Saat Azka berbalik untuk menuju kelasnya sendiri, langkahnya mendadak terhenti. Di ujung koridor yang ramai, seorang murid baru berdiri memegang peta denah sekolah. Rambutnya sebahu, matanya bulat jernih—persis seperti mata bocah yang dulu suka duduk di dahan kamboja.
Gadis itu menoleh. Pandangan mereka bertabrakan.
Waktu seolah berhenti. Suara bising siswa-siswi yang lalu-lalang mendadak senyap di telinga Azka.
"Azka...?" bisik gadis itu. Suaranya bergetar, memanggil nama yang selalu ia simpan rapi dalam doanya selama tiga tahun terakhir.
"Anggi?" suara Azka nyaris tak keluar.
Anggi tersenyum lebar, matanya berkaca-kaca. Ia melangkah maju dengan binar kebahagiaan yang tak mampu dibendung. Tiga tahun menunggu, pindah kembali ke kota ini, dan akhirnya takdir membawanya tepat ke hadapan laki-laki yang memegang janjinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tatapan Di Balik Kaca Kelas
Anggi seolah benar-benar tak mendengar suara panggilan itu. Tanpa jeda, ia langsung berdiri dari bangkunya dan memegang erat jemari Mely.
"Mel, ke perpustakaan yuk. Mau nyari buku referensi Fisika yang tadi," ucap Anggi cukup lantang, memotong udara canggung di antara mereka.
Mely yang sedikit terkejut hanya bisa mengangguk cepat. "Eh? Oh, iya! Ayo, Gi!"
Anggi melangkah pergi tanpa sekalipun menoleh ke belakang. Gerakannya begitu mantap, meninggalkan Azka yang menggantungkan suaranya di udara dengan tatapan nanar. Tangan Azka yang sempat terangkat sedikit perlahan terkulai kembali di atas meja.
Namun, belum sempat Azka menata kekecewaannya, sosok Sheila sudah berdiri di ambang pintu kelas X-1.
"Azka!" panggil Sheila ceria sambil melambaikan tangan dari pintu. Gadis itu tersenyum manis, menunggu kekasihnya keluar kelas seperti biasanya.
Saat Anggi dan Mely berjalan melewati pintu, Sheila sempat memberikan senyuman ramah dan sapaan singkat pada mereka. "Hai, Anggi! Hai, Mely!"
"Hai, Sheila," balas Anggi singkat namun sopan, mengulas senyum tipis sebelum terus berjalan menyusuri lorong menuju perpustakaan bersama Mely.
Azka menarik napas berat, mencoba menguasai emosinya. Ia menyampirkan tas di bahu, lalu berdiri dan berjalan mendekati Sheila yang menunggunya dengan binar mata bahagia.
"Ayo, Ka. Kamu kok melamun terus sih hari ini?" tanya Sheila lembut sambil menyandarkan tangannya di lengan Azka saat mereka mulai berjalan menyusuri koridor.
"Nggak apa-apa, She. Cuma agak capek aja," jawab Azka pelan.
Matanya sempat melirik jauh ke ujung lorong, memperhatikan punggung Anggi yang perlahan menghilang di belokan menuju perpustakaan. Ada rasa kehilangan yang makin nyata menggerogoti hatinya—menyadarkan Azka bahwa gadis yang dulu selalu berlari ke arahnya, kini telah benar-benar belajar untuk berjalan menjauh.
Langkah Anggi dan Mely menyusuri koridor lantai dua yang agak lengang. Untuk menuju perpustakaan sekolah yang berada di ujung bangunan, mereka harus melewati deretan kelas XII—termasuk kelas XII IPA 1, kelas sang Ketua OSIS, Zayan.
Saat melintas di depan jendela kelas tersebut, Anggi tak sengaja melirik ke dalam.
Di sana, Zayan sedang berdiri di dekat meja guru, tampak serius berdiskusi dengan wali kelasnya sambil memegang beberapa lembar dokumen. Penampilannya yang rapi dan aura kepemimpinannya terlihat makin menonjol di antara murid-murid lainnya.
Tiba-tiba, seolah memiliki insting, Zayan menoleh ke arah jendela tepat saat Anggi lewat.
Pandangan mereka beradu di balik kaca bening. Zayan yang tadinya menunjukkan raut wajah serius seketika mengendurkan garis wajahnya. Sebuah senyum tipis yang hangat terukir di bibir cowok itu, diiringi anggukan kepala pelan sebagai sapaan khusus untuk Anggi.
Anggi sedikit terkejut, namun ia membalas senyuman itu dengan tulus dan anggukan kecil sebelum kembali melanjutkan langkahnya.
"Tuh kan! Apa gue bilang!" bisik Mely heboh sambil menyenggol lengan Anggi girang. "Radar Kak Zayan tajam banget, Gi! Lagi fokus aja bisa tahu kalau lo mau lewat!"
Anggi tertawa kecil, menggelengkan kepala melihat kepanikan heboh sahabatnya. "Mungkn cuma kebetulan aja, Mel. Udah, yuk cepat ke perpus nanti keburu ramai."
Meski begitu, di dalam hatinya, Anggi merasa ada sedikit kehangatan yang menjalar. Senyuman sederhana dari Zayan barusan bagaikan hembusan angin segar yang pelan-pelan menyembuhkan sisa-sisa luka di hatinya. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Anggi merasa kehadirannya benar-benar dihargai tanpa harus bayang-bayangi masa lalu.