Selama tiga tahun, Lin Fan hidup sebagai menantu yang dianggap benalu di keluarga Su. Dihina oleh ibu mertuanya, diremehkan oleh kerabat, dan diabaikan oleh istrinya sendiri, Su Yuhan—seorang CEO muda yang dingin namun jelita. Tidak ada yang tahu bahwa Lin Fan sebenarnya adalah pewaris tunggal dari Keluarga Lin di ibu kota, keluarga konglomerat paling berkuasa. Masa ujian tiga tahun yang diwajibkan oleh keluarganya akhirnya berakhir hari ini, dan roda nasib bersiap untuk berputar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Runtuhnya Kesombongan Sang Tiran
"Tuan Muda Lin."
Tiga kata yang diucapkan oleh Komandan Yuan itu bergema di seluruh penjuru aula perjamuan Hotel Imperial, memantul di dinding-dinding pualam bak lonceng kematian yang berdentang di tengah malam. Keheningan yang menyusul terasa begitu pekat hingga suara embusan napas pun terdengar seperti badai.
Ratusan elit Jiangzhou yang sedang tiarap di lantai membelalakkan mata mereka lebar-lebar. Pria yang selama tiga tahun ini mereka ludahi, mereka jadikan bahan tertawaan, dan mereka sebut sebagai "anjing peliharaan" Keluarga Su, ternyata adalah sosok penguasa tertinggi yang mampu membuat pasukan iblis ini berlutut?
Li Na, wanita bergaun merah yang beberapa menit lalu menyuruh Lin Fan mencuci piring, mendadak bola matanya memutih. Tubuhnya kejang sesaat sebelum ia jatuh pingsan tak sadarkan diri, genangan air berbau pesing perlahan merembes dari balik gaun mahalnya. Rasa takut yang murni telah menghancurkan kewarasannya.
Di samping Lin Fan, Su Yuhan berdiri mematung. Tangannya masih mencengkeram lengan jas suaminya, namun cengkeraman itu kini mengendur. Otaknya yang brilian sebagai seorang CEO sama sekali tidak mampu memproses pemandangan di depannya.
Lin Fan menoleh ke arah istrinya. Sorot mata tirani itu seketika meredup, digantikan oleh kelembutan yang hangat. Ia mengangkat tangannya yang besar, menepuk punggung tangan Yuhan dengan pelan.
"Tunggulah di sini sebentar, Yuhan," bisik Lin Fan lembut. "Tutup matamu jika kau tidak menyukai pemandangan ini."
Lin Fan kemudian melepaskan tangan Yuhan perlahan dan melangkah maju. Jas usangnya yang murah kini tampak berkibar bagaikan jubah kebesaran seorang kaisar kuno. Setiap langkah kakinya di atas lantai pualam terdengar seperti detak jarum jam yang menghitung mundur sisa nyawa musuhnya.
Melihat Lin Fan melangkah mendekat, pertahanan mental Chen Fei hancur tak bersisa. Ia bukan orang bodoh. Mengetahui bahwa pasukan pembunuh elit ini tunduk pada Lin Fan sudah cukup untuk menyadarkannya bahwa ia baru saja menendang moncong naga yang sedang tertidur.
Kaki Chen Fei yang berbalut celana sutra putih tiba-tiba kehilangan tulang. Bruk! Ia jatuh berlutut dengan sangat keras hingga suara lututnya menghantam lantai terdengar ngilu.
Kesombongan sebagai pewaris Keluarga Chen, kekejamannya yang tak tertandingi, semuanya menguap seketika. Dengan tubuh gemetar hebat dan air mata kepanikan yang mengucur deras, Chen Fei merangkak di atas lantai. Ia mengabaikan serpihan kaca dan darah pengawalnya yang mengotori jas mahalnya, merangkak mendekati ujung sepatu Lin Fan layaknya seekor anjing kurap.
"T-Tuan Lin...! Tuan Muda Lin...!" Chen Fei meratap histeris, suaranya pecah dan sumbang. "Saya buta! Mata anjing saya ini tidak mengenali Gunung Tai di hadapan saya! Tolong... tolong ampuni nyawa anjing ini!"
Lin Fan berhenti melangkah, menatap ke bawah pada wujud menyedihkan pria yang lima menit lalu memerintahkan pengawalnya untuk mematahkan tulangnya.
"Tadi kau bilang hukum tidak berlaku untukmu, Chen Fei?" suara Lin Fan terdengar datar, namun dinginnya mampu membekukan aliran darah siapa pun yang mendengarnya. "Kau bilang pamanmu, Sang Wakil Gubernur, bisa membalikkan telapak tangannya untuk menekan Bank Sentral?"
