Setiap malam, Alena selalu memimpikan seorang pria. Seorang raja tampan yang kejam kepada semua orang, tetapi mencintainya dengan gila-gilaan.
Dalam mimpi itu, Alena adalah tunangannya. Mereka tinggal di sebuah kerajaan yang tidak pernah ia kenal. Sang raja selalu memeluknya, mencium keningnya, bahkan berjanji akan menjadikannya permaisuri.
Alena selalu mengira semua itu hanya mimpi. Sampai suatu pagi, setelah sang raja menciumnya dalam mimpinya, ia menemukan bekas kemerahan di lehernya.
Bekas itu nyata. Sejak saat itu, Alena mulai bertanya-tanya... Apakah ia benar-benar sedang bermimpi?
Sampai seorang pria baru datang ke tempat kerjanya sebagai bos baru. Begitu melihat wajahnya, Alena langsung membeku. Pria itu memiliki wajah yang sama persis dengan raja dalam mimpinya.
Namun sebelum Alena sempat melarikan diri, pria itu justru menghampirinya dan memeluknya erat.
“Kau... masih hidup?”
Alena panik dan segera mendorongnya. “Maaf, Pak. Apa kita pernah bertemu?”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R251Aje, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 Cincin Permata Kusam
“Kau sudah berulang kali membuat masalah. Menumpahkan sup panas, menjegal, dan sekarang mempermalukan rekan kerja di depan umum lagi.” Dito mengeluarkan ponselnya, memperlihatkan sesuatu. “Dan soal penyerangan kemarin sore… saya punya bukti. Rekaman CCTV dari area dekat kantor, serta saksi yang melihat kejadian itu. Kau membayar preman untuk menakut-nakuti dan hampir melukai Alena dengan senjata tajam.”
Wajah Tina memucat. “Itu… itu fitnah! Saya tidak—”
“Keamanan,” panggil Dito. Dua petugas keamanan segera mendekat. “Bawa dia ke kantor polisi. Tuduhannya... membahayakan nyawa orang lain, penganiayaan, dan penyalahgunaan kekuasaan. Semua bukti sudah saya siapkan.”
Tina memberontak saat dipegang petugas. “Lepaskan! Saya tidak bersalah! Alena yang memulai semua ini! Pak Dito, tolong—”
Tapi Dito sudah berbalik, tidak lagi menatapnya. “Bawa pergi.”
Tina masih berteriak menyangkal saat digiring keluar ruangan, suaranya semakin menjauh di lorong. Karyawan lain hanya bisa saling berpandangan, tidak ada yang berani berkomentar.
Dito berjalan mendekati Alena yang masih berdiri kaku. Ia menatap gadis itu dengan ekspresi khawatir. “Kau tidak apa-apa?” tanyanya pelan.
Alena mengangguk lemah. “Terima kasih, Pak Dito…”
Dito menghela napas. “Istirahat di ruang saya kalau perlu. Dan… soal Pak Raka, saya juga belum mendapat kabar. Tapi kau jangan sendirian dulu.”
Alena hanya bisa tersenyum tipis, pahit. Dia duduk kembali di mejanya, menatap kosong ke arah ruang Raka yang masih gelap. Di luar, Tina sudah dibawa pergi. Tapi di dalam dada Alena, kekosongan itu tetap ada—karena orang yang paling dia butuhkan sekarang… masih belum kembali.
Sore harinya, bel pulang kerja berbunyi. Alena merapikan mejanya dengan gerakan lambat, masih terasa lelah secara fisik maupun mental. Tina sudah tidak ada, tapi kekosongan karena kepergian Raka tetap terasa berat.
Mira mendekat sambil membawa tasnya. “Alena, ikut aku dulu yuk. Ada temanku dari zaman sekolah. Sekarang dia kerja di Museum Kota sebagai arkeolog. Dia bilang ada barang bagus yang baru masuk, mungkin cocok buat referensi perusahaan kita.”
Alena mengangkat wajah, sedikit ragu. “Sekarang? Aku agak lelah, Mira…”
“Cuma sebentar,” bujuk Mira. “Kita lihat saja. Kalau tidak menarik, kita pulang. Lagian kau dari tadi kelihatan sangat murung. Jalan sebentar mungkin bisa membuat pikiran lebih rilex.”
Alena terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan. Dia memang butuh sesuatu untuk mengalihkan pikiran, meski hanya sementara. “Baiklah. Kita pergi.”
Mereka keluar bersama, menaiki taksi menuju Museum Kota yang terletak di kawasan pusat. Sepanjang perjalanan, Mira mencoba mengobrol ringan, tapi Alena hanya menjawab singkat. Pikirannya masih penuh dengan Raka, pusaran yang menolaknya, dan firasat buruk yang belum hilang.
Sesampainya di museum, Mira memandu Alena masuk lewat pintu samping yang biasa dipakai staf. Seorang pria berusia sekitar akhir dua puluhan menyambut mereka dengan senyum ramah. Dia mengenakan kemeja lengan panjang dan sarung tangan tipis, khas orang yang sering menangani artefak.
