bagaimana jika saat izana yang berjalan dengan santai tiba tiba di sergap? dia dipaksa untuk ikut dan setelah dia bangu, tiba tiba tubuhnya menjadi seorang wanita, tidak lama kemudian izana menemukan pemuda yang adalah anggota Toman, dia menguji coba serum yang dia temukan hingga membuat pemuda itu juga sama seperti nya.
"wanita cantik" takemichi
"apa kau lihat lihat!?" izana
"garang sekali" takemichi
"kau sekarang sama denganku" izana
"hah?" takemichi nge-lag
"waaaaaa kau jahat sekali izana!!" takemichi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sit nur Aisyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
let's fight
Aku tau ini gila, namun aku berharap ini semua segera berakhir.
.
.
.
.
Pagi yang cerah menyambut hari baru.
Izana, atau yang kini dikenal sebagai Zanami di sekolah, perlahan turun dari tempat tidurnya dan berjalan menuju kamar mandi.
"Hoaaam..."
Ia menguap panjang sambil mengucek matanya.
"Mau masak apa ya hari ini?"
ucapnya dengan suara serak khas orang yang belum sepenuhnya bangun.
Dengan mata setengah tertutup, ia berjalan menuju kamar mandi.
DUG!
"Aduh!"
Izana langsung meringis setelah menabrak dinding.
Ia menatap dinding itu beberapa detik.
"Ck."
"Siapa sih yang menaruh dinding di sini?"
"Sungguh merepotkan."
gumamnya kesal sebelum akhirnya masuk ke kamar mandi.
...⚪⚪⚪...
Beberapa saat kemudian...
Izana sudah berada di dapur.
Ia memanaskan kembali makanan yang tidak sempat mereka habiskan semalam.
Daripada terbuang percuma, lebih baik dihangatkan kembali.
"Michi!"
"Ayo cepat turun!"
"Makanannya sudah siap!"
"Kita harus berangkat setelah ini!"
teriak Izana dari dapur.
"Iyaaa!"
Tak lama kemudian terdengar suara langkah kaki berlari menuruni tangga.
Takemichi segera duduk di kursi makan.
"Selamat pagi."
"Selamat pagi."
Mereka mulai menikmati sarapan bersama.
Suasana terasa tenang.
Hanya suara sendok dan garpu yang saling beradu sesekali.
...⚪⚪⚪...
Di sekolah...
Suasana berjalan seperti biasa.
Kedua gadis itu memasuki area sekolah dengan langkah santai.
Seperti biasanya, mereka kembali menjadi pusat perhatian.
"Kedua gadis itu cantik sekali."
"Dan keren juga."
"Kyaaa!"
"Aku ingin berteman dengan mereka!"
"Aku ingin duduk dekat mereka setiap hari!"
Takemichi hanya tersenyum dan menyapa beberapa murid yang melambaikan tangan kepadanya.
Senyuman manisnya langsung membuat beberapa siswa hampir pingsan karena terlalu gemas.
Sementara Izana memilih mengabaikan semuanya.
BUGH!
BUGH!
BUGH!
Tiba-tiba terdengar suara keributan dari kejauhan.
Takemichi menoleh.
"Ada apa itu?"
Izana mengangkat sebelah alisnya.
"Ayo lihat."
"Siapa juga yang sudah berkelahi pagi-pagi begini."
Keduanya berjalan menuju sumber keributan.
Semakin dekat mereka mendekat, semakin jelas wajah orang-orang yang terlibat.
Dan mereka langsung mengenali salah satunya.
"Chifuyu?!"
Takemichi terkejut melihat wajah Chifuyu yang babak belur.
"Chifuyu, apa yang terjadi di sini?"
Chifuyu mengusap darah di sudut bibirnya.
"Takemichi."
"Aku melihat seseorang yang sangat mirip dengan orang yang ada di foto itu."
"Orang yang menculikmu waktu itu."
"Karena itulah aku mengejarnya dan akhirnya bertarung dengan mereka."
Mata Takemichi langsung membelalak.
"Apa?!"
Izana bahkan terlihat lebih marah.
"Sekarang mereka di mana?"
"Aku akan menangkap mereka!"
"Setelah semua yang mereka lakukan pada kita, aku tidak akan membiarkan mereka lolos!"
Izana mengepalkan tinjunya.
"Benar-benar sial aku tidak ada di sini tadi."
Chifuyu menghela napas.
"Aku sudah menghubungi yang lain."
"Mereka sedang menuju ke sini."
"Hakkai juga sedang mengejar orang itu."
"Sementara itu aku akan menjaga kalian."
Takemichi tersenyum kecil.
"Terima kasih, Chifuyu."
"Tapi sebelum itu, ayo obati lukamu dulu."
Ia membantu Chifuyu duduk di bangku taman sekolah.
...⚪⚪⚪...
Beberapa menit kemudian...
"Itai! Itai! Itai!"
"Sakit, Chi!"
Chifuyu meringis saat Takemichi menempelkan kapas berisi obat ke lukanya.
"Diam."
"Aku sedang membantu."
jawab Takemichi.
"Itai yo..."
"Pelan-pelan sedikit..."
Takemichi mendesah.
"Haih..."
"Baiklah."
Setelah mengobati beberapa luka, Takemichi mulai merapikan isi kotak P3K.
"Setelah ini kita harus menyusul Hakkai-kun."
"Aku khawatir."
"Yang dia hadapi bukan orang biasa."
Namun Chifuyu menunjuk ke arah gerbang sekolah.
"Kurasa tidak perlu."
"Lihat."
Takemichi dan Izana menoleh.
Di kejauhan, terlihat Hakkai berjalan sambil menyeret seseorang yang tidak sadarkan diri.
"Oh."
