Bagaimana jadinya jika kamu harus menikah dengan musuh kamu, itu yang di rasakan Haziqa Elvarreta Shanum atau kerap di sapa Hazi.
Seorang Dokter umum di salah satu rumah sakit di Jakarta ,anak kedua dari pasangan Kiyia Luqman dan Nyai Khodija.
Hazi harus menikah menggantikan sang kakak, apakah Kehidupan Hazi, akan baik- baik saja setelah menikah, tunggu updatenya hanya di novel ini yaa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana Kusumaningrum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bukan Istri Pengganti 31
Setelah pergantian shift, sambil menunggu suaminya Hazi pergi dengan Aminah dan Lyora ke tempat yang di maksud tadi, saat minta izin suaminya.
" Ramai juga " gumam Lyora
" Iya,hari terakhir diskon" jawab Aminah.
" pantes ramai, ehhh tapi itu ada yang kosong sana aja yuk" ucap Lyora yang kemudian menarik Hazi yang sedari tadi hanya diam.
Setelah mereka mendapatkan tempat duduk, Lyora mengkode ke arah Aminah, Hazi yang sedari tadi melamun, entah mengapa sejak Arras mengumumkan pernikahan mereka berdua, Hazi lebih banyak melamun .
" Loe masih pikiran ucapan orang- orang di igd tadi ya?" tanya Aminah, sambil mengengam tangan Hazi.
" enggak kok" Jawab Hazi dengan senyuman, namun Aminah dan Lyora tau senyuman itu hanya agar orang sekitar Hazi tidak terbebani dan agar ia. terlihat baik - baik saja.
" ada apa?" tanya Lyora yang memang tidak tau kejadian yang menimpa sahabatnya.
" enggak kok" sahut Hazi.
" itu lohh, banyak banget yang gosip di depan wajah Hazi langsung, kalau dia itu perebut pacar sahabatnya sendiri dan tentunya yang di maksud loe" jawab Aminah yang memberi tahu Lyora, karena ia juga muak ketika sahabatnya di katain perebut pacar sahabatnya.
Namun Aminah tidak bisa melawan perkataan mereka karena selalu di cegah oleh Hazi, Hazi juga memilih diam dari pada membuat keributan dan akan berdampak pada reputasi suaminya.
" Dihhhh.....sotoy banget mereka, kenapa juga loe enggak bela Hazi sih minah" sahut Lyora.
" Loe tau sendiri sahabat kita satu ini, lebih mentingin orang lain dari pada dirinya sendiri, jadi dia lebih mentingin reputasi suaminya dari pada harga dirinya " jawab Aminah.
" Apaan sih, aku gapapa... lagian kan mereka enggak tau yang sebenarnya terjadi " jawab Hazi.
" terus loe diam aja gitu, loe di fitnah, di hina diem aja? lawan dong ziii, gue tau loe merasa bersalah atas apa yang di lakuin kakak loe, tapikan yang ngelakuin kakak loe bukan loe" sahut Lyora yang cukup gemas dengan Hazi.
" Tapi preputasi mas Arras juga penting, bukannya udah biasa ya... aku di gosipin yang enggak - enggak, ya sudah sih... selama enggak ganggu pekerjaan aku, aku enggak masalah kok " Jawab Hazi.
Lyora dan Aminah, membuang nafasnya kasar setelah mendengar jawaban Hazi yang masih terus menerus mementingkan orang lain dari pada dirinya sendiri.
" Kak Arras tau tentang ini?" tanya Lyora.
Hazi menggelengkan kepalanya, " Semoga aja enggak tau, aku cuma enggak mau jadi beban siapa pun termasuk mas Arras, Kalian jangan kasih tau mas Arras ya....,plisss aku mohon " jawab Hazi.
" Zi.... Dokter Arras itu Suami loe loh..., bukannya loe selalu bilang ke kita terutama Lyora, kalau ada apapun nomer satu suami kalau sudah menikah dan tugas istri sebenarnya hanya satu nurut sama suami selagi enggak maksiat, kalau kayak gini loe makan ucapan loe sendiri dong" sahut Aminah.
" Tapi beda minah, aku cuma gantiin kakak ku, kalau suatu saat nanti kakak ku balik dan minta Mas Arras aku akan kembalikan mas arras ke mbak mila, karena abi dan umi jodohin mas arras buat mbak Mila, bukan buat aku" jawab Hazi dengan senyum yang penuh ke palsuan tersebut.
" Apa loe enggak cinta sama suami loe?" tanya Aminah kembali.
Sedangkan tanpa Hazi sadari, Lyora sedari tadi melakukan telfon suara dengan Arras, bukannya ingin cepu, Namun Lyora ingin menyelamatkan rumah tangga sahabatnya dengan mantannya.
" Aku enggak munafik, rasa itu ada... walau belum besar, tapi aku sedang berusaha untuk enggak bergantung dengan mas Arras, aku takut suatu saat, kalau mbak Mila atau siapapun ambil mas Arras dari aku, aku enggak tau menjalani hidup ku bagaimana lagi " jawab Hazi yang mulai jujur dengan perasaanya pada sahabatnya.
