Novel Korean ala Author ❤️❤️
Cheon-Ji-In: Terjebak di Dunia Murim
Aku Diah, tersedak air saat baca novel Cheon-ji-in hingga sadar di dunia Murim sebagai Han So-Bin, cannon fodder yang ditakdirkan mati di tangan pemeran utama pria, Kang Hyu-Jin.
Sadar bakal jadi tumbal, aku milih kabur sejauh mungkin. Tapi alih-alih dibunuh, si pendekar es itu malah ngejar aku separuh mati ke ujung dunia!
Sialnya lagi, bukannya ditebas, aku malah berakhir dicintai setengah mati sama si cowok dingin itu. Rencana awal mau bebas hidup damai gagal total, karena sekarang aku malah jadi pawang si tokoh utama!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Proyeksi Konyol di Tengah Hutan
Keheningan malam di tepi sungai kecil itu terasa semakin pekat, bercampur dengan sisa-sisa hawa Naegong yang masih bergejolak di udara. Tiga orang pendekar paling disegani di dataran tengah—Lee Do-Yun si tunangan sah, Kang Hyu-Jin si pendekar es penuh obsesi, dan Choi Min-Hyuk si senior kaku yang mendadak bucin—kini berdiri saling berhadapan dalam jarak yang sangat dekat.
Aku berdiri di antara mereka, memijat pelipisku yang berdenyut-denyut nyeri. Bayangkan saja, alih-alih menikmati pelarian damai sebagai gadis bebas, aku malah terjebak dalam situasi harem dadakan yang tingkat kerumitannya melebihi sinetron perebutan harta warisan.
(Batin Diah / Han So-Bin): “Ya ampun, Gusti... Otak modernku benar-benar hampir konslet menghadapi skenario kolosal level dewa ini. Satu cowok ngaku tulus mencintaiku, satu cowok ngotot dengan obsesi esnya, dan satu cowok lagi tersesat gara-gara bunga liar. Kalau diterusin begini caranya, bukan Aliran Sesat Darah Hitam yang bikin aku mati, tapi darah tinggi gara-gara ngurusin tiga singa jantan kurang piknik ini!”
Aku menghela napas panjang, berusaha memasang ekspresi paling datar dan tanpa beban yang bisa kuperlihatkan. Aku melirik ke arah Lee Do-Yun di sampingku, lalu mengalihkan pandangan ke arah Kang Hyu-Jin dan Choi Min-Hyuk secara bergantian.
Sebuah ide usil yang benar-benar di luar nalar mendadak melintas di dalam kepala modernku.
(Batin Diah / Han So-Bin): “Hmm... Mumpung mereka berdua ngotot mau ikut dan ngebacot soal perasaan di hadapan tunanganku, kenapa nggak kita tes seberapa jauh mental mereka bertiga? Mari kita buat mereka puyeng sekalian!”
Aku berdehem pelan, menegakkan posisiku, lalu menepuk-nepuk bahu Lee Do-Yun yang masih berdiri siaga dengan pedang terhunus.
"Do-Yun," panggilku dengan nada suara yang sengaja dibuat santai dan tanpa dosa.
Do-Yun menoleh kaget, menatapku dengan sorot mata penuh tanya. "Ada apa, So-Bin? Jangan bilang kamu mau menyerah pada mereka?!"
Aku menggeleng pelan, lalu memasang senyuman miring yang misterius. Aku melangkah maju satu langkah kecil, menatap lurus ke arah Hyu-Jin dan Min-Hyuk yang berdiri berdampingan dengan aura persaingan yang begitu pekat.
Dengan suara yang cukup lantang memecah kesunyian malam, aku melontarkan kalimat sakti yang membuat seluruh dunia persilatan di kepalaku terasa berputar:
"Do-Yun, apa kau siap dimadu?"
Deg!
Suasana di tepi sungai mendadak membeku seketika.
Lee Do-Yun, yang tadinya memasang kuda-kuda siaga, langsung terperanjat kaku. Pemuda berambut perak itu membelalakkan matanya lebar-lebar, mulutnya terbuka setengah membentuk huruf 'O', dan hampir saja menjatuhkan pedang pusaka dari genggamannya.
Di sisi lain, Kang Hyu-Jin yang terkenal dingin dan tak tersentuh mendadak tersedak napasnya sendiri. Uap es di sekitarnya langsung buyar, dan untuk pertama kalinya sejak ia muncul, ekspresi datar tanpa ekspresi di wajahnya runtuh total menjadi kebingungan tingkat dewa.
Sementara itu, Choi Min-Hyuk—senior kaku yang menjunjung tinggi hukum dan disiplin sekte—terperangah hingga matanya hampir keluar dari rongganya. Jubah hitam bergaris emasnya bergetar pelan karena syok luar biasa.
