Ellena adalah sosok gadis yang mandiri, kuat, keras kelapa, sedikit kasar, namun hatinya baik dan murah hati. Ellena sangat sering membantu teman-teman di daerahnya yang kurang mampu.
Ia dibesarkan dari sepasang suami istri yaitu Papa dan Mamanya, yang memulai hidup berumah tangga dari O saat mereka menikah, sampai mereka membuka bisnis dan hidup berkecukupan.
Masa pertumbuhan Ellena, ia mendapat didikkan yang sangat keras oleh Papanya. Karenaa banyaknya pengalaman saat merantau semasa muda, menjadikan Papa Ellena sangat keras dalam mendidik anak-anaknya. Begitu juga dengan Ibunya yang menjadi guru SD dan SMP didaerahnya. Ia adalah wanita mandiri.
Papa Ellena sering melayangkan tangan, kaki, barang atau pun dengan ucapan yang keras dan kasar kepada Ellena dan Mamanya.
Ellena memilih satu Adik laki-laki yang sangat di sayangi oleh Papanya. Dibanding terbalik dengan Ellena.
Karena semua itu, bertahun-tahun lamanya, Ellena memendam kebencian terhadap Papanya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hellena24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Maunya Apa Sih Pak?
"Yang terakhir kamu bilang sama yang bertugas di situ, kalau ini buku dan modul mata kuliah saya! Nona sebutkan nama saya!"
"Siap Pak" jawab Ellena singkat dan tegas.
"Nona siap-siap aja! Emang tahu siapa nama saya?"
"Ya tahulah Pak?!" jawab Ellena terlihat santai, padahal jantungnya tiba-tiba berdetak dengan kencang. Ellena takut salah menyebutkan nama lengkap Pak Andre.
“Siapa nama lengkap saya?” tanya dosen killer.
"Bapak Andre Setia Wijaya, S.E, M.M, M.Ak dan sekarang Bapak sedang melanjutkan studi yang nantinya nama Bapak akan menjadi Dr. Andre Setia Wijaya kan?" sangat bersyukurnya tadi sebelum jam kuliah di mulai Ellena dan teman-temannya sudah bergosip perihal dosen killer ini.
Informasi yang mereka dapat dari kakak tingkat, bahwa Pak Andre sangat tidak suka jika mahasiswanya tidak tahu nama lengkap ia sampai ke titel-titelnya. Jadi kebetulan sekali tadi Ellena dan teman-temannya menghafalkan nama Pak Andre itu.
“Apa kepanjangan dari gelar-gelar pada nama saya itu?” tanya Pak Andre lagi kepada Ellena.
“Bapak Andre Setia Wijaya, Sarjana Ekonomi, Magister Manajemen, Magister Akuntan. Benar tidak Pak?” jawab Ellena diakhiri dengan pertanyaan kembali kepada Pak Andre.
“Ya mana saya tahu” Pak Andre sambil tersenyum.
Ellena langsung melihat ke arah Natali. Dan Natali memberi tanda yang baik dengan tangannya, ia memberi satu jempol kepada Ellena.
Akhirnya Ellena bisa bernafas kembali. ‘Wih gila yaaa... Sepertinya Maha Pencipta emang betul-betul sayang sama aku!' kata Ellena dalam hati.
Bersyukurnya Ellena masih ingat dengan jelas nama lengkap Pak Andre. Di kertas binder Ellena bagian paling belakang, sudah tertulis paling tidak ada belasan nama Pak Andre dengan gelar lengkapnya itu. Karena begitulah cara Ellena mengingat sesuatu. Ia harus menulisnya terlebih dahulu maka akan mudah di serap oleh otaknya.
"Iya betul!" Pak Andre terlihat puas dengan jawaban Ellena. "Kamu kepoin saya ya Nona, makanya tahu?"
"Hehe iya Pak, dikit aja Pak. Bagaimana jugakan untuk keberlangsungan hidup saya kedepannya itu Pak, hehehe..." jawab Ellena balik memberi candaan kepada Pak Andre. Teman-teman tertawa lagi.
"Emang paling bisa kamu ini, sana pergi!" kata Pak Andre kembali tegas.
"Siap Pak" Ellena pun tersenyum, lalu pergi keluar kelas. Saat ia ingin menutup pintu dari luar, Ellena kembali di panggil.
"Eh Non!"
"Iya Pak?" tanya Ellena dengan membesarkan bola matanya.
"Kamu ini main pergi-pergi aja"
"Lah emang ada apa lagi Pak?" tanya Ellena bingung.
"Kamu hitung dululah ini, berapa kepala manusia yang ada di dalam ruangan ini" kata Pak Andre.
"Kalau yang saya tahu sih cuma Nona dan satu cewek ini saja. Yang lain saya tidak bisa melihat adanya kehidupan diruangan ini" kata Pak Andre lagi menyinggung.
"Oh iya Pak, nantikan saya balik lagi Pak!" jawab Ellena polos.
"Ya ampun Non! Kamu hitunglah dulu. Kalau kamu tidak hitung sekarang, bagimana kamu mau bilang sama petugasnya nanti modul di fotocopy berapa rangkap"
"Oh iya ya... Benar juga kata Bapak hehe… Terima kasih Bapak" kata Ellena tersenyum membungkukkan sedikit bagian punggungnya, sambil masuk lagi ke dalam ruangan kelas.
"Parah Non… Non… Kamu ini!"
Ellena hanya mengangguk sambil tersenyum dan selanjutnya menghitung semua teman-teman yang ada di dalam ruang kelas itu.
"Ada tiga puluh enam orang Pak yang ada di sini"
"Ya terserah kamu saja mau berapa, orang kamu yang urus. Saya tidak perduli mau berapa orang. Cuma kalau yang tidak punya modul saya, saya tidak mau dia ada ikut mata kuliah saya" kata Pak Andre dengan muka datar.
'Benar-benar menguji kesabaran Bapak ini ya' kata Ellena dalam hati.
“Yang tidak hadir mau di fotocopy juga tidak Pak?” tanya Ellena.
“Ya kenapa kamu fotocopyin biarkan saja yang model seperti itu jangan di urus!”
“Baik Pak” jawab Ellena mengangguk.
“Sudah yang ada saja, yang tidak ada biar mereka urus diri mereka sendiri” kata Pak Andre perlahan.
‘Mungkin ia merasa tadi terlalu kasar sama ku ya, makanya sedikit di perlembut. Mungkin ya, mungkin!’ pikir Ellena.
"Iya Pak. Oke siap!" jawab Ellena sambil mengacukan jempol kanannya.
"Sudah ya Pak?"
"Iya kalau sudah ya sudah, pergi!" kata dosen si paling killer.
*"Siap Pak" Ellena kembali menggenggam gagang pintu. Lalu turun menggunakan lift* dari lantai dua ke lantai satu gedung kelasnya, untuk menuju ruang fotocopy di gedung sebelah yang di maksud oleh Pak Andre tadi.
Setelah menutup pintu dari luar, Ellena menarik nafas panjang sambil mengelus dadanya.
next next