Tidak menyangka Aisyah mendapatkan kehidupan yang lebih baik daripada ketika dulu di SMP atau di SD yang tidak diperlakukan baik oleh teman teman barunya itu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ervina Dwiyanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11.
Kado Kecil, Rasa yang Nyata
Sore itu, langit di atas kota masih menyisakan semburat jingga pucat saat Laras dan Citra berjalan keluar dari gerbang sekolah. Langkah Laras terasa ringan namun jantungnya berdegup kencang seolah hendak melompat keluar dari dadanya. Di dalam tas kecilnya tersimpan rapi bungkusan yang sudah ia persiapkan dengan sepenuh hati sepanjang sore tadi—setelah berkeliling dari satu toko ke toko lain, membandingkan pilihan, dan memastikan setiap bagiannya sesuai dengan apa yang pernah diceritakan Arga dan Bima.
"Udah tenang aja ya, Ras. Lo udah berusaha sebaik mungkin, dan itu yang paling penting," ucap Citra sambil menyenggol lengan sahabatnya pelan saat mereka berhenti di perempatan jalan.
"Lagian kado yang lo pilih itu pas banget sama selera Dimas. Gue yakin banget dia bakal suka."
Laras tersenyum tipis meski tangannya masih gemar meremas tali tas berulang kali karena gugup. "Makasih ya udah nemenin dari tadi, Cit. Tanpa lo gue pasti udah bingung setengah mati dan mungkin malah beli barang yang salah. Gue cuma... gue cuma takut aja dia ngerasa aneh atau malah nggak berterima kasih. Kemarin kan dia sempat bilang kalau dia butuh waktu sendiri, takutnya kado ini malah bikin dia terganggu."
"Ngomong-ngomong apa sih lo?" Citra mendengus pelan sambil memutar bola matanya dengan gemas.
"Bukannya Arga sama Bima udah bilang kalau Dimas itu orangnya sopan dan menghargai niat orang lain? Lagian kado ini bukan barang mahal yang membebani, kan? Cuma buku catatan kulit buatan tangan yang sampulnya ada ukiran nama dia, sama sebungkus kopi susu kemasan khusus yang dia suka. Sederhana tapi nunjukin kalau lo bener-bener perhatiin hal kecil tentang dia. Itu jauh lebih berharga daripada kado mahal yang nggak ada isinya sama sekali."
Laras mengangguk pelan, mencoba menenangkan diri. Ia tahu ucapan Citra benar. Kali ini ia tidak ingin terlihat berlebihan atau memaksa seperti dulu. Ia hanya ingin menyampaikan ucapan selamat dengan tulus, tanpa mengharapkan balasan yang berlebihan.
Mereka berdua berjalan kembali menuju halaman sekolah—karena rencananya Laras akan menunggu Dimas di dekat tempat parkir sepeda, tempat yang biasanya Dimas lewati sepulang sekolah. Beberapa siswa masih terlihat berkerumun di sana, berbicara sambil menaiki sepeda atau masuk ke dalam mobil jemputan. Laras duduk sebentar di pinggir taman kecil di dekat gerbang, matanya terus menatap ke arah koridor utama sekolah.
Tak lama kemudian, sosok yang ia tunggu akhirnya muncul. Dimas berjalan santai bersama Arga dan Bima, tas punggung tersampir di satu bahu, senyum tipis menghiasi wajahnya saat mereka tertawa membicarakan sesuatu. Cahaya matahari sore menyinari rambut hitamnya, membuatnya terlihat lebih tenang dan hangat dari biasanya.
Jantung Laras seakan berhenti berdetak sejenak, lalu berpacu dua kali lebih cepat. Ia menelan ludah pelan, menarik napas panjang sebelum berdiri perlahan.
"Semangat ya, Ras. Gue tunggu di sini aja," bisik Citra sambil memberikan tepukan semangat di punggung Laras.
Laras mengangguk pelan, lalu melangkah mendekati mereka. Saat ia sampai di dekat tempat parkir, Arga dan Bima langsung menyadari kehadirannya. Mereka saling berpandangan sekilas, lalu dengan senyum nakal mereka menepuk bahu Dimas dan berbisik, "Eh Dim, kayaknya ada yang cari lo deh. Kita duluan parkir sepeda ya, nanti nyusul ke gerbang."
