Di usia 20 tahun, hidup Keira Seng sudah diberi deadline.
Kanker lambung stadium awal. Dokter bilang masih ada harapan, tapi tubuhnya berkata lain. Di tengah ketakutan dan kesendirian — karena keluarganya sudah lama bukan tempat bersandar — sebuah HP Nokia tua yang selalu ada di tasnya tiba-tiba mengirim pesan:
[SISTEM IMITASI AKTIF. TARGET DITETAPKAN: XAVIER SIA. SELESAIKAN MISI UNTUK MENDAPAT POIN KEHIDUPAN.]
Xavier Sia. Cucu konglomerat Sia Corporation. Mahasiswa hukum semester 5 yang wajahnya selalu muncul di @unparfess sebagai "Campus Crush No.1." Dingin. Tajam. Dan — atas kebetulan yang absurd — tinggal di unit sebelah apartemen Keira.
Misi pertama: berpakaian seperti dia selama satu minggu.
Yang tadinya hanya "survival strategy" perlahan berubah bentuk. Baju yang sama membawa mereka ke percakapan. Percakapan membawa kedekatan. Kedekatan membawa perasaan yang Keira tidak mampu — dan tidak berhak — untuk miliki.
Karena bagaimana bisa kamu jatuh cinta kalau kamu sendiri tidak tahu berapa lama bisa hidup?
Dan bagaimana bisa Xavier tahu bahwa gadis yang selalu tersenyum di depannya sedang menghitung waktu di belakangnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zara Melati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14
Bab 14: Acara Kampus
Malam ketika Keira dan Xavier sama-sama tidak bisa tidur tidak pernah dibahas.
Tidak ada chat terkirim. Tidak ada pengakuan. Hanya dua lampu apartemen yang menyala terlalu lama, lalu hari-hari kembali berjalan dengan cara yang tampak biasa dari luar.
Sekitar sebulan kemudian, Unpar mengadakan Dies Natalis. Kampus berubah menjadi lebih ramai daripada biasanya. Tenda makanan berjejer di area terbuka, panggung kecil berdiri dekat lapangan, dan Fakultas DKV kebagian mengurus pameran karya visual di salah satu aula.
Keira sudah berada di aula sejak pagi.
Rambutnya diikat tinggi, lengan kemejanya digulung, dan di tangannya ada cutter yang ia gunakan untuk merapikan label karya. Tubuhnya cepat lelah, tetapi ia tidak mau duduk terlalu lama. Hari itu beberapa ilustrasi digitalnya dipajang. Bukan tugas biasa. Bukan file yang hanya dilihat dosen dan teman sekelas. Orang-orang asing bisa berhenti, membaca namanya, dan melihat dunia kecil yang ia gambar.
Celine membantu memasang lampu sorot kecil sambil mengomel.
"Kalau panitia bilang `sebentar lagi selesai` sekali lagi, gue akan berubah jadi villain."
Tania, yang sedang merapikan kabel, menjawab tanpa menoleh, "Jangan. Villain biasanya tetap disuruh beres-beres."
Keira tertawa. "Kalian berdua kalau capek makin menghibur."
"Kamu jangan cuma ketawa," kata Tania. "Duduk lima menit. Wajahmu pucat."
"Aku baik."
Celine menunjuk kursi lipat. "Duduk atau gue panggil Xavier."
Keira hampir menjatuhkan label karya.
Tania langsung menatapnya.
"Kenapa nama dia efektif sekali?"
"Tidak efektif," bantah Keira cepat, lalu duduk karena kakinya memang mulai lemas.
Menjelang siang, pameran mulai ramai. Mahasiswa dari fakultas lain masuk sambil membawa minuman, beberapa dosen berhenti di depan karya, dan Keira berkali-kali harus menjelaskan konsep ilustrasinya. Salah satu karya favoritnya menggambarkan seekor kucing hitam duduk di ambang jendela, menatap langit kota yang penuh bintang. Judulnya sederhana: `Tidak Semua yang Hitam Itu Hilang`.
Ia sedang berbicara dengan pengunjung ketika Celine tiba-tiba menyikutnya dari samping.
"Jangan noleh terlalu cepat."
Keira sudah pernah mendengar kalimat itu.
Tentu saja ia tetap menoleh terlalu cepat.
Xavier dan Kevin masuk dari pintu aula.
Kevin memakai kaus festival dan membawa dua cup minuman. Xavier memakai kemeja navy, celana gelap, dan ekspresi yang seolah mengatakan ia datang karena tersesat, padahal matanya langsung menemukan Keira di tengah aula.
Keira lupa kalimat yang sedang ia ucapkan pada pengunjung.
Celine menutupinya dengan sangat profesional. "Jadi konsepnya tentang ruang aman dan identitas visual. Silakan lihat karya berikutnya juga."
Pengunjung pergi. Celine langsung berbisik, "Ruang aman lo datang."
"Cel."
Kevin sudah melambaikan tangan. "Keira! Kami lewat secara kebetulan."
Tania, dari belakang panel, bergumam, "Kebetulan kok masuk aula pameran DKV."
Xavier menghampiri tanpa terburu-buru. "Pamerannya bagus."
"Kamu baru masuk."
"Dari pintu sudah kelihatan."