" Hazi..... loe denger ya... Kak Arras itu Suami loe bukan kakak loe, jelas - jelas tanpa kakak loe sadari dia sudah memberikan Kak Arras ke loe, apa jangan- jangan loe cuma mau permainin kak Arras yaa?" sahut Lyora.
" enggak, enggak gitu " sahur Hazi dengan cepat.
" entah mengapa feeling aku selalu bilang, kalau suatu saat nanti mbak Mila akan ambil mas arras dari aku, aku juga enggak tau, kenapa aku punya fikiran dan feeling kayak gitu, lagian abi sama umi pasti kalau masih hidup juga akan melakukan segala cara buat mbak mila agar mbak mila bahagia" imbuh Hazi.
" Mungkin kemarin mbak mila belom sepenuhnya mengenal mas arras, makanya dia kabur dan tidak berfikir panjang " imbuh Hazi kembali.
" Astaga..... Hazi, Kak arras itu Suami loe, dan dia hak loe bukan wanita lain termasuk adiknya" sahut Lyora yang mengetahui sikap Atthaya pada Hazi, Karena Bunda sofia meminta tolong Lyora untuk berbicara dengan Atthaya.
Sedangkan Arras mengecek pekerjaannya sambil mendengarkan percakapan antara istrinya, mantan pacarnya dan juga salah satu pegawainya.
" Jadi kamu juga sudah mencintai ku dan aku akan berusaha untuk tidak ada orang lain di antara kita, termasuk kakak mu sendiri Hazi " gumam Arras melihat ke arah bingkai foto mungil yang memperlihatkan foto milik sang istri.
Brakkkkk....
Pintu ruangan Arras di dobrak seseorang dari luar, Arras terkejut dan tidak lama Xylan dengan nafas yang tersengkal masuk.
" loe " geram Arras, siapa lagi kalau bukan Xylan yang mendobrak pintu ruangan Arras.
" kenapa sih? pelan kan bisa " gerutu Arras lalu mematikan panggilan dari Lyora dan mengucapkan terima kasih pada mantan pacarnya tersebut.
" Adik ipar loe, di bawah pingsan" jawab Xylan yang memberi tahu jika Hanzza berada di bawah dan sedang pingsan.
" hah? adik ipar gue, Hanzzah maksud loe?" sahut Arras yang tidak ingin percaya begitu saja dengan Sahabatnya itu.
" Siapa lagi, orang sebelum pingsan dia cuma tanya istri loe dan ruangan loe, kata suster yang ada di respsionis.
" Boong dia enggak bilang mau ke sini" sahut Arras.
"Ya... mana gue tau, tadi gue pas baru datang terus lihat adik ipar loe pingsan , ya... gue langsung kasih tau loe, istri loe juga lagi enggak ada di igd " balas Xylan.
" Dia lagi pergi sama temennya, Ya udah gue lihat dulu " ujar Arras kemudian bangkit dari kursi kebanggaannya dan pergi meninggalkan sahabatnya .
" Habis itu gue di tinggal gitu aja? emang kurang ajar loe" sahut xylan kemudian menutup pintu ruangan Arras dan menguncinya.
Sesampainya di igd benar saja Arras melihat Hanzzah, yang sedang tergulai lemah dengan wajah pucatnya yang sedang di bantu minum oleh salah seorang suster.
" Biar saya saja sus" ujar Arras mengambil alih gelas yang di minum Hanzzah.
" Mas Arras " gumam Hanzzah .
Arras tersenyum lalu meminta suster untuk memberika hasil pemeriksaan adik iparnya, yang tiba- tiba saja bisa sampai di jakarta, tanpa ada yang memberi tahu dirinya dan juga Hazi.
" Kamu kenapa ke sini enggak bilang? sama siapa kesini?" tanya Arras pada adik iparnya.
" Sendiri, umi Aisyah sama abi kholid sedang ada undangan di Jakarta, aku sendiri di rumah, muak dengan mbak mila" jawab Hanzzah.
" Mbak Mila?" tanya Arras .
" Iya, mbak mila sudah balik seminggu yang lalu, dia minta izin buat nikah dengan pilihannya, tapi aku muak mbak mila selalu saja menjelek- jelekan mbak Hazi" sahut Hanzzah.
" Kamu tenang, mas lihat hasil lab kamu dulu, sama kabarin mbak Hazi dulu ya... mbak Hazi lagi keluar sama teman- temannya, kamu udah makan belum?"ujar Hanzzah.
" Belum ,uang aku habis buat beli tiket pesawat " jawab Hanzzah.
Arras terkekeh dan meminta tolong suster yang menangani adik iparnya untuk memberikan adik iparnya makanan.
Arras kemudian keluar di igd dan bertemu dengan Dokter yang menangani Hanzzah di resepsionis " bagaimana hasilnya ?" tanya Arras.
" Gejala tifus dok" jawab Dokter tersebut.
" Okey terima kasih, tolong juga siapakan kamar ya..." sahut Arras .
" Baik dok"
Hanzzah hendak kembali menemani adik iparnya, namun saat berbalik ia melihat sepasang suami istri yang sedang duduk di salah satu publik space di rumah sakit tersebut.
Sang istri sedang hamil besar, sang suami tampak beseri- seri sambil mengusap perut buncit sang istri,tampak begitu romantis.
" Aku punya ide"