Halo guys! ini karya pertama aku, jadi jika masih banyak typo mohon di maklumi yah😄
Bagaimana jadinya jika kalian mempunyai saudara-saudara yang sangat menyayangi juga memanjakanmu tapi juga sangat posesif padamu. Tentu saja kalian pasti sangat senang karena selalu di sayangi dan di perhatikan tapi kalian juga pasti agak kesal karena keposesifan mereka bukan?
Itulah yang di rasakan oleh Seorang gadis cantik bernama AQUEENA PUTRI REVANO di adalah putri satu-satunya di keluarga REVANO. Dia memiliki Tiga orang Abang yang sangat menyayangi tapi juga posesif padanya. Di tambah lagi dia menikahi seorang pria tampan yang sudah menyukainya sejak pertama kali bertemu dengannya, dia juga sangat mencintai dan menyayangi Queen tapi jangan lupakan keposesifannya pada Queen. Dia adalah ALVIANO DAVID DANENDRA.
Penasaran dengan ceritanya?
Silahkan buka dan baca ceritanya
Jangan lupa like dan komen yah 😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shofiyyah Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Orang yang Saling Memikirkan
Di Restoran
Pintu lift menutup tepat di depan mata Alviano.
“Queen…” gumamnya lirih, tangan kanannya mengepal.
Wajahnya masih datar seperti biasa, tapi kalau dilihat lebih dekat, rahangnya menegang. Matanya mengejar angka lantai yang turun di panel lift, menandakan Queen sudah benar-benar meninggalkan tempat itu.
Alviano membalikkan badan, menatap dingin ke arah wanita yang tadi sengaja datang, Nadine.
Wanita itu berdiri santai seolah datang tanpa niat mengganggu. Tapi Alviano tahu... semuanya bukan kebetulan.
“Aku cuma ingin menyapa,” ujar Nadine dengan suara lembut dan gaya santai yang dibuat-buat. “Nggak salah kan kalau aku mampir?”
Alviano tak menjawab. Dia melangkah cepat melewati Nadine.
“Kamu Nggak berubah ya, Vian… masih dingin banget,” gumam wanita itu di belakangnya. “Tapi ternyata kamu sekarang punya wanita lain.”
Langkah Alviano terhenti. Ia menoleh pelan. Sorot matanya menusuk.
“Pergi, Nadine.”
Nada suaranya rendah, tapi cukup tegas untuk membuat wanita itu terdiam.
Tanpa menunggu jawaban, Alviano kembali masuk ke dalam lift service, menekan tombol ke bawah.
Lobi restoran
Langkah kaki Queen terdengar ringan, meski hatinya tidak. Rasa tak nyaman masih menempel kuat. Ia tidak ingin terlihat cemburu, tapi melihat Nadine berdiri santai dan berbicara akrab di depan Alviano cukup untuk menusuk bagian hati yang selama ini ia pura-pura abaikan.
Kemudian Dia menelpon sopir dari kediamannya
Beberapa menit kemudian, mobil hitam milik keluarganya sudah terparkir. Queen melangkah masuk ke dalamnya, tanpa berkata banyak.
Tepat saat mobilnya meninggalkan area rooftop restaurant itu, lift utama terbuka. Alviano keluar tergesa.
Kepalanya menoleh cepat ke segala arah, mencari sosok gadis itu.
Kosong.
Tidak ada Queen.
Riko tidak ikut kali ini. Alviano sendiri yang ingin lebih “private” dalam waktu makan siangnya bersama Queen. Tapi sekarang ia menyesal, karena satu kelengahan, Queen memilih menjauh.
Ia menatap layar ponselnya. Tak ada pesan masuk.
“Kamu di mana?”
Ia kirim satu pesan.
Lalu kedua.
“Tolong, jawab aku.”
Alviano menghela napas berat.
Untuk pertama kalinya, ia merasa... panik.
Dan yang membuatnya panik bukan karena Queen marah, justru karena Queen tidak menunjukkan apa-apa.
