Vivian tidak pernah menyangka jika hatinya akan terpaut pada sahabatnya sendiri. Vivian jatuh cinta pada Leon sejak 10 tahun yang lalu. Tapi tak mudah bagi Vivian memenangkan hati Leon. Sudah ada orang lain dihatinya.
Jika saja yang Leon cintai sama seperti dirinya. Mungkin akan lebih muda bagi Vivian untuk memenangkan hatinya. Tapi sayangnya Leon mencintai kakak kandungnya sendiri.
Mampukah Vivian bertahan dalam sebuah hubungan yang dipenuhi luka dan air mata, ataukah Vivian akan menyerah karena tidak sanggup? Hanya Waktu Yang bisa menjawabnya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lusica Jung 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cinta Tidak Butuh Alasan
Vivian membuka pintu kamarnya dan mendapati Leon tengah duduk di ruang tengah sambil memainkan ponselnya. Gadis itu tersenyum tipis, sudah lebih dari dua bulan ia dan Leon menjadi sepasang kekasih.
Selama dua bulan itu Leon selalu memperlakukannya dengan hangat. Meskipun hingga detik ini Leon masih seorang yang tidak normal, karena belum bisa menghapus cintanya untuk sang kakak, namun ia bisa memerankan perannya sebagai kekasih Vivian dengan baik.
Vivian tidak merasa keberatan meskipun hubungan mereka hanya sepihak saja, Vivian menerima Leon apa adanya bahkan ia tidak peduli jika kekasihnya itu masih belum bisa mencintainya karena dia seorang yang tidak normal.
Leon mengangkat wajahnya saat mendengar derap langkah yang semakin mendekat. Sudut bibirnya tertarik keatas menyambut kedatangan Vivian. "Kau sudah bangun?" ucapnya lalu menepuk ruang kosong di sampingnya, mengisyaratkan agar Vivian duduk di sana.
"Kau sudah makan siang? Maaf aku tadi ketiduran." sesalnya.
Leon menggeleng. "Tidak apa. Kita akan makan sama-sama, aku menunggumu."
"Jadi kau belum makan malam?" Vivian mememik sambil menatap Leon tidak percaya.
Pandangannya ia gulirkan pada dinding dan waktu menunjukkan pukul 4 sore yang artinya ia tertidur lebih dari 4 jam. Dan Leon menunda waktu makan siangnya hanya untuk menunggu dirinya bangun.
"Dasar bodoh, kenapa tidak membangunkanku atau makan siang lebih dulu." omel Vivian pada Leon.
Alih-alih merasa kesal karena sudah diomeli oleh sang kekasih, Leon malah terkekeh. Dimatanya Vivian terlihat sangat menggemaskan.
"Dasar bodoh, bagaimana mungkin aku makan siang sementara kau tidak. Untuk makan malam, kau tidak perlu memasak apa pun. Kita akan makan di luar."
"Kau ingin mentraktirku?"
"Menurutmu?"
Vivian tersenyum tipis, gadis itu merubah posisi duduknya lalu mengalungkan kedua tangannya pada leher Leon.
Mata hazelnya mengunci manik abu-abu milik sang kekasih, meskipun ini bukan pertama kalinya Vivian menatap mata Leon tapi tetap saja dia merasa gugup saat menatap mata itu.
Buru-buru Vivian mengakhiri kontak matanya dan melepaskan pelukan-nya pada leher Leon, Vivian hendak beranjak namun segera di hentikan oleh Leon.
"Kau fikir bisa semudah itu lepas dariku?" bisiknya sambil membelai pipi Vivian. Vivian semakin gugup dan salah tingkah.
"A..k..u lupa kalau aku tadi menyalahkan kran di kamar mandi. Aku matikan dulu ya." Vivian segera berdiri namun lagi-lagi Leon menahannya.
Leon meraih dagu Vivian sambil memiringkan kepalanya. Bibirnya menuju bibir Vivian kemudian menyatukannya. Leon mel*mat bibir Vivian secara perlahan dan lembut, memejamkan matanya merasakan manisnya bibir gadis itu.
Rasanya sangat berbeda dengan ketika ia mencium bibir kakaknya satu bulan yang lalu, dan mencium bibir Vivian sepertinya mulai menjadi candu baru untuknya selain rokok dan minuman beralkohol.
Leon melepaskan tautan bibirnya saat merasakan pukulan ringan pada dadanya. Vivian tidak kuat mengimbangi ciuman Leon."Masih ada waktu, sebaiknya kau segera bersiap. Sebelum makan malam aku ingin membawamu kesuatu tempat."
"Kemana?" Vivian menatap Leon penasaran.
