NovelToon NovelToon
Rahasia Rumah Warisan Kakek

Rahasia Rumah Warisan Kakek

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Misteri / Fantasi
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Anastasia

"Apa benar ini rumah yang dimaksud? "
wajah Raisa pucat pasif sambil membawa tasnya di pundaknya.
Raisa beberapa hari lalu mendapatkan warisan dari kakek pihak ayahnya sebuah rumah di pinggir kota, saat berada dirumah dekat hutan itu memang rumah mewah tapi suasananya aneh.
tapi Raisa tidak punya pilihan karena dia juga tidak punya tempat tinggal di kota, daripada dia menjadi tunawisma lebih baik tinggal di rumah hantu itu.
saat tinggal di dalam sana, kejadian aneh terjadi padanya.
dari mulai bayangan manusia hitam, setiap tengah malam.
saat tengah malam, Raisa dikejutkan dengan kenyataan ternyata dirinya hidup dengan makhluk halus dirumah ini dan pemimpin rumah itu adalah makhluk Banaspati bernama Arya.
Dan siapa Arya itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 15.Asal mula perjanjian antara mereka.

Angin malam berhembus pelan membelai dedaunan di sekitar mereka, seolah ikut terdiam menunggu jawaban. Raisa masih berdiri mematung di sana, air mata perlahan berhenti mengalir namun matanya masih memancarkan ribuan tanya yang tak terucapkan. Ia melangkah perlahan mendekat, berhenti tak jauh dari Arya yang kini duduk bersandar pada batang pohon beringin tua itu.

“Duduklah,” ucap Arya pelan, menepuk tanah rumput di sebelahnya. “Angin malam mulai dingin. Kau belum pulih benar.”

Raisa mengangguk pelan, lalu duduk dengan hati-hati. Jarak di antara mereka masih tersisa sedikit, cukup agar mereka bisa saling melihat dengan jelas namun tak membuat salah satu merasa tertekan.

“Jadi... Apa yang terjadi?” tanyanya pelan, suaranya bergetar namun terdengar lebih tenang dari sebelumnya. “Bukannya kamu adalah makhluk gaib yang kekal, kenapa bisa terluka seperti ini?”

Arya menatap ke arah kegelapan hutan yang dalam, seolah matanya mampu menembus waktu dan melihat kembali masa lalu yang telah terkubur ratusan tahun lamanya. Ia menghela napas panjang yang berat, napas yang membawa sisa panas api yang tak pernah benar-benar padam dalam dirinya.

“Dulu aku manusia seperti mu, Raisa,” jawabnya perlahan, suaranya lembut namun penuh beban. “Aku hanyalah seorang pemuda biasa. Bernama Arya Putra Wiratama. Hidup tenang, memiliki saudara perempuan, dan setia pada Kerajaan ku.Namun dunia ini seringkali tak adil. Pengkhianatan,fitnah membuat keluarga yang aku bangun dan nama besar runtuh dalam sekejab saja.Harta, nama besar, kehormatan, hingga nyawa seluruh keluargaku,terenggut secara tidak adil.”

Ia terdiam sejenak, menelan ludah seolah menelan rasa pahit yang tak pernah hilang.

“Di ambang maut, penuh amarah dan keputusasaan, aku pergi ke tempat yang dilarang semua orang—Hutan Terlarang. Di sana aku berjanji pada Penunggu Hutan,aku rela melepaskan sisa jiwaku, asalkan aku diberi kekuatan untuk menghancurkan siapa saja yang terlibat dalam pengkhianatan dan orang yang mefitnah ku.Penunggu itu menerima tawaranku. Dan saat aku kembali... aku bukan lagi manusia. Aku adalah Ba nas pati—Api Abadi yang tak kenal ampun.”

Bayangan masa lalu perlahan melayang di hadapan mata mereka seolah menjadi nyata. Sosok Arya melangkah masuk ke gerbang Kerajaan Kepatihan yang dulu megah namun kini sunyi menanti maut. Cahaya merah menyala mulai menjalar dari kulitnya, melahap apa saja yang tersentuhnya. Jerit ketakutan bergema ke mana-mana, pedang patah lebur, benteng runtuh menjadi abu. Seluruh kerajaan berubah menjadi lautan api dalam semalam. Dendamnya benar-benar terbalaskan, namun saat semua habis hangus... ia merasa lebih kosong daripada saat ia mati terbunuh.

Namun tepat saat api itu hendak melahap bangunan suci yang berdiri sendirian di puncak bukit—Kuil Penjaga Inti Sakti—nyala api itu seketika berhenti seketika, seolah menabrak tembok tak kasat mata yang tak bisa ditembusnya sedikit pun. Tak ada satu pun daun atau batu di sekitar kuil yang hangus.

“Mengapa?” geram Arya saat itu, suaranya menggelegar penuh amarah yang belum terpuaskan. “Mengapa tempat ini tak hancur bersama yang lain? Apa yang membuatnya begitu istimewa?”

Pintu kuil terbuka perlahan. Di sana berdiri seorang anak laki-laki berusia sekitar dua belas hingga empat belas tahun, mengenakan jubah putih sederhana yang tak ternoda sedikit pun oleh debu atau asap. Wajahnya tenang, matanya jernih seolah tak melihat raksasa api yang berdiri di hadapannya.

“Karena kuil ini bukan milik raja atau bangsawan,” ucap anak itu pelan namun tegas. “Ini tempat yang menjaga keseimbangan antara dunia manusia dan dunia gaib. Jika kau menghancurkannya, bukan hanya kerajaan ini yang musnah. Kegelapan yang selama ini dikunci akan lepas dan melahap semesta.”

