Di benua tempat langit dan bumi saling menyatu, kekuatan sejati bukanlah tentang seberapa tajam pedang yang kau genggam atau seberapa tinggi tingkatan kultivasimu melainkan seberapa murni hatimu dan seberapa tulus kasih sayang yang kau berikan kepada dunia.
Lin Mo seorang pemuda yang lahir tanpa bakat istimewa di mata orang lain memulai perjalanan panjangnya menembus kabut tebal yang menyelimuti langit dan bumi. Ia menghadapi petir surgawi yang menggetarkan jiwa saat menerobos setiap tingkat kekuatan. Ia menembus hutan purba yang dijaga makhluk purba yang tak pernah menampakkan wujudnya kepada siapa pun. Ia mendaki puncak salju abadi yang membekukan jiwa bahkan sebelum membekukan tubuh.
Dengan hati yang tetap murni dan rendah hati meskipun kekuatan di tangannya semakin dahsyat Lin Mo mengumpulkan kembali empat kekuatan suci yang telah terpisah ribuan tahun. Cahaya api yang membakar kejahatan. Cahaya kehidupan yang menyembuhkan luka. Cahaya keheningan yang melatih kesabaran. Cahaya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arman A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14 KETENANGAN YANG MEMPERKUAT
Malam semakin larut. Bulan purnama bersinar terang menggantung di langit yang jernih. Cahaya perak menyelinap masuk melalui celah-celah dinding dan atap gubuk tua itu, menyinari sosok pemuda yang duduk diam di atas lantai tanah yang dingin. Lin Mo tetap memejamkan mata. Tangan kanannya menggenggam erat batu hitam peninggalan leluhurnya. Tubuhnya tegak namun rileks, napasnya panjang dan teratur, perlahan menyatu dengan hembusan angin malam yang lembut menyapu dedaunan di luar gubuk.
Setiap kali menarik napas, hawa murni dari udara malam terserap masuk ke dalam tubuh, mengalir perlahan menuju perut bawah tempat lautan Qi berdenyut tenang dan jernih. Setiap kali menghembuskan napas, lautan Qi itu bergelombang lembut, menyaring kotoran dan hawa keruh sebelum mengalirkannya kembali menyusuri seluruh meridian tubuh. Batu hitam yang digenggamnya terus mengeluarkan hawa sejuk yang halus, menjalar masuk ke dalam telapak tangan, menyatu dengan aliran energi dan membersihkan setiap bagian yang masih tersumbat atau terasa sempit.
Lin Mo dapat merasakan dengan jelas perubahan yang terjadi di dalam tubuhnya. Lautan Qi yang dulu masih dangkal dan kecil kini perlahan meluas dan semakin dalam. Airnya jernih bagaikan kaca bening yang tak ternoda sedikit pun. Setiap kali energi Qi mengalir keluar dari perut bawah dan bergerak naik menuju dada, lalu ke bahu dan lengan, ia terasa semakin lancar dan semakin deras namun tetap tenang dan teratur. Saat energi Qi itu akhirnya menembus pori-pori kulit dan berubah wujud menjadi energi spiritual, cahayanya bersinar lembut namun kokoh, berwarna putih keemasan yang murni dan hangat, menyelimuti seluruh tubuh bagaikan jubah tak kasat mata yang melindunginya dari hawa dingin malam yang menusuk tulang.
Waktu terus berjalan. Matahari perlahan terbit dari ufuk timur. Cahaya keemasan pagi hari menyusup masuk menggantikan cahaya bulan semalam. Lin Mo tetap duduk diam di tempat yang sama. Ia tak merasa lelah dan tak merasa lapar. Selama lautan Qi di dalam tubuh terus berdenyut dan energi spiritual terus melindungi tubuhnya, rasa lapar dan haus perlahan berkurang dan tak lagi menjadi hal yang mendesak. Namun yang lebih luar biasa lagi adalah perubahan yang terjadi pada indranya. Pendengarannya kini jauh lebih tajam dari sebelumnya. Ia dapat mendengar suara tetesan air yang jatuh dari atap gubuk yang berlubang. Ia dapat mendengar suara aliran sungai kecil yang berada jauh di balik bukit. Ia dapat mendengar detak jantung burung yang hinggap di dahan pohon rindang di halaman gubuk itu. Dan pandangannya pun kini jauh lebih tajam dan jernih. Dalam kegelapan yang pekat sekalipun, ia masih dapat melihat bayangan benda-benda di sekelilingnya dengan kejelasan yang luar biasa.
