Haikal, anak SMA yang tak sengaja mabuk dan tidur dengan Valeri. Sampai Valeri hamil. Dia ke rumah Haikal tapi Johnny, bapaknya tak mau masa depan anaknya itu hancur. jadi dia yang bertanggung jawab dan menikah dengan Valeri.
Bagaimana kisahnya nanti?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon karmela, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
part 15
“Emm bukan, bukan soal haikal. Tapi, saya mau bilang terima kasih soal cemilan dan ice creamnya.” Valeri ada di kamar. Dia sengaja menelpon Johnny.
“Oh, saya kira Haikal bikin masalah. Sudah dimakan? Suka?” Tanya Johnny di telepon.
“Ada beberapa cemilannya sudah. Tapi ice creamnya belum. Tapi baru minum susu hamilnya dan makan buah.”
“Oh ok. Ada lagi?”
“Emm, boleh ke kantor? Sibuk tidak? Saya mau kirim makan siang sebagai tanda terima kasih?”
“Emm, boleh. Saya meeting jam dua. Cukup kan dari rumah ke kantor? Pakai supir ya, hati-hati. Minta supir jangan ngebut, cari jalan yang aman. Tunggu, nanti saya saja yang bicara dengan pak supirnya. Saya telepon sendiri.”
“tuan, mau makan apa?” tanya Valeri lagi.
“apa ya, tidak tahu. Terserah, saya bisa makan masakan apa saja kok.” Ujar Johnny di sebrang sana lagi. Johnny ada di ruangannya. Tadi dia pusing dengan banyaknya kerjaan, tapi setelah Valeri menelpon dan berbicara dengan Valeri, dia jadi sedikit ringan pikirannya.
“Ahh iya. Terima kasih tuan.”
“Ok. Saya matikan ya?” tanya Johnny dari sebrang sana. Sudah ada sekertarisnya Johnny yang datang dan mengingatkan ada meeting.
“Iya tuan. Selamat siang. Jangan kecapean kerjanya.”
Valeri malu. Dia langsung mematikan sambungan teleponnya. Valeri turun kebawah dan dia langsung memasak. Dibantu bibi. Sebenarnya Johnny ada meeting siang ini, tepat di jam makan siang, tapi karena Valeri menelpon dan mau datang dia mengatakan kepada sekertarisnya untuk mengundur jam meeting sampai jam dua. Johnny bos, jadi tak masalah.
-
Valeri senang sekali bisa memasak untuk Johnny. Sejak tadi bibi melihat Valeri senyum sambil memasak. Bibi menyenggol Valeri.
“ini pasti masakannya enak sekali. Dibikinnya pakai hati, sampai senyum-senyum sendiri sejak tadi. Pakai cinta banyak-banyak.” Kata bibi menggoda Valeri.
“apaan sih bi. Ini kan dibikinnya pakai bahan makanan yang biasa. Kayak bibi biasa makan juga.” Valeri tersipu malu.
Haikal masih ada di sana. Di depan televisi. Biasanya rumah sepi. Bibi masak juga tak seramai itu. Haikal melihat di dapur sangat berbeda. Bibi bisa tertawa dan tersenyum. Haikal benar-benar merasakan perbedaan di rumah ini. Juga papanya. Haikal kesal melihatnya. Dia memilih pergi ke atas.
Masakannya sudah siap. Tinggal menatap makanya. Valeri melihat jam di rumah itu. Masih jam 11.40 siang.
“sana dandan dulu non. Biar wangi, cantik. Gak bau dapur.” Kata bibi membantu Valeri mengambilkan makanannya.
“Emang bau dapur banget ya Bi? Bau bawang ya?” Valeri mencium dirinya sendiri. Menciumi bajunya.
“Dikit sih non. Kan biar bau wangi aja. Ini sudah selesai kan? Tinggal dibereskan. Biar bibi yang bereskan nanti sekalian bibi minta supir panasin mobilnya non.”
“iya Bi. Makasih ya Bi.”
Haikal melihat dari atas. Dia diam-diam memperhatikan Valeri. Dia terlihat sangat menyayanginya dan perduli sekali dengan papanya. Ketika haikal tahu kalau Valeri mau naik ke atas, dia langsung masuk ke kamarnya. Dia menutup pintu kamarnya dengan segera.
Haikal melihat foto sang mama, dia dan juga papanya. “apa papa benar-benar sudah waktunya harus punya istri baru dan bahagia ma? Lalu aku bagaimana ma? Mama bagaimana dihati papa?” tanya Haikal menatap foto mamanya. Dia tidur dan memandang ke langit-langit kamarnya.
