NovelToon NovelToon
Menantu Yang Tak Pernah Dianggap

Menantu Yang Tak Pernah Dianggap

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Mengubah Takdir / Balas Dendam
Popularitas:554
Nilai: 5
Nama Author: Tina Mehna 2

Kupikir menikah dengan pria yang kucintai adalah awal dari kehidupan yang bahagia. Namun, aku tidak pernah menyangka bahwa musuh terbesarku justru tinggal serumah denganku.
Mertuaku menganggapku hanya menumpang hidup. Aku dipaksa mengerjakan seluruh pekerjaan rumah, difitnah di depan tetangga, diperas secara materi, bahkan harga diriku diinjak setiap hari. Sementara suamiku... selalu memilih mengalah demi ibunya.
"Fitri, mengalah dulu ya. Mama cuma ingin yang terbaik."
Kalimat itu terus kudengar selama tiga tahun pernikahan kami.
Hingga suatu hari, aku sadar. Seorang istri tidak seharusnya berjuang sendirian mempertahankan rumah tangga.
Saat kesabaranku habis dan perceraian menjadi satu-satunya jalan, penyesalan justru datang kepada mereka yang selama ini menghancurkan hidupku.
Sayangnya, beberapa penyesalan memang selalu datang ketika semuanya sudah terlambat.


ikuti untuk bab selanjutnya..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Mehna 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20. Kebohongan Dinda

Sejak menemukan struk pembelian ponsel itu, pikiranku terus dipenuhi rasa penasaran. Aku memang tidak berhak mencampuri kehidupan Dinda.

Namun...

Aku juga tidak ingin Mas Viyan terus bekerja keras jika uang yang diberikan ternyata dipakai untuk hal lain. Apalagi kalau harusnya gaji mas Viyan untuk menafkahi ku serta untuk masa depan kami. Namun aku memutuskan untuk diam dulu. Tanpa bukti yang kuat, semua perkataanku hanya akan dianggap sebagai fitnah.

---

Keesokan harinya. Pukul 5.30 pagi aku sedang menyapu halaman ketika Dinda keluar rumah. Ia mengenakan pakaian yang jauh lebih rapi daripada biasanya. Wajahnya dipoles dengan riasan tipis. Di tangannya tergenggam sebuah ponsel baru berwarna putih mengilap. Aku langsung mengenali ponsel itu. Pasti itulah yang dibeli menggunakan uang empat jutaan kemarin.

"Pagi sekali.. Mau berangkat kuliah, Din?"

"Iya."

Aku mengangguk. "Semangat ya."

Dinda hanya mendengus pelan lalu berjalan pergi. Dari kejauhan, sebuah mobil berwarna hitam berhenti di depan gang. Seorang laki-laki turun sebentar membukakan pintu mobil untuk Dinda.

Aku sempat mengernyit. Bukankah biasanya Dinda berangkat naik motor teman nya? Namun aku kembali memilih tidak ikut campur.

---

Sore harinya, setelah pulang kerja, Bu Mirna menghampiriku di dapur.

"Fitri." Panggilnya.

"Iya, Ma."

"Dinda bilang ada tambahan uang kuliah, kamu tambahin ya.. kasian Dinda. Bantu Viyan sekali-kali" Ucapnya enteng.

Aku menoleh.

"Lho, bukannya kemarin sudah?" Ucapku.

"Belum lah.. Kata Dinda masih kurang."

"Kurang berapa, Ma?" Tanyaku memastikan.

"Sekitar dua juta." Jawab mertuaku.

Ini benar-benar sangat janggal. Selain mahasiswa fakultas kedokteran, Yang aku tau biaya kuliah hanya 1x per semester itu pun sudah valid, artinya jika nominal sudah muncul di tagihan itu lah biaya nya sepajang 1 semester kedepan tidak ada biaya tambahan apapun kecuali buku namun itu muncul juga setelah perkuliahan di mulai kembali. Namun itu hanya ketahuan ku aja. Aku mengusap tangan yang masih basah karena mencuci piring.

"Maaf, Ma. Fitri benar-benar enggak bisa kalau tanpa bukti pembayaran." Ucapku merasakan kejanggalan.

Wajah Bu Mirna langsung berubah hingga berkata: "Kamu enggak percaya sama keluarga sendiri?"

"Bukan begitu, Ma. Fitri cuma ingin uangnya benar-benar dipakai untuk kuliah." Jawabku menjelaskan.

"Halah! Perhitungan sekali." Bentak mertuaku.

Aku tetap tersenyum.

"Maaf ya, Ma. Kalau memang untuk kuliah, besok aku izin setengah hari. Kita berangkat sama-sama ke kampus." Ucap ku bersabar.

