Sari Wulandari bangun di dalam kain kafan, lalu mendengar suaminya menikahi cinta lama di hari yang sama. Setelah puluhan tahun menjadi istri, ibu, dan penopang keluarga, ia memilih menggugat cerai dan membangun ulang hidupnya dari kios kecil serta kebun yang hampir direbut orang. Saat anak perempuannya juga terjebak pernikahan beracun, Sari belajar melawan dengan bukti, bukan air mata. Di tengah luka lama, Arman Pradipta datang membawa perlindungan, rahasia, dan cinta yang tak pernah ia duga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nilam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35
Bab 035: Orang Asing di Rumah Besar
Arman terpaksa pergi ke Bandung untuk rapat mendadak.
Pagi itu ia berdiri di ruang depan dengan ponsel di tangan, wajahnya jelas tidak ingin pergi. Sari melihatnya dan hampir tertawa.
"Pak Arman, kalau semua rapat Bapak batalkan karena takut Dini bergerak, dia justru tahu kita panik."
"Saya tidak nyaman meninggalkan rumah."
"Saya ada sampai siang. Setelah itu saya ke kios dua jam. Rini sudah tahu mencatat. Kepala keamanan ada. CCTV aktif."
"Kalau ada apa-apa..."
"Saya telepon polisi dulu, lalu Bapak."
Arman menatapnya.
Sari mengangkat alis. "Urutan itu membuat Bapak tersinggung?"
"Tidak. Masuk akal."
Dini berdiri di dekat tangga dengan wajah patuh. "Pak tenang saja. Saya sudah lama mengurus rumah ini."
Tidak ada yang menjawab kalimat itu.
Arman pergi pukul delapan. Lintang melihat dari balik pintu ruang keluarga. Ia tidak melambaikan tangan. Arman juga tidak memaksa. Ia hanya berkata, "Om pergi kerja. Pulang sore. Pintu tidak dikunci."
Anak itu menunduk pada bonekanya.
Pukul sepuluh, Sari menerima telepon dari Ayu. Ada pembayaran palsu dari pembeli restoran baru. Bukti transfer dikirim, tetapi uang tidak masuk. Sari harus mengecek mutasi dan menahan pengiriman sebelum buah keluar dari gudang.
Ia memberi tahu Lintang sebelum pergi.
"Bu Sari ke kios sebentar. Kembali sebelum zuhur."
Lintang menatapnya. Jari kecilnya mengetuk meja dua kali.
Sari mengetuk meja dua kali juga. "Iya. Bu Sari kembali."
Dini tersenyum dari sofa. "Saya jaga, Bu."
Sari menatapnya. "Saya tahu."
Di kios, masalah pembayaran lebih rumit dari dugaan. Pembeli mengirim screenshot palsu dengan nama bank yang salah satu huruf. Ayu hampir tertipu karena pesanan masuk lewat rekomendasi pelanggan lama. Sari menelepon bank, memeriksa mutasi, lalu mengirim pesan tegas kepada pembeli.
Pukul dua belas lewat lima, ponselnya bergetar.
Rini: Bu, Mbak Dini bawa tamu. Saya disuruh ke minimarket.
Sari langsung berdiri.
Telepon dari Rini masuk sebelum ia sempat membalas. Suara perempuan itu berbisik.
"Bu, saya tidak jadi keluar. Saya pura-pura lupa dompet. Ada tiga anak muda. Satu panggil Mbak Dini Mama."
"Lintang di mana?"
"Saya tidak lihat, Bu. Tadi di ruang keluarga. Sekarang tidak ada."
"Kunci dapur. Jangan konfrontasi. Saya pulang."
Sari menelepon Arman di mobil. Tidak diangkat. Mungkin masih rapat. Ia mengirim pesan:
Dini membawa orang asing. Lintang tidak terlihat. Saya pulang sekarang.
Perjalanan dari kios ke Kebayoran terasa terlalu lama. Begitu mobil berhenti, Sari turun sebelum sopir selesai memarkir.
Dari ruang keluarga terdengar musik keras dan tawa laki-laki.
