Wabah misterius meluluhlantakkan peradaban dalam semalam, mengubah manusia menjadi makhluk haus darah yang tak kenal lelah. Di tengah kota yang sunyi dan penuh mayat hidup, sekelompok orang yang tak saling kenal terpaksa bersatu. Mereka bukan hanya harus bertahan dari serangan para mayat hidup, tapi juga menghadapi pengkhianatan, kelaparan, dan kenyataan pahit bahwa mereka mungkin adalah sisa-sisa manusia terakhir di muka bumi. Antara harapan dan keputusasaan, mereka harus memilih: bertahan hidup sendiri, atau mati bersama sebagai satu-satunya harapan umat manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pineapple banana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25. Kesunyian Di Lembang
Jalanan daerah Lembang terbentang sepi di bawah langit yang mulai kelabu. Hendrik dan Toni duduk di dalam mobil, mata mereka tak lepas memandang ke sekeliling daerah itu—tak ada suara kendaraan, tak ada orang yang berjalan, tak ada tanda kehidupan sama sekali. Hanya keheningan berat yang menyelimuti setiap sudut jalan, seolah seluruh tempat itu telah lama ditinggalkan oleh siapa pun.
Perasaan Hendrik semakin gelisah tiap detiknya. Ia terus memandang ke luar jendela, hatinya berdebar tak menentu. Begitu pun Toni yang menyetir, ia juga merasakan hal yang sama—ada sesuatu yang salah, sesuatu yang membuat bulu kuduk berdiri setiap kali melewati jalanan itu.
"Ada yang aneh..." sahut Hendrik memecah kesunyian, suaranya terdengar pelan namun penuh kehati-hatian.
"Ya, aku juga merasakannya..." balas Toni, matanya tetap terpaku pada jalanan di depan, tangannya mencengkeram setir lebih erat.
"Jangan berhenti, Ton. Kita terus bergerak..." ucap Hendrik, matanya menatap tajam ke arah jalan yang masih panjang di hadapan mereka.
Toni hanya mengangguk tanpa berkata apa-apa, lalu menginjak gas lebih dalam. Mobil itu melaju kencang, Berusaha secepat mungkin meninggalkan daerah yang terasa begitu mencekam itu.
Namun perjalanan keduanya terhenti ketika di kejauhan, mereka melihat sebuah bangunan sekolah. Pintu gerbang dan jendela-jendelanya tertutup rapat oleh balok-balok kayu tebal, seolah sengaja ditutup dari dalam. Halaman sekolah itu pun terasa sunyi senyap. Tak ada tanda-tanda orang yang tinggal di sana, tak ada suara, tak ada gerakan—hanya keheningan yang sama seperti di luar.
Hendrik menurunkan kaca mobil sedikit, memandang bangunan itu dengan tatapan bingung. "Kita masuk? Tapi lewat mana..."
"Kita periksa dulu ke dalam. Kalau aman, kita bisa istirahat sebentar di sana. Lagipula hari mulai gelap, dan kita butuh tempat berlindung," jawab Toni, matanya memindai sekeliling bangunan itu.
"Ayo..."
Toni lalu memarkirkan mobil itu di samping tembok pagar sekolah, tersembunyi dari pandangan jalan utama. Keduanya turun dari mobil dengan langkah perlahan, lalu mulai berjalan menyusuri pagar tinggi itu, mencari pintu masuk yang bisa dilewati.
"Sekolah ini pasti ada pintu kecil di samping atau belakang..." gumam Hendrik pelan, matanya terus meneliti setiap sudut pagar yang tertutup semak belukar.
Mereka berjalan terus hingga akhirnya—di sudut belakang pagar, tersembunyi di balik semak—mereka menemukan sebuah pintu besi kecil yang masih utuh. Hendrik segera membukanya perlahan, memastikan tak ada suara bising yang keluar. Keduanya pun masuk ke dalam halaman sekolah, lalu menutup rapat pintu itu kembali dan tak lupa menguncinya dengan erat, seolah-olah itu adalah satu-satunya cara untuk merasa aman di tengah dunia yang telah berubah ini.
Di dalam halaman yang luas itu, kesunyian justru terasa lebih berat. Angin berhembus pelan melewati pepohonan, menimbulkan suara gesekan yang terdengar seperti bisikan-bisikan di kegelapan. Hendrik dan Toni saling bertatapan, lalu perlahan melangkah mendekati pintu utama gedung sekolah itu—yang sama sekali tak mereka ketahui, di balik tumpukan balok dan meja di dalam sana, ada sekelompok orang yang baru saja memperkuat pertahanan mereka, dan kini sedang menahan napas saat mendengar suara langkah kaki yang mendekat dari luar...
*******
Di dalam gedung sekolah itu, Rafli tiba-tiba menegakkan tubuh. Dari lantai atas, ia mendengar samar suara mesin mobil yang berhenti di dekat sana. Cepat-cepat ia melangkah ke jendela depan, mengintip dari celah balok kayu yang menutupinya—namun tak ada satu pun kendaraan yang terparkir di depan gerbang sekolah. Hanya jalanan kosong yang sepi.
Tanpa menunggu lama, Rafli berbalik dan bergegas pergi menuju lorong belakang gedung, langkah kakinya cepat namun berusaha senyap. Danu dan Natalia yang melihatnya bergerak tiba-tiba, saling bertukar pandang lalu memutuskan untuk mengikuti dari belakang.
