Persahabatan tiga cowok yaitu Izam, Roki dan Martin disekolah menengah.cerita ini sudah direvisi silakan para pembaca untuk datang menikmati kisahnya. Jika ada kesalahan penulisan atau kata, saya meminta maaf. Ayo datang meriahkan kisah fantasi ini.Terima kasih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Herwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia Tersembunyi dan Kemarahan di Gudang Es
Roki, yang telah menjauh dari Izam dan rekan-rekannya, kini mencari tempat sunyi. Tangannya bergerak cepat menghubungi Rena.
"Kenapa kamu ada di rumahku?" Roki memulai, suaranya terdengar dingin dan sedikit terkejut, mengabaikan sapaan.
Di ujung telepon, Rena menghela napas yang terdengar frustrasi. "Kamu bertanya kenapa? Itu karena kamu belum menyelesaikan tugas yang aku berikan kepadamu!" Nada bicara Rena tajam, penuh ketidakpercayaan.
Roki memejamkan mata, mencoba mengingat. Dia memang sering tenggelam dalam penyamarannya. "Tugas apa yang kamu maksud?" tanyanya, terdengar ragu.
"Serius, apa yang kamu katakan ini, Roki?" desis Rena. Keheningan sesaat, lalu, dengan nada yang penuh ejekan yang lembut, "Astaga, kenapa pikun kamu tambah parah ya."
"Apa maksud kamu berkata seperti itu! Aku tidak pikun ya!" Roki membalas, tetapi suaranya turun menjadi pelan, hampir menjadi bisikan di akhir kalimat. "Hanya saja... aku lupa."
"Iyaaa, tidak pikun, hanya lupa," ulang Rena, nadanya mendatar, menahan tawa.
Roki mencoba meredakan ketegangan dengan nada yang lebih lembut, penuh penyesalan palsu. "Janganlah marah karena beberapa urusan aku lupa mengerjakannya. Aku janji akan segera membereskannya."
Suara Rena melembut sedikit. "Sekarang kamu ada di mana?"
"Aku sedang di jalan menuju rumah. Sebentar lagi aku sampai," jawab Roki.
Roki melanjutkan langkahnya. Jalanan yang dia lewati bisik (sunyi) dan teduh oleh rindangnya pepohonan. Sampai di sebuah persimpangan, suasana kembali terasa sepi, hanya ada suara angin menggesek daun. Saat Roki berjalan, matanya menangkap siluet yang familiar. Dia melihat Martin berdiri bersama seorang pria asing. Martin tampak terlibat dalam percakapan serius.
"Siapa dia?" ucap Roki dalam hati, rasa ingin tahu profesionalnya langsung terusik. Martin di sini? Dengan siapa?
"Apa perlu aku menghampirinya?" Roki maju selangkah, berniat mendekat.
Namun, niatnya terhenti. Dari belakang, terdengar suara mesin mobil yang berhenti mendadak. "Ayo masuk."
Roki menoleh dan melihat Rona sudah ada di dalam mobil, duduk di kursi pengemudi, wajahnya tenang. Dia segera masuk ke dalam mobil dan membatalkan niatnya menghampiri Martin. Saat dia menoleh lagi ke arah persimpangan, dia sudah kehilangan jejak Martin.
"Sedang apa kamu tadi?" tanya Rona, matanya menatap tajam ke depan, tidak membiarkan Roki melihat kekecewaan di matanya karena melihat Roki terpaku.
"Tadi aku melihat temanku, tapi kamu datang, orangnya sudah pergi," jawab Roki, suaranya santai. "Mau ke rumah?"
"Tentu saja, karena aku disuruh Kak Rena menjemput kamu," kata Rona.
Di perjalanan yang hampir sampai, Rena keluar dari rumah karena mendengar suara mobil, berdiri di ambang pintu dengan lengan terlipat. Roki keluar dari dalam mobil. "Cepat masuk," perintah Rena, nadanya tegas, tak memberi ruang untuk basa-basi.
Roki hanya terdiam diri sejenak, menghela napas, lalu masuk ke dalam, langsung menuju kamar untuk membersihkan diri.
Selesai membersihkan diri, Roki turun ke bawah. Suasana di ruang makan terasa hangat, diterangi lampu gantung. Ibunya dan kedua temannya (Rena dan Rona) sudah ada di bawah, menunggu. "Ayo kita makan dulu, baru selesaikan tugasnya," ucap Ibu dengan senyum penuh kasih.