Rumah yang biasanya sunyi berubah seperti tempat nongkrong. Di meja ada minuman kemasan, keripik, dan kotak martabak. Seorang pemuda duduk di sofa utama dengan kaki di meja. Dua temannya mengambil foto di depan lukisan besar.
Dini berdiri di tengah ruangan. Wajahnya berubah saat melihat Sari.
"Bu Sari? Kok cepat?"
"Di mana Lintang?"
Pemuda di sofa menatap malas. "Ini siapa, Ma?"
Ma.
Sari menatap Dini. "Anakmu?"
Dini tersenyum kaku. "Iya, Bu. Reno cuma pinjam laptop untuk tugas kampus. Temannya sebentar saja."
"Dengan musik keras dan kaki di meja rumah orang?"
Pemuda itu menurunkan kaki. "Santai aja, Tante."
"Panggil saya Bu. Dan keluar."
Dini maju. "Bu, jangan galak begitu. Mereka anak-anak."
"Mereka orang asing di rumah anak yang sedang diperiksa karena trauma. Di mana Lintang?"
Dini tidak langsung menjawab.
Sari naik ke lantai dua. Dini mengejar.
"Bu, jangan masuk sembarangan."
"Ini bukan rumahmu."
Di depan kamar Lintang, pintu tertutup. Ada kunci kecil di luar, kunci yang sebelumnya tidak pernah Sari lihat.
Dada Sari langsung panas.
"Kuncinya."
Dini pucat. "Dia tidur."
"Kuncinya."
"Kalau tidak dikunci, dia suka keluar dan mengganggu."
Sari menahan suaranya agar tidak berteriak. "Kuncinya, Dini."
Rini muncul di ujung tangga bersama kepala keamanan yang baru kembali dari pos belakang. Melihat mereka, Dini akhirnya mengambil kunci dari saku.
Pintu dibuka.
Lintang duduk di lantai dekat tempat tidur, memeluk boneka kelinci. Di sampingnya ada piring nasi yang tidak disentuh. Matanya kering, tetapi wajahnya terlalu pucat.
Sari tidak masuk terburu-buru. Ia berjongkok di ambang pintu.
"Lintang, Bu Sari datang."
Anak itu menatapnya. Lalu, pelan sekali, ia merangkak mendekat sampai berhenti satu meter dari pintu. Tidak bicara. Tapi seluruh tubuhnya seperti baru keluar dari kotak sempit.
Dini berkata cepat, "Saya kunci karena dia tantrum."
Sari berdiri. "Kepala keamanan, minta semua tamu Mbak Dini keluar. Catat nama dan foto KTP. Rini, foto piring makanan dan kunci pintu ini."
Dini panik. "Bu Sari tidak punya hak mengatur rumah ini!"
"Benar. Pak Arman punya."
Ponsel Sari berbunyi. Arman menelepon balik.
"Saya dalam perjalanan pulang," katanya. Suaranya tertahan. "Lintang aman?"
"Dia terkunci di kamar. Tamu Dini masih di bawah. Saya minta keamanan mencatat."
"Jangan biarkan Dini pergi."
Ketika Arman tiba empat puluh menit kemudian, ruang keluarga sudah bersih dari musik. Reno dan dua temannya menunggu di teras dengan wajah kesal. Kepala keamanan memegang salinan identitas mereka.
Dini menangis sebelum ditanya.
"Pak, saya salah. Anak saya cuma pinjam laptop. Saya tidak pernah niat jahat."
Arman tidak melihatnya dulu. Ia naik ke kamar Lintang.
Anak itu duduk di dekat Sari, belum mau disentuh, tetapi tidak sendirian lagi.
"Lintang," suara Arman serak, "Om pulang."
Lintang menatap lantai.
Di ruang kerja, Arman mendengar laporan Sari, Rini, dan kepala keamanan. Rekaman CCTV menunjukkan Dini membawa tamu lewat pintu samping, menyuruh Rini keluar, lalu mengunci kamar Lintang. Tidak ada alasan yang bisa dibuat manis.
