bagaimana jika seorang wanita mendapat kesempatan untuk berada dekat dengan seorang taipan berwajah tampan? mengasuh seorang CEO tampan yang pikirannya kembali ke masa anak umur 8 tahun? punya kepribadian aneh? dan kadang wajah tampan itu bertranformasi menjadi imut dan selalu meluluhlan hati seorang karin..... sampai sampai bisa menembus jiwa kejombloan karin, lalu bagaimana jika pria itu kembali ke pemikiran dewasanya? bagaimana kehidupan duo sejoli itu nantinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak_na, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KERAGUAN
Karin pov
Ini terlalu menyebalkan. Aku marah dan sangat ingin menemui Devan dan memprotes tindakannya yang terlalu ‘berlebihan’ terhadapku.
Kemarin.... Pria brengsek itu menciumku.... Padahal aku sangat berharap bisa melakukan yang pertama kalinya dengan seorang pangeran tampan berduit dan baik hati..... Dan tuhan tidak mengabulkan itu! Yah walaupun terkabul hanya setengahnya saja sih.... Tapi di mataku pria itu sangat, sangat jahat!
Dia melihatku seperti seekor rubah yang melihat kelinci sedang memainkan mainannya. Aku bisa melihat tatapan jenaka, yang seolah olah aku hanya sebuah lelucon di benaknya!
Betapa sialnya diriku harus terjebak dengan raja iblis yang tampan..... Tuhan kau tau kan jika aku sangat lemah terhadap sesuatu yang memiliki keunggulan fisik dan paras! Lalu kenapa engkau membiarkanku terjebak dengannya!
Dan selalu inilah yang kupikirkan selama 2 hari ini. Aku bosan dan ingin segera kabur secepatnya, tapi selain karena penjagaan dan rumah ini sudah kembali ramai. Jauh dalam hatiku, ada sebuah rantai yang menahan untuk tidak kabur dan bertahan di sini, mungkin tak apa jika sedikit lebih lama..... Lagi pula Lea sudah memulai studi kuliahnya. Dan otomatis dia tidak akan selalu berada di apartemen itu.
Dan masalah pekerjaan pun, uang yang ku kumpulkan dari menjaga Devan, sang-sangat cukup untuk aku dan Lea makan. Uang kuliah pun ekstra dibayar oleh pihak Devan, tanpa kusadari ternyata pak fet mengambil inisiatif untuk mendanai Lea hingga mandiri.
Senang? Tentu saja, karena ini mengurangi kekhawatiranku terhadap masa depan adik kecilku itu. Yah.... Sepertinya Lea bukanlah lagi adik kecil yang ku kenal. Dia sekarang sudah besar dan mampu menjaga dirinya sendiri di luar sana, walaupun aku tak ada di sisinya sekarang. Selama 5 bulan aku dan Lea hanya berkomunikasi lewat telepon semata. Aku benar-benar merindukannya di saat seperti ini.
Dia pasti akan mengutuk Devan dengan kata-kata mutiaranya kemudian mendukung apa pun keputusanku. Andaikan saja adikku ada disini sekarang....
Aku memandang keluar balkon rumah Devan. Pemandangannya sungguh menakjubkan seperti biasa, apa lagi ketika memandang ke bawah, tepat di bawah sana berjejeran koleksi tanaman hias Devan. Mulai dari yang besar ke yang kecil. Dengan bentuk pohon yang bermacam. Cantiknya lagi, ada lampu yang menyinari di bawahnya, biru muda silver dan kuning adalah warna yang mendominasi.....
Walau sudah 5 bulan di sini, aku benar-benar tidak akan pernah bosan memandangnya.
Aku merasakan sesuatu yang menyentuh tepat pinggangku, aku terkejut dan berusaha membalikkan badan melihat siapa orang yang berani menyentuhku, tapi sayang aku gagal berbalik karena sesuatu tersebut sudah menjalar ke perutku.
Aku merasakan tubuhku di peluk dari belakang. Kehangatan menjalar dan seolah-olah masuk dalam setiap pori-pori kulit. Aku berani bersumpah jika ini sangat nyaman, untuk orang yang selalu mendambakan perlindungan seperti ku, tapi.....
Aku hanya bisa menampik setiap rasa tidak pasti ini. Mengklaim jika hal yang diberikan orang yang melakukan ini sekarang-sebuah kehangatan, adalah sebuah kesalahan besar. Ingat posisimu Karin....
Aku yakin pasti jika ini adalah perbuatan Devan. Tak perlu berpikir lama, jika hanya dia yang berani melakukan ini padaku. Aku sedikit memberontak-kecewa dengannya. 2 hari lamanya dia mengurungku tanpa kepastian di dalam istananya. Bagaikan seorang tawanan, aku hanya diperbolehkan makan dan tidur. Tidak boleh lelah, aku hanya boleh bersenang-senang dengan apa yang dia berikan padaku.
