Dua minggu sebelum pernikahan, dunia Larasati runtuh saat memergoki Arjuna, tunangan sekaligus pacar pertamanya yang ternyata sudah menghamili wanita lain.
Tanpa air mata, Larasati melempar cincin dan membatalkan pernikahan demi harga diri. Namun, pengkhianatan itu justru membawa Larasati ke pelukan Dewa Dirgantara, CEO konglomerat tempatnya bekerja yang siap pasang badan melindunginya.
Sementara itu, Arjuna menyesal bersama selingkuhannya yang tinggal di sebuah rumah kecil.
Sanggupkah Larasati menyembuhkan lukanya demi cinta Dewa? Dan bagaimanakah akhir dari penyesalan sang mantan tunangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Umma Khummaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Gedung ruang rapat utama berubah menjadi begitu sunyi setelah Arjuna melangkah pergi membawa berkasnya. Di dalam ruangan, hanya tersisa Larasati dan Dewa Dirgantara yang masih berdiri berdekatan di sudut meja.
Keheningan di antara mereka terasa begitu jelas, dipenuhi oleh sisa rasa haru yang terjadi pada pagi ini.
Larasati menarik napas panjang, mencoba mengendurkan pundaknya yang sempat tegang sepanjang proses penilaian tadi. Wajah cantiknya kini jauh lebih rileks, memancarkan keikhlasan yang tulus setelah berhasil melepaskan seluruh masa lalunya.
"Terima kasih banyak, Pak Dewa. Jika tadi Anda tidak ikut hadir dan menenangkan situasi, saya mungkin tidak akan bisa bersikap seobjektif ini di depan Arjuna." ucap Larasati dengan nada suara yang sangat lembut, menatap lurus ke dalam manik mata elang milik bos besarnya.
Dewa Dirgantara melangkah maju satu langkah, memperkecil jarak di antara mereka hingga aroma parfum kayu cendananya yang mewah kembali mengusik indra penciuman Larasati. Pria itu melipat kedua tangannya di dada, menatap lekat wajah Larasati dengan penuh kekaguman.
"Kamu tidak perlu berterima kasih, Larasati. Ketegasan dan kebijaksanaanmu hari ini adalah murni dari kualitas dirimu sendiri sebagai seorang Creative Director yang hebat." balas Dewa dengan suara yang sangat tenang dan menenangkan, seulas senyum tipis terukir di bibirnya.
"Saya justru merasa sangat terhormat bisa berdiri di samping wanita yang tidak hanya cerdas dalam berbisnis, tetapi juga memiliki kebesaran hati seluas samudra untuk memaafkan orang yang telah menyakitinya. Kamu benar-benar membuat saya semakin kagum."
Wajah cantik Larasati mendadak merona mendengar pujian yang begitu jujur dari atasan tertingginya, tepat di dalam ruang rapat yang sepi ini.
Debaran halus di dadanya bergemuruh hebat, membuat seluruh pertahanan kemandiriannya runtuh seketika di hadapan aura Dewa yang begitu mengayomi.
Pintu ruang rapat mendadak terbuka perlahan, memutus ketegangan romantis di antara keduanya. Sosok wanita muda berpenampilan necis dengan pembawaan yang sangat humble dan ramah melangkah masuk terlebih dahulu. Ternyata itu Cindy, senior copywriter di divisi kreatif. Di belakang Cindy, mengekor dua staf pria lainnya. Bagas, art director, kedua tangannya memegang berkas desain, dan Rian, digital strategis, dia membawakan laptop kerja.
"Permisi, Pak Dewa, Mbak Laras. Maaf kami menginterupsi waktu diskusi internalnya. Kami dari tim kreatif dan desainer grafis sudah merapikan draf konsep penyiaran untuk langkah teknis selanjutnya." ucap Cindy dengan nada suara yang sangat sopan, ramah.
Bagas ikut melangkah maju menyodorkan berkasnya secara profesional. "Benar, Mbak Laras. Konsep visual dari tim desainer sudah siap disatukan dengan revisi draf dari perusahaan mitra yang baru saja disetujui tadi."
Rian juga membuka laptopnya untuk menunjukkan data terbaru. "Saya juga sudah menyiapkan proyeksi lini masa penayangan digitalnya, Pak Dewa, agar bisa langsung ditinjau oleh pihak direksi utama siang ini."
Dewa kembali menguasai wibawanya yang sedingin es, berdehem pelan untuk menutupi rasa canggungnya akibat kehadiran para staf tersebut.
"Baik. Terima kasih atas kerja cepat tim kreatif. Larasati, silakan kembali ke divisimu dan pimpin timmu untuk mengeksekusi langkah teknis selanjutnya bersama perusahaan mitra."
"Baik, Pak Dewa. Kami permisi kembali ke ruangan kerja untuk segera menyelesaikan semua." jawab Larasati dengan anggukan hormat yang anggun, lalu melangkah keluar dari ruang rapat diikuti oleh Cindy, Bagas, dan Rian yang berjalan di belakangnya secara teratur.
Begitu mereka berempat berjalan menyusuri koridor lantai atas menuju ruang divisi kreatif yang luas, suasana kantor terasa begitu hidup dan ramai. Beberapa staf dari divisi lain tampak sibuk lalu lalang membawa dokumen. Sementara suara ketikan dan diskusi kecil terdengar saling bersahutan di area kubikel kerja.
Cindy berjalan di samping Larasati dengan sikapnya yang selalu hangat dan berwibawa sebagai senior.
"Mbak Laras, kami semua di divisi kreatif sangat kagum dengan profesionalisme Mbak hari ini. Di tengah situasi yang sempat tegang tadi, Mbak tetap bisa menilai draf mitra secara objektif. Pak Dewa juga terlihat sangat mendukung penuh keputusan Mbak."
Bagas juga menyahut dari belakang dengan senyuman ramah. "Betul, Mbak Laras. Arahan dari Mbak tadi membuat kami di tim desain jadi punya visi yang jelas untuk visual iklan besok."
Larasati menoleh ke arah timnya, tersenyum tulus dengan perasaan yang teramat lega dan bersyukur. "Terima kasih banyak atas kerja keras kalian semua. Proyek holding media ini adalah tanggung jawab besar kita, dan saya tidak akan bisa berdiri sekuat ini tanpa dukungan penuh dari tim kreatif yang luar biasa seperti kalian."
Di tengah suasana kerja yang profesional, ramai, dan dipenuhi oleh orang-orang yang berkompeten. Larasati menyadari, bahwa dunianya setelah badai telah beralih sepenuhnya menjadi panggung keberhasilan baru yang siap menyongsong masa depan yang jauh lebih bersinar.
tadi diawal ngomongnya manis bet ke Selly.
sekarang ditinggal Laras ngomongnya manis ke laras. hadeuh🤭🤭
bagus lah kalian pasang yg cocok sama" bobrok