Membaca novel ini, bisa menyebabkan shampo di rumah cepat habis.
Kehidupan Natahania berubah total setelah diperistri Elang Adhitama Gunardi, pria yang merupakan pemilik rumah tempatnya bekerja. Nathania yang polos, harus bisa mengimbangi gaya hidup Elang yang jauh berbeda dengannya. Dia kebingungan menentukan rasa, yang tak pernah Elang tunjukan dengan jelas. Kecewa, Nathania memutuskan pergi.
Apa yang Nathania lakukan berhasi membuat Elang sadar. Pria itu berusaha mencari dan membawanya kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Komalasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehangatan Elang
Malam kian larut ketika Elang masih berdiri tegak dan termenung, di dekat jendela kaca ruang kerjanya.
Menerawang keluar dan terus berfikir.
Masih terbayang dengan jelas dalam ingatannya, ketika Nathania menangis dihadapannya dengan histeris. Ia terlihat sangat kesakitan. Dan Elang adalah penyebab dari semua rasa sakit yang didapatkan oleh Nathania.
Ada desiran aneh yang menyapa relung hatinya kini.
Sesaat kemudian, Elang menoleh kearah meja kerjanya. Ada beberapa E Mail dari staf kepercayaannya di perusahaan yang belum sempat ia buka.
Adhitama Scientific kini tengah mangalami sedikit kemunduran. Karena dalam satu tahun ini, persahaan itu hanya mendapat tender besar sekitar dua atau tiga kali. Selebihnya hanya berupa tender recehan saja.
Sedangkan, untuk proses produksi sendiri biayanya cukup tinggi. Semua itu karena mereka selalu menggunakan bahan baku dengan kualitas yang terjamin.
Persaingan dengan perusahaan-perusahaan kecil yang menawarkan harga produk yang jauh lebih murah, memang cukup mempengaruhi laju produksi di perusahaan milik Elang itu.
Mereka yang tetap mempertahankan diri atas nama kualitas, jelas harus bekerja lebih ekstra. Karena nyatanya, selera pasar kini telah banyak berubah.
Akan tetapi, berita baiknya adalah proyek pembangunan apartemen di pusat kota telah selesai di kerjakan. Begitu pula dengan supermarket bahan bangunan dengan cabang yang kesekian, yang kebetulan berada diluar kota kembang itupun telah rampung. Tinggal menunggu acara gunting pita saja.
Suara merdu Daniel Bedingfield, masih megalun lembut di dalam ruangan dengan dinding berwarna merah hati itu.
Elang kini tampak duduk di belakang meja kerjanya, dengan tangan yang menopang keningnya sendiri.
Ingatannya tiba-tiba melayang kepada seraut wajah manis dan lembut, yang dulu telah membuatnya sangat tergila-gila. Ivana.
Ivana dan Nathania. Mereka memiliki kontur wajah yang hampir mirip. Meskipun sebenarnya, Nathania jauh lebih manis jika dibandingkan dengan mantan pacar Elang itu.
Elang pun memijit keningnya berkali-kali. Kepalanya terasa sakit.
Sudah lewat tengah malam, namun ia belum merasakan kantuk sama sekali.
Semakin lama, ia semakin teringat kepada Nathania.
"Sedang apa gadis itu saat ini?" fikirnya dalam hati.
Terakhir ia meninggalkannya siang tadi, gadis itu dalam keadaan yang sangat kacau.
Elang mengeluh panjang.
"Aah, bodoh sekali aku! Kenapa aku meninggalkan Nathania dalam kondisi seperti itu?" gerutunya dalam hati.
Tanpa berlama-lama, ia pun meraih kunci mobilnya dan berniat untuk kembali ke apartemennya.
Menjalankan mobilnya dengan cukup kencang, ia membelah jalanan kota kembang yang sangat lengang malam itu. Hingga akhirnya ia pun sampai di apartemennya.
Begitu keluar dari dalam lift, ia terheran-haran.
Suasanannya gelap. Tak ada satupun lampu yang dinyalakan. Satu-satunya cahaya berasal kaca jendela, yang membuat ruangan itu tampak sedikit temaram. Bahkan Elang pun sempat tersandung sesuatu, dan untungnya ia tidak sampai jatuh.
Nathania masih ada di atas sofa. Ia mengangkat dan memeluk kedua lututnya, seraya menyandarkan lengan dan kepalanya pada sandaran sofa itu. Matanya terpejam.
Elang pun duduk dihadapannya. Menatapnya untuk sejenak.
"Tania ...." bisik Elang.
Gadis itu membuka matanya perlahan. Namun, tak lama kemudian, ia kembali memejamkan matanya.