(Batin Diah / Han So-Bin): “Hahaha! Rasakan itu! Makanya jangan suka seenaknya melanggar privasi orang di tengah malam! Kukira kalian bakal pasang badan sok jagoan, eh begitu ditawari konsep poliandri ala emak-emak modern langsung pada 💀 (mati gaya) massal!”
Do-Yun menoleh perlahan ke arahku, suaranya bergetar hebat saat ia bertanya dengan nada tidak percaya:
"M-madu? So-Bin... apa kamu sedang bercanda di tengah situasi genting seperti ini?! Sejak kapan di dunia Gangho ada tradisi wanita menikahi dua—eh, tiga pendekar sekaligus?!"
Aku mengangkat sebelah alisku, menatap Do-Yun dengan ekspresi polos yang dibuat-buat.
"Kenapa tidak?" jawabku santai. "Zaman kan sudah berubah, Tuan Muda. Di era modern—maksudku, di era baru ini, kalau dua cowok hebat rela ngikutin aku sampai ke tengah hutan antah berantah cuma buat bilang suka, kan sayang kalau ditolak semuanya. Kenapa kita nggak bikin 'Aliansi Suami-Suami Siaga' saja?"
Mendengar kata-kata 'Aliansi Suami-Suami Siaga', wajah tampan Kang Hyu-Jin langsung menggelap seketika. Sorot mata kelamnya menajam, memancarkan aura permusuhan yang luar biasa pekat ke arah Min-Hyuk.
"Jangan bicara sembarangan, So-Bin," ucap Hyu-Jin dingin, suaranya tertahan oleh amarah dan rasa tidak terima yang meluap-luap. "Aku tidak pernah berniat berbagi tempat dengan siapa pun, apalagi dengan senior yang tidak tahu aturan ini."
Min-Hyuk mendengus sinis, merapikan kerah jubahnya untuk mengembalikan wibawa yang sempat runtuh akibat syok tadi. Ia menatap Hyu-Jin dengan sebelah alis terangkat tajam.
"Kira siapa juga yang mau bergabung dalam aliansi konyol buatanmu itu, Hyu-Jin?" balas Min-Hyuk dingin. "Aku hanya mengatakan apa yang kurasakan, bukan berarti aku sudi berbagi posisi dengan pendekar es gila sepertimu."
"Wah, wah, wah..." tawaku pecah, tidak kuasa menahan diri melihat dua pendekar terkuat sekte itu mulai saling serang secara verbal gara-gara pancingan ngawurku. "Tadi dibilang suka, giliran diajak kerja sama langsung pada ngamuk. Jadi yang bener yang mana nih? Mau antre dengan tertib atau mau adu jotos dulu sampai babak belur?"
Do-Yun mengusap wajahnya dengan kedua tangan, merasa pusing tujuh keliling menghadapi kelakuan tunangannya yang benar-benar di luar nalar.
"So-Bin, kumohon... hentikan candaan gila ini," rintih Do-Yun frustrasi. "Kepalaku rasanya mau pecah mendengar rencana poligami terbalik versi dirimu."
Aku tersenyum lebar, merasa puas karena berhasil mengubah suasana tegang yang mencekam tadi menjadi komedi situasi yang sukses membuat mental ketiga pria itu berantakan.
(Batin Diah / Han So-Bin): “Nah, begini kan enak! Daripada tegang mikirin ancaman faksi sesat dan takdir novel, sesekali ngerjain tokoh utama cowok yang sombong itu perlu banget buat kesehatan mental.”
Aku kembali melangkah mendekati api unggun kecil yang mulai meredup, duduk bersila dengan santai, lalu menatap mereka bertiga yang masih berdiri kaku di tempat masing-masing.
"Sudahlah, berhenti pasang muka stres begitu," kataku sambil melambaikan tangan menyuruh mereka mendekat. "Kalau kalian bertiga memang nekat mau ikutan dalam pelarianku, silakan cari tempat duduk masing-masing di sekitar api unggun. Tapi ingat aturan mainku: tidak boleh ada yang bikin keributan, tidak boleh ada yang main paksa, dan kalau ada yang berani merusak ketenanganku... siap-siap saja kuhanguskan dengan elemen api!"
Mendengar ancamanku yang dibarengi dengan pendar cahaya api kecil di ujung jariku, Hyu-Jin dan Min-Hyuk saling bertukar pandang penuh permusuhan, sebelum akhirnya perlahan-lahan melangkah mendekat dan duduk di sisi yang berlawanan dari api unggun.
Do-Yun menghela napas panjang, menggelengkan kepalanya pasrah, lalu kembali duduk di sampingku sambil merutuki takdir kenapa ia bisa jatuh cinta pada gadis seunik dan sesadis Diah.
Malam itu, di bawah temaram bintang dan bara api perkemahan, pelarian gila di dunia Murim resmi dilanjutkan dengan formasi paling absurd sepanjang sejarah persilatan Gangho.