Di SMA Nusantara Jaya, aturan mainnya sangat sederhana: Uang adalah hukum, dan E4 (The Elite Four) adalah penguasanya. Dipimpin oleh Alvaro Pramudya, pewaris tunggal konglomerat terbesar di Indonesia yang angkuh dan tak tersentuh, geng E4 mengendalikan sekolah dengan sistem "Kartu Merah"—sebuah vonis perundungan kejam yang membuat siapa pun targetnya memilih untuk putus sekolah.
Namun, roda takdir berputar secara instan ketika Kayla Shaqueena, seorang gadis tangguh anak pemilik laundry kiloan, masuk ke sekolah elit tersebut lewat beasiswa jalur khusus. Kayla bukan tipikal gadis yang akan tunduk pada intimidasi. Ketika kartu merah mendarat di mejanya, alih-alih menangis dan memohon ampun, Kayla justru merobek kartu tersebut dan melayangkan
Di antara benturan kasta, harga diri, cinta segitiga yang rumit, dan intrik keluarga kaya yang kotor, akankah Kayla bertahan sebagai rumput liar yang merusak taman indah E4?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aera_yong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MENANTANG SANG RATU (1)
Dinding ruko yang kusam terasa kian menghimpit ketika malam merayap naik di langit Jakarta. Surat resmi berlogo emas dari Pramudya Corporation itu tergeletak di atas meja setrika, memancarkan aura ancaman yang begitu nyata. Denda lima ratus juta rupiah dan ancaman pengusiran ayah Kayla dari rumah sakit adalah sebuah vonis mati bagi keluarga kecil yang hanya mengandalkan pendapatan dari peluh dan uap air sabun itu.
Sarah, ibu Kayla, telah tertidur karena kelelahan emosional setelah berjam-jam menangis hancur. Sementara itu, Kayla duduk bersandar pada tumpukan kain bersih, menatap ponselnya yang terus bergetar sejak pukul delapan malam.
Dua puluh panggilan tak terjawab dari Alvaro Pramudya. Dan sepuluh pesan singkat dari Devan Narendra.
Kayla tidak menyentuh satu pun dari mereka. Pikirannya sudah terlalu penuh. Rasa bersalah akibat bentrokan fisik kedua cowok itu tadi siang di taman belakang kini tenggelam oleh insting bertahan hidup yang mendesak. Ia tahu betul, mengadu pada Alvaro hanya akan memicu kemarahan baru antara cowok itu dan orang tuanya—yang berujung pada cambukan yang lebih kejam di punggung Alvaro. Mengadu pada Devan juga bukan pilihan; ia tidak ingin berutang lebih banyak lagi pada pemuda yang baru saja ia lukai hatinya.
*Ini masalahku. Dan aku harus menyelesaikannya langsung di tempat akar masalah ini tumbuh,* batin Kayla, sepasang mata bulatnya berkilat penuh tekad.
---
Sabtu pagi, kompleks perumahan elite Menteng tampak sunyi dan eksklusif. Deretan pohon palem tinggi berbaris rapi di sepanjang aspal hitam yang mulus, mengarah pada sebuah gerbang besi hitam raksasa setinggi tiga meter yang dijaga oleh empat orang sekuriti bertubuh tegap.
Istana keluarga Pramudya berdiri megah di balik gerbang itu, sebuah mahakarya arsitektur modern-klasik yang didominasi warna putih gading dan marmer mahal.
Kayla melangkah turun dari ojek daring di seberang jalan. Ia mengenakan pakaian terbaiknya yang sederhana: kemeja putih katun dan celana kain hitam, dengan rambut yang diikat kuda dengan rapi. Napasnya diembuskan perlahan untuk mengusir gemetar di lututnya. Dengan langkah konstan, ia berjalan menyeberang dan menghampiri pos penjagaan.
"Selamat pagi. Saya Kayla Shaqueena. Saya ingin bertemu dengan Nyonya Sofia Pramudya," ucap Kayla dengan suara yang diusahakan setenang mungkin.
Salah satu sekuriti menatap Kayla dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan meremehkan. "Nyonya Besar tidak menerima tamu tanpa janji temu sebelumnya. Apalagi anak sekolah sepertimu. Silakan pergi."
"Tolong sampaikan padanya, ini terkait dengan kontrak laundry dan surat tuntutan penalti yang dikirimkan kemarin sore," tegas Kayla, tidak mundur selangkah pun. Tatapan matanya yang tajam dan tak gentar membuat sekuriti itu sedikit ragu.