Rafli memegang erat pistol di tangannya, jari di pelatuk, sambil memeriksa setiap ruang kelas yang dilewatinya satu per satu. Ia terus berjalan hingga sampai ke area kantin sekolah, lalu melangkah keluar menuju halaman belakang yang remang. Namun tak ada apa-apa di sana—tak ada orang, tak ada mobil, tak ada tanda bahaya. Apa pun yang ia cari, tak ia temukan.
"Rafli..."
Panggilan itu terdengar pelan namun jelas dari belakangnya. Rafli berputar cepat, pistol masih terangkat, dan melihat Danu serta Natalia berdiri di sana menatapnya dengan cemas.
"Ada apa, Rafli?" tanya Danu mendekat.
"Aku tadi... mendengar sesuatu," jawab Rafli, suaranya serius. "Seperti suara pintu besi yang bergesekan keras. Dan sebelumnya, aku yakin mendengar suara mobil berhenti di depan. Tapi saat aku intip, tak ada apa-apa."
Natalia menatapnya lembut, mencoba menenangkan. "Mungkin hanya perasaanmu saja, Raf. Malam ini suasana membuat kita semua tegang."
"Aku tidak berbohong, Nat," ujarnya tegas, lalu kembali menatap sekeliling dengan waspada, menelisik setiap sudut tempat yang mereka pijak.
Belum sempat mereka bergerak kembali, suara lain terdengar dari ujung lorong yang gelap. Suara seseorang yang memanggil dengan nada ragu namun penuh harap.
"Rafli... Itukah kau?"
Ketiganya langsung mengangkat senjata, membidik ke arah kegelapan lorong itu. Tak ada yang terlihat jelas, hanya bayang-bayang samar di bawah cahaya remang bulan.
"Siapa kalian?! Keluar sekarang!" teriak Rafli, suaranya memantul di dinding-dinding kosong.
"Hei... tenang! Aku Toni Braxton. Turunkan senjatamu, kawan. Apa kau tidak mengenalku?" balas suara itu.
Rafli tertegun sejenak, lalu perlahan menurunkan pistol dan menyelipkannya kembali ke sarung di pinggang. Wajahnya berubah dari waspada menjadi tak percaya.
"Kau kenal dia?" bisik Danu.
Rafli mengangguk pelan, matanya tak lepas dari lorong itu. Tak lama kemudian, dua sosok lelaki muncul dari kegelapan. Keduanya memegang senjata di tangan, dan tas-tas berisi perbekalan tersilang di bahu—salah satunya adalah Toni, orang yang baru saja mereka temui di lorong yang sunyi itu.
******
Rafli segera mengantar Toni dan temannya masuk menuju ruangan yang mereka tempati—ruangan guru di lantai atas, tempat yang paling aman dan paling terlindungi di seluruh gedung. Danu dan Natalia berjalan di belakang mereka, lalu bergegas membangunkan orang-orang yang sedang beristirahat di sana, untuk memperkenalkan tamu baru yang datang di tengah malam yang mencekam itu.
Ruangan itu perlahan terisi suara bisikan dan gerakan orang-orang yang baru terbangun, namun semua tetap berusaha tenang. Toni berdiri di tengah ruangan, menatap Rafli lekat-lekat, matanya menyiratkan rindu yang mendalam di tengah situasi yang mengerikan ini.
"Sudah berapa lama kita tidak bertemu, Rafli..." ucap Toni pelan namun penuh perasaan. Ia adalah kakak kandung Rafli—sosok yang selama ini dicari-cari dan dikira telah tiada.
Rafli menatap kakaknya tak percaya, jantungnya berdebar kencang. "Aku... aku tidak tahu berapa lama. Tapi bagaimana... bagaimana kau masih bisa hidup, dan sampai Di sini?" suaranya bergetar, campuran antara rasa syukur dan keheranan yang luar biasa.
Toni tertawa pelan, senyum tipis namun bangga terukir di wajahnya. Ia menatap adiknya dengan tatapan lembut sekaligus tegas. "Berkat pengalaman berpetualangan ku selama ini, Raf. Dan kau tahu... aku bisa melacak mu sampai ke sini karena aku menemukan anak panah milikmu yang tertinggal di beberapa tubuh mayat hidup yang kutemui di jalan. Itu tandamu yang takkan pernah salah."
Semua yang hadir terdiam, kagum sekaligus terharu. Lalu Toni berbalik menghadap seluruh orang di ruangan itu, sikapnya berubah menjadi serius dan tegas.
"Baiklah kawan-kawan, perkenalkan namaku Toni Braxton. Dan ini Hendrik—kami berdua bertemu di tengah perjalanan, lalu memutuskan untuk bersama dan menuju ke sini." Ia berhenti sejenak, menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan dengan nada yang membuat bulu kuduk merinding. "Namun sebelum semuanya berlanjut, ada hal penting yang harus ku ceritakan pada kalian semua. Tadi sebelum kami sampai di sini, Hendrik melihat sesuatu yang sangat mengerikan—segerombolan zombie yang bergerak teratur, seolah-olah dikomandoi oleh sesuatu. Mereka bergerak menuju ke arah Lembang, lalu terus ke arah Bandung. Dan jika jalur pergerakan mereka tetap sama, kalian harus bersiap—karena gerombolan itu bisa saja kembali ke sini, dan saat itu terjadi, tak ada yang bisa menebak seberapa dahsyat bahayanya."
Suasana ruangan seketika menjadi hening mencekam. Kengerian itu bukan lagi sekadar ketakutan akan makhluk yang haus darah, melainkan kesadaran bahwa mereka mungkin sedang menghadapi sesuatu yang jauh lebih berbahaya dan terorganisir dari yang dibayangkan siapa pun.
Bersambung