Kevin menepuk dada. "Gue ajak dia muter festival, tapi dia bilang mau lihat pameran. Katanya karena tugas observasi. Padahal kelas kalian nggak ada hari ini."
Xavier menoleh. "Kevin."
"Apa? Gue cuma membantu transparansi publik."
Keira menggigit senyum. "Mau lihat?"
Xavier mengangguk.
Ia benar-benar melihat.
Itu yang membuat Keira gugup. Banyak orang berjalan melewati panel sambil mengangguk sopan. Xavier tidak begitu. Ia berhenti di depan setiap karya, membaca labelnya, memperhatikan detail garis, warna, dan ekspresi karakter. Di depan ilustrasi kucing hitam, ia diam lebih lama.
"Ini Mochi?" tanyanya.
"Bukan persis. Tapi inspirasinya dari dia."
"Matanya mirip."
"Mochi akan sombong kalau tahu."
"Dia sudah sombong."
Xavier menatap karya itu lagi. "Bagus."
Satu kata.
Nada datar.
Tapi Keira tahu, dari Xavier, `bagus` bukan basa-basi. Ia tidak membagikan pujian seperti brosur. Kalau ia berkata bagus, berarti ia benar-benar melihat.
Panas naik ke pipi Keira. "Makasih."
Saat Xavier bergeser ke panel berikutnya, Tania mendekat ke Keira sambil membawa gulungan kabel.
"Dia lihat karyamu beneran," katanya pelan.
Keira pura-pura mengecek label. "Semua orang juga lihat."
"Tidak. Banyak orang cuma lewat. Dia baca judul, baca deskripsi, terus lihat detailnya. Itu beda."
Celine muncul di sisi lain dan ikut berbisik, "Kalau cowok mau basa-basi, dia bilang bagus dari jauh lalu kabur. Yang ini berdiri lama banget sampai Kevin bosan sendiri."
Keira menggigit bagian dalam pipinya. Entah kenapa, komentar itu membuat pujian `bagus` dari Xavier terasa lebih berat.
Kevin, di belakang mereka, mengangkat HP diam-diam. Celine yang melihat langsung menyipitkan mata, tetapi tidak menghentikan. Kevin mengambil foto Keira dan Xavier yang berdiri berdampingan di depan ilustrasi kucing hitam. Dari layar HP-nya, mereka terlihat seperti dua orang yang memang datang bersama.
`Grup: Manusia Waras Minus Xavier`
Kevin mengirim foto itu dengan caption:
`Observasi visual: target saling menatap karya, bukan karya.`
Dino, yang tidak ada di tempat, membalas:
`Akhirnya anak itu punya perkembangan emosi.`
Kevin tertawa sendiri sampai Xavier melirik curiga.
"Apa?"
"Tidak ada. Seni membuatku bahagia."
Setelah pameran, Celine dan Tania menyeret Keira keluar untuk makan, tetapi Kevin berhasil membuat formasi berubah. Entah bagaimana, mereka berlima berjalan mengelilingi area festival. Celine dan Tania di depan, Kevin di belakang sambil terus memotret booth makanan, Keira dan Xavier berjalan di tengah.
Mereka membeli siomay, melihat panggung band kampus, dan berhenti di booth DKV yang menjual stiker. Xavier membeli satu stiker kucing hitam tanpa komentar.
"Untuk Mochi?" tanya Keira.
"Untuk laptop."
"Laptopmu akan terlihat lebih ramah."
"Itu masalah?"
"Tidak. Itu kemajuan."
Xavier menyimpan stiker itu di dompetnya agar tidak terlipat. Gerakan kecil itu membuat Keira senang dengan cara yang terlalu mudah.
Sore turun pelan. Lampu-lampu festival mulai menyala. Keira lelah, tetapi bukan lelah yang kosong. Tubuhnya berat, tapi dadanya penuh. Sepanjang hari ia melihat Xavier di ruang yang biasanya miliknya: karya, teman, DKV, festival. Dan Xavier tidak tampak asing di sana. Ia tidak banyak bicara, tetapi ia hadir.
Saat mereka pulang, Kevin menghilang dengan alasan mencari parkir, Celine dan Tania sudah dijemput teman lain. Xavier mengantar Keira kembali ke The Springs dengan GrabCar yang ia pesan.
Di lobi, sebelum naik lift, ia menyerahkan satu cup milk tea hangat.
"Capek ya hari ini?"
Keira menerima cup itu dengan kedua tangan. Hangatnya meresap ke telapak.
Ia mengangguk. "Tapi senang."
"Karyamu memang bagus."
Keira menatap tutup cup, tidak berani menatap langsung. "Kamu sudah bilang tadi."
"Masih berlaku."
Lift berdenting, tetapi tidak satu pun dari mereka langsung masuk.
Xavier memegang pintu lift agar tetap terbuka. "Minggu depan, mau makan malam bareng?"
Keira mengangkat wajah.
"Sebagai terima kasih sudah jaga Mochi," tambahnya.
Kalimat itu punya alasan. Alasan yang rapi, masuk akal, dan aman. Tapi cara Xavier menatapnya tidak terasa seperti sekadar membayar utang karena kucing.
Keira menggenggam milk tea lebih erat.
Makan malam.
Bersama Xavier.
Apakah ini undangan biasa, atau sesuatu yang lebih dari itu?