Valeri ke kamar. Dia mandi dan ganti baju. Banyak memakai parfum dan bergegas ke bawah lagi. Tak lupa membawa tas dan ponselnya. Valeri bergegas ke bawah, ke dapur. Dia melihat semuanya sudah dirapikan oleh bibi. Valeri mencari-cari bibi. Dia mau mengatakan satu hal lagi.
“Bi, aku cariin.” Bibi sedang di kamar mandi. Sedang mencuci baju.
“Iya non. Ada apa?” tanya bibi berbalik menatap valeri.
“emm, nanti kalau Haikal mau makan, kan masih ada ya. Kalau mau itu, tunjukin itu ya Bi. Nanti kalau mau keluar, jangan boleh ya Bi. Bilang uang jajannya nanti bakalan dipotong.” Ujar Valeri kepada bibi.
“Siap mamanya den haikal, perhatian banget sih sama anak sulungnya.”
“Bibi.” Valeri malu digoda bibi.
“Semoga nanti, secepatnya den haikal bisa dekat dengan nona ya. Bisa menerima nona menjadi mamanya. Bukannya saya harusnya memanggil anda nyonya ya? Kan nona nyonya di rumah ini, nyonya Johnny.”
Pipi Valeri memerah. Dia segera mengambil bekal untuk Johnny. Bibi mengantar sampai keluar. Sampai membukakan pintu untuk Valeri. Valeri melambaikan tangan kepada bibi.
“Aku berangkat ya Bi.” Kata Valeri kepada bibi.
“iya nyonya. Pak, hati-hati, lagi hamil muda nyonya Johnny kita ini.” Kata bibi ke depan, ke supirnya.
“bibi.” Valeri malu lagi.
Mobilnya berjalan meninggalkan rumah Johnny yang besar. Valeri memberitahu Johnny, dia mengirim pesan kepada Johnny kalau dia sudah di mobil dan jalan menuju kantornya.
Johnny masih ada di ruang meeting. Biasanya Johnny tak suka diganggu saat meeting. Dia juga lebih suka mematikan ponselnya. Tapi kali ini Johnny sengaja menyalakan ponselnya. Hanya mengganti mode ponselnya dengan getar saja. Ponsel Johnny ada di atas meja. Ponselnya bergetar. Johnny melihat ponselnya dengan semangat. Benar saja yang dinanti akhirnya memberi kabar.
Iya. Hati-hati.
Johnny membalas pesan Valeri dengan senyum. Sampai meetingnya selesai. Johnny sengaja ke bawah untuk menunggu Valeri datang. Tapi mobilnya belum juga datang.
“pak.”
Beberapa karyawan menyapa Johnny. Johnnya hanya tersenyum sedikit. Harusnya mobil yang Valeri tumpangi sudah sampai di kantornya, tapi kenapa belum? Apa kena macet.
“itu dia.”
Johnny khawatir, tapi akhirnya mobil dia datang. Johnny masuk lagi bukannya menunggu mobilnya berhenti di depan kantornya.
“gak. Jangan sampai ketahuan aku nunggu dia. Malu lah.” Kata dia, dia masuk dan seakan sedang melihat berkas di salah satu meja.
“Pak, kata tuan johnny, bapak suruh nunggu atau gimana?” tanya Valeri kepada supirnya.
“ditunggu saja kata tuan, nyonya. Saya di parkiran kantornya nyonya, nanti kalau sudah selesai telepon saya saja.” Ujar supir johnny. Valeri mengangguk. Dia turun dari mobil.
Valeri masuk ke kantor johnny. Beberapa kali dia berpapasan dengan karyawan di sana, mereka juga memberikan salam kepada Valeri.
“selamat siang nyonya.” Kata mereka.
“Siang.” Valeri sedikit canggung. Dia merasa belum terbiasa saja.
“maaf, ruangan tuan johnny, dimana ya?” tanya Valeri kepada salah satu karyawan.
“Itu tuan johnny-nya nyonya.” Kata salah stau karyawan. Johnny pura-pura menoleh ke belakang.
“hai, sudah sampai. Sayang?” johnny awalnya canggung. Tapi dia ingat kalau dia kan di depan banyak orang. Harus kelihatan manis.
“Hai, sayang.” Valeri juga canggung menjawabnya.
Johnny menggandeng tangan Valeri untuk baik lift bersama dia. Ada beberapa karyawan yang juga mau naik. Mereka memberikan ruang untuk keduanya. Bahkan mereka memilih turun.
“gak apa-apa. Naik saja, tapi hati-hati. Janga. Mengikut atau perut istri saya. Dia sedang hamil.” Kata johnny memeluk Valeri untuk melindunginya.
Valeri malu tapi juga suka diperlakukan seperti itu. Dia diam menunduk malu saja.