Tapi pikiranku tetap saja lelah memikirkan ini semua. Walaupun sekarang Lea aman. Tapi aku ingin bertemu dengannya. Jerry dan ayahnya juga.
Aku berusaha memberontak sebanyak mungkin. Menggeser posisiku ke kanan dan kiri, kemudian mencoba melepas tangannya yang sedari tadi memeluk perutku. Aku juga nyam-maksudku risih dengan kepalanya yang di tumpukan pada bahuku begitu saja.
Hembusan Nafasnya membuat kulit leherku geli. Lingkaran tangannya yang ada di perutku membuatku tidak terbiasa. Aku terbiasa dengan kehadiran Devan di sampingku, tapi tidak dengan perlakuannya.
Apa dia tidak tahu seberapa frustrasinya diriku saat ini? Ditinggal tanpa kepastian? Tanpa keterangan yang menyatakan dia akan segera kembali dalam waktu dekat?
“jadi ini kelakuanmu? Stelah meninggalkan seorang gadis sendiri selama 2 hari penuh tanpa kabar? Kemudian kembali memberikan harapan? Seharusnya aku tidak perlu memikirkan ini semua, dan pergi saja dari sini”
Kata-kata itu terlontar begitu saja dari mulutku. Aku mengerti jika ini agak kasar-mengancam seseorang. Tapi siapa peduli jika itu sebuah kenyataan? Hatiku sedikit bersalah mengatakannya. Karena yang dilakukan Devan selanjutnya adalah melonggarkan pelukannya pada tubuhku yang dingin.
Karin, tenangkan dirimu, apa yang dilakukan Devan hanya bentuk permainan yang akan menyakitkan jika kau menganggapnya serius!
Aku menguatkan hatiku dengan kata-kata ini. Walaupun aku tak bisa melihat reaksi dari Devan, tapi aku bisa menerka jika dia pasti sed- tidak! Dia hanya mempermainkanku sama seperti sebelumnya!
Aku membalikkan badan ketika Devan sudah melepaskan pelukannya dari tubuhku. Kuberanikan untuk melihat pada wajahnya, dan apa ini! Aku terkejut setengah mati melihat wajah lelah itu adalah wajah Devan Antonio saat ini!
Kantung mata yang tebal. Tatapannya yang sayu dan tak setajam biasanya. Kemudian bibirnya yang selalu berwarna ungu agak gelap. Berubah pucat. Aku menggigit bibirku, berpikir, apa yang sebenarnya Devan lakukan dikantornya hingga membuatnya seperti ini? Ini..... Kondisinya lebih mengerikan dari pada karyawan yang sedang lembur semalaman!
Pakaian Devan juga sudah tidak berbentuk sekarang kemejanya acak-acakkan, dan dasinya sudah tidak di posisi semestinya.
“Aku berusaha, untuk datang secepatnya..... Tapi pekerjaan sialan itu tak bisa selesai dalam waktu 1 hari, dan, dan jika aku mengabarimu Karin, mungkin aku hanya akan memikirkanmu sepanjang hari, dan tidak akan menyelesaikan pekerjaanku tepat waktu, maaf.... Dan jangan pergi lagi, lain kali aku akan menyelesaikannya dengan cepat. Jadi kita bisa menghabiskan waktu sebanyak mungkin”
Aku memejamkan mata mencerna setiap kata yang diucapkan Devan. Dan inti dari perkataannya itu mengatakan bahwa ‘aku bekerja mati-matian hanya untuk menghabiskan waktu lebih lama denganmu’
Aku menghela nafas, memijat kepalaku yang agak berdenyut. Ini membuat rasa bersalah dihatiku bertambah. Dan kali ini.... Aku yang harus minta maaf. Walaupun kemungkinan masih ada keraguan, tapi kali ini aku akan mencoba mengerti tindakannya.
Bagi wanita mana pun, pasti akan senang mendengarnya. Tapi bagiku yang tahu bagaimana Devan membohongiku selama beberapa bulan terakhir ini.... Membuat keraguan itu masih muncul.
Kali ini aku memandang kembali wajah Devan yang tampak sedih. Jika dia berakting mungkin manusia satu ini akan memenangkan piala Oscar tahun ini dan mengalahkan nominasi terfavorit. Tatapannya yang sayu dengan wajah yang ditekuk. Dia bahkan tak berani memandang wajahku sekarang. Kenapa aku merasa seperti melihat anak anjing yang sedang sedih karena tidak menerima jatah makan malamnya?
“baiklah aku memaafkanmu” reaksi Devan selanjutnya. Dia segera melihatku dengan tatapan yang berbinar dan memampangkan senyuman yang memukau. Aku sedikit meringis karena seperti biasanya, hatiku tidak tahan dengan makhluk yang memiliki keunggulan fisik dan penampilan.
Dan akhirnya selesai, aku sedikit lega melihatnya kembali mendapatkan semangat hidup. Dan tidak ini gawat! Aku melihat Devan yang ingin menghamburkan diri padaku untuk dipeluk! Dengan cepat aku mendorong tubuhnya menjauh.
