NovelToon NovelToon
AYAH TIRI UNTUK ANAKKU

AYAH TIRI UNTUK ANAKKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Duda / Komedi
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: La Rumi

Erina Hutomo, single mom yang harus berjuang sendiri mengatasi kekacauan hidup--anak sulung yang beranjak remaja dan banyak ulah, anak bungsu yang autis, tetangga yang selalu nyinyir karena dia janda--hingga tumpukan pekerjaan yang terus menghantuinya di kantor.

Sampai suatu ketika, petir terbesar menyambarnya--Erina divonis mengidap kanker otak, dan usianya tak akan lama.

Di tengah badai, Erina tak sempat menangis. Garis akhir itu seperti bom waktu. Dan ia memilih mati-matian mempersiapkan segalanya, terutama untuk buah hati yang paling dicintainya. Ia hanya ingin anak-anaknya hidup layak dan bahagia--bahkan setelah ia tak ada lagi di dunia.

Termasuk, memberi mereka sosok ayah yang bisa menjaga dan menyayangi mereka seperti darah daging sendiri, sampai akhir.

Berhasilkah Erina menuntaskan misi dan harapan terakhirnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La Rumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

22. BERMAIN API

"Alvin! Bangun! Buka pintunya! Sekarang!"

Baru saja Alvin menutup teleponnya, gedoran keras terdengar dari pintu berukir besar di sisi barat kamar, dan suara Kanjeng Ibunda Ratu Titisan Dewi Durga menembus lantang dan marah--membuat kepala dan organ tertentu Alvin makin berdenyut parah.

"ALVIN!"

"Aduh... iya, sebentar...!"

Alvin tadinya ingin pergi ke kamar mandi dulu untuk menghilangkan ereksi akibat mimpi basah yang belum tuntas, tetapi panggilan berang Andini seketika mengurungkan niatnya. Ia tahu jika tak segera memenuhi keinginan Kanjeng Ibunda Ratu, masalah lebih besar akan menimpanya--ia mungkin akan diseret dan dijadikan tumbal pesugihan di Gunung Kawi supaya Andini tak lagi punya pewaris merepotkan sekaligus bisa pensiun dini dengan tenang, sebab sudah dijamin kekayaannya tak akan habis hingga tujuh turunan.

Tak punya pilihan, Alvin pun berjalan sambil mengangkang dan membuka pintu kamarnya dengan wajah sekusut gumpalan benang layang-layang.

"Kamu pasti sudah dapat kabar itu, kan?"

Berkebalikan dengan putranya, Andini justru terlihat segar, cantik--nyaris sempurna. Meski waktu sudah menunjukkan pukul tiga pagi, tatanan rambut dan kimono tidur ungunya tak kusut sedikit pun. Tak ada tanda mengantuk di sepasang netra cokelatnya--yang justru kini terlihat membara, dan ekspresinya kentara murka.

Alvin mengangguk muram.

"Ya... baru saja. Tapi Mama jangan khawatir, aku akan segera menyelesaikannya..."

Andini mengernyit--kerutan di keningnya yang seputih pualam bertambah dalam saat melihat tonjolan di bagian depan dan bawah kimono putranya.

"Kamu..."

Alvin menyadari cara bicara dan tatapan ibunya. Ia pun membungkuk untuk menyembunyikan aib dan meringis--persis pemain sepak bola yang anunya habis ketendang lawan secara tidak sengaja.

"Selesaikan dulu itu--dasar bocah nakal!" bentak Andini, wajahnya merah padam. "Push up seratus kali, sekarang!"

"Aku ke kamar mandi aja, Ma...," rengek Alvin dengan suara serak dan muka memerah.

"PUSH UP--SEKARANG!"

Teriakan Andini membuat Alvin langsung tiarap di lantai dan push up sebanyak seratus kali--persis tentara yang mendapat hukuman dari jenderal tertinggi.

Selesai push up, Alvin kembali berdiri dengan napas tersengal, keringat bercucuran, dan tubuh agak gemetar--tetapi setidaknya, si burung pelatuk sudah kembali meringkuk di sarang, tak lagi dalam posisi siap terbang.

Andini melirik dan mendengus jijik.

"Ikut ke ruang kerja Mama--sekarang!" perintahnya.

Alvin melangkah terseok-seok di belakang Andini, keduanya menyusuri beberapa lorong sebelum sampai di ruang kerja pribadi Andini di sayap selatan lantai dua mansion.