Arya menatapnya tajam, penuh penghinaan. “Kau hanya anak kecil yang berusaha menyelamatkan diri dengan alasan manis. Apa yang kau tahu tentang rasa sakit dan dendam?”

Anak itu menggeleng pelan, lalu melangkah maju mendekat tanpa rasa takut. “Namun aku tahu apa yang sedang terjadi pada dirimu, Arya. Dendammu telah terbalaskan, tapi kau tak akan berhenti. Kau akan terus membakar apa saja yang ada di hadapanmu—kawan, lawan, pohon, batu, hingga tak tersisa apa-apa. Dan lama-kelamaan... kau akan lupa siapa dirimu yang sebenarnya.”

Ia mengangkat telapak tangannya, dan di sana muncul cahaya lembut yang menenangkan panas yang menyiksa tubuh Arya. “Lihatlah ini. Namaku Aji Margono. Aku adalah yang pertama dipilih untuk menjaga Inti Sakti.”

Arya tertegun sejenak, merasakan kebenaran yang menyelinap masuk ke dalam hatinya yang keras. “Aku tahu kau benar,”amarahnya perlahan meredup digantikan kesadaran pahit. “Setiap hari aku merasa ingatanku memudar. Perasaanku mati satu per satu. Aku tahu kelak aku tak akan lagi mengenal kasih sayang atau belas kasihan. Aku hanya akan menjadi api yang buta.”

“Maka dengarkan tawaranku,” ucap Aji tegas namun penuh kelembutan. “Aku tak bisa menghapus kutukan yang sudah kau ikrarkan sendiri. Tak ada yang bisa melakukannya. Namun Inti Sakti mampu menahannya. Ia bisa menjaga sisa kemanusiaanmu agar tak hilang sepenuhnya.”

“Dengan syarat apa?” tanya Arya curiga. “Tak ada pemberian cuma-cuma di dunia ini.”

“Benar sekali,” jawab Margono mantap. “Sebagai gantinya, kau harus bersumpah menjadi pelindung abadi bagi seluruh keturunanku. Keluargaku akan menjaga Inti Sakti turun-temurun. Setiap generasi akan dipilih satu orang yang menjadi Wadah Inti Sakti—tempat di mana kekuatan itu keluar dari dasar bumi, dan keturunan ku akan jadi perantara kekuatan inti sakti kepadamu.”

Arya menatapnya lama, mempertimbangkan segala risiko. “Jika aku setuju... apa yang akan terjadi jika salah satu dari kita melanggar janji?”

“Maka darah perjanjian itu akan berbalik menjadi kutukan yang menghancurkan kita berdua,” jawab Aji tegas. “Perjanjian ini abadi. Hanya bisa dibuat satu kali sepanjang masa.”

Tanpa ragu lagi, Aji melukai telapak tangannya dengan belati kecil dari batu permata. Darah merah segar menetes jatuh ke permukaan altar batu kuno. Arya pun mengulurkan tangannya, dan dari lukanya mengalir darah berwarna merah keemasan yang hangat. Saat kedua darah itu menyatu, seketika tulisan-tulisan kuno menyala terang melayang di udara, memancarkan cahaya emas dan merah yang membelah kegelapan malam.

Isi perjanjian itu terukir abadi:

- Ba nas pati Arya bersumpah melindungi setiap keturunan Margono dan menjaga keselamatan Inti Sakti.

- Keluarga Margono bersumpah menjaga pusaka itu dengan nyawa turun-temurun.

- Hanya keturunan Margono yang terpilih boleh menyentuh Inti Sakti.

- Sang Wadah akan menjadi penyalur energi penyeimbang bagi kutukan Arya.

- Jika perjanjian dilanggar, kutukan maut akan menimpa kedua belah pihak.

- Jika garis keturunan Margono berakhir tanpa penerus yang layak... maka perjanjian runtuh seketika. Arya menjadi api murni yang tak berakal, Inti Sakti kehilangan penyeimbang, dan segel makhluk jahat di seluruh dunia akan melemah satu per satu.

Kembali ke masa kini, di bawah pohon tua itu, keheningan menyelimuti mereka berdua. Raisa menatap tangan Arya yang masih terlihat samar retakan merah menyala.

“Jadi saat aku terancam di pasar kemarin...” bisiknya pelan, “kau tak punya pilihan lain selain mengeluarkan wujud aslimu?”

Arya mengangguk pelan. “Kau bukan sekadar pewaris harta, Raisa. Kau adalah penyeimbangku. Jika kau mati, perjanjian itu akan hilang. Aku terpaksa menggunakan kekuatan penuh meski tahu itu akan menguras cadangan energi yang selama ratusan tahun ditahan Inti Sakti. Itulah sebabnya tubuhku retak, itulah sebabnya darah itu keluar... karena sumber yang menahan apiku sedang terancam hilang.”

Raisa meraih tangan Arya perlahan, menyentuh kulit yang terasa hangat namun masih menyimpan sisa panas api yang dahsyat. “Kau sendirian menanggung semua ini selama berabad-abad?”

“Ya,” jawab Arya pelan, menatap mata gadis itu lekat-lekat. “Namun sejak kau melangkahkan kaki ke rumah ini... kesendirian itu mulai berkurang sedikit demi sedikit.”​

1
sakura
...
Fatim Zahra
semangat kak, ditunggu ya update nya
vania larasati
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!