Dan Alviano tahu, itu jauh lebih berbahaya.
Di Perjalanan
Mobil melaju stabil di jalanan sore itu, melewati deretan pohon dan gedung-gedung tinggi kota. Queen duduk di pojok jok belakang, menyandarkan kepala ke kaca jendela tanpa berkata apa-apa.
Pandangannya kosong menatap keluar. Wajahnya biasa saja, tidak menunjukkan raut kesal atau marah. Tapi pikirannya sibuk.
Sibuk mencoba memahami apa sebenarnya yang ia rasakan.
Kenapa dia begitu ingin pergi tadi?
Kenapa kehadiran wanita bernama Nadine itu... membuatnya risih?
Queen menghela napas pelan, lalu meraih ponsel dari tas kecilnya.
[To: Slavina]
Vin, lo sibuk nggak?
Baru beberapa detik kemudian, ponselnya bergetar.
[Slavina]
Gue baru kelar kelas. Kenapa?
Queen menatap layar beberapa detik, jari-jarinya mengetik perlahan.
[Queen]
Gue abis makan siang sama dia.
Terus ada cewek yang kayaknya deket banget sama dia.
Gue nggak ngerti, Vin. Gue bukannya cemburu, tapi gue ngerasa… nggak enak aja.
Tangan Queen berhenti sebentar, lalu lanjut.
[Queen]
Dan anehnya, gue malah milih pergi.
Beberapa detik, belum ada balasan. Mobil masih melaju tenang. Sopir di depan tidak bersuara.
Lalu layar ponsel menyala.
[Slavina]
Lo ngerasa nggak nyaman karena ada yang ganggu perasaan lo. Bukan harus selalu karena suka, tapi karena... lo mulai peduli.
Queen diam membaca pesan itu.
Peduli?
Dia menarik napas panjang. Tidak membalas.
Mungkin... Slavina ada benarnya. Tapi dia juga belum siap mengakuinya.
Queen mematikan layarnya, lalu kembali menatap keluar jendela.
Hari mulai mendung. Dan entah kenapa, perasaan mendung itu juga menggantung di dalam dirinya.
Tapi seperti biasa, wajah Queen tetap tenang. Bahkan saat hatinya mulai bertanya-tanya,
“Kenapa... gue ngerasa kayak gini, padahal kita nggak sedekat itu?”
Di sisi lain
Mobil hitam itu melaju tenang di bawah cahaya senja Jakarta. Tapi tidak dengan isi kepala Alviano.
Kali ini Alviano sendirian. Dan dia lebih tidak tenang dari biasanya.
Queen pergi.
Tanpa bertanya. Tanpa menoleh.
Tanpa… menunggu penjelasan.
Alviano menutup mata sesaat, mengulang adegan barusan.
Nadine.
Dia benar-benar muncul di saat yang buruk.
Mencoba menyapa, mengajak bicara seperti biasa,
Dan itu, ternyata, cukup untuk menghancurkan suasana.
“Seharusnya aku tidak diam saja tadi...” gumamnya pelan.
Mata tajamnya terbuka kembali, menatap kosong ke arah jendela mobil.
Queen. Gadis itu bukan siapa-siapanya. Tapi perginya… menyisakan rasa tidak nyaman di dada. Seolah sesuatu yang penting baru saja dia lewatkan.
Ada sisi dari gadis itu yang membuatnya ingin tahu lebih jauh. Ingin membuatnya tetap tinggal.
Dan sekarang?
“Bodoh.” Suaranya pelan, nyaris seperti ejekan untuk diri sendiri.
Mobil mulai memasuki area apartemen pribadinya. Biasanya dia merasa tenang tiap kali sampai rumah. Tapi kali ini, hening yang menyambut malah membuat pikirannya makin bising.
Tangannya mengangkat ponsel, membuka kontaknya dan berhenti pada nama yang dia beri satu huruf Q
Namun, jari-jarinya tak juga mengetik.
