
Reynard duduk di sudut, melihat Keira membangun dunianya.
Kadang, jika ada orang mencoba masuk saat Keira jelas sedang fokus, Reynard hanya menatap. Tidak bicara. Tidak mengancam. Cukup menatap sampai orang itu mundur sendiri.
"Suamimu punya aura satpam mahal," bisik Naomi.
Keira hampir tertawa di depan monitor.
Syuting Hanya Kamu akhirnya selesai pada malam yang gerimis. Tidak ada pesta besar. Hanya tepuk tangan panjang, beberapa kru menangis, dan Keira yang untuk pertama kalinya duduk di kursi sutradara tanpa langsung memikirkan adegan berikutnya.
"Selesai," bisik Naomi.
Keira menatap monitor gelap. "Belum. Baru mulai."
Setelah post-production singkat yang terasa seperti perang kecil, datang kabar dari Rajawali TV.
Mereka membeli Hanya Kamu untuk slot musim liburan.
Keira membaca email itu tiga kali.
Email itu tidak panjang, tetapi setiap barisnya seperti mengetuk dada Keira.
Slot tayang dua kali seminggu.
Promosi lintas program pagi.
Pembayaran lisensi tahap pertama dalam tujuh hari kerja.
Nama BC Entertainment akan tercantum sebagai rumah produksi utama, bukan sekadar vendor kecil yang menumpang proyek orang lain.
Keira menggulir sampai lampiran kontrak, lalu berhenti pada angka penawaran. Tidak sebesar drama prime time milik perusahaan raksasa, tetapi cukup untuk membayar sebagian utang produksi, memberi bonus kecil untuk kru inti, dan yang paling penting, memberi BC bukti bahwa mereka bukan perusahaan kosong.
Tangannya bergetar.
Di kehidupan sebelumnya, namanya hanya muncul di dokumen perceraian dan komentar buruk. Sekarang, namanya ada di email resmi stasiun TV nasional.
"Kak?" Naomi mengguncang lengannya. "Apa katanya?"
Keira mendongak, matanya cerah. "Mereka ambil."
Naomi menjerit.
Rio menghela napas lega.
Evan menepuk meja. "Aku bilang juga apa? Investor instingku bagus."
"Investor temanmu yang merekomendasikan?" tanya Keira cepat.
Evan membeku.
Reynard duduk di sofa, Rubik di tangan, wajah sangat polos.
"Ada sedikit rekomendasi," kata Evan hati-hati.
Keira berlari ke arah Reynard sebelum sempat bertanya lebih jauh. Ia terlalu senang. Ia membungkuk dan memeluk Reynard erat.
"Rey, mereka ambil!"
Reynard membeku sebentar, lalu lengannya naik memeluk pinggang Keira.
"Kei hebat."
"Kita berhasil."
"Kei berhasil."
Keira melepaskan pelukan dengan mata berbinar, lalu menoleh pada Evan. "Aku benar-benar ingin bertemu temanmu itu suatu hari. Aku harus berterima kasih langsung."
Ruangan langsung berubah sedikit terlalu sunyi.
Naomi yang masih melompat kegirangan berhenti setengah langkah. Rio menatap dokumen di tangannya seolah angka-angka di sana tiba-tiba menarik. Evan tersenyum dengan wajah orang yang baru saja berjalan ke tepi jurang.
"Temanku pemalu," kata Evan.
"Investor pemalu?"
"Ada. Banyak. Mereka suka uang, bukan lampu kamera."
"Aku tidak perlu kamera. Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih."
"Nanti kusampaikan."
Keira menyipit. "Kamu selalu bilang nanti."
"Karena nanti adalah waktu yang fleksibel."
Reynard menunduk ke Rubik, tetapi telinganya mendengar setiap kata. Ada rasa senang yang diam-diam mekar saat Keira ingin bertemu dirinya yang lain. Namun rasa itu segera berubah menjadi waspada. Keira menyukai orang yang membantunya secara jujur. Tuan Xiu tidak jujur. Reynard juga tidak.
Jika suatu hari Keira tahu keduanya orang yang sama, apakah ia akan tersenyum seperti ini?
Atau ia akan melihat semua bantuan itu sebagai kebohongan?
Di sisi lain meja, Rio masih membaca syarat kontrak. "Kita harus siap promosi cepat. Rajawali minta materi trailer final paling lambat Jumat."
"Kita punya," jawab Keira.
"Mereka juga meminta dua wajah utama hadir di program pagi minggu depan."
Naomi langsung menunjuk dirinya sendiri. "Livia bisa. Male lead juga bisa. Kak Keira?"
"Aku tidak perlu tampil."
"Kakak perlu tampil," kata Rio tegas. "Publik harus tahu siapa di balik drama ini. Selama ini mereka mengenalmu dari skandal. Kita ganti asosiasi itu."
Keira hendak menolak, tetapi Reynard lebih dulu menatapnya.
"Kei tampil," katanya.
"Kamu bahkan tidak tahu programnya."
"Kei hebat. Orang harus lihat."
Naomi menutup mulut, jelas berusaha tidak bersuara terlalu manis.
Keira akhirnya mengalah. "Baik. Tapi hanya kalau fokusnya drama, bukan hidup pribadiku."
Evan mengangkat tangan. "Aku siapkan daftar pertanyaan yang boleh dan tidak boleh. Kalau host nakal, kita potong."
"Sejak kapan kamu bisa terdengar profesional?"
"Sejak uangku ada di sini."
Ruangan tertawa, dan untuk beberapa detik, ketegangan tentang investor misterius tertutup oleh rasa lega yang nyata.
Rubik di tangannya berhenti pada satu sisi yang hampir selesai.
Evan menatap Reynard.
Reynard menunduk, memutar Rubik seolah warna-warnanya jauh lebih penting daripada identitas investor misterius yang sedang dibicarakan.