"Kamu diberhentikan sementara dari tugas mendampingi Lintang," kata Arman kepada Dini. "Kamu tinggal di kamar staf dekat garasi sampai pengacara keluarga datang. Kamu tidak boleh mendekati Lintang."
Dini langsung berlutut.
"Pak, saya mohon. Saya butuh kerja. Anak saya kuliah."
Sari tidak kasihan.
"Anak orang lain juga butuh aman."
Dini menatap Sari dengan mata merah. "Ibu puas?"
Arman berdiri. "Dini."
Suara itu membuat Dini diam.
Malam itu, Lintang tidur di sofa ruang keluarga, bukan di kamarnya. Sari duduk di kursi dekatnya sambil membaca catatan kios. Arman berdiri di dekat jendela, wajahnya gelap.
"Saya terlambat," katanya.
Sari tidak menghibur. "Iya."
Arman menutup mata.
"Tapi belum terlalu terlambat kalau mulai sekarang tidak mundur."
Ia membuka mata dan mengangguk.
Di meja kecil, ada gambar Lintang yang jatuh dari pangkuannya. Sari mengambilnya. Gambar itu hanya kotak besar dengan garis hitam di tengah. Di sudutnya ada bentuk kecil seperti anak duduk sendirian.
Arman melihat.
"Itu kamar?"
"Mungkin."
Sari memasukkan gambar itu ke map plastik. "Besok tunjukkan ke Bu Hana."
Arman mengambil map itu sendiri, bukan menyuruh staf.
Di rumah besar itu, pintu-pintu mulai diperiksa satu per satu.
Reno masih berdiri di teras saat pengacara keluarga datang. Pemuda itu tidak lagi santai. Ia marah dan malu.
"Mama saya kerja di sini bertahun-tahun. Cuma bawa saya sebentar, langsung diperlakukan seperti kriminal."
Sari tidak mendekat ke pintu. Arman juga tidak keluar. Pengacara yang menjawab.
"Kamu masuk rumah pribadi tanpa izin pemilik, bersama dua orang lain, saat anak di rumah dikunci di kamar. Semua akan dicatat."
Reno menatap ke dalam dan melihat Sari. "Tante yang bikin besar."
Sari akhirnya bicara dari ruang tamu. "Ibumu yang mengunci anak."
Reno terdiam.
Dini mendengar dari dekat garasi dan mulai menangis lagi. "Reno, pulang. Jangan bikin tambah masalah."
Sari memperhatikan. Tangis Dini berbeda ketika berbicara dengan anaknya. Lebih asli. Itu tidak membuat kesalahannya hilang, tetapi membuatnya lebih berbahaya. Orang yang bisa mencintai anak sendiri tetap bisa menyakiti anak orang lain jika merasa hidupnya lebih penting.
Pengacara meminta semua kunci cadangan diperiksa. Ternyata kunci kamar Lintang tidak seharusnya berada di saku Dini. Kepala keamanan mengaku biasanya kunci itu disimpan di laci darurat.
Arman menatapnya. "Siapa yang memberi izin?"
Kepala keamanan pucat. "Tidak ada, Pak. Saya lalai."
"Catat."
Malam semakin larut. Dini dipindahkan ke kamar staf dekat garasi dengan pengawasan. Ia tidak dipecat malam itu karena pengacara ingin semua proses rapi: surat peringatan, pemeriksaan bukti, laporan jika ditemukan unsur pidana. Sari setuju, meski perutnya panas.
"Kalau dia pergi sekarang, jejak bisa ikut pergi," katanya kepada Arman.
Arman mengangguk. "Besok kita periksa kamar staf dan semua rekaman."
Di sofa, Lintang bergerak dalam tidur. Tangannya mencari sesuatu. Sari meletakkan boneka kelinci lebih dekat, tanpa menyentuh tubuh anak itu.
Lintang menggenggam boneka dan kembali diam.
Sari menatap pintu kamar staf di kejauhan.
Dini belum selesai.
Orang seperti itu biasanya menyerang saat merasa sudutnya tertutup.
malu2in aja lu , raka🤣🤣🤣
kog bs beda2 yah ??