Sebelum Dimas sempat bertanya, kedua sahabatnya sudah berjalan cepat meninggalkan mereka berdua sendirian. Dimas berbalik badan, dan saat melihat Laras berdiri di depannya dengan wajah sedikit memerah dan tangan yang memegang bungkusan kecil, matanya melebar sedikit karena kaget.
"Laras? Kamu belum pulang?" tanyanya dengan nada lembut, sama sekali tidak ada nada keberatan atau kaget yang tidak menyenangkan.
"I-iya, Dimas. Aku sengaja nunggu sebentar," jawab Laras pelan, lalu ia mengangkat bungkusan itu ke depan dada. "Selamat ulang tahun yang ke-16 ya. Semoga umur lo berkah, makin dewasa, dan semua cita-cita lo bisa tercapai. Maaf ya kalau kadonya cuma segini aja."
Dimas menatapnya sejenak, lalu senyum lebar perlahan terbentuk di wajahnya—senyum yang tulus, yang membuat mata Laras terasa berbinar dan hatinya terasa hangat seketika. Ia menerima bungkusan itu dengan hati-hati, seolah itu adalah barang paling berharga di dunia.
"Makasih banyak ya, Laras. Aku nggak nyangka kamu bakal ngasih apa-apa. Ini udah lebih dari cukup kok," ucap Dimas lembut, lalu ia mulai membuka bungkus kertas cokelat yang rapi itu.
Saat sampul buku catatan kulit berwarna cokelat tua dengan ukiran nama "Dimas" yang halus terlihat, Dimas berhenti sejenak. Ia mengusap permukaan sampulnya dengan jari telunjuk, lalu mengambil bungkus kopi susu di sampingnya. Matanya perlahan beralih kembali ke wajah Laras, penuh dengan kekaguman.
"Kamu kamu tahu kalau aku suka menulis catatan harian dan suka kopi susu?" tanyanya pelan.
Laras mengangguk malu-malu, menunduk sedikit. "Dengar dari Arga sama Bima kemarin. Aku cuma pengen ngasih sesuatu yang berguna buat lo, bukan sekadar hiasan aja. Kalau nggak suka nggak apa-apa kok..."
"Enggak, enggak!" potong Dimas cepat sambil tertawa kecil. "Aku suka banget, serius. Ini persis kayak yang aku butuhin. Buku catatan lama aku udah mau penuh, dan aku lagi bingung mau cari yang baru. Terus kopi ini juga jarang ada di toko biasa, kan? Aku pasti capek banget nyarinya."
Ia menatap Laras dengan tatapan yang berbeda—bukan tatapan yang menjaga jarak seperti dulu, tapi tatapan yang penuh penghargaan dan rasa hormat. "Aku hargai banget niat lo, Laras. Terima kasih udah ingat hal-hal kecil kayak gini buat aku. Ini kado yang paling berkesan yang gue terima hari ini."
Kata-kata itu membuat rasa cemas yang selama ini menyelimuti hati Laras seketika lenyap. Ia merasa matanya sedikit panas, tapi ia berusaha menahan senyumnya. Rasanya semua lelah dan keraguan yang ia rasakan tadi seolah terbayar lunas.
Belum sempat Laras menjawab, suara riuh rendah tiba-tiba terdengar dari arah samping. Ternyata banyak teman sekelas mereka yang belum pulang dan melihat adegan itu dari tadi. Beberapa dari mereka mulai berbisik-bisik, lalu perlahan suara itu berubah menjadi seruan serempak yang menggema di halaman sekolah.
"Cieee... cieee Laras berani banget kasih kado duluan!"
"Wah romantis banget nih, beruntungnya Dimas!"
"Cie yang perhatiannya nggak main-main, sampai tahu kesukaan Dimas segala!"
"Semoga langgeng ya kalian berdua!"
Suara teriakan "cie-cie" itu semakin keras, membuat wajah Laras memerah padam hingga ke telinga. Ia ingin sekali menyembunyikan wajahnya di balik tangannya, tapi di sudut matanya, ia melihat Dimas justru tersenyum malu-malu namun tidak berusaha menepis atau terlihat tidak nyaman. Ia bahkan mengangkat tangannya sedikit ke arah teman-temannya seolah memberi isyarat untuk berhenti tapi dengan nada bercanda.
"Udah ah jangan diganggu, kalian iri ya nggak dikasih kado sama orang?" canda Dimas, membuat teman-temannya makin tertawa dan bersorak riang.
