Seorang gadis 14th merelakan masa remajanya demi bisa masuk ke organisasi Phantom agar bisa membalas dendam kematian kakaknya. Misi pertama mendekati empat cucu Alexander Starling Gruop.
Demi keberhasilan misi Irish menggunakan apa saja termasuk mempermainkan perasaan targetnya.
Dendam nomer satu, perasaan nomer sekian!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Usu dedek, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hacker yang posesif.
Aku menarik nafas panjang sambil menyandarkan kepalaku ke dinding pintu. Ku coba melegakan pikiranku yang tadi. Baru aku hendak beranjak dari sana, tiba-tiba Aldrik datang menghampiri.
Hacker itu mendorong tubuhku ke dinding pintu toilet. Lagi dan lagi, tubuhku tertahan oleh beratnya lelaki yang berbeda. Tatapan matanya sangar, nafasnya memburu seolah marah atas sesuatu yang sangat besar.
"Apa yang baru saja kau lakukan dengan Zane?!" bentaknya menekan.
"Bukan urusanmu!" jawabku cuek.
Aldrik mencengkram kedua pipiku dengan tangannya. Dia sangat kasar. Tekanan tangannya terasa berat dan menyakitkan. Aku bisa saja menendangnya dengan brutal, namun aku mencoba menahan emosi itu. Dia menekan tubuhku dengan kuat. Tangan kirinya melingkar di pinggulku yang ramping dengan ganas.
Sorot matanya tiba-tiba berubah sayup. Tangannya menyelip paksa ke dalam saku rok ku. Aku terkejut dan menepis tangannya. Di saku itu ada kertas pemberian dari mantan menteri tadi.
"Apa maumu?" Aku berteriak kasar sambil mendorong tubuh Aldrik.
"Kau sudah punya black card sebelumnya di boxing hall. Kenapa kau malah repot-repot membuka restoran? Apa kau kekurangan uang?"
Pertanyaan itu penuh kecurigaan dan tekanan. Aku mengatur nafas agar bisa menjawab tanpa ragu.
"Itu pemberian seseorang yang sangat berharga. Kau tidak berhak bertanya apapun!"
Aldrik kembali mendekat dan memegang bahuku dengan kasar. Tekanan dari ujung kukunya menancap dalam pundakku.
"Apa itu kekasihmu?"
Aku membuang muka. Nafasku terasa panas. Sudut bibirku mulai terangkat. Aku tak menyangka, ternyata Aldrik lelaki yang posesif. Kepribadiannya berubah-ubah. Kadang menunjukan sikap riangnya. Konyol bagai anak kecil, lalu memaksakan kehendaknya. Aku mulai berfikir, jangan-jangan dia berkepribadian ganda.
"Jawaaaabbb!"
Teriakannya menggema di depan wajahku. Aku terdiam beku. Nafasnya memburu panas di wajahku kesal. Ku balas tatapannya dengan tajam. Ku hempas tangannya dari pundakku, dan aku berteriak.
"Aku mendapatkan black card itu dari siapa bukan urusanmu! Lagi pula apa hubunganmu denganku? Aku bekerja membuka restoran karena aku tak ingin bergantung pada nama keluargaku! bukan seperti pemuda dari keluarga Starling yang menyombongkan black card keluarganya, lalu seenaknya menghina orang lain!"
"Tapi aku sudah minta maaf, kenapa kau mengungkitnya?!"
"Lalu kenapa kau menanyakan privasiku? Dari mana aku mendapat black card? Kenapa buka restoran? Itu urusanku, tidak ada sangkut pautnya denganmu!!" Aku menunjuk ke arahnya.
"Sorry... Irish... aku hanya tidak senang melihat kau dengan Zane berdekatan tadi,"
"Apa aku tidak boleh melakukannya? Lagipula siapa kau tidak suka? Apa urusanmu? Dari di meja makan tingkahmu aneh ... kau " Aku menghentikan kalimat.
Nafas beratku memburu gelisah. Hampir aja aku memakinya dengan kata-kata yang berlebihan. Aku mencoba mengatur nafas kembali.
"Sorry ... Aldrik aku terbawa emosi!" Ujarku merendahkan suara.
Mata Aldrik tampak berkaca-kaca. Wajahnya sembab memerah. Aku menundukan pandangan. Rasanya aku bersalah membentaknya dengan keras. Aku berbalik, Aldrik menarik tanganku dengan cepat.
"Irish ... habiskan waktumu 24 jam denganku. Aku juga ingin kau perlakukan aku seperti Zane." Nada bicaranya setengah memelas.
"Dia menawarkan diri?" batinku. "Apa dia benar-benar menyukaiku? Atau karena taruhan itu?"
Aku menepis tangannya dan terdiam beberapa detik. "Oke ... tapi aku tidak suka lelaki yang kasar, kau harus dewasa dan belajar bersikap lembut."
"Sorry... aku akan belajar." ucapnya penuh nada kasihan.
Aldrik memelukku erat. Aku bingung, dia tampak sangat menyedihkan. Tubuhku kaku, tanganku tarik ulur hendak membalas pelukannya, aku ragu. Yang kulihat ini apakah tipu muslihat atau benar-benar perasaannya. Mengingat taruhan yang mereka buat, aku kembali sadar, aku tak ingin tenggelam dalam perasaan yang akan membodohiku.
"Besok pagi, aku akan menjemputmu di sini." Bisiknya pelan di telingaku membuat bulu kudukku meremang.
Aku segera keluar dari pelukannya dan menjauh masuk ke dalam toilet. "Oke ... jam 10. Aku harus membuka restoran dulu, baru bisa pergi."