Tapi yang tidak kusangka adalah Devan langsung tersungkur ke belakang. Apa dia selelah itu? Atau aku yang bertambah kuat?
“ma-maafkan aku” ucapku khawatir, mungkin saja dia akan marah?
Segera saja aku membantu Devan untuk berdiri dengan mengulurkan tanganku, dan yang tidak kusangka..... Dia malah menarikku!
Kyaa!
Aju terjatuh sama seperti Devan. Dan anehnya aku tidak merasakan sakit sama sekali. Aku masih memejamkan mata menanti beberapa rasa sakit yang mungkin akan muncul, tapi sayangnya pantatku seperti mendarat di sesuatu yang empuk. Tidak mungkin lantai terasa seperti kapas bukan?
Aku membuka mataku melihat apa yang sebenarnya terjadi.
“Apa yang kau laku-“ aku.... Tidak bisa bergerak!!!!
Devan memelukku dengan sangat erat. Dengan aku berada duduk di atas pahanya, dia memerangkapku dengan tangan-tangannya itu. Kemudian, kepalanya dia sandarkan pada dadaku. Sesekali Devan mengendus leherku yang membuatku kaku dan juga sangat terkejut. Bahkan dia juga sudah berani meraba punggungku!
Aku melebarkan mataku ketika dia menggosokkan wajahnya pada bahu dan leherku. Aku geli namun juga terkejut. Kaku dan tak bisa berbuat apa-apa. Dia membuatku tidak berdaya.
Aku merasakan salah satu tangan Devan sudah mulai meninggalkan punggungku. Namun jejak hangat dari tangannya masih terasa.... Bahkan membuatku mendamba-apa aku sudah mirip seperti jalang sekarang?
Ketika Devan meraih salah satu tanganku dan membawanya pada wajah lelahnya. Devan kemudian melakukan sesuatu seperti..... mencium telapak tanganku. Bagian depan, jari-jariku kemudian beralih pada pergelangan tanganku. Aku senang sekaligus gelisah. Perlakuan Devan sudah menunjukkan jika dia memuja kehadiranku dalam hidupnya. Seolah-olah aku adalah ratu yang sudah lama ia tunggu. Tatapannya yang merindu selalu ditujukan padaku. Membuatku merasa senang karena membayangkan betapa mungkin setiap detiknya Devan memikirkanku.
Aku gelisah dan rasa kecewa itu masih ada dalam hatiku. Apa yang harus aku lakukan dengan semua ini? Untuk membentengi hatiku yang selalu rapuh dan tak berdaya, yang selalu mendamba perlindungan dari seseorang yang kuat. Dan ketika aku menemukan lelaki yang tepat, kepribadian dan rumor yang kudengar membuatku bimbang.
Aku tak ingin berlama dalam kenyamanan ini, karena bisa jadi jika suatu saat nanti, ini akan hilang dan berganti. Devan.... Apa yang kau perbuat sekarang? Memberikanku harapan seperti yang kau lakukan pada wanita-wanita yang ada di luar sana?
Aku membiarkan Devan berbuat apa yang dia inginkan pada tubuhku. Pikiranku saat ini kosong. Semuanya begitu rumit. Aku tidak bisa berpikir untuk lepas namun juga tak ingin menetap.
“Karin....” aku tersadar dari lamunanku ketika mendengar suara parau yang dalam. Aku menyipitkan mata meneliti Devan yang ada dihadapkanku saat ini. Dia terlihat seperti.... Entahlah aku juga tak tahu apa yang terjadi dengan perubahannya saat ini. Jika aku bisa mendeskripsikannya, matanya kembali tajam, rahangnya mengetat, dan jakunnya seolah naik turun, dan aku juga melihat Devan mengatur nafasnya seolah olah menahan sesuatu.
“aku, aku akan istirahat sekarang” apa mungkin suara Devan selalu seberat ini?
“eh?” Devan menggendongku seperti tuan putri. Dan meletakkan tubuhku di atas ranjang besarnya. Kemudian pria itu berjalan menuju pintu kamar dan meninggalkanku sendiri di dalam kamanya. Bahkan untuk yang terakhir. Dia tidak mengucapkan selamat malam sama sekali? Ini aneh, apa yang terjadi pada pria itu?
“Mungkinkah dia sedang sakit?”
hrsnya diceritakan jg gmn Karin diselamatkan, ungkapan cinta Devan, permintaan ma'af Karin, gmn bucinnya Devan..
lha ini tiba2 sdh punya anak usia 5 th..😢😥
ternyata tokohnya semya menyukai Karin kecuali Arthur..
akhirnya Jerry mampus jg, pasti de. Jhon atau suruhannya yg membunuhnya..
kasihan Devan, dia sdh berusaha berubah malah Karinnya salah paham & akhirnya pergi drnya..
yg sabar ya Devan..