Semua duduk di ruang makan, menikmati hidangan lezat yang sudah disajikan. Setelah menikmati hidangan, Roki segera menuju ruang tengah dan membuka laptop yang sudah tersedia di hadapannya. Ekspresinya langsung berubah.
"Bagaimana kabar terbaru dari pihak lain?" ucap Roki, nada bicaranya berubah menjadi sangat serius, semua jejak kelalaian tadi menghilang, digantikan oleh ketajaman seorang pemimpin.
"Jangan terlalu larut dalam pekerjaan, Nak," sela Ibu, suaranya dipenuhi kekhawatiran khas seorang ibu.
Roki menoleh, memberikan senyum meyakinkan. "Iya, Bu."
Setelah pintu ruangan ditutup dan memastikan tidak ada yang bisa mendengar, barulah Rena dan Rona memberikan dokumen perusahaan dan saham yang kini secara resmi di tangan Roki.
"Seperti yang Anda rencanakan, pihak Ibu Anda memang ingin mengambil saham yang Anda pegang," kata Rona, suaranya formal dan lugas.
"Perjanjian yang sudah kita siapkan apa berjalan lancar?" tanya Roki, matanya meneliti hasil penjualan.
"Untuk perjanjian sudah berjalan lancar. Hanya saja ada beberapa hambatan dari organisasi tersembunyi yang menggagalkan produk yang kita luncurkan," lapor Rena, nada bicaranya sedikit tegang.
Roki menyandarkan punggung ke kursi, tersenyum sinis. "Biarkan saja mereka mengambilnya. Karena apa yang mereka ambil tidak ada gunanya bagi perusahaan kita."
Rena dan Rona saling pandang, bingung. "Apa maksud kamu, Roki?" tanya Rena.
Roki kembali tersenyum, senyum manisnya yang mengisyaratkan mereka semua berada dalam genggaman tangannya. "Karena ini hanya permulaan dari hancurnya bisnis mereka. Inti dari perjanjian bisnis yang kita lakukan akan merugikan pihak musuh, bukan kita. Kita sedang menyajikan umpan beracun."
Dia mendorong laptopnya ke depan, di atasnya tergeletak catatan. "Dokumen sudah aku baca semua, catatan sudah aku berikan. Selanjutnya, lakukan seperti yang ada di catatan. Apa kalian mengerti?"
Rena dan Rona segera mengiyakan perintah atasan mereka.
"Dan satu lagi," Roki menekankan, matanya kembali tajam. "Sebelum waktunya, kalian tidak boleh muncul di hadapanku. Karena aku tidak ingin mereka berdua (Izam dan kawannya) tahu identitasku yang sebenarnya."
"Kami mengerti," kata Rena dan Rona serentak.
"Urusan kami sudah selesai. Waktunya kami kembali. Selamat istirahat," kata Rona.
Mereka berdua berdiri, diantar oleh Roki ke pintu dengan keramahan yang sempurna. "Hati-hati di jalan," kata Roki, senyumnya lembut dan tulus senyum yang benar-benar berbeda dengan wajahnya di depan laptop tadi.
Rena dan Rona tersenyum, mengangguk, dan meninggalkan Roki. Setelah mereka berdua pergi menjauh dari rumah, barulah Roki bisa beristirahat dengan tenang, topengnya kembali terpasang.
Sementara di tempat lain, di sebuah markas yang remang-remang, Izam dan rekan-rekannya sedang berkumpul. Suasana terasa tegang, dipenuhi asap rokok dan kegelisahan. Mereka baru saja mendapatkan kabar soal perjanjian perdamaian dengan Geng Naga Hitam yang tidak mendapatkan hasil yang memuaskan.
"Cari tahu apa yang sebenarnya mereka inginkan," kata Terko, suaranya penuh otoritas yang dingin.
Sampai di malam hari, Martin sedang bekerja di kafe milik kakaknya. Suasana kafe tiba-tiba berubah mencekam. Martin dikejutkan oleh beberapa orang asing yang masuk dengan kasar. Tanpa ada angin dan hujan, orang asing itu menghancurkan barang yang ada di tempat itu. Martin, melihat kekacauan di kafe kakaknya, maju untuk menghentikan orang asing tersebut.
"Hentikan! Apa yang kalian lakukan?!" teriak Martin, wajahnya memerah karena marah.
Namun, orang asing itu tidak peduli. Salah satu dari mereka memukul Martin dengan kencang sampai dia terjatuh. Kakak Martin, Mola, yang ada di sampingnya, segera membantu dia bangkit.