Leon menyentil gemas kening Vivian. "Jika aku mengatakan sekarang namanya bukan kejutan." Vivian terkekeh lalu mengusap keningnya yang mungkin sedikit memerah
"Huft, baiklah kalau begitu aku akan segera bersiap, kau sendiri bagaimana? Apa kau tidak ingin mengganti pakaianmu yang err... mengerikan itu?"
Leon memicingkan matanya, menatap Vivian penasaran. "Kenapa? Apa kau tidak menyukainya? Bukankah styleku sangat keren?" Leon merentangkan tangannya dalam posisi duduknya. Vivian mendecih seraya menatap Leon malas
"Keren apanya? Mengerikan yang ada. Tapi tidak masalah untukku, karena itu mencerminkan jati dirimu. Jati diri seorang Leon Arcelo, aku tidak peduli meskipun kau brandalan atau penjahat sekalipun, karna yang aku tau kau adalah kekasihku. Priaku, laki-laki yang paling aku cintai dan aku inginkan di dalam hidupku."
Leon menarik bahu Vivian dan membawa gadis itu kedalam pelukannya. "Aku tidak tau bagaimana harus mengucapkan terimakasih padamu karena sudah mencintaiku dengan tulus dan menerima keadaanku apa adanya. Aku merasa jika aku adalah seorang pria tidak normal yang paling beruntung di dunia karena di cintai gadis berhati malaikat sepertimu."
Vivian tersenyum tipis. Mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukan Leon. "Cinta yang aku miliki untukmu tidak terbatas. Apa pun dan bagaimana pun keadaanmu, aku akan tetap mencintaimu."
Leon melepaskan pelukannya , senyum hangat tersungging di sudut bibirnya. Jari-jarinya membelai helaian rambut panjang Vivian.
"Sekarang bersiaplah, aku akan menunggumu di luar." Ucapnya yang segera di balas anggukan oleh gadis itu. Sebelum pergi kekamarnya, Vivian menyempatkan diri untuk mencium pipi kanan Leon dan pergi begitu saja.
Sentuhan bibir Vivian yang sedikit basah pada pipinya memberikan sensasi tidak biasa untuk Leon. Entah apa yang terjadi tiba-tiba saja jantungnya berdegup kencang, bangkit dari posisi duduknya. Leon melenggang menuju kamarnya.
.
.
.
Angin berhembus semilir memberikan kesejukan di sore hari di ujung senja. Awan-awan bergerak lambat merayapi langit.
Semua orang menikmati penghujung hari itu dengan tenang dan damai tak terkecuali sepasang kekasih yang sedang bersantai di bukit angin sambil memandang senja di ujung barat.
Si gadis memiliki surai panjang berwarna coklat terang, bermata hazel dan tubuh rampingnya terbalut dress bermotif bunga berlengan brukat panjang.
Sementara si pemuda memakai jeans belel hitam, vest denim yang menjadi luaran tank top putih dan kemeja hitam kotak-kotak tanpa lengannya. Rambut mereka berdua berkibar karna terjangan angin nakal, duduk di bawah pohon sakura menikmati semilir angin senja.
Si gadis menyandarkan kepalanya pada bahu sang kekasih, netra mereka yang berbeda warna menatap lurus kedepan. Si gadis melepaskan genggaman tangan pemuda di sampingnya kemudian bangkit dari posisi duduknya.
Dendelion di depan sana cukup menarik perhatiannya, memetik bunga itu lalu meniupnya. Dendelion adalah salah satu bunga favoritenya selain bunga mawar dan tulip. Si pemuda ikut berdiri dan menghampiri sang kekasih.
"Aku fikir kau sudah tidak menyukai Dendalion." ucap si pemuda yang entah sejak kapan berdiri di depan si gadis.
"Kau tau sendiri kan jika Dendelion adalah salah satu bunga kesukaanku, kau juga tau jika aku suka sekali meniup bunga cantik ini." Ujar si gadis menyahuti.
Gadis itu 'Vivian' mengangkat wajahnya. Menatap Leon dengan sudut bibir tertarik ke atas.
Setelah puas meniup dan bermain-main dengan bunga Dendelion, keduanya kembali pada pohon Sakura kemudian duduk di sana. Vivian berbaring dengan menggunakan paha Leon sebagai bantalan kepalanya.
"Kenapa kau bisa jatuh cinta padaku?" tanya Leon sambil membelai rambut Vivian yang selembut sutra.
Vivian terdiam, mata hazel itu menatap lurus sepasang mutiara abu-abu milik Leon yang juga menatapnya lalu mendesah. "Kenapa? Apa aku perlu alasan untuk menjawabnya?"
"Semua hal ada sebab dan akibat. Tidak ada yang muncul dari ketiadaan dan ketidakpastian, karena itu semua hal memiliki sebuah alasan." terang Leon.
Vivian tersenyum tipis lalu bangkit dari posisi berbaringnya. Gadis itu beranjak dan berjalan beberapa langkah kedepan. "Apa kita perlu memiliki alasan untuk mencintai seseorang?" Vivian menoleh, menatap Leon yang juga menatapnya.