Lin Mo perlahan membuka matanya. Cahaya putih keemasan samar berkilat seketika di kedalaman matanya sebelum perlahan meredup kembali menjadi tatapan yang jernih dan tenang. Ia berdiri perlahan. Tubuhnya terasa jauh lebih ringan dan jauh lebih kuat dari sebelumnya. Luka-luka kecil yang dulu sering muncul di tubuhnya karena bekerja keras dan kurang makan kini telah sembuh sepenuhnya. Kulitnya yang dulu pucat dan kering kini tampak lebih segar dan halus. Namun yang paling berubah bukanlah penampilan luarnya. Yang paling berubah adalah kedalaman hatinya dan keluasan pandangannya.
Lin Mo melangkah keluar dari gubuk tua itu. Udara pagi yang segar menyambutnya. Ia berdiri diam di halaman yang ditumbuhi semak belukar tinggi. Di kejauhan, arah jalan menuju desa, terlihat samar-samar beberapa orang berjalan mendekat. Mereka tampak berjalan tergesa-gesa dan sesekali menoleh ke belakang seakan takut diketahui orang lain. Saat semakin mendekat, Lin Mo mengenali salah seorang dari mereka. Itu adalah pelayan yang bekerja di rumah Liu He. Dan di belakangnya berjalan tiga orang pemuda yang bertubuh tegap dan membawa senjata kayu di tangan mereka. Wajah mereka tampak penuh kebencian dan kesombongan.
Lin Mo berdiri diam di depan pintu gubuk tua itu. Ia tidak menyembunyikan diri dan tidak pula lari. Ia hanya berdiri tegak menunggu kedatangan mereka dengan wajah yang tenang dan hati yang damai. Lautan Qi di dalam perut bawahnya berdenyut lembut dan teratur. Energi Qi belum mengalir keluar dan belum berubah menjadi energi spiritual. Namun tubuhnya sudah siap merespons seketika jika keadaan mengharuskannya.
Rombongan itu akhirnya tiba di depan gubuk tua. Pelayan Liu He melangkah maju dan menatap Lin Mo dengan pandangan yang penuh kebencian dan ancaman. Ia menunjuk Lin Mo dengan jari telunjuknya yang kasar.
Jadi kau di sini ya, anak kurang ajar ujar pelayan itu dengan suara yang melengking penuh amarah. Berani sekali kau melawan Tuan Liu He kemarin. Kau kira kau sudah hebat hanya karena sedikit memiliki tenaga tambahan? Katakan padaku, dari mana kau mendapatkan kekuatan itu? Apakah kau bersekutu dengan iblis atau memakan ramuan terlarang yang merusak akal sehat?
Lin Mo menatap pelayan itu dengan tenang. Ia tidak merasa tersinggung dan tidak pula merasa marah. Ia hanya menatap lurus ke arah mata orang itu dengan pandangan yang jernih dan tak tergoyahkan.
Aku tidak bersekutu dengan siapa pun ujar Lin Mo dengan suara yang tenang dan jelas. Dan aku tidak meminum apa pun yang merusak tubuh dan akal sehatku. Aku hanya hidup di tanah milik keluargaku sendiri. Jika Tuan Liu He merasa kurang puas, suruhlah ia datang sendiri menemui aku. Tidak perlu mengirim orang-orang sepertimu untuk membuat keributan di tempat yang sepi ini.
Mendengar jawaban yang tenang namun tegas itu, pelayan Liu He seketika meledak dalam kemarahan. Wajahnya memerah padam. Ia menoleh kepada tiga orang pemuda yang berdiri di belakangnya lalu melambaikan tangan dengan kasar.
Lihatlah anak kurang ajar ini! Berani sekali ia bicara seperti itu! Ajarilah dia pelajaran yang berharga! Pukuli dia hingga ia berlutut memohon ampun! Jangan takut melukainya! Tuan Liu He berkata agar dia tahu siapa yang berkuasa di desa ini!
Ketiga pemuda itu serentak meneriakkan teriakan perang yang kasar lalu berlari menghambur ke arah Lin Mo. Mereka mengayunkan senjata kayu yang berat dengan penuh amarah. Hembusan angin yang berat terasa menyapu wajah Lin Mo. Serangan mereka datang dengan cepat dan ganas. Bagi siapa pun yang biasa saja pasti akan langsung jatuh terluka parah. Namun bagi Lin Mo yang lautan Qi-nya telah murni dan meridiannya perlahan terbuka, gerakan mereka terlihat lambat dan penuh celah yang terbuka lebar.
Lin Mo tidak mundur selangkah pun. Saat senjata kayu pertama melesat ke arah bahunya, lautan Qi di dalam perut bawahnya berdenyut lembut namun kuat. Energi Qi mengalir seketika menyusuri lengan kanannya dan berubah menjadi energi spiritual yang lembut namun padat dan kokoh. Dengan gerakan yang tenang dan sederhana, Lin Mo mengangkat tangan kanannya dan menangkis serangan itu dengan sisi lengannya.