Bu Mirna langsung terdiam. Beberapa detik kemudian beliau berbalik pergi tanpa menjawab. Sikap itu justru semakin membuatku curiga.

---

Malam harinya. Aku sedang melipat pakaian ketika Mas Viyan masuk.

"Sayang." Panggilnya.

"Iya, Mas."

"Mama cerita."

"Apa?"

"Mama bilang kamu enggak mau bantu Dinda."

Aku menarik napas pelan.

"Mas..."

"Aku bukan enggak mau. Aku cuma minta bukti tagihan aja kok. Kalau ada pasti langsung ku kasih" Ucapku santai.

Mas Viyan mengangguk. "Mas juga bilang begitu."

Aku sedikit terkejut. "Mas bilang apa?"

"Mas bilang, kalau memang untuk kuliah ya enggak masalah dibayar langsung ke kampus." Jawab suamiku.

Aku tersenyum lega. "Terima kasih, Mas."

"Tapi...Dinda marah." Ucap Mas Viyan.

Aku menatapnya. "Aku enggak masalah. Yang penting uangnya jelas."

Mas Viyan mengusap rambutku pelan.

"Mas senang kamu hati-hati."

---

Dua hari kemudian. Pagi-pagi sekali terdengar suara ribut dari ruang tamu.

"Ma!" Panggilku.

"Ada apa?" Jawab mertua nada datar.

Aku dan Mas Viyan keluar kamar hampir bersamaan. Dinda terlihat panik.

"Dompetku hilang!" Ucap Dinda.

"Hilang?" Tanya mertua.

"Iya!"

"Isinya banyak." Ucap dinda lagi.

Bu Mirna ikut panik. "Astaga! Isinya apa saja?"

"ATM, KTP, uang tunai.....terus uang kuliah!" Ucap dinda memelas.

Bu Mirna langsung memegang dadanya. "Ya Allah..."

"Berapa uangnya?" Tanya mertua.

"Enam juta maaa." Jawab dinda.

Aku dan Mas Viyan saling berpandangan. Enam juta? Bukankah dua hari lalu katanya masih kurang dua juta? Mas Viyan mulai bertanya.

"Din." Panggil mas Viyan.

"Iya, Bang."

"Katanya uang kuliahnya empat setengah juta." Ucap mas viyan.

"Iya."

"Terus sekarang enam juta?" Tanya lagi mas viyan berturutan.

"Itu..." Dinda terlihat gugup. "Ada uang teman juga." Lanjutnya.

Aku kembali diam. Jawaban itu terasa dipaksakan.

Bu Mirna langsung memegang tangan Mas Viyan.

"Yan."

"Kamu ganti dulu." Ucap mertua raut sedih.

"Apa? Kok aku ma?"

"Kasihan adikmu." Ucap mertua lagi memelas.

Mas Viyan menghela napas.

"Ma. Aku enggak punya uang enam juta." Ucap Mas Viyan.

"Pinjam lah." mertua memaksa.

"Lalu bayarnya pakai apa?" Ucap mas viyan lagi.

"Kan nanti ada Fitri." Jawab mertua enteng.

Aku menutup mata sejenak. Lagi-lagi... Namaku disebut.

"Ma.Izinkan aku bertanya satu hal." Aku akhirnya angkat bicara.

"Apa lagi?" Respon mertua sinis.

"Dinda.. Dompetnya hilang di mana?"

"Di kampus." Jawab singkat dinda.

"Kampus bagian mana?" Tanya ku.

"Parkiran."

"Sudah lapor satpam?"

Dinda terdiam. "Sudah kok eh belum."

"Kenapa belum?"

"Soalnya..." Ia kembali gugup.

"Aku buru-buru pulang." Lanjutnya.

Aku mengangguk pelan.

"Kalau begitu, nanti sore kita ke kampus ya." Ucapku.

"Ngapain?" Tanya dia gugup.

"Kita lapor kehilangan." Jawabku.

Wajah Dinda langsung berubah pucat.

"Enggak usah!" Bentak cepat dinda.

"Lho? kenapa?"

"Paling juga enggak ketemu." Jawab nya pasrah.

"Setidaknya dicoba."

"Enggak usah!" Jawabnya dengan nada tinggi dan emosi.

Semua orang langsung terdiam. Aku semakin yakin. Ada sesuatu yang sedang disembunyikan. Dan kali ini... Bukan hanya aku yang mulai curiga.

Mas Viyan pun terlihat memperhatikan adiknya dengan tatapan yang berbeda. Untuk pertama kalinya... Benih keraguan mulai muncul di hati seorang kakak terhadap adik yang selama ini selalu ia percaya.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!