“Mira! Sudah lama tidak ketemu,” sapa pria itu.
“Ini Arka, temanku,” kata Mira pada Alena. “Arka, ini Alena, rekan kerjaku.”
Arka mengulurkan tangan. “Senang bertemu. Mira sudah bilang kalian dari perusahaan yang sering butuh referensi artefak atau barang antik untuk proyek.”
Alena menjabat tangannya singkat. “Terima kasih sudah meluangkan waktu.”
Arka mengangguk, lalu memandu mereka masuk ke ruang belakang museum yang lebih sepi. “Barang yang kukatakan pada Mira baru saja tiba dari penggalian di daerah pegunungan utara. Bentuknya unik. Aku rasa kalian mungkin tertarik.”
Dia membuka sebuah kotak kayu berlapis kain gelap. Di dalamnya tergeletak sebuah artefak berbentuk cincin tua yang permatanya mirip dengan kalung Alena. Permata itu kusam, tapi di bawah cahaya lampu ruangan, ada kilau kemerahan yang terasa familiar.
Alena membeku sejenak. Jantungnya berdetak lebih cepat. “Ini… dari mana asal pastinya?” tanyanya pelan, berusaha terdengar biasa.
Arka mengangkat alis, sedikit terkejut dengan ketertarikan Alena yang tiba-tiba. “Dari situs kuno yang belum sepenuhnya terpetakan. Ada ukiran bahasa lama yang masih kami teliti. Beberapa rekan bilang artefak ini berhubungan dengan legenda bulan emas… tapi itu masih spekulasi.”
Alena menelan ludah. Tangannya hampir terulur untuk menyentuh benda itu, tapi dia menahan diri. Mira yang berdiri di samping hanya tersenyum. “Lihat, kan? Aku bilang ada barang bagus. Mungkin bisa jadi inspirasi untuk desain berikutnya.”
Tapi Alena tidak lagi mendengar omongan Mira dengan jelas. Matanya tertuju pada ukiran bulan sabit itu, dan firasatnya kembali berbisik pelan. Benda ini… terhubung dengan kalung miliknya. Mungkin, ini adalah celah lain yang sedang dia cari.
Arka memperhatikan reaksi Alena. “Kau tertarik sekali. Biasanya orang awam hanya bilang unik lalu selesai. Ada yang kau kenali dari benda ini?”
Alena cepat-cepat mengalihkan pandangan, pura-pura biasa saja. “Tidak… hanya merasa familiar. Mungkin pernah melihat yang mirip di katalog pelelangan.”
Mira menoleh, sedikit curiga, tapi tidak komentar.
Arka mengangguk, lalu memakai sarung tangan lagi dan mengangkat artefak itu dengan hati-hati. “Kami menemukan ini di dekat sebuah struktur batu yang retak. Ada simbol-simbol lain di sekitarnya—seperti gerbang atau jembatan. Rekan-rekanku bilang itu bagian dari legenda lokal tentang pembatas waktu. Tapi data ilmiahnya masih kurang.”
Alena merasa darahnya berdesir. Jembatan pembatas waktu. “Boleh… aku melihat lebih dekat?” tanyanya pelan.
Arka ragu sejenak, lalu mengangguk. “Baik, tapi jangan disentuh langsung. Minyak di tangan bisa merusak permukaan.”
Dia mendekatkan kotak itu. Alena mencondongkan tubuh, menatap detail ukiran. Semakin dekat, semakin kuat firasatnya. Benda ini bukan sekadar artefak. Ada energi samar yang terasa, mirip dengan yang dia rasakan saat menyentuh kalung Raka semalam.
Tiba-tiba, cincin itu berdenyut pelan—sangat singkat, hampir tidak terlihat. Cahaya kemerahan redup muncul dari permatanya, lalu padam lagi.
Arka mengerutkan dahi. “Apa aku salah lihat…?”
Mira yang berdiri di belakang tidak menyadari apa-apa. “Kenapa?”
Alena menegakkan tubuh, mencoba tetap tenang meski jantungnya berdegup kencang. “Tidak apa-apa. Mungkin pantulan lampu.”
Tapi dia tahu itu bukan pantulan. Arka masih menatap artefak itu dengan wajah serius. “Aneh. Sejak benda ini masuk ke museum, beberapa sensor di lab sempat mendeteksi gangguan energi singkat. Kami kira hanya kerusakan alat.”
Alena menggigit bibir. Dia harus mendapatkan informasi lebih banyak. “Apakah ada catatan atau terjemahan awal dari ukiran itu?” tanyanya, berusaha terdengar profesional. “Perusahaan kami sedang riset motif kuno untuk proyek baru. Kalau ada data tambahan, mungkin bisa membantu.”
Arka mengangguk. “Ada beberapa foto dan catatan lapangan. Tunggu sebentar, aku ambilkan di ruang arsip.”
Begitu Arka pergi, Mira mendekat dan berbisik, “Kau aneh sekali hari ini. Biasanya tidak peduli sebanyak ini pada barang museum.”
Alena tersenyum tipis, masih menatap kotak yang terbuka. “Hanya… merasa benda ini penting.”