Saat melihat Mola, mata orang asing itu menyala. Mereka tampak tertarik dengan Kak Mola dan Kak Meli. Tanpa ampun, mereka berdua diseret oleh orang asing itu. Martin, yang melihat kedua kakaknya diperlakukan seperti itu, diliputi amarah yang tak terkendali. Dia melawan dan memukul orang asing itu karena marah sampai orang asing itu jatuh tersungkur.
"Lepaskan mereka!" raung Martin.
Kak Meli dan Kak Mola sudah dibawa pergi, membuat Martin semakin marah.
"Minggir kalian!" kata Martin, suaranya bergetar karena emosi yang meluap.
Tetapi orang-orang asing itu tidak menghiraukan Martin. Mereka malah menghancurkan lebih banyak barang yang ada. Martin yang sudah naik darah tidak bisa menahan lagi. Dengan cepat, dia menghabisi para orang asing itu satu per satu dengan pukulan dan tendangan yang mematikan.
Saat pertarungan usai, dia melihat di belakang leher salah satu penyerang sebuah tato. Tato Mawar. "Geng Mawar," desis Martin dengan emosi yang membara. Matanya dipenuhi api dendam. "Kalian berani mencari masalah denganku. Berarti kalian siap untuk mati."
Martin segera keluar dan mengendarai motor yang sudah terparkir. Dia memulai pengejaran gila-gilaan, mengejar mobil yang membawa Kak Meli dan Kak Mola.
Di perjalanan menuju markas Geng Mawar, dia dikejutkan oleh beberapa anggota Geng Naga Hitam yang bekerja sama dengan mereka. Martin mencoba untuk tetap tenang. Ia mencari petunjuk ke mana kedua kakaknya disandera. Ia berhasil melacak mereka: Kak Mola dan Kak Meli diseret menuju gudang es yang terpencil.
Martin mencoba mendekatinya secara diam-diam, tetapi ia tidak beruntung. Martin ketahuan oleh mereka dan dipukul dari belakang. Namun, karena sudah waspada, Martin bisa menghindar dan membalas mereka dengan pukulan.
Sayangnya, ia kalah jumlah, dan yang paling penting, ia mengkhawatirkan kedua kakaknya. Martin tidak bisa melawan dengan sepenuh hati, yang membuat dia menurunkan kewaspadaannya demi bisa bertemu dengan kedua kakaknya yang disandera. "Masih ingin berlaga?" kata salah satu orang yang mengeroyok Martin, suaranya mengejek.
Martin diseret dan dibawa di gudang es yang dingin, tempat Kak Mola dan Kak Meli disekap. Kak Mola dan Kak Meli yang sadar kalau pintunya terbuka, melihat ke arah pintu. Mereka berdua terkejut saat Martin dibawa oleh para penyandera dengan penuh luka memar di wajahnya.
Karena gelisah, mereka berdua langsung menghampiri Martin yang dilempar begitu saja ke lantai yang dingin oleh para orang asing itu. "Martin!" seru Mola, suaranya penuh ketakutan.
"Bagaimana kamu bisa ke sini dan terluka seperti ini?!" tanya Meli, air matanya sudah menetes.
Martin terbangun dari pingsan singkatnya, mendengar isak tangis kedua kakaknya. Dia membuka mata, wajahnya yang penuh luka memar dipaksa tersenyum.
"Kenapa Kakak menangis? Aku baik-baik saja, hanya luka kecil," kata Martin, mencoba menghibur kedua kakaknya yang menangis.
"Apa maksud kamu hanya luka kecil sampai berdarah seperti ini?!" kata Mola, tangisnya semakin menjadi.
Martin hanya tersenyum menenangkan. "Kak, tenang saja. Kita akan keluar dari tempat ini."
"Bagaimana kita bisa keluar?" ucap Meli, suaranya dipenuhi rasa putus asa.
"Karena aku sudah menghubungi Rendi," ucap Martin, matanya menunjukkan secercah harapan.
"Apa maksud kamu, Rendi yang itu?" tanya Meli, kaget.
"Iya," ucap Martin.
"Bukankah dia sedang ada tugas di luar negeri?" tanya Mola, tidak percaya.
Martin menyeringai, senyumnya tampak menyakitkan namun penuh keyakinan. "Mereka semua sudah kembali, Kak. Karena sudah waktunya bermain bersama."