Tanpa banyak kata-kata, Elang pun membopong tubuh gadis itu dan membawanya ke dalam kamar putihnya.
Ia pun membaringkan tubuh semampai itu di atas tempat tidur besarnya dan menyelimutinya.
Sesaat, ditatapnya lagi wajah itu. Wajah. yang manis dan hampir tak pernah ada polesan make up sama sekali. Setidaknya itu yang Elang tahu saat Nathania masih bekerja di kediamannya.
Rupanya Elang sudah memperhatikan gadis itu sejak lama. Mungkin karena kemiripan Nathania dengan Ivana, yang telah membuatnya memperhatikan gadis itu.
Elang tidak tahu dengan kondisi gadis itu saat ini. Akan tetapi, ia tampak sangat lemah.
Keesokan paginya.
Seorang dokter keluarga pun Elang datangkan ke apartemennya untuk memeriksa kondisi Nathania.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Elang ketika dokter itu baru keluar dari kamar. Mereka pun berjalan berdampingan menuju lift.
"Dia kelelahan. Dan sepertinya dia juga tidak makan dari kemarin," jawab sang dokter seraya membetulkan letak kacamatanya.
"Tidak ada yang serius, kan?" tanya Elang lagi.
"Saya tidak melihat ada sesuatu yang janggal. Hanya saja, ia agak sedikit ... um, apa ya? Mungkin terlalu banyak fikiran atau ...." dokter itu tidak melanjutkan kata-katanya. Karena Elang pun sudah faham dengan maksudnya.
Elang mengangguk. "Iya, saya faham itu," sela Elang.
"Ya. Sejauh ini semuanya baik," jawab sang dokter .
"Syukurlah, kalo begitu," ucap Elang lega.
"Pastikan saja dia cukup makan. Dan tentu saja makanan yang bergizi. Dan istirahat yang cukup. Saya sudah menuliskan resep multivitamin untuknya," ucap sang dokter seraya masuk kedalam lift.
Elang pun mengangguk dan menyalami dokter itu.
Selesai darisana, Elang kembali ke dalam kamar.
Didapatinya Nathania tengah duduk termenung dengan tatapan kosongnya. Rambut kepangnya pun acak-acakan.
Elang pun menghampirinya dan duduk dihadapannya. Duduk di tepian tempat tidur itu, ia melipat kaki kirinya di atas kasur dan membiarkan kaki kananya menjuntai kebawah.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Elang. Tatapan matanya lekat tertuju kepada gadis itu. Gadis yang kini hanya terdiam dan tidak menoleh sedikitpun padanya.
Ya, Nathania masih diam seribu bahasa. Ada banyak sekali yang ia fikirkan kini. Dan itu membuatnya kebingungan.
Nathania tidak tahu, apa yang harus ia lakukan kini. Ia sangat sedih dan tidak ingin bicara kepada siapapun. Termasuk pada pria yang kini ada dihadapannya.
Elang masih belum mengalihkan tatapan matanya dari wajah gadis itu. Entah kenapa, ia tidak pernah merasa bosan untuk memperhatikan wajah dengan bibir merah muda itu.
Meskipun saat ini wajah itu tampak sedikit pucat, namun itu tidak mengurangi rona teduh dari tatapan matanya.
"Dokter bilang kamu harus banyak makan. Aku sudah menyuruh Susi untuk menyiapkan makanan untukmu," ucap Elang. Tumben kali ini, ia bicara dengan nada yang sedikit santai.
Namun, sayang sekali. Jangankan menjawab, bahkan Nathania tidak menoleh sama sekali kepadanya.
Elang menghela nafas panjang. Ia melirik arloji di pergelangan kirinya. Sudah hampir jam 9 pagi.
Seharusnya hari ini ia pergi ke pabrik untuk memantau proses produksi disana. Namun, entah kenapa karena ia tidak ingin meninggalkan Nathania sendirian.
"Tania, kamu harus makan!" ucap Elang lagi dengan penekanan suara yang sedikit dalam.
Dan lagi-lagi, Nathania tidak mempedulikannya.
Kesal dengan sikap gadis itu, akhirnya Elang pun menarik paksa selimut yang menutupi tubuhnnya. Nathania terkejut.
Belum selesai gadis itu dengan keterkejutannya, Elang menariknya dengan paksa agar ia bangkit dari tempat tidur.
Dengan sedikit dipaksa, Elang membawa gadis itu ke dalam kamar mandi. Menyalakan kran dan ia mengguyur seluruh tubuh gadis itu dengan shower.
Nathania terpekik. Ia kaget sekaligus kedinginan.
