Dinginnya malam di puncak musim dingin menampar Gu Mingyue dengan kenyataan yang kejam. Alih-alih kehangatan, sang suami justru menyuguhkan cawan berisi racun demi bisa bersanding dengan perempuan lain. Di ambang kematiannya yang tragis, Mingyue menyadari bahwa ketulusannya selama ini hanyalah sebuah kesia-siaan.
Kini, takdir memberinya kesempatan kedua. Terlahir kembali di masa lalu, Gu Mingyue bersumpah demi sisa napasnya: ia tidak akan pernah lagi menjadi istri penurut yang mencintai Adipati Yu'an, Zhao Yuchen.
Langkahnya kali ini membawa Mingyue bertemu dengan Shen Mufeng—Jenderal Perang Penakluk Utara yang terkenal dingin, tegas, tajam, dan anti-wanita. Menolak mengulang tragedi yang sama, Gu Mingyue membulatkan tekad: ia akan menikahi sang Jenderal Agung dan membiarkan mantan suaminya hancur dalam penyesalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaDww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TigaPuluh—Malam Intim Kedua
Derap langkah keduanya berjalan beriringan. Suara erangan kesakitan dan hantaman tongkat dari halaman depan paviliun perlahan terdengar samar, berganti dengan keheningan saat Shen Mufeng menuntun istrinya menjauh menuju kediaman samping.
"Nyonya, Anda malam ini cukup berani," ucap Shen Mufeng dengan nada rendah di bawah temaram cahaya rembulan.
Helaan napas panjang Mingyue terdengar halus. Gadis itu sedikit menunduk, melirik pergelangan kakinya yang kini mulai berdenyut nyeri akibat ketegangan sejak tadi. "Terima kasih atas pujiannya, Tuan."
"Nyonya juga terlihat sangat licik," tambah Shen Mufeng lagi, sebuah pengakuan jujur atas kecerdasan taktis istrinya.
Mingyue justru tertawa renyah mendengar hal itu. Tepat saat tawa kecilnya mereda, mereka baru saja berbelok ke arah koridor kediaman samping. Di ujung sana, Fan Li'er telah berdiri siaga dan membuka pintu kediaman lebar-lebar untuk menyambut kepulangan sang Tuan dan Nyonya Besar.
Mereka segera melangkah masuk ke dalam kamar pengantin baru mereka yang hangat. Shen Mufeng dengan sabar menuntun istrinya hingga duduk dengan nyaman di tepi ranjang. Sementara itu, sang Jenderal sendiri memilih untuk duduk di sebuah kursi kayu yang berada tak jauh dari sana.
Gu Mingyue menatap suaminya, lalu melontarkan pertanyaan dengan nada menggoda yang berani, "Apakah Tuan tidak ingin tidur bersamaku?"
Shen Mufeng sempat terdiam sesaat. Alih-alih langsung menjawab, pria itu menuangkan secangkir air dari teko yang tersedia di atas meja lalu meminumnya perlahan untuk meredakan ketegangan yang entah mengapa mendadak muncul.
Tepat pada saat itu, Fan Li'er masuk ke dalam kamar sembari membawa baskom perunggu berisi air hangat serta sebuah nampan kecil yang memuat perban dan obat luka untuk mengurus kaki Gu Mingyue yang terluka.
Melihat kedatangan pelayan itu, Shen Mufeng bangkit dari duduknya. "Li'er, letakkan saja di meja. Biar aku yang mengobati Nyonya sendiri," titah Shen Mufeng dengan nada suara yang rendah namun sarat akan otoritas yang tidak bisa dibantah.
"Li'er, sediakan air hangat dulu. Aku ingin membersihkan tubuhku," pinta Gu Mingyue dengan senyuman manis yang tersungging di bibirnya.
"Baik, Nyonya." Fan Li'er menunduk hormat lalu mundur beberapa langkah, keluar dari kamar dan meninggalkan sepasang suami istri itu dalam keheningan yang intim.
Mingyue menoleh sedikit, melirik suaminya yang masih berdiri tak jauh dari meja. "Tuan, bisakah Anda membantuku melepas ikat rambut ini?" tanyanya dengan suara rendah. Senyumnya mengembang tipis, memancing reaksi sang Jenderal.
Shen Mufeng menghela napas pendek. Ia tidak menolak. Langkah kakinya yang mantap membawanya berjalan ke tepi ranjang, mengambil posisi tepat di belakang tubuh Mingyue. Dengan jemari tangannya yang besar dan terbiasa memegang senjata, ia mulai membantu melepaskan ikatan rambut istrinya secara perlahan. Satu demi satu hiasan rambut serta tusuk konde dilepaskan dengan hati-hati, hingga perlahan sanggul yang rapi itu terurai bebas, menjatuhkan rambut hitam legam Mingyue yang halus ke bahunya.