Adrian secara mengejutkan sudah duduk di salah satu kursi--tampak dingin dan mengintimidasi. Seperti ibunya, sama sekali tak ada tanda mengantuk di wajah menawan Adrian meski ia baru bangun dan mengenakan kimono tidur merah darah.

"Jelaskan!" Adrian tanpa ragu memerintah setelah Alvin duduk di kursi tak jauh darinya.

"Itu fitnah!" jawab Alvin gusar. "Aku sama sekali tak melakukan seperti yang dituduhkan--"

"Lalu apa yang sebenarnya kamu lakukan?" Andini sudah duduk di belakang mejanya dan kini memandang tajam Alvin seakan hendak mengulitinya hidup-hidup. "Laporan itu diperkuat bukti rekaman CCTV--kamu jelas-jelas menarik paksa lengan wanita yang meronta dan menangis itu..."

"Iya, tapi bukan untuk memaksanya pergi ke hotel atau memperkosanya--gila apa?" Alvin memijat pelipis yang uratnya mulai menonjol akibat tekanan batin dan kemarahan. "Waktu itu aku mau membawanya pergi ke rumah sakit... Mama tahu Erina mengidap tumor otak, tapi saat itu ia keras kepala tetap bekerja, tak mau ke dokter untuk lebih lanjut diperiksa..."

Andini dan Adrian sama-sama mengangkat alis, membuat keduanya semakin mirip sebagai ibunda ratu dan pangeran pewaris.

"Kalian tak percaya?" Alvin menatap marah ibu dan kakaknya, ekspresinya juga menyiratkan luka. "Aku bukan lelaki macam itu...! Aku pewaris keluarga Hermawan yang berbudi baik dan terpandang, darah dan sifatku sama seperti kalian!"

Alis Andini dan Adrian serentak terangkat kian tinggi--hingga nyaris menyentuh puncak dahi.

"Bisa-bisanya bicara begitu setelah Mama tadi memergoki kamu..."

Andini tak meneruskan kalimatnya, ekspresinya seakan mau muntah.

"Itu--tak sengaja. Dan normal!" bantah Alvin, meski mukanya kembali semerah tomat. "Aku bukan anak kecil lagi, Ma, dan ini pukul tiga pagi... wajar kan kalau aku mimpi..."

"Cukup!"

Adrian memotong penjelasan Alvin, kentara tak mau membahas perkara apapun selain laporan dan skandal pelecehan seksual yang kini dengan sialnya menimpa Alvin.

"Perkara ini tak boleh berlanjut lebih jauh," tegas Adrian. "Jika serangan sudah dijatuhkan, kita harus melawan. Api ini harus segera dipadamkan sebelum menjalar dan menjadi kebakaran besar yang merepotkan... akan kukerahkan tim pengacara terbaik kita untuk membereskan masalah ini secepatnya--jangan sampai berkas laporannya terdengar media apalagi berlanjut sampai meja hijau, repot sekali kalau kinerja perusahaan dan nilai saham Harmoni Group sampai merosot gara-gara skandal murahan ini!"

"Ya... pengacara kita pasti bisa membereskannya dengan mudah--jujur tuduhan itu bodoh dan lemah," Alvin membuang napas kasar dan menggeleng jengkel. "Meski rekaman itu tak ada suaranya, ahli digital forensik juga bisa menerjemahkan apa yang aku dan Erina bicarakan saat itu. Erina juga bisa jadi saksi yang mematahkan tuduhan tak berdasar itu..."

"Kamu yang bodoh," Adrian mencela tanpa hati sembari mengutak-atik ponselnya sendiri. "Bisa-bisanya dengan mudah diserang masalah tak penting begini. Buang-buang tenaga dan waktu--yang justru menjadi tujuan utama orang itu..."

"Pengalihan perhatian?" Andini menyilangkan lengan di dada dan menatap tajam Adrian.

Adrian mengangguk.

"Derek jelas sedang mengulur waktu. Dia sengaja membuat Alvin sibuk mengejar ekornya sendiri daripada mengendus jejak kotor penggelapan di perusahaan Dasim yang coba disembunyikannya selama ini..."

"Cara bicaramu itu Kak--memangnya aku anjing pelacak," tegur Alvin seraya membeliak.

"Ya, memang," tukas Adrian sinis. "Karena itu kamu mau repot-repot jadi manajer di gudang suram itu--untuk mencari dan mengumpulkan bukti korupsi yang dilakukan adik kandung Dasim dan membuat Dasim hampir bangkrut. Sekarang, sudah seberapa banyak bukti kuat yang kamu dapatkan?"