Elang terus mengarahkan shower itu pada seluruh tubuh gadis itu, hingga seluruh pakaiannya pun basah kuyup.
Nathania mendekap tubuhnya sendiri. Ia menggigil. Namun, Elang tidak juga berhenti mengguyurnya.
"Hentikan!" pekik Nathania seraya menggigil kedinginan.
Setelah gadis itu bersuara, barulah Elang menghentikan aksi konyolnya itu.
Dengan cekatan, ia melepas seluruh pakaian basah Nathania tanpa terkecuali, hingga gadis itu benar-benar polos.
Elang pun meraih handuk berwarna putih itu, dan menyelimuti tubuh Nathania yang masih menggigil. Pria itu kembali membopong tubuh si gadis kembali ke dalam kamar, dan menurunkannya di dekat tempat tidur.
Nathania berdiri seraya memegang erat handuknya. Ia masih merasa kedinginan.
Elang pun memeluknya dengan hangat untuk beberapa saat lamanya. Dan Nathania hanya terdiam dalam pelukan pria yang sudah membuat hidupnya terasa jauh lebih kacau itu.
Ia hanya memejamkan matanya, apalagi ketika Elang yang tanpa sadar mencium kening gadis itu.
"Berpakaianlah!" bisiknya. Ia pun melepaskan pelukannya.
"Aku ada urusan dulu sebentar. Setelah berpakaian nanti segera makan!" suruhnya. Ia seperti seorang kakak yang perhatian terhadap adiknya sendiri.
Nathania pun mengangguk pelan.
Elang keluar dari kamar itu dan menghubungi seseorang.
Sementara Nathania segera berpakaian.
...🍀🍀🍀...
Hari semakin siang, ketika Nastya sudah siap dengan T shirt dress nya. Entah akan pergi kemana lagi gadis itu siang ini. Yang pasti, Nastya ingin jalan-jalan hari ini. Namun, sayang karena sepertinya semua orang tengah sibuk dengan akttivitasnya masing-masing.
"Mbak Titiek, kamu melihat kak Elang?" tanya Nastya kepada gadis yang tengah sibuk dengan wortel di tangannya.
Gadis berkepang dua itupun menggeleng. "Tidak, Non. Sepertinya sejak semalam pak Elang tidak di rumah. Karena tadi pagi saya lihat kamarnya juga masih rapi" jawab gadis yang usianya tidak jauh beda dengan Nastya itu. Ia pun kembali mengupas wortel-wortel yang akan dipasak siang ini.
"Kemana dia?" gumam Nastya. Ia pun beranjak dari dapur dan menuju ruang tamu.
Duduk sebentar di sofa dan mengeluarkan ponselnya. Ia menghubungi seseorang yang tiada lain adalah sang kakak tercinta, Elang.
"Kakak dimana?" tanya gadis berambut keriting pendek itu.
"Di pabrik, ada apa?" terdengar suara Elang dari seberang sana.
"Mbak Titiek bilang, kakak tidak tidak tidur di rumah semalam," Nastya memainkan ujung rambutnya dengan manja.
"Iya. Semalam kakak tidur di apartemen. Ya sudah kakak sedang sibuk. Dan ingat, jangan keluyuran!" pesan Elang. Ia pun menutup sambungan teleponnya sebelum Nastya selesai bicara.
Nastya senyum-senyum sendiri. Ia tahu, jika Elang memutuskan untuk tidur di apartemennya, itu artinya ia baru selelsai 'bermain' dengan seorang wanita.
Bagaimana gadis itu bisa tahu? Ia pernah tanpa sengaja memergoki Elang disana dengan seorang wanita yang entah siapa, Nastya pun tidak mengenalnya.
Terdengar suara mobil berhenti di halaman depan. Nastya pun mengintip dari balik tirai penutup kaca.
Sebuah sedan hitam terparkir disana. Dan turunlah seorang pria dengan perawakan yang tidak beda jauh dengan Elang. Ia memakai jas dengan turtleneck hitam di bagian dalamnya. Rambutnya tersisir rapi kesebelah kanan. Ia melangkah seraya melepas kacamata hitamnya dan menuju ke dalam rumah.
Nastya tersenyum melihat pria itu. Apalagi setelah pria itu masuk.
"Hey, makaroni," sapanya dengan tawa pelan.
Pria itu terkejut. Ia tidak menyadari keberadaan Nastya yang tengah berdiri di dekat kaca jendela.
Pria itu hanya tersenyum.
Roni dialah orangnya. Usianya sekitar 30 tahun. Ia adalah tangan kanan Elang. Ia yang selalu Elang percaya untuk menangani hal-hal yang tidak bisa Elang kerjakan sendiri.