Namun di tengah keramaian itu, ada satu pasang mata yang menatap pemandangan itu dengan tatapan tajam dan tidak senang. Rara berdiri di dekat gerbang bersama beberapa teman dekatnya, tangannya meremas tali tas dengan kuat hingga buku jarinya memutih. Ia yang dari tadi sengaja menunggu agar bisa menjadi orang pertama yang memberikan ucapan selamat dan kado mahal yang sudah ia beli minggu lalu—kado yang ia yakin pasti akan membuat Dimas terkesan—kini merasa seolah dunia sedang menertawakannya.
"Bisa-bisanya dia duluan ya," gumam Rara pelan, suaranya terdengar kesal dan dingin. "Beraninya dia nyuri kesempatan itu duluan. Padahal kan aku yang dari dulu paling dekat sama Dimas, kenapa dia malah dapat senyum seindah itu dari Dimas?"
Teman di sebelahnya menyenggol lengan Rara pelan. "Udah Ra, jangan gitu. Lagian Laras kan cuma niat baik aja."
"Niat baik katanya?" Rara mendengus kasar, matanya tak lepas dari sosok Dimas yang masih tersenyum pada Laras. "Dia cuma mau cari perhatian aja, pasti. Lihat aja nanti Dimas bakal sadar kalau kado itu nggak seberapa dibanding yang aku punya. Dia cuma beruntung aja datang duluan hari ini."
Rara membalikkan badan dengan kasar, berjalan cepat meninggalkan tempat itu dengan hati yang panas. Ia tidak menyangka bahwa Laras yang selama ini ia anggap tidak akan pernah bisa mendekati Dimas, justru kini berdiri di sana dengan senyum bahagia yang belum pernah Raras lihat sebelumnya.
Sementara itu, di dekat tempat parkir, perlahan teman-teman mulai bubar dan melanjutkan aktivitasnya masing-masing. Tinggal Laras dan Dimas yang masih berdiri berhadapan.
"Maaf ya kalau teman-teman berisik banget tadi," ucap Dimas sambil menyimpan buku catatan itu dengan hati-hati ke dalam tas punggungnya. "Mereka emang suka berlebihan kalau ada hal kayak gini."
"Nggak apa-apa kok, aku malah yang malu banget," jawab Laras sambil tertawa kecil. "Aku kira kamu bakal marah atau nggak nyaman."
Dimas menggeleng pelan, menatapnya dengan serius namun tetap lembut. "Kenapa harus nggak nyaman? Niat kamu baik, dan kamu berusaha buat ngerti aku. Itu hal yang jarang orang lakukan, Laras. Aku seneng banget kamu berani nyampein ini ke aku. Bukan berarti aku langsung berubah pikiran atau apa, tapi... aku seneng kita bisa mulai ngobrol kayak gini tanpa ada rasa canggung lagi."
Kata-kata itu sederhana, tapi bagi Laras itu adalah awal dari sesuatu yang baru. Bukan harapan yang berlebihan, melainkan rasa tenang bahwa ia tidak lagi dianggap sebagai orang yang mengganggu. Ia telah menunjukkan siapa dirinya yang sebenarnya—perhatian, tulus, dan berusaha menghargai ruang orang lain.
"Makasih ya, Dimas. Aku seneng denger kamu bilang gitu," ucap Laras tulus.
"Sama-sama. Sekarang pulang ya, udah sore banget. Hati-hati di jalan," pamit Dimas sambil mengangkat tangannya melambaikan tangan.
"Kamu juga hati-hati ya!" balas Laras.
Saat Dimas berjalan menjauh menuju mobilnya, Laras berdiri diam sejenak menatap punggungnya. Angin sore berhembus pelan menerpa wajahnya, membawa rasa bahagia yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ia tahu perjalanan ini masih panjang, dan belum tentu semuanya akan berjalan mulus. Tapi setidaknya hari ini, ia telah melangkah dengan benar. Dan itu sudah cukup untuk membuatnya tersenyum sepanjang jalan pulang.
Di kejauhan, Arga dan Bima saling berpelukan bahu sambil tersenyum puas melihat pemandangan itu.
"Gimana menurut lo?" tanya Arga pelan.
Bima mengangguk mantap. "Gue bilang juga apa. Kalau niatnya tulus, pasti bakal dihargai. Dan sepertinya perlahan tembok pembatas di hati Dimas mulai retak sedikit demi sedikit."