Apa yang harus dia bilang?
"Tadi itu cuma salah paham."
"Dia bukan siapa-siapa."
"Kamu seharusnya nunggu."
Tidak. Queen bukan tipe yang bisa dibujuk dengan alasan biasa.
Apalagi jika dia sudah memilih pergi diam-diam. Itu tandanya... kecewa.
Bukan karena cemburu Alviano sadar Queen belum sejauh itu. Tapi karena mungkin, gadis itu menganggap dia sama saja seperti lelaki lain yang menyimpan masa lalu yang belum selesai.
Padahal...
Satu-satunya yang Alviano ingin mulai sekarang adalah sesuatu yang baru.
Dan entah kenapa, bayangan Queen selalu ada di situ.
Di Kamar Queen
Langit malam menyala lembut dari balik jendela kamar gadis itu. Tirai putih melambai pelan tertiup angin dari balkon.
Queen duduk bersila di tempat tidur. Rambutnya dikuncir asal, menggunakan baju crop top dan celana pendek di atas lutut. Ponsel ada di samping bantal, tak dibuka sejak tadi.
Slavina sempat membalas chatnya tadi sore, tapi Queen belum membalas lagi.
Bukannya tidak ingin. Tapi... dia sendiri masih belum yakin dengan perasaannya.
Bukan marah.
Bukan cemburu.
Hanya... ada rasa asing yang sulit dijelaskan.
Perasaan aneh yang muncul begitu melihat sosok wanita itu berdiri di samping Alviano.
Sikap Alviano memang tetap dingin seperti biasa. Bahkan tidak menanggapi wanita itu dengan antusias. Tapi Queen tetap memilih pergi. Bukan karena drama, tapi... semacam refleks.
“Ngapain juga gue harus mikirin dia?” gumamnya pelan.
Tapi pertanyaan itu... tidak punya jawaban yang benar-benar meyakinkan.
Tangannya mengusap pelan layar ponsel, membuka chat terakhir dari Alviano yang belum dibalasnya.
"Kamu dimana.", "Tolong jawab aku."
Queen tersenyum miris. Dia tidak berniat membalasnya
Dia lalu menatap langit-langit kamarnya. Dan untuk pertama kalinya hari itu... dia tidak tahu harus memikirkan siapa, kecuali Alviano.
Di Apartemen Alviano
Pemandangan kota Jakarta malam hari terbentang indah dari balik dinding kaca apartemen penthouse milik Alviano. Tapi dia tak memperhatikannya.
Pria itu duduk di kursi santai, lengan bersilang, gelas kopi yang sejak tadi tidak disentuh mulai mendingin di meja kecil.
Satu-satunya sumber cahaya hanya lampu meja di pojok ruangan.
Alviano memejamkan mata sebentar. Tapi bukannya tenang, pikirannya justru makin ramai.
Bayangan Queen pergi begitu saja masih terus menghantui.
Dan yang membuatnya resah: dia tidak bisa menjelaskan kenapa itu mengganggunya.
Dia bukan tipe pria yang sibuk memikirkan wanita—apalagi yang baru dia temui beberapa kali.
Tapi Queen... selalu ada di pikirannya sejak pertemuan pertama.
Ada sesuatu yang mengganggu egonya. Entah tatapan gadis itu, sikap spontan yang kadang kekanak-kanakan tapi menggemaskan... atau keberanian Queen untuk pergi tanpa penjelasan hari ini.
Dia membuka kembali layar ponselnya.
Kontak Queen masih sama hanya huruf "Q".
Dan sekali lagi, jari-jarinya berhenti di atas layar.
Tak jadi mengetik.
Bukan karena dia takut ditolak. Tapi karena dia tahu Queen tidak butuh omong kosong.
Alviano menyandarkan kepala ke sofa, menatap lampu gantung yang redup.
Hening.
Lama.
Tapi jauh di dalam diamnya, satu nama tetap bergema dengan pelan tapi pasti.
Queen.