Aroma lembut dari minyak rambut bercampur dupa pengharum kamar tercium samar dari helai-helai rambut Mingyue yang gelap legam. Shen Mufeng mengembuskannya perlahan, membiarkan wewangian itu memenuhi dada bidangnya sebelum ia dengan lembut memutar tubuh sang istri agar menghadap ke arahnya. Tatapan tajam sang Jenderal turun, mengunci sepasang mata Mingyue yang kini tengah menatapnya dengan sayu penuh daya pikat.
"Bersihkan dirimu. Kita akan bicara lagi nanti," ucap Shen Mufeng datar.
Hanya itu. Setelah mengucapkan kalimat pendek tersebut, pria itu—lagi dan lagi—memilih untuk berbalik dan melangkah pergi keluar, meninggalkan Mingyue seorang diri di dalam kamar pengantin mereka.
Mingyue mengembuskan napas panjang sembari bersandar pada tiang ranjang. Sebelah sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman kecut. Trik menggoda pertamanya malam ini ternyata gagal total di hadapan sang Jenderal Agung yang berhati batu.
Hampir satu dupa telah habis terbakar di sudut kamar. Gu Mingyue baru saja selesai bersiap dengan gaun tidurnya yang sewarna putih salju tanpa bordiran. Rambut panjangnya dibiarkan terurai bebas, dan aroma wewangian segar dari air bekas mandinya kini tercium samar di udara.
Tepat pada saat itu, pintu kembali terbuka. Shen Mufeng melangkah masuk ke dalam kamar, kini sudah berganti pakaian dengan jubah tidur longgar berwarna senada.
Sebuah senyuman manis seketika terbit di bibir Mingyue. "Suamiku ternyata kembali dengan sangat cepat," ucapnya dengan kerlingan mata yang sengaja dibuat jenaka.
Namun, alih-alih memedulikan godaan ringan tersebut, Shen Mufeng justru berjalan lurus menghampiri meja. Pria itu mengambil nampan perunggu yang tadi ditinggalkan oleh Fan Li'er, lalu membawanya ke tepi ranjang. Ia berlutut dengan satu kaki di hadapan istrinya, meraih pergelangan kaki Mingyue dengan hati-hati, lalu mulai membasuh luka itu dengan air sebelum mengoleskan salep.
Mingyue menatap puncak kepala suaminya yang tengah fokus mengobatinya. Sudut bibirnya kian terangkat. "Tuan rupanya sangat peduli padaku," bisiknya manja.
Shen Mufeng masih tetap menundukkan kepalanya, fokus membalut kaki yang cedera itu dengan gerakan yang sangat telaten. "Tentu saja. Bagaimanapun juga, Nyonya adalah istri saya sekarang," sahutnya dengan nada datar namun sarat akan tanggung jawab.
Gu Mingyue tersenyum samar mendengarnya. Matanya bergerak memperhatikan garis wajah tegas sang suami dari dekat. Dalam ingatan kehidupan lalunya, Jenderal Agung Shen Mufeng dikenal sebagai pria berdarah dingin yang seumur hidupnya tidak pernah menikah, bahkan tidak memiliki seorang selir pun.
Namun di kehidupan kali ini, setelah takdir berputar arah, pria yang berada di hadapannya ini ternyata memiliki kepribadian yang jauh lebih menarik dan berlapis daripada rumor yang beredar di luar sana.
Shen Mufeng kembali berdiri tegak. Ia melangkah untuk meletakkan nampan perunggu ke atas meja, sebelum akhirnya berbalik dan duduk di sisi ranjang, tepat di samping Mingyue. Kedekatan yang mendadak ini entah mengapa membuat Mingyue tiba-tiba merasa gugup. Tidak ada lagi godaan jenaka yang keluar dari belahan bibirnya; ia mendadak kehilangan keberaniannya.
"Istirahatlah. Besok pagi kita harus pergi ke Kediaman Gu," ucap Shen Mufeng, memecah keheningan dengan suaranya yang berat.
Gu Mingyue membuka mulutnya sedikit gagap, mencoba menguasai diri. "Tentu, Tuan."
"Hanya saja, aku harus menghadap Kaisar lebih dahulu. Tadi malam ada perintah mendesak untuk menghadap beliau besok pagi saat sidang istana dimulai," lanjut Shen Mufeng, menjelaskan situasinya secara terbuka.
"Tentu, Tuan," jawab Mingyue lagi, mengangguk patuh.
Shen Mufeng menghela napasnya berat, ada guratan rasa bersalah yang samar di wajah tegasnya karena harus membiarkan istrinya pergi sendiri terlebih dahulu. "Aku akan menyusul sesegera mungkin setelah urusan istana selesai."
"Terima kasih, Tuan."
Mendengar jawaban yang teramat formal dari Mingyue, pria itu mengalihkan pandangan lurusnya, menatap lekat ke arah sang istri yang duduk di sampingnya. Sepasang tatapan mereka kembali bertemu, saling mengunci cukup lama dan dalam dalam jarak yang begitu dekat. Keheningan malam yang sunyi itu seketika menyisakan desir lembut yang asing di dada mereka masing-masing.
...----------------...
Iseng aja bikin karena lagi suka nonton drachin 🦭
Semoga kalian menyukainya