AL harus pergi dari rumahnya karena di usir oleh orangtuanya, mereka lebih menyayangi adiknya ketimbang dirinya.
Meskipun begitu, ia tatap bangkit untuk bertahan hidup. Takdir berkata lain, ia mendapatkan sebuah sistem yang mengubah hidupnya dan membuat orang tuanya menyesal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10 Misi Selesai
Sudut bibir Al terangkat tipis. Informasi dari sistem memang tidak pernah mengecewakan.
Ia meletakkan kembali gelasnya ke meja dengan ketukan perlahan yang entah kenapa terdengar begitu mengintimidasi.
"Status sosial?" Al terkekeh pelan, menatap Deno.
"Setidaknya, status sosialku yang kalian sebut rendah ini tidak sekotor tangan seseorang yang tega mencuri uang kas kelas sendiri," kata Al mencibir.
Mendengar kalimat itu, senyum mengejek di wajah Deno langsung hilang dan ia malah terlihat panik.
"K-Kau... bicara apa, hah?! Jangan sembarangan menuduh ya!" kata Deno menunjuk ke arah Al.
"Oh, aku menuduh?" Al memajukan tubuhnya.
"Kemarin sore, setelah jam pulang sekolah... ruang kelas dua belas IPS tiga. Apa perlu aku sebutkan nominal lima ratus ribu rupiah yang sekarang sudah berubah jadi skin game di ponselmu itu, Deno? Dan... rencana busukmu untuk memfitnah sang bendahara kelas nanti siang?" kata Al dengan senyum sinis.
"D-Dari mana kau..." Deno terbata-bata.
Kedua temannya saling berpandangan dengan bingung.
Saka yang duduk di sebelah Al langsung menegakkan punggungnya, menatap Deno dengan senyum kemenangan.
"Wah, wah, wah... ternyata di balik pakaian mahal dan gaya selangitnya, ada seorang pencuri amatir di depan kita, Al," kata Saka
"J-Jangan asal bicara kau, Al! Nggak ada buktinya!" seru Deno panik, suaranya agak melengking tinggi karena ketakutan rahasianya terbongkar di depan umum.
Al hanya menunjuk ke arah atas koridor dekat kelas mereka dengan lirikannya.
"Bukti? Mengapa tidak kita minta wali kelas untuk memeriksa riwayat transaksi di akun game mu dan mencocokkannya dengan jam kehilangan uang? Atau, kita bisa cek CCTV koridor untuk melihat siapa yang terakhir keluar dari kelas?" kata Al denga santai.
Deno menelan ludah dengan susah payah. Ia tahu betul tidak ada CCTV di dalam kelas, tapi gertakan Al membuatnya kehilangan seluruh keberaniannya.
Wajahnya yang tadinya angkuh kini mendadak pucat pasi.
"K-Kita pergi dari sini!" bisik Deno ketakutan pada kedua anteknya.
"Tapi Bos, makanan kita..."
"Gak usah banyak bacot! Ayo pergi!" bentak Deno menarik kerah baju Bayu, lalu berbalik dan berjalan tergesa-gesa meninggalkan kantin dengan langkah seribu.
Melihat musuh mereka lari terbirit-birit, Saka langsung meledak dalam tawa puas.
"Hahaha! Lihat muka si Deno, Al! Kayak habis melihat hantu! Tapi... tunggu dulu," Saka menghentikan tawanya dan menatap Al dengan penuh selidik. "Al, dari mana kamu tahu semua detail itu?" tanya Saka penasaran.
Al hanya tersenyum tipis, lalu menyendok baksonya yang baru saja diantarkan oleh ibu kantin.
"Anggap saja aku punya mata dan telinga di mana-mana, Ka. Dunia ini sempit untuk orang yang ceroboh seperti Deno," katanya terkekeh.
"Ah, kamu mah selalu penuh rahasia sekarang," gerutu Saka sambil menusuk baksonya dengan garpu.
"Tapi serius, Al, gertakanmu tadi mantap banget. Si Deno langsung ciut. Rasain tuh! Sok-sokan mau membully, taunya borok sendiri yang kebongkar," kata Saka merasa puas.
Al tidak menjawab lagi, ia fokus menghabiskan makan-makanannya.
[Ding! Selamat, Tuan. Anda berhasil menggagalkan rencana fitnah, membongkar kejahatan tersembunyi, dan membalikkan keadaan.]
[Selamat Anda mendapatkan sebuah rumah hunian baru, rumah mewah di perumahan elit]
[Selamat Anda mendapatkan 40.000.000]
...⛹️♂️⛹️♂️⛹️♂️⛹️♂️⛹️♂️⛹️♂️⛹️♂️⛹️♂️...