Aldrik tersenyum sambil menyeka wajahnya yang tampak lembab oleh air mata. Sebelum pergi dia mengecup telapak tanganku yang putih mulus dengan sentuhan manis.
"Aku akan menelponmu, nanti." Ucapnya tersenyum.
Aku hanya mengangguk pelan. Aku hampir lupa, dia adalah seorang hacker internasional yang di perebutkan. Bagaimana mungkin dia tidak bisa melacak nomer whatsapp-ku.
Seperginya Aldrik, aku langsung menutup pintu toilet rapat-rapat. Aku menekan dadaku yang terasa sesak oleh perdebatan tadi. Ku buka kancing kemejaku yang terasa sempit menghalangi dada besarku. Aku duduk di atas toilet dengan gugup. Ku buka perlahan secarik kertas yang di selipkan pak menteri tadi.
"Adam Starling, apa ini dia?"
Aku sempat panik melihat nama di atas kertas itu. Aku teringat tadi Nova menerima sebuah buku dari pak Jojo. Aku bergegas keluar dari dalam toilet menuju meja kasir. Nova melayani para tamu yang memenuhi restoran lalu datang menghampiriku dengan langkah pelan.
Rendy sempat bingung melihatku sedikit panik.
"Irish ... ada apa?"
"Apa pak Jojo menitipkan sesuatu untukku?"
"Kau baru ingat ya?" Tanya Nova dengan nada ketus. "Ini, baca sendiri!" Ucapnya sambil melempar buku tersebut ke atas meja kasir.
Nova memasang wajah penuh kebencian kepadaku. Untuk sesaat aku bingung, kenapa sikapnya tiba-tiba berubah. Setelah melempar buku besar itu dia berlenggang pergi meninggalkan aku dan Rendy. Sikapnya menyisakan tanda tanya.
Hatiku berdecak. 'Ada apa dengannya? Tak biasanya dia begitu. Apa aku membuatnya marah?'
Tampak Nova sangat kesal, dia mengenggam tangannya dengan kuat hingga berdarah. Tapi dia tetap melayani pelanggan dengan senyum palsunya itu. Aku tidak tau, apa yang membuatnya begitu.
Aku tak menghiraukan tingkah Nova yang tampak aneh. Aku berjalan menuju kamar kecil yang ku jadikan markas di dalam restoran itu. Aku duduk di kursi dan meletakkan buku itu di atas meja kaca di depanku.
Perlahan aku membuka lembaran kertas di depanku itu. Benar saja, organisasi tidak ingkar janji. Itu adalah hasil otopsi kakakku yang sengaja di sembunyikan dariku belasan tahun lalu.
Aku membacanya dengan mata yang bergetar hebat. Jari-jariku terasa bergetar menahan emosi. Keringat dingin tiba-tiba keluar dari balik rambut hitamku. Bola mataku liar tak punya tujuan. Laporan itu menunjukan kakak ku di perkosa secara brutal selama lebih dari satu hari. Darahku mendidih.
Yang lebih mencengangkan, para bajingan itu lebih dari satu orang. Di perkirakan ada empat orang yang terlibat. Dan hasil tes DNA dari sperma dan rambut di kemaluan yang tertinggal menunjukan satu nama.
"Adam Starling."
Aku mengepalkan tangan. Kuku jariku terasa menusuk jauh ke dalam lapisan kulit tanganku. Terasa hangat darah yang merembes keluar. Tapi sakitnya tak lagi kurasakan. Aku terus mengeggam tangan mu.
"Aku pasti akan membunuhmu Adam Starling!!!" Pekikku keras.
Aku membunyikan bel agar timku berkumpul ke dalam. Mereka semua bergegas masuk dan menghadap. Hanya Nova yang tampak tak ingin datang. Dia berjalan santai seolah malas-malasan.
"Ada apa sampai memanggil Emergensi?" Katanya sinis.
"Sabtu malam, kita akan melakukan operasi penggeledahan di boxing hall secara menyeluruh. Meyamarlah sebagai tamu Vip, pastikan semua kamar vip di cek. Aku ingin sindikat perdagangan manusia di bawah tanah di hancurkan total malam itu!"
"Siap ... ketua!" Jawab mereka serentak.
"Nova ... kan akan menjadi pemandu saat penggeledahan. Aku akan mengalihkan perhatian keempat cucu Starling yang ada di sana!"
"Heh ... memang itu kan yang kau sukai?" dengus Nova mengejek.
"Apa maksudmu? Apa yang ku sukai dari misi ini?"
"Kalau kau memang tidak suka, apa yang kalian lakukan di toilet barusan, Irish?"
Nova membentakku kasar sambil mengancungkan jarinya ke wajahku.
"Kau membual demi misi, padahal semalaman kau tidur di rumah Zane. Apa yang kau lakukan? Kau membuka padamu untuk informasi?"
"Jaga bicaramu!" Aku mengertakan gigi menahan emosi.
"Kenapa? Kau malu? Kau menjadikan misi ini sebagai dendam pribadi, bukan untuk organisasi! Hanya kau anggota Phantom yang pertama meminta imbalan atas kinerjanya. Hanya sedikit informasi yang kau dapatkan, kau malah mendapat restoran ini."
"Ini hanya restoran kedok, kau tau itu?!"
"Lalu bagaimana dengan semua kemewahan yang kau nikmati? Apa anggota lain punya mobilitas sepertimu?"
"Aku tak menyangka kau benar-benar cemburu dengan pemberian dari organisasi padaku, Nova."
"Kau ... memanfaatkan organisasi hanya untuk kepuasan pribadimu!"
Nova menunjuk ke arahku dengan emosi yang menyimpang, aku menangkap jari itu dengan cepat dan menurunkannya. Ku gemgam keras tangannya hingga berpilas.
"Kau meragukanku, Nova?"