Mendengar nama pamannya disebut, Chen Fei seolah menemukan secercah harapan palsu. Ia menengadah dengan wajah basah oleh air mata dan ingus. "B-benar! Paman saya... jika Anda membunuh saya, pemerintah provinsi tidak akan tinggal diam! K-kita bisa berdamai! Saya akan memberikan seluruh aset Keluarga Chen kepada Anda! 500 Miliar itu milik Nyonya Su seutuhnya! Tolong, jangan bunuh saya!"
Lin Fan tersenyum miring, sebuah senyuman yang lebih menakutkan daripada kemarahan iblis. Ia mengangkat tangan kanannya sedikit, memberi isyarat pada Yuan.
Yuan segera berdiri, mengeluarkan sebuah tablet militer, dan melemparkannya tepat ke wajah Chen Fei.
Layar tablet itu menyala, menampilkan sebuah siaran langsung yang dienkripsi dari ibu kota provinsi. Dalam video tersebut, terlihat rumah dinas mewah milik Sang Wakil Gubernur sedang digerebek oleh ratusan tentara elit dari Pasukan Khusus Anti-Korupsi Nasional. Paman Chen Fei, pria yang selalu menjadi bekingan mutlak Keluarga Chen, tampak diseret keluar rumah dengan tangan diborgol, seragam kebesarannya dilucuti, dan wajahnya dipenuhi memar sambil menangis memohon ampun pada seorang perwira militer berwajah dingin.
"P-Paman...?" Mulut Chen Fei menganga lebar, napasnya tercekat di tenggorokan. Jantungnya seolah berhenti berdetak.
"Di mataku, Pamanmu hanyalah seekor kecoak yang memakai dasi," ucap Lin Fan tanpa belas kasihan. "Aku hanya butuh satu panggilan telepon ke pusat intelijen militer ibu kota untuk meruntuhkan seluruh dinastimu. Sekarang, siapa lagi yang ingin kau panggil untuk menyelamatkanmu?"
Keputusasaan absolut menelan jiwa Chen Fei. Ia menyadari bahwa ia tidak sedang berhadapan dengan manusia biasa, melainkan dewa kematian yang memegang kendali atas langit dan bumi.
Ia langsung membenturkan kepalanya ke lantai pualam berulang kali hingga dahinya berdarah, bersujud di kaki Lin Fan. Brak! Brak! Brak!
"Ampun! Saya mohon ampun! Saya hanyalah tahi lalat di bawah sepatu Anda! Jadikan saya budak Anda, potong tangan saya, tapi tolong biarkan saya hidup!" jerit Chen Fei di sela-sela tangis ketakutannya. Pria yang kerap membunuh saingannya tanpa mengedipkan mata itu kini menangis meraung-raung mengompol di celananya.
Lin Fan menatapnya kosong, tidak tergerak sedikit pun oleh air mata buaya itu.
"Tadi kau mengancam akan memotong jari manis istriku," suara Lin Fan berubah menjadi bisikan tajam yang menyayat udara. "Kau juga berencana melemparkannya bersama paman dan mertuaku ke dasar Sungai Jiangzhou."
Tubuh Chen Fei menegang kaku, matanya melotot dipenuhi horor yang tak terlukiskan.
Lin Fan membalikkan badannya, berjalan perlahan kembali ke arah Su Yuhan. Tanpa menoleh ke belakang, ia menjatuhkan titah terakhirnya pada Yuan.
"Potong sepuluh jarinya. Hancurkan pita suaranya agar dia tidak bisa lagi mengancam wanita mana pun. Setelah itu, buang dia ke kapal kargo bersama Tuan Muda Zhao. Biarkan mereka berdua mati perlahan di tambang batu bara Siberia."
"Siap laksanakan, Tuan Muda!" seru Yuan tegas.
Dua prajurit Pasukan Bayangan langsung menyeret tubuh Chen Fei yang meronta-ronta dan menjerit gila. Namun, sebelum jeritan itu merusak telinga Yuhan, Yuan mendaratkan satu pukulan brutal ke tenggorokan Chen Fei, membungkam pria arogan itu untuk selamanya dalam kegelapan malam Jiangzhou.
Di tengah aula yang dipenuhi oleh keheningan para elit yang menggigil ketakutan, Lin Fan tiba di hadapan Su Yuhan. Ia kembali menjadi pria yang lembut dan memandang istrinya dengan senyum tipis.
"Urusan bisnisnya sudah selesai, Yuhan. Apakah kau ingin pulang sekarang?" tanya Lin Fan seolah ia baru saja mengajaknya pulang dari pasar malam.