"Mereka sudah datang."
...⚪⚪⚪...
Beberapa saat kemudian...
BRAK!
Tubuh pria itu dilempar ke tanah.
"Hakkai-kun!"
Takemichi langsung menghampiri.
"Bagaimana?"
Hakkai mengusap tengkuknya.
"Coba lihat dulu."
"Apakah dia orang yang ada di foto itu?"
Izana membalik tubuh pria tersebut menggunakan ujung sepatunya.
Begitu melihat wajahnya—
Senyuman menyeramkan langsung muncul di wajah Izana.
"Benar."
"Itu dia."
"Dokter itu."
Takemichi langsung menatap Hakkai kagum.
"Kau hebat sekali."
"Bagaimana kau bisa menemukannya?"
"Dia sangat pandai bersembunyi."
"Dan kau menemukannya begitu mudah?"
"Bagaimana dengan pengawalnya?"
Hakkai mengangkat bahu.
"Entahlah."
"Aku hanya mengejarnya."
"Lalu menendangnya dari belakang."
"Dia jatuh dan pingsan."
"..."
Semua orang terdiam.
"Tunggu."
Takemichi langsung menyadari sesuatu.
"Segampang itu?"
"Mereka tidak menjaganya?"
"Ini aneh."
Mata birunya menyipit.
Perasaannya tiba-tiba menjadi tidak nyaman.
Kemudian...
"He..."
"Hehehe..."
Tawa kecil terdengar.
Semua orang langsung menoleh.
Pria yang terbaring itu perlahan duduk.
"Hehehehehe..."
Matanya menatap mereka satu per satu.
"Oh."
"Jadi ternyata kalian hasil percobaan yang gagal."
"Aku akan membunuh kalian dengan tanganku sendiri."
Takemichi langsung berdiri.
"Dasar ilmuwan gila!"
Namun tawa itu tidak berhenti.
Malah semakin banyak.
"Hahahaha!"
"Hahahaha!"
Suara tawa mulai terdengar dari berbagai arah.
Mata Izana dan Takemichi membelalak.
"Sial..."
gumam Chifuyu.
Orang-orang mulai bermunculan dari berbagai sudut sekolah.
Mereka mengepung keempatnya dari segala arah.
Depan.
Belakang.
Kiri.
Kanan.
Jumlah mereka sangat banyak.
"Dokter."
"Kami sudah menyiapkan semuanya."
salah satu pria itu berbicara.
Hakkai langsung memasang kuda-kuda.
"Mereka benar-benar nekat."
"Bahkan tidak takut kalau polisi datang."
Takemichi dan Izana berdiri saling membelakangi.
Bersiap menghadapi apa pun.
Abel tertawa keras.
"Kalian pikir aku takut pada pemerintah?"
"Hahaha!"
"Kalian terlalu naif."
"Orang-orang yang berada di belakangku jauh lebih berkuasa daripada yang kalian bayangkan."
Izana malah tersenyum miring.
"Oh?"
"Menarik."
"Jadi memang ada dalang yang lebih besar di balik semua ini."
BRUMM!
BRUMM!
BRUMM!
Tiba-tiba suara mesin motor menggema dari kejauhan.
Semua orang langsung menoleh.
BRUMM!
BRUMM!
BRUMM!
Puluhan.
Ratusan.
Hingga akhirnya ribuan motor memenuhi jalanan di sekitar sekolah.
"Eh?"
Semua orang terdiam.
Chifuyu langsung tersenyum lega.
"Ah."
"Kanto Manji sudah datang."
Namun ternyata bukan hanya mereka.
Banyak kelompok lain ikut berdatangan.
Semuanya hadir setelah mendengar Takemichi, Izana, Chifuyu, dan Hakkai berada dalam bahaya.
Bahkan Taiju pun ikut datang.
"Wah."
"Sepertinya akan seru."
gumam seseorang sambil menyentuh gagang katana yang tergantung di pinggangnya.
"Lebih dari seribu orang."
Izana tersenyum tipis.
"Mereka benar-benar serius."
Koko menyeringai.
"Haha."
"Akhirnya kita bisa menghajar para sampah ini."
Draken mengepalkan tinjunya.
"Ini akan menjadi pertarungan yang dikenang para berandalan."
"Kau benar."
Mitsuya tersenyum tipis.
South tertawa keras.
"Hahaha!"
"Ini akan menyenangkan!"
"Aku akan menghabisi para keroco itu!"
Di sisi lain, Kakucho hanya fokus pada satu hal.
"Akhirnya..."
"Aku bisa bertemu kedua gadisku lagi."
Hanma tertawa kecil.
"Aku juga penasaran melihat wajah Takemichi sekarang."
Taiju mendecak.
"Kalian benar-benar gila."
Namun tidak ada yang marah.
Mereka semua hanya tersenyum.
Karena orang yang berdiri paling depan belum mengatakan apa pun.
Mikey.
Ia berdiri di sana dengan tatapan dingin.
Matanya menatap seluruh orang yang mengepung Takemichi dan Izana.
Suasana langsung menjadi hening.
Kemudian Mikey melangkah maju.
"Baiklah."
Suara tenangnya membuat semua orang diam.
"Kalau begitu..."
"Ini akan menjadi pertarungan yang sengit."
Senyuman lebar muncul di wajah Sanzu.
Ia mengangkat tangannya tinggi-tinggi.
"SEMUANYA!!"
Suaranya menggema.
"SERANG!!!"
Dan dalam sekejap...
Medan pertempuran pun pecah.
.
.
.
.
.
.
...-TO BE CONTINUED-...
makasih ya kak udah up banyak
hore kakak up
makasih ya kak udah up
up nya jangan lama lama ya kak
semangat ya kak