Seraphina Lim kembali ke Jakarta dengan label yang memalukan — anak haram keluarga konglomerat Lim.
Dibuang sejak kecil, dibesarkan oleh keluarga lain, dan kini dipanggil pulang hanya untuk dijadikan bidak politik. Saudari tirinya yang menggantikan posisinya selama 20 tahun menganggapnya sampah. Ayah kandungnya ingin menjodohkannya dengan putra keluarga paling korup di Jakarta.
Tapi Seraphina bukan gadis lemah yang bisa diinjak.
Di malam pertamanya di Jakarta, takdir mempertemukannya kembali dengan Reynard Hartono — pewaris tunggal Hartono Group, pria paling berkuasa dan paling berbahaya di kota ini. Dingin, posesif, dan tak pernah tersentuh oleh wanita manapun...
...kecuali dia.
"Kau adalah hartaku yang paling berharga."
Reynard sudah menunggunya selama empat tahun. Dan kali ini, dia tidak akan melepaskannya — tidak peduli berapa banyak musuh yang harus dihancurkan.
Identitas palsu. Cinta obsesif. Balas dendam yang manis.
Ketika rahasia terbesar keluarga Lim terbongkar, seluruh Jakarta akan tahu — gadis yang mereka injak-injak selama ini, justru adalah pewaris sejati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Kembang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19
Bab 019
Garis yang Dilanggar
"Aku ikut," katanya.
Reynard benar-benar ikut.
Malam berikutnya, lounge amal keluarga Halim berada di lantai atas sebuah hotel butik di Sudirman. Acaranya lebih santai daripada trunk show Wibowo, tetapi tetap dipenuhi orang-orang yang sama: pewaris keluarga, pengusaha muda, anak pejabat, perempuan bergaun mahal, laki-laki yang tertawa terlalu keras setelah gelas ketiga.
Seraphina datang bersama Natasha, Michelle, dan Jessica. Reynard tidak masuk bersamanya. Ia datang sepuluh menit kemudian bersama Jason, seolah kebetulan. Namun begitu ia muncul, beberapa orang langsung menoleh ke arah Seraphina.
Natasha mendekat ke telinga Seraphina. "Kebetulan yang sangat mahal."
Seraphina pura-pura tidak mendengar.
Jason menyambut mereka dengan wajah cerah. "Selamat datang di acara amal yang entah kenapa punya DJ. Jangan tanya aku. Panitianya sepupuku."
Jessica melihat panggung kecil. "Kalau amalnya gagal, minimal lighting-nya sukses."
Michelle tertawa pelan.
Selama satu jam pertama, semuanya berjalan cukup aman. Seraphina berbicara dengan dua calon donor pendidikan, Natasha mengancam Jason karena hampir menumpahkan mocktail, dan Reynard berdiri tidak jauh, tidak menempel, tetapi selalu berada dalam jarak yang membuat Seraphina tahu ia ada.
Lalu Kevin datang.
Ia sudah mabuk ketika masuk. Tidak sampai terhuyung, tetapi cukup untuk membuat senyumnya lebih longgar dan matanya lebih berani. Kemejanya terbuka satu kancing terlalu banyak, rambutnya tidak serapi biasanya. Dua temannya mengikuti di belakang, tertawa dengan cara orang yang tahu mereka sedang menonton masalah dan tidak berniat menghentikannya.
Jason melihat lebih dulu. "Ah. Tiket pertunjukan utama sudah tiba."
Natasha menaruh gelasnya. "Aku tidak bercanda soal sepatu."
Seraphina tetap berdiri tenang. "Jangan mulai dulu."
"Dia yang mulai sejak lahir," gumam Natasha.
Kevin melihat Seraphina beberapa detik kemudian. Senyumnya melebar.
"Nah," katanya cukup keras. "Bintang malam ini ada di sini."
Percakapan di sekitar mereka melambat.
Kevin berjalan mendekat, gelas whisky di tangan. "Seraphina Lim. Atau sekarang harus dipanggil apa? Nona Astoria? Nona Hartono?"
Reynard yang berdiri di sisi lain ruangan langsung menoleh.
Seraphina tidak bergerak. "Panggil saya Bu Sera kalau ini urusan profesional. Kalau bukan, jangan panggil sama sekali."
Beberapa orang menahan senyum.
Wajah Kevin mengeras. Alkohol membuatnya kehilangan lapisan sopan yang biasanya ia pakai seperti jas mahal.
"Profesional?" Ia tertawa. "Kau bicara seperti semua orang tidak tahu bagaimana perusahaan kecilmu tiba-tiba naik. Proyek pemerintah, Hartono Group, jas di bahu, mobil pribadi. Hebat sekali. Anak yang asal-usulnya saja jadi gosip bisa naik kelas secepat itu."
Ruangan menjadi sunyi.
Michelle menarik napas tajam.
Jessica berbisik, "Kurang ajar."
Natasha maju satu langkah, tetapi Seraphina menahan pergelangan tangannya.
"Biarkan," kata Seraphina pelan.
Kevin melihat gerakan itu dan tertawa lagi. "Kenapa? Teman-temanmu mau melindungimu juga? Atau Hartono sudah mendaftarkan semua orang jadi penjaga?"
"Kau mabuk," kata Seraphina.
"Aku jujur."
"Sering kali orang mabuk salah mengira keburukan mulutnya sebagai kejujuran."