"Jika kau bertanya kenapa aku mencintaimu, karena kau adalah Leon Arcelo. Pemuda terbodoh yang begitu berarti dalam hidupku, pria yang aku inginkan untuk menjadi cinta sejatiku, pria yang aku inginkan untuk menjadi ayah dari anak-anakku, dan pria yang aku inginkan untuk menemaniku hingga aku menutup mataku."
Vivian menyeka air mata yang menetes membasahi pipinya. Gadis itu beranjak kemudian menghampiri Leon yang hanya menatap gamang padanya.
"Bisa kita pergi sekarang? Aku mulai kelaparan."
Leon mendengus geli, dengan gemas ia menyentil kening Vivian. "Dasar kau ini. Baiklah, ayo."
Vivian menerima uluran tangan Leon dengan wajah sumringah, Vivia melingkarkan tangannya pada lengan terbuka Leon. Keduanya berjalan beriringan meninggalkan bukit angin.
🌹
TAPP...
Vivian menghentikan langkahnya saat iris hazelnya tanpa sengaja melihat keberadaan seorang wanita yang wajahnya tidak asing baginya berada di cafe yang hendak dia datangi dengan Leon.
Wanita itu tidak hanya sendiri saja, ada gadis muda yang sepertinya lebih muda darinya serta beberapa wanita yang mungkin adalah teman-teman wanita itu. Leon yang merasa kebingungan ikut berhenti dan mengikuti arah pandang Vivian. Matanya memicing.
"Apa yang sedang kau lihat?" tanya Leon penasaran.
Vivian menggeleng. "Bukan apa-apa. Bisakah kita pindah cafe saja? Aku tidak ingin lagi makan di cafe ini. Seleraku hilang, aku mohon kita pindah saja," renggek Vivian memohon. Suaranya tiba-tiba menjadi serak dan parau seperti menahan tangis.
Leon menakup wajah Vivian dengan kedua tangannya, sepasang iris abu-abunya mengunci manik hazel Vivian.
"Mungkin kau bisa membohongi semua orang, tapi kau tidak mungkin bisa membohongiku. Aku tau kau sedang menyembunyikan sesuatu dariku." Vivin menggigit bibir bawahnya dan menunduk dalam.
"Aku melihat Ibuku dan putri tirinya di dalam sana. Aku tidak ingin sampai bertemu dengan mereka apalagi Ibuku. Aku tidak ingin membuka luka lama yang sudah lama aku kubur dalam-dalam." Ujar Vivian menuturkan.
Leon mendesah berat. Leon menarik bahu Vivian dan membawa gadis itu ke dalam pelukkannya. "Jika kau tidak ingin makan di sini dam bertemu dengan mereka, baiklah. Aku tidak akan memaksamu, Kita cari cafe lain saja. Oke," Vivian mengangguk.
BRUGG!!
Saat hendak beranjak dari sana. Tanpa sengaja Vivian bertabrakkan dengan seorang wanita paruh baru dan membuat dompet wanita itu terlepas dari genggamannya.
Vivian yang merasa bersalah segera membungkuk dan mengambilkan dompet milik wanita itu. "Nyonya, maaf saya benar-benar tidak sengaja." Sesal Vivian sembari mengembalikan dompet itu padanya.
Wanita itu diam terpaku menatap sosok gadis yang berdiri dihadapannya. Memperhatikannya mulai dari mata, hidung sampai bibirnya dengan seksama.
Tiba-tiba jantung wanita itu berdegup lebih kencang dua kali lebih cepat dari biasanya apalagi saat menatap sepasang iris hazel milik Vivian. Wanita setengah baya itu tersenyum dan menggeleng.
"Tidak apa-apa, Nak. Lagi pula bukan sepenuhnya salahmu, Bibi juga sedikit terburu-buru."
"Sekali lagi maafkan saya, Nyonya. Dan maaf saya harus pergi sekarang. Leon, ayo aku sudah sangat lapar." Vivian memeluk lengan terbuka Leon dan membawa pemuda itu meninggalkan cafe.
Vivian tidak ingin kelaparan dan tidak bisa tidur hanya karna melihat wanita yang sudah menelantarkannya di cafe tersebut.
Sedangkan wanita yang tidak sengaja bertabrakkan dengan Vivian hanya bisa menatap kepergian gadis itu dengan tatapan gamang. "Jika saja putriku masih hidup, mungkin dia sudah seusia gadis itu."
"Nyonya, Tuan Besar sudah menunggu Anda di dalam." Tegur seorang pri lengkap dengan setelan jas hitamnya. Wanita itu mengangguk.
"Baiklah aku akan menemuinya sekarang,"
.
.
BERSAMBUNG.