Alvin meraih ponselnya sendiri dan menggulir layarnya cepat.

"Aku sudah berhasil mendapatkan beberapa bukti berupa data pengadaan dan penjualan yang tak sesuai, selisih stok dan mutasi mencurigakan..."

"Bukti utama?" tuntut Adrian tanpa basa-basi.

Alvin terdiam sejenak.

"Itu..."

Adrian dan Andini kompak menghela napas panjang dan memegang kening.

"Pembukuan itu pasti kudapatkan--beri aku waktu!" pinta Alvin dengan ekspresi dan suara keras.

"Kita tak punya waktu lagi, Alvin," tegur Andini. "Derek sudah selangkah di depan--ia pasti akan segera memindahkan atau melenyapkan bukti utama itu agar tak bisa ditemukan. Dan kalau sampai itu terjadi--"

"Tak akan terjadi," tegas Alvin. "Derek sampai berani melaporkanku ke polisi meski tuduhannya lemah dan mudah dipatahkan--itu tanda dia sedang panik dan aku sudah berada di jalur yang benar. Dugaanku tentang tempat persembunyian bukti utama itu pasti tak keliru..."

"Lalu kapan kamu bisa memastikan dugaan itu tepat--dan membawa bukti itu ke kantor polisi?" sela Adrian tajam.

"Secepatnya," sahut Alvin serius. "Tetapi untuk mempermudah jalanku mendapatkannya dan membuat Derek lengah... bagaimana kalau kita sedikit mengikuti permainannya?"

Adrian kembali menaikkan alisnya.

"Kamu mau bermain api?"

Alvin menyeringai.

"Kakak suka tantangan, kan? Mau membantuku?"

***

1
Shamira Zee
Udah dibilang jangan ngurus langsung vin yanh ada kamu ambyaaarr
Shamira Zee
Saga nggak pulang, Alvin tiba-tiba diserang... Erina juga kayaknya belum sembuh... mulai dar-der-dorr ceritanyaa
Shamira Zee
Dari tumor ganti jamur... asbun kali Harum 😭🤣 Kayaknya konfliknya mulai naik ya /Chuckle/
Shamira Zee
Jangan macem-macem deh vin... yang ada tambah rusuh bukannya tambah beres /Hammer/
Shamira Zee
Nggak sama vin... emak dan masmu kayak es batu, sementara kamu semprul 🤣🤣🤣
Shamira Zee
🤣🤣🤣🤣
Shamira Zee
Nah lhoo kepergok ibunda ratu... astagaa malu gak tuuh 🤣🤣🤣
Nyonya Billy
😂😂😂😂 alvin ini orang kaya dan baik tapi kayaknya nasibnya kurang baik 😂
Nyonya Billy
Kasihan Saga salah paham terus punya mama kayak Erina 😂
Nyonya Billy
Walau absurd dan kocak, tapi mimpinya nyambung sama kondisi Erina yang lagi diangkat tumornya... bisa aja bikin beginian thor 😂
Nyonya Billy
Perutku sakit, ngak bisa berhenti ketawa... aduuh 😂
Nyonya Billy
Kasihan Erina... semoga lekas sembuh
Nyonya Billy
Rusuh tapi lucu 😂
Nyonya Billy
Rosalinda... makhluk berbatang pisang... astagaa 😂
Nyonya Billy
Kamar bersalin dan Alvin melahirkan... thor kamu kocak amat sih 😂
Shamira Zee
Gimana konsepnya lagi mimpi ena-ena lah kebangun sama ringtone hp sendiri yang nyeleneh 🤣🤣🤣 Alvin emang koplak 🤣🤣🤣🤣
Shamira Zee
🤣🤣🤣 wes gak tahu mau bilanh apa erina absurdnya udah di luar nurul, makanya tumornya juga kocak 😭🤣🤣🤣
Shamira Zee
🤣🤣🤣 capek mgakak 🤣🤣🤣😭🤣🤣🤣
Shamira Zee
Susahnya dapat restu 😭 Bu andin ngidam apa dulu bu anaknya modelan alvin 😭🤣
Shamira Zee
Jangan galak-galak Ga itu calon bapakmu udah baik banget lho mau yang spek kayak gimana lagi coba... mana mamamu absurd orangnya 😭🤣
Nyonya Billy: Setuju 😂
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!