Setelah melakukan panggilan telepon internal selama dua menit, sekuriti itu kembali menatap Kayla dengan ekspresi terkejut yang tertahan. "Nyonya Besar bersedia menemuimu. Ikut saya."
---
Kayla dituntun melewati halaman depan yang luas dengan hamparan rumput jepang yang terpangkas sempurna, lalu masuk ke dalam ruang tamu utama yang memiliki langit-langit setinggi enam meter. Sebuah lampu gantung kristal raksasa menggantung mewah di tengah ruangan, memantulkan cahaya matahari pagi ke atas lantai marmer Italia yang mengilat.
Di ujung ruangan, duduk seorang wanita paruh baya di atas sofa beludru merah darah.
**Sofia Pramudya.**
Wanita itu tampil sangat elegan dengan gaun sutra rumahan berwarna abu-abu mutiara. Rambutnya disanggul rapi tanpa ada sehelai pun yang mencuat, dan sepasang mata elangnya menatap lurus ke arah kedatangan Kayla dengan keangkuhan yang absolut. Di atas meja kaca di hadapannya, secangkir teh porselen masih mengepulkan uap tipis beraroma melati.
"Duduk," perintah Sofia, suaranya terdengar begitu dingin dan berwibawa, menggema di dalam ruangan yang sunyi.
Kayla berjalan mendekat dan duduk di kursi kayu berukir yang berhadapan langsung dengan sang ratu bisnis. Ia meletakkan tas kainnya di pangkuan, meremas jemarinya sendiri untuk menahan debaran jantung yang kian liar.
"Aku harus mengakui keberanianmu, Kayla Shaqueena," ujar Sofia, mengulas senyum tipis yang tidak mencapai matanya. Ia menyesap tehnya perlahan sebelum kembali menaruh cangkir itu dengan ketukan pelan yang mengintimidasi. "Gadis-gadis dari kelasmu biasanya akan datang sambil berlutut dan menangis histeris saat menerima surat tuntutan dari firma hukumku. Tapi kamu... kamu justru datang dengan kepala tegak, menantangku di rumahku sendiri."
"Saya datang bukan untuk menantang Anda, Nyonya Sofia," sahut Kayla, menatap langsung ke dalam manik mata wanita di hadapannya tanpa rasa takut yang berlebihan. "Saya datang untuk mencari keadilan. Tuduhan manipulasi berat dan kerusakan pakaian mewah yang Anda layangkan pada usaha laundry ibu saya adalah sebuah kebohongan besar. Kami selalu mendokumentasikan setiap pakaian yang masuk dan keluar dengan detail. Anda tahu betul bahwa kami tidak bersalah."
Sofia terkekeh pelan, sebuah suara tawa yang terdengar sangat meremehkan di telinga Kayla. Wanita itu menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa, melipat tangan di dada dengan gaya dominan.
"Tentu saja aku tahu kalian tidak bersalah, Kayla," aku Sofia dengan santai, tanpa ada beban rasa bersalah sedikit pun di wajah cantiknya yang mulai berkerut halus. "Surat tuntutan itu, denda lima ratus juta itu, dan pembekuan biaya rumah sakit ayahmu... itu semua hanyalah alat. Sebuah cara mudah yang bisa kubeli dengan uang untuk menyingkirkan kerikil kecil yang mengganggu jalannya putraku."
Napas Kayla tercekat. "Apa maksud Anda?"
"Maksudku?" Sofia memajukan tubuhnya, menatap Kayla dengan tatapan yang mendadak berubah menjadi sedingin es yang mematikan. "Alvaro adalah pewaris tunggal dari seluruh kekaisaran Pramudya Corp. Dia dilahirkan untuk memimpin, untuk menjadi dominan, dan untuk berdiri di puncak tertinggi. Tapi sejak kamu masuk ke sekolah itu dengan beasiswamu, Alvaro berubah menjadi lemah! Dia mencabut kartu merahmu, dia mengizinkanmu menamparnya di depan umum, dan kemarin sore... suamiku melihatnya menangis seperti anak anjing yang tidak berguna di atas atap sekolah hanya karena bersamamu!"
Sofia menghantam meja kaca dengan telapak tangannya, tidak keras, namun getarannya sanggup membuat Kayla tersentak.
"Kamu telah merusak produk investasi terbaikku, Kayla! Kamu menularkan mentalitas kelas bawahmu yang lemah kepada putraku! Dan aku tidak akan membiarkan seorang anak tukang cuci menghancurkan masa depan pewaris Pramudya!" desis Sofia dengan penuh penekanan pada setiap kata yang meluncur dari bibirnya yang berlipstik merah menyala.
Bersambung