Bunyi dentuman keras terdengar nyaring di udara. Senjata kayu yang tebal itu seketika retak dan pecah menjadi dua bagian. Pemuda yang memukul itu terhuyung mundur beberapa langkah sambil memegang pergelangan tangannya yang terasa kesemutan dan nyeri hebat seakan dipukul balik oleh benda yang jauh lebih keras dari batu.
Belum sempat pemuda itu pulih dari keterkejutannya, dua orang lainnya sudah datang dari sisi kiri dan kanan. Lin Mo melangkah sekilas ke samping dengan gerakan yang ringan dan cepat. Energi Qi mengalir ke kedua kakinya dan berubah menjadi energi spiritual yang ringan dan kokoh. Tubuhnya seakan melayang di atas tanah tanpa beban. Dengan gerakan tangan yang lembut namun membawa kekuatan yang terkendali, Lin Mo menepis dada pemuda di sebelah kiri dan mengayunkan siku ke arah perut pemuda di sebelah kanan secara hampir bersamaan.
Dua benturan lembut namun tak tertahankan terdengar. Kedua pemuda itu terlempar mundur beberapa langkah lalu jatuh tersungkur ke tanah. Mereka mengerang kesakitan namun tak terluka parah. Lin Mo sengaja menahan kekuatannya. Ia tidak ingin melukai mereka secara berlebihan. Ia hanya ingin memberi pelajaran agar mereka tahu bahwa ia tidak dapat ditindas sesuka hati seperti dulu.
Hanya dalam sekejap mata, ketiga orang yang datang untuk memukulinya kini sudah jatuh terkapar di tanah. Pelayan Liu He berdiri terpaku di tempatnya. Mulutnya ternganga tak percaya. Kakinya gemetar hebat seakan tak sanggup lagi menopang berat tubuhnya sendiri. Ia menatap Lin Mo yang berdiri tenang di tempatnya tanpa tampak sedikit pun lelah atau terengah-engah. Cahaya putih keemasan samar masih melayang di sekeliling tubuh pemuda itu perlahan menghilang masuk kembali ke dalam kulit.
Lin Mo melangkah maju selangkah. Pelayan itu seketika mundur selangkah dengan wajah pucat pasi karena ketakutan.
Katakan pada Tuan Liu He ujar Lin Mo dengan suara yang tenang namun terdengar berat dan berwibawa. Katakan padanya bahwa aku tidak mencari musuh. Namun jika ia terus memaksakan kehendak dan terus menggangguku... maka aku tidak akan selembut ini saat berhadapan dengannya. Pergilah. Dan jangan pernah kirim orang lain lagi untuk menggangguku. Karena lain kali aku tidak akan sebaik ini membiarkan mereka pulang dengan selamat.
Pelayan itu menganggukkan kepalanya berkali-kali dengan wajah ketakutan. Ia segera membantu ketiga temannya yang masih mengerang di tanah untuk bangkit dan pergi secepat mungkin. Mereka berlari menjauh meninggalkan gubuk tua itu seakan sedang dikejar oleh hantu yang mengerikan.
Lin Mo berdiri diam menatap punggung mereka yang menghilang di balik pepohonan. Ia tidak merasa bangga dan tidak pula merasa puas. Ia hanya merasa sedih di dalam hatinya. Ia tidak ingin berkelahi dengan siapa pun. Ia hanya ingin hidup tenang, melatih lautan Qi-nya dengan tenang, dan mencari tahu kebenaran tentang kematian orang tuanya. Namun tampaknya kedamaian itu tak akan mudah didapat. Selama Liu He masih memegang kekuasaan di desa itu dan masih menyimpan kebencian kepadanya, masalah pasti akan terus datang satu demi satu.
Lin Mo menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Lautan Qi di dalam perut bawahnya perlahan kembali tenang dan berdenyut lembut seperti sedia kala. Energi spiritual yang tadi terpancar perlahan masuk kembali menyatu dengan lautan Qi di dalam tubuh. Batu hitam yang digenggam di tangan kanannya terasa semakin hangat dan nyaman seakan ikut memahami perasaan hatinya.
Biarlah begitu pikir Lin Mo di dalam hatinya. Jika kedamaian tak dapat didapat dengan cara yang tenang, maka aku akan menjaganya dengan kekuatan yang kugenggam di tangan ini. Namun aku berjanji... kekuatan ini tak akan pernah kugunakan untuk menindas yang lemah atau menyakiti yang tak berdosa. Kekuatan ini akan kugunakan untuk melindungi diriku, mencari kebenaran, dan memulihkan kehormatan keluargaku yang telah dirampas.
Matahari semakin tinggi naik ke angkasa. Cahayanya menyinari tubuh Lin Mo yang berdiri tegak di halaman gubuk tua itu. Wajahnya tetap tenang dan matanya tetap jernih. Di dalam dadanya, lautan Qi yang murni dan jernih itu terus berdenyut lembut dan abadi. Memberinya kekuatan dan ketabahan untuk menghadapi apa pun yang akan datang.