Roni, pria dengan kulit sawo matang Wajahnya tidak setampan Elang, akan tetapi ia memiliki kharisma tersendiri.
Dan Nastya, memang selalu memanggilnya dengan sebutan makaroni.
"Sedang apa kamu disitu?" tanyanya seraya memasukan kacamata hitamnya ke dalam saku jasnya.
"Aku fikir kak Elang yang datang," jawab Nastya dengan wajah malas. Ia hanya berbasa-basi, karena ia pun tahu Elang tengah berada di pabriknya. Ia pun duduk di sofa dengan wajah manjanya.
Roni menatapnya sejenak. Pria 30 tahun itu memang sudah cukup akrab dengan adik semata wayang Elang itu. Ia pun ikut duduk.
"Tumben tidak pergi," Roni dengan wajah kalemnya.
Nastya menggeleng pelan. Raut wajahnya agak masam.
"Kenapa? Aku yakin, pak Elang pasti tidak mengizknkanmu menyetir sendiri lagi, kan?" tanya Roni dan diakhiri dengan senyum khasnya. Senyum yang manis, senyuman khas seorang playboy.
Nastya mengeluh pelan. Ia memutar bola matanya.
Roni pun faham dengan ekspresi seperti itu.
"Temani aku jalan-jalan. Daripada aku harus pergi dengan sopir. Lebih baik aku pergi denganmu," pinta Nastya dengan manjanya.
Roni melirik gadis itu dengan tidak melepas senyumnya sedikitpun. Gadis yang memang sudah terbiasa bersikap manja padanya.
"Kenapa tidak minta ditemani pacarmu saja?" Roni keheranan.
Nastya tampak kesal. Bibir mungilnya tampak agak sedikit maju. "Dean sedang sibuk. Dan ia hanya punya waktu untukku ,ketika ia memang sedang ingin menyempatkan waktunya. Menyebalkan, bukan? Aku serasa tidak punya pacar," keluh Nastya.
"Mungkin dia tahu mana yang jauh lebih penting," celetuk Roni.
Sontak ucapannya itu membuat Nastya melotot sempurna. Bola mata kebiruan itu terlihat dengan sangat jelas.
Dan Roni menyukai mata itu.
Pria itu tertawa pelan. Ia pun segera berdiri dari duduknya, diiringi tatapan heran Nastya. "Kamu mau kemana?" tanya gadis itu heran.
"Aku kemari bukan untuk ngobrol denganmu. Tapi karena pak Elang menyuruhku membawa berkas-berkas penting dari ruang kerjanya," jawab Roni seraya berlalu menuju ruang kerja Elang dilantai dua.
"Jadi, kamu tidak akan menemaniku jalan-jalan?" seru Nastya.
"Kapan-kapan, sekalian kutraktir makan," jawab Roni masih dengan senyum kalemnya. Ia pun melanjutkan langkahnya.
Nastya mendengus kesal. Ia kembali duduk. Ia tidak tahu harus melakukan apa sekarang. Ia tidak bisa keluar karena Elang sudah melarangnya untuk keluyuran tadi.
Nastya sebenarnya adik yang sangat penurut.
Tidak berselang lama, Roni kembali dengan beberapa map di tangannya.
Ia menghentikan langkahnya dan menatap gadis yang sedang cemberut itu.
Ia pun tersenyum.
"Ayo, ikut denganku," ajak Roni. "Aku hanya perlu menyerahkan berkas-berkas ini saja, setelah itu kita bisa keluar. Kemanapun yang kamu mau. Tapi izin dulu pada pak Elang. Aku tidak mau terkena masalah gara-gara kamu."
Seketika raut muka Nastya berubah. Senyum cerianya kembali hadir di wajah manisnya.
"Sebentar, aku ambil tas dulu," ucapnya seraya berlari ke kamarnya di lantai dua.
Roni menatapnya dengan semyumnya. Ia pun menggeleng-gelengkan kepalanya.
Nastya gadis yang sungguh manja. Terkadang ia pun sangat gemas terhadap gadis itu. Terlepas dari sikap angkuhnya, akan tetapi Nastya adalah gadis yang patuh. Terlebih pada peraturan Elang.
Dan Roni sudah mengenal gadis itu cukup lama. Dari semenjak ia bekerja untuk Elang. Mungkin sekitar 2 sampai 3 tahun yang lalu. Karena itu, ia sudah cukup faham dengan karakter Nastya yang sebenarnya. Karena ia melihat Nastya yang ada di rumah. Bukan Nastya yang sedang berkumpul dengan teman-temannya.
semangat selalu dalam menulis
cerita ini bikin baper banget