Beberapa tamu di belakang Jason mengeluarkan suara tertahan. Kevin tidak suka ditertawakan. Ia meletakkan gelasnya terlalu keras di meja tinggi sampai isinya tumpah sedikit.
"Jangan sok suci. Kau pikir Reynard serius? Pria seperti dia tidak menikahi perempuan yang baru muncul dari entah mana. Paling-paling kau cuma hiburan baru sebelum dia bosan."
Kalimat itu tidak membuat Seraphina hancur.
Yang membuat dadanya dingin adalah betapa cepatnya beberapa orang menunduk, bukan karena tidak setuju, tetapi karena tidak ingin terlihat mendengar. Seperti biasa, luka perempuan bisa dijadikan tontonan selama yang melukai punya nama cukup besar.
Reynard tiba di sisi Seraphina sebelum Kevin sempat mengambil langkah berikutnya.
Ia tidak langsung bicara kepada Kevin.
Ia menatap Seraphina lebih dulu. "Kau baik-baik saja?"
Pertanyaan itu, di tengah ruangan yang baru saja membiarkan dirinya dihina, hampir membuat Seraphina kehilangan napas. Ia mengangguk kecil.
Baru setelah itu Reynard menoleh kepada Kevin.
"Minta maaf."
Dua kata.
Lebih dingin daripada seluruh ruangan.
Kevin tertawa, tetapi kali ini terdengar dipaksa. "Kau juga? Sejak kapan Hartono jadi pengawal anak haram?"
Reynard bergerak.
Tidak cepat, tidak kasar. Ia hanya maju satu langkah dan memegang pergelangan tangan Kevin ketika laki-laki itu tanpa sadar menunjuk terlalu dekat ke wajah Seraphina.
Gelas di tangan Kevin nyaris jatuh.
"Satu kata lagi," kata Reynard, suaranya rendah, "dan aku pastikan rekaman malam ini sampai ke setiap orang yang masih menutup mata atas semua yang pernah kau lakukan."
Wajah Kevin berubah.
Jason, yang sejak tadi terlihat seperti ingin bercanda, kini mengangkat ponsel. "Kebetulan, beberapa kamera lounge mengarah ke sini. Amal modern, Vin. Semua transparan."
"Namaku Kevin," bentak Kevin.
"Aku tahu. Aku hanya tidak merasa perlu menghormatinya."
Natasha tersenyum dingin. "Akhirnya Jason berguna."
Reynard tidak melepaskan pergelangan Kevin sampai pria itu berhenti mencoba menarik diri.
"Minta maaf pada Seraphina."
"Kau tidak bisa memaksaku."
"Bisa." Mata Reynard tidak berkedip. "Tapi aku sedang memberimu kesempatan memilih cara yang tidak terlalu memalukan."
Salah satu teman Kevin mulai mundur. Yang lain menunduk, pura-pura menerima telepon.
Kevin melihat sekeliling. Tidak ada yang maju membelanya. Bahkan beberapa tamu yang dekat dengan Wijaya memilih memalingkan wajah.
Akhirnya, dengan rahang terkunci, ia berkata, "Maaf."
Reynard tidak bergerak. "Lebih jelas."
"Maaf, Seraphina."
Seraphina menatapnya. "Saya mendengar. Saya tidak menerima."
Ruangan kembali hening.
Untuk pertama kalinya malam itu, wajah Kevin benar-benar kehilangan warna.
Reynard melepaskan tangannya. "Keluar."
Jason langsung memberi isyarat kepada petugas lounge. "Antar Pak Kevin ke mobilnya. Pastikan dia tidak menyetir sendiri. Amal malam ini tidak termasuk membiarkan orang mabuk membunuh orang di jalan."
Kevin ingin membalas, tetapi dua petugas sudah mendekat. Ia pergi dengan langkah berat, membawa sisa harga diri yang tercerai-berai di lantai.
Setelah ia keluar, musik tidak langsung kembali. Tidak ada yang tahu cara mengisi keheningan.
Jason mendekat ke Reynard, suaranya lebih rendah dari biasanya. "Rekaman kamera sudah kuminta backup. Kalau besok ada versi cerita yang menyalahkan Sera, file itu langsung kukirim ke orang yang tepat."
Reynard mengangguk singkat. "Pastikan tidak bocor tanpa izin Sera."
Jason melirik Seraphina, lalu mengangguk. "Paham."
Natasha mendengar itu dan untuk sekali ini tidak menyela dengan lelucon. Ia hanya berdiri di sisi Seraphina, bahunya hampir menyentuh bahu Seraphina, memberi dukungan tanpa membuatnya merasa lemah.
Reynard melepas jasnya dan menyampirkannya ke bahu Seraphina, kali ini bukan karena gaunnya kotor, melainkan karena jari-jari Seraphina mulai dingin.
"Kita pergi," katanya pelan.
Seraphina tidak membantah.
Di lift menuju parkir, Natasha memeluknya sebentar. "Telepon aku nanti."
Seraphina mengangguk.
Namun begitu pintu mobil Reynard tertutup dan dunia menjadi sunyi, kekuatan yang ia pakai untuk berdiri di lounge perlahan runtuh dari bahunya.
Ia menatap tangannya sendiri.
Tangannya tidak gemetar.
Tapi dadanya sakit.